
Setelah menyelesaikan ritual mandi nya Gracelina perlahan mengganti pakaian nya, ia berjalan dengan sangat pelan, karena memang sangat sakit rasa nya.
Perih luka dan juga ngilu nya memar yang ada di tubuh nya kini membuat diri nya tak leluasa dan tak selincah hari kemarin.
"Oh iya tadi kayak nya Arthur ninggalin salep di wastafel deh" Gumam nya, ia berjalan kembali menuju wastafel dan dengan perlahan pula ia berjalan kembali ke ranjang dengan membawa salep yang tadi di bawa Arthur.
CEKLEK!! Suara pintu terbuka dan nampak Arthur berjalan mendekati Grace yang duduk dengan mengoleskan salep di beberapa luka nya.
"Berikan pada ku!" Ucap Arthur dengan nada dingin nya, Grace tak mau berdebat ia memberikan salep itu dan Arthur walau pun tak berekspresi apa pun ia dengan lembut dan sangat hati-hati mengolesi setiap luka dan memar yang ada di tubuh Grace.
Bahkan setelah selesai dengan luka di tubuh, Arthur menyuruh Gracelina untuk berbaring.
"Berbaringlah, biar ku obati juga yang di sana" Ucap Arthur yang segera melesat menghilang dari pandangan Grace dan sesaat kemudian ia muncul dengan membawa air hangat dan sapu tangan untuk mengompres.
"Bilang jika sakit!" Bernada dingin namun masih penuh perhatian, Grace hanya menganggukkan kepala nya, sedangkan Arthur sebelah tangan nya menghempas ke arah pintu dan pintu nya tertutup bahkan terkunci, sudah tak kaget lagi Grace dengan kemampuan Arthur.
Lalu dengan pelan dan sangat hati-hati Arthur mulai mengompres tempat paling sensitif itu dengan sapu tangan yang sebelum nya dia celup di air hangat.
"Apakah sakit?" Tanya Arthur dengan masih menatap siranum yang mirip dengan buah peach, Grace menggeleng dengan masih menahan de-sahan agar tidak lolos, jujur saja saat sapu tangan Arthur mengompres bagian pinggir tak sengaja pasti jari kelingking nya menekan bagian sensitif nya.
Kembali Arthur mencelupkan saputangan itu kedalam air hangat dan memeras nya kemudian ia kembali mengompres bagian sebelah nya.
"Ahhh... emmhhh... " Suara Grace tak dapat terbendung dan itu membuat Arthur menghentikan aktivitas nya.
"Kau menggoda ku lagi?" Geram Arthur karena merasa luka yang dia buat belum sembuh sedangkan Grace sudah mulai menggoda nya dengan de-sah manja nya.
"Ti... tidak Arthur, jangan berhenti kumohon, sangat nyaman saat kau mengompres nya" Ucap Grace dengan duduk dan menahan tangan Arthur.
Grace kembali berbaring dan Arthur melanjutkan nya, dengan menutup mulut nya Grace masih menahan agar tidak bersuara.
Setelah selesai Arthur meninggalkan Gracelina di kamar nya.
Grace keluar kamar berniat untuk sarapan, namun di sana ia melihat koper-koper sudah rapi.
"Loh ini pada mau kemana? Tanya Grace kepada Sani dan Digo yang juga sudah rapi.
" Ayah ada meeting malam nanti di korea baby, dan harus berangkat sekarang, baby hati-hati di rumah ya sayang" Ucap Digo dengan mengecup kening Gracelina.
"Lalu bunda?" Kini Grace beralih pada Sani yang juga sudah cantik.
"Bunda harus keliling dong sayang, klinik bunda mau jadi apa kalau tidak ada yang ngontrol?" Grace menghela nafas tapi apa boleh buat memang itu lah pekerjaan kedua orang tua nya dan kini ia menikmati hasil kemewahan dari kerja keras orang tua nya.
"Oh iya, Arthur kemana?" Tanya nya setelah bersalaman juga mencium punggung tangan kedua orang tua nya, Grace menanyakan sang suami yang belum menampakkan batang hidung nya.
"Suami mu mengantarkan Ayah dan ibu mertua mu, mereka juga harus balik ke prancis" Sahut Sani.
Terlihat kesedihan di dalam mata Grace karena baru hari pertama saja Arthur sudah berubah, dia yang hangat kini menjadi Arthur yang dingin, tapi memang perhatian masih ada di dalam nya tapi kehangatan nya mulai memudar.
"Ayah nggak mau Grace antar?" Grace menawarkan diri untuk mengantar ayah nya ke bandara.
"Tidak sayang, ayah sama bunda aja, nantikan bunda lewat bandara" Sahut Sani.
Kedua orang tua Grace pun berangkat dengan mengendarai mobil Sani.
Kini tinggallah Grace seorang diri di dalam rumah bak istana itu, oh tidak ada Srikantil dan juga Nendra yang masih menetap di rumah itu sebagai ART dan sopir gratisan.
Tunggu kemana mereka berdua kenapa tidak ada kabar nya? Grace celingukan seperti mencari teman karena setelah suasana ramai dan kini ia kembali sendirian.
"Ahhh... Ndra... Ouh yess daddy... ouh ahhh... " Grace mendengar erangan kenikmatan dan itu berasal dari arah dapur.
Perlahan Grace melangkah kan kaki nya menuju dapur suara itu semakin terdengar jelas.
"Yess ahh Owkey baby, kau sangat sexy, owh... emmm... " Grace semakin penasaran di buat nya ketika ia sudah sampai di pintu dapur tiba-tiba tangan nya di tarik dan ke samping pintu hingga tubuh nya terbentur di dinding.
"Ar... "
"Sssttttt..." Arthur menempelkan jari telunjuk nya dia bibir Grace mengisyaratkan untuk diri nya tidak bersuara.
Grace hanya melihat Arthur dengan tatapan heran, kemudian Arthur mendekap nya dan WUUUUUSSSSSHHHH...
SSHHHLLLLAAAPPP...
Teleportasi Arthur membawa Grace kembali ke dalam kamar nya.
"Kenapa kau membawa ku kemari?" Tanya Grace bingung.
"Tidak sopan mengganggu makhluk lain yang sedang berhubungan" Sahut Arthur.
"Apakah itu Sri?" Tanya Grace yang masih penasaran.
"Hem... " Hanya itu sahutan dari Arthur. "Dengan Nendra kah?" Sekali lagi Arthur hanya menganggukkan kepala nya.
"Lalu apa kau tidak ingin melakukan nya sayang?" Grace mengalungkan tangan nya di leher Arthur.
"Di rumah ini tidak ada siapa-siapa, kita bisa mencoba nya dimana pun kau mau" Bisik Grace di samping telinga Arthur.
"Tidak Grace! Jangan paksakan diri mu! Kau belum sehat!" Arthur berjalan meninggalkan Grace bahkan ia sesegera mungkin melesat keluar dari kamar.
"Haish... bagaimana ini?!" Gumam nya dengan mengacak rambut nya frustasi.
...ππππ...
Seperti biasa Grace berangkat ke kampus bersama suami tercinta nya namun masih sama seperti hari-hari kemarin, semakin hari Arthur semakin dingin.
Siang ini selesai kelas Grace bersama kedua sahabat nya makan di kantin biasa, juga duduk di tempat duduk terfavorit yaitu pojokan kantin.
"Kenapa bestie? diajak clubbing nggak mau giliran ada masalah frustasi" Cibir Ayu dengan menyedot susu soda yang ada di hadapan nya.
"Cerita-cerita, kita dengerin kok!" Timpal Lina dengan mencomot kentang goreng yang ada di depan Grace.
"Jadi sebenarnya gue udah nikah... "
"WTF?! sama pak dosen?!" Teriak kedua gadis sahabat sebestie Gracelina.
"He'em, ssssttt jangan kenceng-kenceng dong gue malu" Ucap Grace.
"Kok malu sih punya laki setampan itu?" Tanya Ayu yang tidak tau menahu masalah yang Grace hadapi.
"Dengerin dulu dong!" Bibir Grace mngerucut.
"Jadi setelah malam pertama... "
"Wah jadi lo udah di bobol dong?!" Dengan sedikit berbisik Lina bertanya.
"Gimana? enak nggak? kata nya sih awal nya sakit, tapi kalau pemanasan nya lama enak tau" Imbuh nya dengan suara yang setengah berbisik.
"Ish Lina ih kayak yang udah pernah aja" Ucap Ayu yang bergidik mendengar penuturan Lina.
"Lanjut Grace!" Ucap kedua nya bersamaan.
"Setelah malam yang gue anggep manis itu dia jadi dingin, dia jadi kaya nggak mau pegang gue gitu" Jelas Grace.
"Loh kok gitu say? Apa bukan dia yang buka segel lo?" Tanya Ayu asal ceplos.
"Bacot lo yuk!" Lina melempar mulut Ayu menggunakan steak kentang.
"Eh kan gitu, cowok biasa nya kecewa dong kalau istrinya udh gak ori" Ucap Ayu dengan polos nya.
"Tapi gue nggak pernah ngelakuin begituan sama cowok lain" Jelas Grace jujur.
"Ada noda darah nggak di sprei lo?" Tanya Lina antusias menunggu jawaban Grace.
"Ada sih" Ucap Grace dengan menyibak rambut nya dan tak sengaja kedua bestie nya itu melihat ada memar dan bekas gigitan di leher Grace.
"Bestie, leher lo kenapa?" Tanya Ayu yang melihat jelas.
"Hah... emm... "
"Pak dosen nggak ngelakuin KDRT kan sama lo?" Kini Lina langsung menuding ke sana.
"Nggak, ini juga awal dari dia dingin sama gue, karena badan gue memar-memar dan banyak luka setelah malam itu" Jelas Grace.
"Apa mungkin pak Dosen ganteng hilang kendali saat main sama lo?" Tanya Ayu yang bisa mikir lebih damai dari pada ke jalur KDRT.
"Nggak juga deh, dia masih nyebut nama gue kok, bahkan dalam ke adaan dia merem" Jelas Grace.
"Terus udah berapa hari dia nggak nyentuh lo bestie?" Tanya Lina.
"Sekitar hampir satu minggu deh kayak nya" Grace terlihat mengingat dan menghitung hari.
"Ada kemungkinan nggak sih bestie kalau pak Dosen selingkuh?" Pertanyaan bagai petir yang menyambar di siang bolong itu pun membuat Grace ternganga tak mampu ia berkata, seolah pertanyaan itu menakutkan lebih dari para hati peliharaannya.
"Hey jangan diem gitu dong! kan gue cuma nanya!!" Lanjut Lina yang merasa bersalah dengan pertanyaan nya.
"Kalau beneran dia selingkuh gimana dong?" Air mata yang begitu murah itu pun berselancar ria di pipi Gracelina.
"Goda dia kembali, lo cantik, lo sexy, lo semlohay baby!" Ucap Ayu dengan menggerakkan tangan nya meliuk liuk mengikuti body guitar Spanyol.
"Kalau dia udah nggak tertarik sama gue lagi gimana?" Masih dengan bulir bening yang berselancar Grace mencebikkan bibir nya.
Ayu memeluk Grace "Uuuuhhh Grace udah dong jangan nangis, ntar gue cariin cowok ganteng yang lain deh, biar lo nggak sakit hati" Ucap Ayu yang langsung mendapat jitakan di kepala nya.
"Aw! sakit Lina!" Gerutu Ayu dengan mengelus kepala nya.
"Ya habis nya lo kalau ngomong!" Lina melotot tak suka dengan cara Ayu menghibur Grace.
"Pokok nya terus berjuang, menggoda suami itu hal yang halal sayang! Semangat!" Ucap Lina dan Ayu memberi semangat. Grace memeluk kedua sahabat nya itu.
Sesampai nya di rumah...
Grace turun dari mobil nya dan langsung berjalan masuk ke dalam kamar nya, kali ini Arthur merasa ada yang aneh karena beberapa hari terakhir Grace masih merengek dan bertingkah.
"Ada apa dengan nya" Gumam Arthur dengan melangkahkan kaki nya masuk ke dalam rumah.
Tak mau berpikir terlalu rumit Arthur pun melesat menuju kamar nya, di sana ia tak melihat istri nya.
"Grace? sayang?" Arthur memanggil Grace CAKLEK!! Pintu kamar mandi pun terbuka dan dari sana keluarlah Grace yang hanya mengenakkan handuk super minimalis, bahkan belahan dada Grace seakan menyembul setengah dan itu membuat Arthur sedikit kesusahan untuk menelan saliva nya.
"Sayang? kau... "
"Mandi lah, air nya sudah siap" Sela Grace dengan berjalan melewati Arthur, sengaja Grace melepaskan handuk yang menutupi kepala nya dan sedikit mengibaskan sambil menggosok rambut basah nya.
Wangi sabun dan shampo menyeruak merasuk ke dalam indra penciuman Arthur, aroma segar itu sungguh membangkitkan gairah , ingin sekali Arthur memeluk istri nya saat ini namun lagi-lagi bayangan luka-luka juga memar-memar di tubuh Grace membuat makhluk tampan itu mengurungkan nya dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
BRAK!!
Melihat Pintu kamar mandi yang sedikit di banting oleh suami nya, air mata yang tak lagi ada harga nya itu kembali berselancar di pipi Grace...
...Jangan lupa klik Favorit π, likeπ, dan juga komentar ya biar author semangat buat up date, see you di bab-bab selanjut nya, dan nantikan kejutan di bab berikut nya π₯°π₯°π₯°...