
Grace masih merasa trauma dengan kejadian di pusat perbelanjaan tempo hari, gadis itu duduk di atas ranjang dan terlihat sangat terpuruk, sampai-sampai Arthur tak di ijinkan nya untuk pergi walau sejenak.
"Sudah aman Grace, ini di rumah" Ucap Arthur dengan membelai pucuk kepala Grace.
"Nanti kalau mereka datang ke rumah bagaimana?" Waswas masih menyelimuti hati dan pikiran Gracelina Janitra, jujur saja gadis itu belum terbiasa dengan kemunculan makhluk-makhluk yang menyeramkan itu.
"Kemari lah" Ucap Arthur dengan merentangkan tangan nya, Grace pun tanpa pikir panjang segera masuk ke dalam pelukan Arthur.
"Kenapa bisa senyaman ini?" Batin Grace dengan mengusakkan kepala nya di dada bidang milik Arthur.
"Jika ini membuat mu nyaman, lakukanlah tanpa ku menawarkan" Ucap Arthur dengan senyum manis nya, Grace mendongakkan kepala nya saat Arthur pun juga menundukkan kepala nya, kedua netra itu pun bertemu, tak mau berpikir yang aneh-aneh Grace kembali menundukkan kepala nya dan mengeratkan pelukan nya.
Di tengah ke nyamanan kedua nya tiba-tiba tercium bau singkong rebus yang sangat menggugah selera, kebetulan sore itu Grace sangat lapar.
"Heemmmm wangi sekali, pasti bi Siti yang mengantar nya" Ucap Grace yang segera melerai pelukan nya dan segera turun dari ranjang.
"Mau kemana Grace?" Tanya Arthur yang heran dengan Grace yang tiba-tiba langsung beranjak dari ranjang.
"Mau keluar, kau tidak mencium nya? heeeemmmm... " Lagi-lagi Grace menghirup aroma yang sangat menggugah selera itu.
"Ini sangat enak Arthur, aku yakin bi Siti sudah ada di dapur dengan mengolah singkong" Ucap Grace yang langsung keluar dari kamar nya.
"Tapi Grace... " Belum selesai Arthur berucap, gadis itu sudah hilang dari balik pintu.
"Aaaaaaaaaaa Arthuuuuuuurrr!!!" Terdengar sayup-sayup suara Grace berteriak.
"Nah sudah ku duga, pasti bukan bi Siti" Gumam Arthur yang segera menghilang dan menuju dapur SSSSHHHLLLAAAPP!!
Sesampai nya di dapur Arthur tak mendapati Gracelina di sana, "Apa mungkin dia belum sampai di dapur?" Gumam Arthur.
Dengan cepat makhluk tampan itu melesat menuju ruang makan, tidak ada siapa-siapa di sana, kemudian Arthur dengan kecepatan nya berpindah menuju tangga, di sana pun kosong, tidak ada tanda-tanda gadis cerewet itu berada.
Lalu Arthur melihat ke arah jendela yang terbuka di sana ia melihat ada setetes cairan berwarna merah.
"Apa ini?" Gumam Arthur dengan menyentuh cairan itu dan mencium nya.
"Darah" Gumam Arthur kembali ia melihat darah di paku yang tertancap di kusen jendela.
"Aroma yang sama, Grace!" Gumam nya dengan mata yang terbelalak, ia yakin Grace sudah di bawa pergi oleh makhluk.
"Apakah dia setengah manusia sampai-sampai aku tidak menyadari kedatangan nya?" Gumam Arthur dengan membentangkan sayap hitam legam nya dan mulai menembus dinding rumah Grace.
Makhluk tampan itu mengudara dengan sayap yang mengepak gagah bak burung garuda.
Dengan menggunakan mata tajam setajam mata elang Arthur mengikuti setiap tetes darah yang Grace tinggalkan.
Di sisi lain tepat nya di dalam mansion Mirza, mantan pacar Gracelina itu tengah duduk santai di tepi kolam pemandian nya.
WUUUSSSSSHHHH!!
Terlihat asap tebal dengan angin yang sedikit menerbangkan tirai-tirai jendela di sana.
"Kau sudah datang?" Tanya Mirza yang ternyata sudah tau kalau makhluk peliharaan nya sudah kembali pulang.
"Sudah tuan" Ucap nya dengan menggendong seorang gadis yang tak sadarkan diri.
Mirza menoleh ke arah nya dan mendapati luka goresan yang mengeluarkan darah di lengan kiri gadis itu.
BUGH!!! Mirza memukul tubuh makhluk itu dengan tangan kosong nya.
"Berani sekali kau melukai nya!" Geram nya dengan mengambil alih tubuh gadis itu dari tangan makhluk yang bertubuh besar.
"Maaf tuan, itu tidak sengaja" Ucap makhluk itu, namun Mirza tak menghiraukan nya ia menggendong gadis itu dan ia tidurkan di sofa ruang tengah nya kemudian ia mengambil kotak P3K dan mulai membersihkan darah yang mengucur di lengan gadis itu.
"Maaf Grace, tidak ada niat sedikit pun untuk melukai mu" Gumam Mirza kepada gadis yang tak sadarkan diri itu yang tak lain adalah Gracelina Janitra mantan kekasih nya.
"Apa yang kau lakukan Za?!" Teriak seorang perempuan yang baru saja masuk ke dalam mansion Mirza.
Mirza tersentak, ia merasa tergagap mendapati Calista yang sudah berdiri di depan nya.
"Ca?" Lirih Mirza dengan tangan yang masih memegang lengan Grace yang terluka.
"Gue tanya, apa yang lo lakuin?" Suara Calista sedikit bergetar melihat adegan romantis di hadapan nya itu.
"Tidak ini... "
"Kau masih peduli pada nya?!" Geram sekali Calista sampai nada bicara nya naik satu oktaf dari biasa nya.
"Bukan begitu, ini hanya..."
BLEDAM!!! Belum selesai Mirza berucap dari luar sudah terdengar suara ledakan yang mengejutkan kedua muda mudi itu.
DHUARRRR!!! BRAK!!
Kembali dibuat terkejut oleh suara yang mengagetkan itu Mirza segera melihat apa yang terjadi di luar.
Dilihat nya sosok laki-laki tampan dengan sayap yang masih membentang gagah berdiri di tengah pintu yang sudah hancur berkeping-keping.
"Siapa kau? kenapa membuat keributan di sini?" Tanya Mirza dengan berdiri di tempat nya.
"Gila aura nya saja sudah terasa sampai ke sini, berati dia sangat kuat, jika dia bisa menjadi milik ku, pasti kekuatan ku akan bertambah hebat" Batin Mirza dengan tangan yang perlahan merogoh botol kecil yang ada di dalam saku celana nya.
"Dimana kau sembunyikan gadis itu?!" Tanya makhluk bersayap itu.
"Jangan kau pikir aku tidak tau jika gadis itu ada bersama mu!" Ucap makhluk itu yang melesat dengan cepat dan mencekik leher Mirza.
"A... ku ti... dak... ta... U apa yang... ka... u mak... sud!" Ucap Mirza dengan tersendat-sendat karena cengkeraman di leher nya begitu kuat.
"Ku kasih satu kali kesempatan! Dimana dia!?!" Geram makhluk itu melemparkan Mirza ke lantai.
BRAK!
"Uhuk... uhuk... uhuk... " Mirza terbatuk-batuk dengan berusaha berdiri lagi. Diam-diam laki-laki itu membaca mantra dan menggerakkan tangan nya seolah memberi isyarat dan kemudian muncullah dua sosok makhluk tinggi besar yang menyerang makhluk bersayap itu.
Namun mereka berdua tak sebanding dengan makhluk tampan itu, dengan mudah kedua makhluk bertubuh tinggi besar itu terpental jauh hanya dengan satu dorongan makhluk tampan itu.
"Waaaahh sungguh hebat, aku tidak boleh melepaskan yang seperti ini, kau akan menjadi miliku dan gadis mu akan aku bebas kan hahahahaha... " Tawa itu menggelegar bersamaan dengan Mirza yang mulai membaca mantra sedangkan tangan nya sibuk membuka botol kecil yang ia keluarkan dari dalam saku nya.
"Coba saja kalau kau bisa menangkap ku" Ucap makhluk tampan itu yang dengan kecepatan nya melesat dan merebut botol kecil yang ada di tangan Mirza.
Dalam sekejap saja botol kecil itu sudah ada di tangan makhluk bersayap itu.
"AAARRRGGHHH!!!" Teriak makhluk bersayap itu karena tutup botol itu telah terbuka makhluk bersayap itu perlahan terserap ke dalam botol, dan dengan cepat Mirza meraih botol kecil yang melayang ke arah nya lalu menutup rapat lubang botol itu.
Tanpa ia sadari sepasang mata yang bersembunyi melihat kejadian itu.
"Heh... bodoh" Gumam Mirza dengan berjalan kembali ke ruangan dimana ia menidurkan Grace.
"Dimana gadis arogan itu?" Gumam Mirza karena tidak melihat Grace atau pun Calista di sana.
Masih mencari ke setiap sudut ruangan, Mirza akhir nya menemukan Calista yang tak sadarkan diri di belakang sofa.
"Ca! Ca bangun Ca!" Ucap Mirza dengan menepuk pelan pipi Calista.
Di saat Mirza sedang sibuk dengan Calista yang pingsan tiba-tiba BUGH!! dari arah belakang ada yang memukul tengkuk Mirza hingga laki-laki itu pingsan.
Karena Mirza pingsan botol kecil yang digenggam nya terjatuh kelantai.
"Hah apa itu?" Gumam gadis yang memukul tengkuk Mirza yang tak lain adalah Grace.
"Arthur?" Ucap Grace setelah ia memungut botol kecil yang terjatuh itu, dengan segera Grace membuka tutup botol itu dan keluarlah asap tebal dari dalam botol itu.
"Arthur kau di sana?" Ucap Grace dengan mengibas-kibaskan tangan nya untuk mengurangi asap yang menganggu jarak pandang nya.
Sampai asap itu hilang Grace tak mendapati siapa pun di sana, rasa kecewa dan nyeri di hati tiba-tiba saja melanda, gadis itu duduk berlutut dengan mata yang mulai mengembun.
"Arthur" Lirih nya bersamaan dengan menetes nya bulir bening yang tak dapat ia tahan.
"Bodoh! Hiks...harus nya gue hiks...hiks...rebut botol itu sebelum dia benar-benar masuk ke dalam hiks... hiks... Arthur" Gumam Grace di sela isak tangis nya.
Bayangan di saat pertama mereka bertemu pun terlintas di benak Grace, dimana diri nya pernah memanfaatkan Arthur untuk membersihkan rumah dan menata taman nya, juga Arthur yang selalu membuat nya nyaman.
"ARRTHUUUURRRR!!!" Teriak Grace.
"Kau memanggil ku?" Bisik Arthur tepat di samping telinga Grace.
Tersentak Grace mendengar suara yang di rindu nya, gadis itu dengan cepat menoleh ke arah sumber suara dan di sana wajah kedua nya bertemu sangat dekat, Grace terdiam sejenak karena merasa haru, namun detik berikut nya "BRUK!!" Grace menghambur ke pelukan Arthur sampai makhluk itu terjengkang.
"Slowly baby" Ucap Arthur dengan senyum nya.
"Heh, belajar dari mana bahasa itu?" Tanya Grace yang masih memeluk Arthur.
"Bahas nya nanti saja, kita pulang dulu" Ucap Arthur
"Sebentar!" Ucap Grace yang segera mengarahkan botol kecil itu ke arah Mirza yang tak sadarkan diri, dengan bantuan mantra yang Arthur baca, Mirza masuk ke dalam botol kecil buatan nya sendiri.
"Selesai" Ucap Grace dengan menutup botol kecil itu dan membawa nya.
Kemudian dengan menutupkan jubah hitam nya ke tubuh Grace, Arthur segera membawa gadis itu pergi dari mansion itu.
SSSSSHHHHHLLLLAAAPPPP!!!
Seperti biasa kedua nya sudah sampai di rumah.
"Tumben di ruang tamu" Ucap Grace setelah mata nya melihat ke sekeliling ruang tamu.
"Suka-suka aku dong, yang penting kan sudah di rumah mu" Sahut Arthur dengan meletakkan bokong nya di permukaan sofa yang halus.
"Bilang aja udah nggak kuat! udah capek kan? Heleh bilang nya aja lebih kuat dari mereka lebih lebih pokok nya" Cicit Grace dengan berjalan menuju anak tangga. Tanpa ia ketahui Arthur mengikuti di belakang nya dan langsung mengangkat tubuh gadis itu.
"Yak!! Apa yang kamu lakukan?" Teriak Grace dengan berpegangan pundak Arthur, ia terkejut karena tubuh nya yang tanpa aba-aba sudah ada di gendongan Arthur.
"Siapa bilang aku tidak kuat? aku kuat!" Ucap Arthur dengan menatap lekat wajah Grace kemudian Arthur berjalan menaiki anak tangga layak nya manusia dengan pandangan lurus ke depan.
Grace melongo dengan apa yang di kata kan Arthur, gadis itu terus menatap wajah Arthur dari samping.
Dheg-dheg... Dheg-dheg...
Debaran jantung Grace begitu besar sampai dada Grace terlihat naik turun ketika gadis itu menarik dan menghembuskan nafas nya.
"Ada apa dengan aku ini?...
Kira-kira kenapa ya kok jantung nya berdebar-debar, yuk klik like dulu nanti kita cari tau di bab selanjut nya see you...