The Guard

The Guard
Amnesia



Setelah mendapat kabar dari telepon barusan, kaki Gresta merasa lemas, KLOTAK!!


Gagang telfon yang tadi melekat di telapak tangan nya kini sudah terjatuh di lantai.


"Ada apa Tuan Muda? Siapa yang telfon?" Tanya Angel Chrisa dengan raut kekhawatiran.


"Mama Kinan" Lirih bocah tampan itu dengan tatapan kosong nya, kemudian ia berlari menuju pintu keluar dengan Chrisa yang mengejar di belakang nya.


"Tuan Muda! Anda mau kemana?!" Teriak nya dengan suara lantang.


Gresta berhenti, ia memandang Chrisa yang juga berhenti di belakang nya.


Gresta meraih lengan putih Chrisa, "Bibi lakukan sulap mu, bawa aku ketempat mama, mama Kinan kecelakaan"


Chrisa tak dapat menolak permintaan bocah tampan di hadapan nya itu, ia pun berlutut di depan Gresta.


"Tuan Muda jangan khawatir, karena Nyonya Kinan akan baik-baik saja" Ucap Chrisa yakin.


Tapi ternyata ketenangan yang di berikan Chrisa tak mampu menembus relung hati Gresta, bocah tampan itu masih merengek untuk di pertemukan dengan Kinanthi.


"Bibi, bawa aku bertemu dengan mama Kinan!" Rengek nya dengan menggoncang-goncangkan lengan Chrisa.


Mau tak mau Chrisa mengabulkan keinginan pangeran kecil kesayangan nya itu.


SRING!!!


Kini kedua nya sudah sampai di tempat kejadian, terlihat banyak mobil polisi dan kerumunan orang-orang yang seperti melihat kejadian itu, beragam diantara nya, dari yang benar-benat simpati sampai yang hanya ingin mengambil gambar dan di jadikan story di aplikasi kesayangan mereka.


"Permisi-permisi" Bocah pintar itu berusaha masuk ke tengah-tengah kerumunan massa.


"Maaf tante, om! itu mama saya!" Sedikit mengeraskan suara nya, akhir nya Gresta mendapatkan akses masuk ke tengah-tengah lingkaran manusia itu.


Di Sana betapa terkejut nya ia ketika mendapati Papi nya Syaqila juga ada di sana.


"Om Aldi?" Tanya Gresta terkejut.


"Loh nak Gresta kok di sini?" Tanya Aldi yang lebih bingung lagi.


"Ini mama saya om, tolong bawa mama ke rumah sakit sekarang!" Ucap Gresta meminta tolong.


Sedangkan Aldi hanya mengangguk, tanda ia setuju untuk membantu korban.


Setiba nya di rumah sakit Kinanthi segera di tangani oleh pihak medis, mereka memasangkan beberapa alat bantu pernafasan juga yang lain nya.


"Om, Sya nya nggak ikut?" Tanya Gresta yang masih merasa bersalah kepada teman cantik nya.


"Nggak, om tadi cuma mau beli makan dan nggak sengaja melihat Bu Kinan tergeletak tak berdaya" Sahut Aldi, Gresta pun menganggukkan kepala nya berusaha mengerti.


"Kamu siapa nya Bu Kinan? Kamu bilang tadi dia mama mu? " Tanya Aldi dengan duduk di samping Gresta.


"Iya om, Gresta anak angkat mama Kinan" Sahut nya dengan mengayun kan kaki-kaki kecil nya yang tidak menapak di lantai.


"Anak angkat? Tapi kedua orang tua mu masih? kenapa... "


Belum selesai Aldi bertanya seorang dokter lebih dulu menemui keduanya.


''Keluarga saudara Kinan?" Tanya sang dokter.


Kedua nya berdiri bersamaan, Aldi dan Gresta melangkah kan kaki nya hampir bersamaan mendekati dokter yang ternyata menyimpulkan bahwa kedua orang itu anak dan suami nya Kinanthi.


"Jadi begini, keadaan ibu Kinan saat ini sudah baik-baik saja hanya sebagian memori dalam otak nya hilang, jadi ada kemungkinan beliau seperti amnesia namun tidak semua ia lupakan" Jelas sang dokter.


"Apa sekarang saya boleh melihatnya dok?" Tanya Gresta.


"Iya silahkan" Sahut sang dokter kepada kedua nya, setelah di persilahkan mereka pun masuk ke dalam ruangan yang banyak sekali peralatan medis.


Dilihat nya Kinanthi sedang terbaring lemah, tak sekuat biasa nya, Gresta membelai pipi Kinanthi dengan lembut dan mata Kinanthi yang terpejam pun perlahan terbuka.


"Kevin?" Lirih nya.


"Ya mama, ini Kevin, mama Kinan ingat Kevin?" Tanya Gresta dengan wajah tampan yang mengulas senyum.


"Ingat sayang, kau anak mama paling tampan" Sahut nya. Kemudian Kinanthi menatap Aldi yang ada di samping bocah tampan itu.


"Kenapa dia juga di sini?" Batin Kinanthi dengan mengalihkan pandangannya ketika kedua netra nya saling bertemu.


"Oh iya mama ingat om ini nggak?" Tanya Gresta dengan memegang tangan Aldi.


"Hah? Ti... tidak" Terlihat sedikit tergagap Kinanthi ketika Gresta menanyakan Aldi yang saat ini sedikit mengerutkan Alis nya.


Pipi Kinanthi sedikit bersemu merah netra berlensa hazel itu tak berani menatap balik sosok tampan yang ada di hadapan nya itu.


"Ti... tidak me... memang nya siapa anda?" Rasa gugup kini menyelimuti hati Kinanthi.


"Ya sudah jika memang tidak ingat saya, saya pamit dulu, bu Kinan istirahat yang baik, siapa tau besok bisa ingat saya" Ucap Aldi yang kemudian melangkah kan kaki nya menuju pintu keluar.


Sebelum menghilang di balik pintu, Aldi menyempatkan untuk menoleh ke arah Kinanthi, dan benar saja CEO cantik itu terlihat gelagapan dan mengalihkan pandangan nya ke arah lain.


Senyum tipis Aldi suguhkan sebelum benar-benar ia meninggalkan ruangan itu.


Gresta dan Chrisa menjaga Kinanthi yang malam itu di rawat di rumah sakit.


Chrisa yang masih waspada dengan gelagat Kinanthi pun masih berpura-pura buta, makhluk putih itu tak percaya sedikit pun kalau Kinanthi akan kehilangan memori nya, bukan kah dia sangat hebat? Kenapa bisa diri nya sampai tertabrak, semua itu membuat Angel Chrisa mengambil kesimpulan bahwa pasti ada rencana di balik ini semua.


...🍒🍒🍒🍒...


Pagi hari Gresta yang terlihat murung membuat Kinanthi bertanya kepada bocah tampan itu.


"Kenapa sayang?" Lirih Kinanthi dengan menatap wajah murung putra nya.


"Gresta, ada salah sama teman sekolah Gresta dan rencana pagi ini Gresta ingin meminta maaf" Ucap bocah itu.


"Kevin mau sekolah?" Tanya Kinanthi.


"Apa boleh? Kan mama nya lagi sakit?" Ucap Gresta dengan menundukkan kepala nya.


"Boleh asal hati-hati ya sayang" Ucap Kinanthi memberikan ijin.


"Yey... Kevin sayang mama" Ucap nya dengan melompat dan memeluk Kinanthi.


Setelah mendapat ijin dari Kinanthi Gresta bergegas meninggalkan rumah sakit dan dengan satu tujuan ya itu meminta maaf kepada Syaqila.


Dengan kekuatan magic Angel Chrisa SRING!!! Kini Gresta sudah rapi dengan baju yang siap untuk di ajak ke sekolah.


Setiba nya di sekolah Gresta dengan segera mendekati Syaqila yang saat ini tengah asik main dengan teman-teman nya.


"Sya, ikut aku sebentar!" Dengan langsung menarik tangan nya, Syaqila hanya menurut tanpa sedikit pun pemberontakan.


Kini kedua nya ada di taman belakang sekolahan, Gresta masih berdiri dengan menundukkan kepala nya.


"Kau mengajak ku ke sini hanya untuk kau diamkan seperti ini?" Tanya Syaqila yang merasa geram dengan bocah dingin yang ada di hadapan nya itu.


"Hah? Tidak, aku... aku... aku mau minta maaf" Ucap Gresta dengan mengerahkan kekuatan yang baru-baru ini di asah dengan Angel Chrisa, Gresta berhasil membentuk kata "SORRY" dengan dedaunan yang masih berserakan di taman belakang itu.


Menganga kagum Syaqila melihat nya, sedangan Angel Chrisa menepuk kening nya merasa payah, "Bocah ini! kenapa malah di beritahukan kepada anak manusia, kalau yang lain tau pasti bahaya ini" Batin Angel Chrisa.


"Wuuuuuaaaaaahhh... Gresta hebat, kau bisa main sulap?" Teriak Syaqila dengan melompat-lompat bahagia.


"Aku akan melakukan nya tapi dengan dua syarat" Ucap Gresta dengan mengacungkan dua jari nya.


"Apa itu?" Antusias terlihat jelas di raut wajah cantik Syaqila.


"Pertama maafkan aku... "


"Tentu, aku sudah memaafkan mu" Sela Syaqila membuat Gresta tersenyum.


"Kedua, jangan bilang siapa pun kalau aku melakukan ini" Ucap Gresta dengan mengarahkan tangan nya ke langit dan di sana awan-awan putih membentuk tulisan "SYAQILA ALDINA MAAFKAN AKU"


Dengan mata yang berbinar, Syaqila melihat kehebatan itu.


"Iya Gresta kila sudah memaafkan mu kok" Ucap bocah itu.


Kedua nya kini kembali ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran juga permainan.


...🍒🍒🍒🍒...


Di rumah sakit...


Kinanthi terlihat berbicara serius dengan dokter yang semalam menangani nya.


"Bagaimana dok? apakah semua nya beres?" Kinanthi bertanya.


"Beres aman nyonya" Sahut dokter itu.


"Kau yakin semua akan percaya?" Tanya nya lagi.


"Percaya apa?" Suara maskulin itu terdengar tiba-tiba dari balik pintu ruangan yang tertutup...