The Guard

The Guard
Malam mencekam di Vila



Semua sibuk dengan urusan masing-masing, Lina bersama Fani dan Sarah menyiapkan makan malam di meja panjang sedangkan Ayu sibuk mengobati luka Jerik, dan Mikko bersama dengan Fino dan Ferdi tengah membersihkan lantai.


"Lo gimana sih kok jatuh bisa sampek memar gini?" Gerutu Ayu dengan mengompres pelan-pelan ujung bibir Jerik.


Saat itu pikiran Jerik masih memikirkan siapa Grace sebenar nya, namun ketika mendengar suara Ayu yang terkesan sangat peduli pada nya, ia memandang gadis di hadapan nya itu.


"Hah? Apa Yuk?" Tanya Jerik yang ingin Ayu mengulang pertanyaan nya.


"Jangan bilang lo jadi budeg setelah benturan tadi!" Geram Ayu dengan menekan bagian memar itu dengan sedikit bertenaga.


"Aduh aw... aw...!! Sakit Yuk!" Jerik menahan tangan Ayu dan netra kedua nya kini saling menatap satu sama lain.


DHEG-DHEG...DHEG-DHEG...


"Debaran itu, apakah dia mempunyai perasaan yang sama dengan gue? Tapi kita yang berbeda ini apakah mungkin bisa bersatu?" Gumam Jerik dengan masih memandangi netra yang dihiasi bulu mata lentik di hadapan nya itu.


"Ekhem-ekhem... Pandangan pertama awal aku berjumpa" Fino tiba-tiba bernyanyi di belakang kedua sejoli itu.


"Cowok setampan Jeriiiiiikk sedang memegang tangan Ayu" Sambung Lina yang juga saat itu keluar dari ruang makan.


"Hampir-hampir aku tak sadar di buat nya" Lina dan Fino berduet di belakang Ayu dan Jerik, mungkin mereka berasa jadi backsound adegan romantis anak remaja yang tengah jatuh cinta.


"Apa an sih kalian!" Ayu dengan berkacak pinggang berdiri dan menghadap ke arah kedua teman nya yang menurut nya sangat mengganggu itu.


Jerik masih anteng duduk di tempat nya, namun senyum tipis menghiasi wajah nya saat ini.


Terlihat Mikko yang berlari ke dalam dan mendekati teman-teman nya.


"Guys, Grace dimana?!" Raut panik itu menyudahi gelak tawa Lina dan Fino juga menghilangkan senyum tipis yang menghiasi wajah Jerik.


"Oh Astaga gue lupa! Tadi dia papasan sama gue di sini dan... "


"Bukan nya lo tadi jatuh di sini sendirian? Lo jatuh karena Grace?" Sela Ayu.


"Nggak maksud gue, tadi Grace lari ke sana dan gue jatuh setelah dia ngilang" Kilah Jerik.


"Ngilang?" Teriak mereka kecuali Jerik.


"Maksud gue lari" Jerik hampir saja keceplosan.


"Tapi guys, tadi kan Grace pamit kalau dia mau ke kamar" Ucap Lina yang mengingat-ingat ucapan Grace di dapur beberapa saat yang lalu.


"Ya udah kita ke kamar Grace aja!" Ajak Ayu dan semua setuju kemudian mereka bergegas melangkahkan kaki nya menuju kamar Grace.


Samar-samar mereka mendengar teriakan Gracelina, dan Jerik merasakan aura yang tak asing.


Tok Tok Tok!!


"Grace! Lo nggak papa say?! Buka dong pintu nya!" Ayu segera mengetuk pintu dan berteriak, ia takut jika sampai terjadi sesuatu dengan sahabat nya itu.


"Grace!!" Teriak nya lagi, karena Grace tak kunjung membukakan pintu, Jerik yang sudah curiga dengan aura aneh itu segera menyingkirkan Ayu dari depan pintu, kemudian dengan sekuat tenaga Jerik mendobrak pintu kamar Grace.


BRAK!!


Pintu itu terlepas dari engsel nya dan nampaklah Grace tengah berdiri di samping ranjang sendiri.


"Lo nggak papa bestie?" Tanya Ayu yang segera menghambur ke ke pelukan Grace sedangkan para cowok memeriksa kamar grace sampai jendela kamar Grace yang terbuka.


"Lo beneran nggak papa?" Lina mengelus pundak sahabat nya itu.


"Nggak papa kok, emang nya ada apa?" Tanya Grace, Lina dan Ayu saling memandang.


"Tadi kita denger lo teriak" Ucap Ayu, Grace terdiam sejenak, ia memutar otak nya untuk mencari alasan.


"Oh tadi ada kecoak dan udah keluar lewat jendela" Ucap Grace beralasan.


"Apa? Kecoak?" Tanya Mikko yang melihat ke arah jendela.


"Tapi udah udah pergi kok kak" Ucap Grace dengan senyum lebar nya.


"Nggak papa..."


"Aaaaaaaaaaaaa!!!" Terdengar teriakan histeris dari lantai satu.


"Kakak! Kak Fino!! Kak kak Fino!!" Terdengar suara Fani kembaran Fino berteriak memanggil nya.


"Fani!" Seru semua nya secara serempak, mereka segera berlari menuju sumber suara.


Setiba nya di ruang makan, terlihat Fani duduj meringkuk dengan menutup kedua telinga nya dan mata nya terpejam sangat rapat.


Fino segera berlari dan memeluk kembaran nya itu, "Sudah kakak di sini" Fino mengelus pucuk kepala Fani.


Grace melihat ke sekeliling ruangan itu dan Jerik melihat nya dengan tatapan curiga.


"Awas saja kalau sampai lo macem-macem!" Bisik Jerik menggertak Grace.


Grace hanya terdiam, "Loh Sarah mana?" Kali ini Lina menyadari kalau Sarah tidak ada di antara mereka.


Semua tersentak dan melihat seisi ruangan itu hanya ada mereka berdelapan, ya Sarah menghilang.


"Kita bawa dulu Fani ke ruang tengah mungkin dia syok" Ucap Grace, Fino menganggukkan kepala nya tanda ia setuju dan segera memapah saudara kembar nya itu untuk menuju ruang tengah.


"Ko, ini vila angker ya?" Tanya Ferdi.


"Nggak kok, biasa nya gue sama keluarga sering ke sini setiap akhir pekan" Ujar Mikko.


"Tapi lo nginep juga?" Tanya Ferdi.


"Ya iya lah, dan aman nggak ada apa-apa" Sahut Mikko.


Jerik yang memperhatikan kedua teman nya tengah berbincang itu kemudian menarik lengan Grace, untuk menjauh dari kerumunan.


"Lo pasti biang dari semua ini! Iya kan?" Tanpa basa-basi, Jerik menuding Grace bukan tanpa alasan.


"Apa an sih Je! Lo makin ke sini makin nggak jelas tau nggak!" Ucap Grace yang mulai tak nyaman dengan Jerik, apa lagi Arthur sudah mengatakan siapa Jerik sesungguh nya.


"Gue nggak asal nuduh ya! Gue ada alasan kenapa gue nuduh lo!" Bisik Jerik dengan penuh penekanan.


"Alasan?" Grace semakin tak paham dengan jalan pikiran Jerik.


"Lo jujur saja, siapa lo sebenar nya dan kenapa batu permata pangeran ada pada lo?!" Dengan tatapan kebencian Jerik bertanya kepada Gracelina.


"Gue... gue... "


"Di depan gue jangan berani lo bohong!" Gertak nya dengan suara pelan namun penuh penekanan.


"Kita jangan ngomong di sini, nggak enak kalau nanti mereka malah takut dengan keberadaan kita" Ucap Grace, akhir nya tanpa sepengetahuan teman-teman yang sibuk mengurus Fani Grace dan Jerik keluar dari ruangan itu, namun baru selangkah kaki mereka keluar dari ruangan itu, sekelebat bayangan hitam melintas tak jauh dari mereka.


Jerik menghirup udara setelah sekelebat bayangan itu melintas, "Bau anyir darah" Gumam Jerik yang kala itu memejamkan mata nya.


"Je, itu Sarah Je!" Ucap Grace yang melihat sarah duduk di pinggiran teras yang di bawah nya adalah jurang yang sangat dalam.


Grace hendak mendekati nya namun Jerik menahan tangan nya, "Bukan dia bukan Sarah! Itu hanya ilusi" Jerik membuka mata nya dan di sana Grace melihat kornea mata Jerik berubah menjadi merah darah.


"Je, lo nggak papa?" Tanya Grace yang sebenar nya sedikit merasa takut, tanpa menjawab pertanyaan dari Grace, Jerik melesat mengikuti kemana bayangan tadi menghilang.


Saat Grace mau mengikuti jejak Jerik tiba-tiba gadis yang dia kira Sarah berdiri dan menoleh pada nya.


"Sarah itu lo kan?" Tanya Grace dengan selangkah lebih maju mendekati sosok yang menyerupai teman nya itu.


Hanya senyum tipis yang Grace dapati dan kemudian sosok yang menyerupai Sarah itu menjatuhkan diri nya ke jurang yang ada di samping teras depan.


"SARAAAAAAAH!!" Teriak Grace yang segera menangkap sosok itu namun Grace malah ikut terjatuh.


Lina dan Ayu yang melihat pun, berlari ke arah pintu, "Tidak Grace!!...


Jangan lupa like dan komentar nya 🥰🥰🥰