
Ayu dan Lina sudah rapi dengan koper dan juga ransel serta beberapa tas kecil yang berisi cemilan.
Biasa anak cewek mah rempong abis jika mau keluar apalagi sampai nginep, cemilan adalah teman terbaik mereka makanya jangan sampai lupa bawa.
"Jadi gimana nih? kita samperin apa tunggu di rumah kak Mikko aja?" Tanya Lina yang saat itu sudah bersama Ayu di teras depan rumah Ayu.
"Tunggu gue telfon Jerik dulu" Sahut Ayu yang terlihat sibuk dengan gawai pipih nya.
Setelah menunggu beberapa saat akhir nya sambungan telfon itu terjawab juga.
📞"Halo Sayang?" Terdengar suara dari balik sambungan telfon itu.
"Sayang-sayang, sayang kepala lo peyang!" Ketus Ayu setelah mendengar suara Jerik yang memanggil nya sayang.
📞"Ih gitu aja marah, ntar kalau marah kusut loh ilang duit nya loh" Cecar Jerik dari seberang sana.
"Bodo amat!" Masih dengan wajah kesal Ayu menyahuti suara laki-laki yang selama ini mengejar-ngejar nya.
📞"Oh bodo amat ya? ya udah gue tutup deh kalau gitu, gue sibuk nyiap-nyiapin barang nih" Ayu tersadar, bahwa diri nya membutuhkan bantuan Jerik tapi kenapa malah ketus dan judes, padahal butuh.
"Duuuuhh bego-bego-bego!" Rutuk nya dalam hati.
"Wait, wait, wait!! Jangan di matiin dulu dong Je!" Ucap Ayu kemudian.
📞"Hem? kenapa? Lo diem-diem kangen kan sama gue? ntar kan kita ketemu baby" Oceh Jerik dari seberang telfon.
"Iiiihh udah dong becanda nya! Gue serius ini!" Ayu mulai ngeGas lagi.
📞"Ok ok, ada apa?" Mendengar suara Jerik yang mendadak serius membuat Ayu sedikit terkejut.
"Astaga! gue mikir apa sih!" Lirih nya dengan segera menepis pikiran konyol nya.
"Ekhem... Jadi Grace gimana nih? kan nggak asik masa cewek nya cuma kita berdua" Ucap Ayu.
📞"Nggak kok ntar ada Fani juga Calista sama Mirza kayak nya juga ikut deh"
Mendengar nama Calista dan Mirza membuat Ayu sedikit was-was.
"Loh bumil ngapain ikut segala?" Ceplos Ayu dengan nada tak suka nya.
📞"Lo lupa kalau Calista itu ponakan nya Mikko, mungkin mereka berdua mau honeymoon"
"Hamidun besar begitu mau honeymoon?" Pekik Ayu.
📞"Mau di tambah bibit nya kali biar banyak, sekali lahir 3 atau empat gitu kan rame" Sahut Jerik dengan tawa renyah nya.
"Lo pikir kucing!" Sahut Ayu yang tak sadar ternyata dia nyaman ngobrol dengan suara yang ada di sebrang telfon sana.
📞"Ya kan lo paham lah kalau Mirza bukan orang biasa"
"Hieleh,, jadi gimana nih Grace nya?" Ayu kembali ke topik awal.
📞"Kita samperin aja rame-rame jadi abis itu, langsung OTW puncak"
"Owkay!" Tanpa banyak kata lagi Ayu langsung menekan tombol merah dan sambungan telfon terputus secara sepihak.
Lina menggelengkan kepala nya dengan kelakuan sahabat nya itu, "Kebiasaan!"
Sedangkan Ayu hanya nyengir tanpa dosa. "Jadi gimana?" Tanya Lina.
"Ntar mereka kesini jemput kita terus, bareng-bareng kita samperin Grace" Ucap Ayu.
Sekitar setengah jam dua gadis itu menunggu, akhir nya tiga mobil pajero masuk dan berhenti di halaman depan rumah Ayu.
"Nah datang juga akhir nya" Ucap Ayu kemudian kedua gadis itu mengangkat satu koper dan 1 tas ransel juga tas-tas kecil, mereka bawa mendekati salah satu mobil, dan di sana sudah ada Jerik yang menyambut Ayu dengan menggantikan membawakan barang bawaan nya.
Setelah selesai mereka bergegas menuju kediaman Gracelina Janitra, di dalam mobil tentu nya tak akan sunyi ada saja yang mereka bicarakan, apalagi Ayu satu mobil dengan Jerik pasti ada saja ulah Jerik yang membuat Ayu naik pitam.
Setelah berkendara sekitar dua puluh menit mereka sampai di pintu gerbang rumah Grace, ada Nendra yang siap membukakan pintu.
"Waaaaahhh aura nya sangat kuat" Ceplos Jerik.
"Maksud lo?" Tanya Ayu yang merespon setiap kata yang Jerik ucapkan.
"Hah? Nggak! Nggak kok!" Ucap Jerik dengan menggelengkan kepala nya.
"Hih! Dasar aneh!" Gerutu Ayu, yang kemudian ia membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil.
Pintu rumah Grace terbuka dan di sanalah Srikantil menyambut para teman-teman majikan nya.
"Selamat datang nona-nona dan para tuan muda" Sambut nya dengan senyum ramah, sontak semua teman Grace membalas senyum ramah itu.
"Gila bener ni Grace, semua ART nya bukan manusia, apa jangan-jangan sebenar nya Grace juga bukan manusia?" Batin Jerik dengan mengikuti langkah kaki teman-teman yang lain untuk masuk ke dalam rumah yang beraura kuat itu.
Jerik tertegun ketika melihat semua makhluk tak kasat mata itu bekerja layak nya manusia, ada yang menata taman ada yang menyapu, ada yang mengelap barang-barang, bahkan ada juga yang terlihat sibuk ngepel di lantai atas.
"Ck, ck, ck!!" Jerik berdecak kagum sedangkan teman-teman yang lain menoleh ke arah Jerik.
"Apaan sih lo, biasa aja kali, kaya rumah lo nggak segede ini aja!" Ucap Ayu ketus, dan Jerik hanya nyengir pepsodent.
"Berati selain ART yang membukakan pintu tadi, mereka nggak bisa dilihat, manusia awam" Batin Jerik dengan masih terus melangkahkan kaki nya mengikuti kemana tujuan teman-teman nya.
"Silahkan duduk, biar saya panggilkan nona Grace dulu" Ucap Srikantil dengan sopan.
"Iya mbak" Sahut semua teman Grace.
Mata Jerik mengikuti kemana kaki Srikantil melangkah, ia pun menggeleng ringan kepala nya, "Bahkan kaki nya bisa terlihat menapak di tanah, tidak sedikit pun ia terlihat melayang" Lirih Jerik.
"Lo apaan sih Je? Selera lo jadi yang begituan? Ntar gue bantu bilang ke Grace deh" Ucap Ferdi yang melihat Jerik terus memperhatikan Srikantil.
"Sssttt!!! Diem kalau lo nggak tau apa-apa!" Ucap Jerik.
Dari lantai atas Grace terlihat menuruni anak tangga, "Hai? kok kalian pada kesini?" Grace dengan senyum Ramah nya muncul.
"Kita ke sini buat jemput lo" Ucap Ayu yang langsung berdiri dan berjalan mendekati Grace.
Di sambut dengan peluk persahabatan lanjut cipika-cipiki, "Pak dosen mana?" Bisik Ayu.
Sejenak Grace memandang Ayu, "Ah dia sedang tidak ada di rumah" Sahut Grace dengan mengajak Ayu untuk duduk bersama teman-teman yang lain.
"Bagus dong, berati kamu bisa ikutan" Ayu masih berbisik, Grace menatap satu persatu teman-teman kampusnya, dan di sana ada Mikko yang selalu memandangi diri nya, Grace pun membalas senyuman ketika mata mereka bertemu.
"Ayo lah Grace, kalau lo nggak ikut nggak asik" Lina berseru.
"Tapi... "
"Em... Gimana ya?" Grace melihat ke arah Mirza dan calista yang sibuk dengan topik pembicaraan nya sendiri.
"Abaikan mereka, itu pasangan lagi bucin-bucin nya" Ucap Lina yang mengikuti kemana mata Grace memandang.
"Ya udah deh, bentar gue ambil baju dulu ya" Ucap Grace.
"Ok!" Sahut semua nya, Lina dan Ayu bergegas mengikuti Grace dan membantu nya dalam bersiap-siap.
Setelah selesai mereka siap untuk berangkat, "Tapi non, kalau pangeran tanya gimana?" Srikantil menahan lengan Grace dan mengutarakan ketakutan nya.
"Ya jawab apa ada nya aja Sri!" Sahut Grace, dan itu tak lepas dari pandangan mata Jerik.
"Jaga rumah baik-baik! Awas jangan sampai ada yang rusak, atau ku usir kalian semua!" Grace memperingatkan kepada semua makhluk yang kala itu berdiri mengantarkan sang majikan yang mau berlibur. Dan semua menunduk patuh dengan ucapan Gracelina.
Jerik sedikit merinding saat melihat kepatuhan para makhluk tak kasat mata itu nurut sama teman satu kampus nya.
"Gila ni cewek, punya ajian apa sih? Bisa-bisa nya di mengendalikan begitu banyak makhluk" Batin Jerik yang masih mencuri pandang ke arah Gracelina.
Tak sengaja Grace melempar pandangan nya ke arah Jerik yang masih memandanginya.
"Aku berangkat dulu" Bisik Grace ke Srikantil, Sri hanya menganggukkan kepala nya.
"Ayo beib keburu senja ntar jalanan gelap" Ujar Lina yang meneriaki Grace.
Grace satu mobil dengan Lina, Ayu, Jerik dan pasti nya Mikko yang menyopiri mobil itu.
"Grace gue boleh tanya nggak?" Ucap Jerik dengan memandang Grace dari kaca spion tengah sedangkan tangan nya memegang snack kripik singkong yang di cemili nya sedikit demi sedikit.
"Apa Je?" Sahut Grace tanpa curiga sedikit pun.
"Em... Lo bisa liat makhluk astral?" To the poin Jerik bertanya dan Grace hanya menganggap nya bercanda.
"Bisa, kenapa? mau tau ada makhluk astral nggak di mobil ini? Hahaha... " Sahut Grace dengan gelak tawa nya.
"Emang nya ada ya Grace?" Tanya Mikko yang ikut penasaran, bukan kepo asal kepo, mungkin Mikko takut karena itu mobil nya.
"Ada, tuh di samping kak Mikko" Sahut Grace tanpa suara tawa sedikit pun, DHEG!! Mendadak semua berhenti tertawa. Terutama Jerik ia terlihat lebih gelisah.
"Ah yang bener lo Grace?" Tanya Mikko lagi.
"Iya bener, itu makhluk astral nya lagi makan kripik singkong" Ucap Grace dengan di sambut tawa oleh Mikko, Ayu, dan Lina.
"Hahaha... Lo bisa aja Grace" Ucap Mikko dengan sesekali memandang Gracelina melalui kaca spion tengah.
"Hahaha lagian Jerik nanyain yang begituan, awas ntar malem takut lo, biasa nya cerita serem kan sampai ke bawa mimpi" Ujar Grace, Terlihat Jerik menghela nafas nya lega.
"Lo pikir gue penakut" Ucap Jerik yang kemudian disambut gelak tawa oleh semua penumpang mobil Mikko.
Di sisi lain...
Arthur tengah duduk di rumah yang ada di samping rumah Gracelina. Ia melihat Grace yang di jemput oleh teman-teman nya, tak luput dari pandangan nya jika istri cantik nya itu ikut kemana teman-teman nya pergi.
Sesampai nya para mahasiswa dan mahasiswi itu di sebuah vila
"Waaaaaaahhh udah kaya film-film horor ini mah" Ceplos Ayu yang baru saja turun dari mobil.
"Ih bacot lo Yuk! Jangan ngomong gitu lah! Kita kesini buat liburan bersenang-senang, bukan nya malah ngomongin yang horor-horor" Cecar Lina dengan mencubit lengan Ayu.
Setelah sedikit perdebatan mereka pun melangkahkan kaki nya memasuki vila milik keluarga Mikko.
Dua mobil sudah terparkir rapi di halaman depan, Lina melihat ke arah luar kemudian ia merasa ada sesuatu yang kurang.
"Loh guys, mobil nya kok cuma dua? Lah Mirza sama istri nya kemana?" Tanya Lina.
"Dah tenang aja mereka milih di bawah, aman kok barusan Calista chat gue" Ucap Mikko yang baru saja meletakkan barang-barang bawaan mereka.
"Jadi kita bersembilan nih disini? kok ganjil ya guys?" Kali ini Ayu menghitung teman-teman nya.
"Dah nggak papa kita punya Jerik kok" Sahut Mikko santai.
"Maksud lo!?!" Ucap Jerik yang menghentikan langkah nya saat hendak menaiki anak tangga.
"Ya kali lo mau melindungi teman-teman semua dengan memperlihatkan pesona mu kepada para hantu itu" Timpal Fano.
"Enak aja! Pesona gue hanya teruntuk ayang Ayu seorang" Ucap Jerik dengan nada bak pujangga syair.
"Tu kak Ayu, udah di kode itu" Fani kembaran Fano menimpali.
"Sudah-sudah, kita beres-beres dulu, itu kasihan Sarah, udah kelihatan pucat, pasti capek" Grace menyudahi perdebatan kecil itu.
Senyum tipis Sarah tampilkan, "Nggak papa kok kak Grace", Mereka pun lanjut mengangkut barang masing-masing ke kamar yang sudah tersedia.
Tak terasa hari sudah mulai gelap mereka sibuk membereskan barang juga membersihkan diri masing-masing, kini Grace sedang membantu para gadis-gadis memasak di dapur sedangkan para cowok-cowok memasang lampu yang sebagian mati, tiba-tiba Grace merasa jari manis nya sedikit ngilu dan saat dilihat nya batu permata itu menyala.
"Duh gawat, kalau sampai mereka lihat gimana dong?" Gumam nya.
"Guys gue ke kamar bentar ya?" Ucap nya dengan tangan kiri yang menutupi jari manis nya.
"Oh iya Grace, lagian udah selesai juga ini" Sahut Lina, Grace berjalan sedikit tergesa sampai tak melihat jika Jerik berdiri di depan nya dan BRUGH!! Kedua muda mudi itu bertabrakan
"Aduh" Keluh Grace dengan memegangi dahinya dengan tangan kanan nya.
"Loh Grace ini?" Jerik meraih tangan kanan Gracelina.
"Lepas!" Ucap Grace dengan menghempas tangan Jerik, "Siapa lo sebenar nya?" Tanya Jerik dengan mata tajam nya, Jerik yang cengengesan pun tak nampak lagi saat ini.
"Apa maksud nya?" Tak kalah garang Grace juga mengerutkan dahi nya.
"Ini!" Kembali Jerik mengangkat tangan kanan Grace dan menunjuk permata bule black yang tengah bersinar. Grace tergagu ia tak dapat menjawab.
"Ini bukan mainan Gracelina Janitra, darimana kau dapatkan benda ini?!" Ucap Jerik dengan berusaha mengeluarkan permata itu dari dalam jari Gracelina.
"Auwwhh Sakit Je!!" Grace mengaduh ketika Jerik masih dengan paksa ingin mengambil permata itu.
BUGH!! Satu tinju melayang pada wajah tampan Jerik hingga laki-laki itu tersungkur di lantai.
"Kau?!...
Nantikan bab selanjut nya, see you...