The Guard

The Guard
(TG2)Pulang



Malam semakin larut, sang purnama tengah dalam tugas nya menerangi belahan bumi yang ditinggalkan oleh sinar kehangatan sang surya.


Seperti yang di ucapkan nya siang tadi, Gresta kini tengah melesat melompat dari dahan pohon satu ke pohon yang lain nya, demi memantau sang adik kesayangan.


Pangeran tampan dengan jambang tipis itu tengah bertengger di atas pohon yang letak nya tak jauh dari jendela kamar Bella.


Masih menggunakan mata elang nya Gresta mengamati hunian bak istana namun beraura suram nan seram.


Masih belum melihat adik kesayangan nya, Gresta berusaha menggunakan mata tembus pandang nya, hingga ia melihat Bella yang tengah berjalan membawa segelas air, kemudian terlihat gadis itu mengurus Mirza yang tak bisa berjalan.


"Bisa sabar juga tu anak ngurus orang sakit," Gumam Gresta dengan terus mengamati hunian mewah yang tak jauh di hadapan nya.


Sudah lega hati Gresta kala ia melihat adik kesayangan nya itu baik-baik saja bahkan bersikap baik pula kepada si tuan rumah.


Baru saja Gresta membalikkan tubuh nya hendak meninggalkan kediaman itu, PRANK!!


Suara benda pecah terdengar dari dalam hunian mewah itu.


DHUBRAK!! Lagi-lagi suara keras itu terdengar dari dalam hunian mewah itu, Gresta berhenti dan kembali melihat apa yang sebenar nya terjadi.


Dan ternyata di sana Gresta melihat adik kesayangan nya itu tengah melemparkan piring ke wastafel, dan juga gadis itu terlihat menyuruh para makhluk-makhluk tak kasat mata itu untuk mengerjakan pekerjaan rumah itu.


Di dalam kediaman Mirza tepat nya di dapur, Bella baru saja mengemasi piring yang di gunakan oleh Mirza.


Setiba nya di dapur ia melihat sekelebat bayangan, dengan ekor mata nya, gadis itu mengikuti terus kemana bayangan itu pergi namun ketika sampai di dekat tempat cuci piring, tanpa aba-aba Bella melempar makhluk itu dengan piring nya.


PRANK!!


Pecah berkeping-keping beling itu, sedangkan makhluk yang di lempar nya hampir saja kabur, namun dengan kecepatan Bella, gadis itu berhasil menarik ujung rambut makhluk itu.


Ditarik nya sangat kuat rambut panjang yang kusut itu, "Mau kemana lo?! Hah! Berani lo ngelawan gue?! Asal lo tau ya, kalau gue mau, lo udah lenyap dari kemarin-kemarin!"


Terdiam makhluk bertampang menyeramkan itu, sedangkan Bella menyeret nya kemudian melemparkan nya ke lantai yang di penuhi pecahan-pecahan beling.


DHUBRAK!!


Tubuh makhluk itu membentur pintu laci yang ada di belakang nya.


"Bersihin sampai beres semua! Gue nggak mau tau, pokok nya harus beres!" Bentak Bella dengan suara lantang tapi tetap dingin.


Ekor mata Bella menangkap bayangan lain, yang seperti nya itu adalah teman dari makhluk yang tengah memunguti pecahan kaca itu.


"Apa kalian?! Mau ikut beres-betes juga?" Ucap Bella dengan melirik makhluk yang kini tengah bersembunyi.


"Keluar kalian, gue hitung sampai tiga, kalau kalian nggak keluar juga, bakal gue ledakin tempat ini!" Berapi-api Bella berucap.


"Apaan sih berisik banget?!" Terdengar suara Roy dari arah luar dapur.


Bella masih terdiam dengan mengamati makhluk-makhluk tak kasat mata itu yang sedang membereskan dapur.


"Lo ngapain lagi sih Bel?" Geram Roy, ternyata Bella lagi sumber dari keributan malam ini.


"Bukan urusan lo!" Gerak Bella tanpa sedikitpun memandang Roy.


SRING!!


Cahaya terang tiba-tiba datang dan muncullah Gresta di sana.


"Dek?! Kau memperbudak mereka yang sebenar nya memang sudah menjadi budak?!" Gresta bertanya, dan itu membuat Bella menelan saliva nya susah payah, jujur gadis itu takut kalau sampai diri nya ketahuan marah-marah barusan.


"Dek kenapa diam?" Tanya Gresta.


"Iya, adek lo tu bikin rusuh terus disini! Bawa pulang sana! Nggak butuh gue ART begituan," tukas Roy yang membuat Bella naik pitam, dan BUGH!!


DHUBRAK!!


Tubuh Roy terpental hingga membentur meja dan beberapa kursi yang teronggok di ruangan itu.


"LINABELLA!!" Gertak Gresta dengan mencengkram lengan adik nya itu.


Bulir biru menetes dari pelupuk mata gadis cantik itu, kala suara lantang Gresta menyerukan nama nya.


Netra yang terlihat memerah itu kini memandang si pemilik suara lantang barusan.


"No, no, no, jangan menangis sayang, maaf kakak minta maaf," Ucap Gresta menyesali diri nya yang baru saja lepas kendali.


"Kita pulang sekarang!" Ajak Gresta dengan segera mengajak adik kesayangan nya itu untuk segera berteleportasi.


SSSHHHLLLLAAAPPPP!!


Dalam sekejap saja, Bella dan Gresta sudah meninggalkan tempat itu, sepi hening yang di rasakan Roy, tapi memang nya kenapa? Bukan kah dia sendiri yang menyuruh Gresta untuk membawa pulang Bella.


Roy melangkah gontai menunju kamar nya.


...🍒🍒🍒🍒...


SRING!!


Kakak beradik itu kini sudah sampai di rumah, Bella berjalan dengan melesat-melesat dari pintu, ke ruang tengah, ke tangga dan kini gadis itu hendak melesat lagi namun Gresta menahan lengan gadis cantik itu.


"STOP!! Kamu udah gede sayang, nggak boleh jadi pemarah begitu!" Gresta berusaha menasehati adik sedarah nya itu.


"Tapi kakak nggak tau aku di sana hanya mengajarkan mereka bagaimana bekerja, bukan hanya leha-leha!" Ngotot Bella kali ini berekspresi.


Arthur dan Gracelina yang tengah bersantai di dalam kamar pun keluar karena suara gaduh yang di sebabkan oleh putra-putri nya.


"Hey, hey, hey, hey... Ada apa ini? kenapa berteriak malam-malam begini?" Tanya Arthur yang baru saja tiba di depan pintu kamar Bella.


"Loh Bella? Kamu pulang?" Tanya Arthur yang mendapati putri bungsu nya kini telah kembali pulang.


"Kakak membawa ku pulang!" Sahut Bella dengan merengut.


"Ada apa ini Gresta?" Tanya Arthur tak mengerti.


"Dia di sana nakal Dad, semua makhluk om Mirza di jadikan budak oleh nya, bahkan tak segan-segan putri mu itu mempekerjakan makhluk-makhluk tak kasat mata itu, untuk membereskan perkakas dapur." Cecar


"Benar begitu sayang?" tanya Arthur dengan menilik mata sembab yang tersuguh di sana.


"Jangan menangis sayang, Cerita sama ayah, ada apa? hem?" Dengan kesabaran nya Arthur berbicara dengan berusaha mendapatkan perhatian dari Bella.


Akhir nya Bella bersama dengan Arthur duduk di kursi yang ada di depan tempat tidur itu. Gadis itu mulai bercerita panjang lebar, dengan Daddy tercinta.


Sedangkan Gresta hanya berdiri dengan mengamati perbincangan.


Drrrrttzzz...


Drrrrttzzz...


Tiba-tiba ponsel Gresta berdering, dan ternyata Syaqila lah yang menghubunginya.


Dengan meninggalkan tempat itu Gresta mengangkat panggilan nya dengan menggeser tombol hijau nya.


📞"Sayang, aku rindu," Ucap Syaqila di balik sambungan telfon.


"Aku ke sana sekarang ya," Tanpa pikir panjang Gresta segera menghilang dari hunian mewah nya itu...