The Guard

The Guard
Hamil



Perlahan Mikko membuka mata nya dan melihat ke arah pintu ternyata di sana berdiri Lina yang menahan air mata nya, Mikko tak dapat berkata-kata sungguh ia terkejut bahkan ia lupa kalau pusaka nya masih terekspos di sana.


"Aku nggak nyangka!" Ucap Lina yang segera berlari keluar, "Aku bisa menjelaskan Lina! Tunggu!!"


Mikko langsung berlari dan BRUGH!! Karena lupa menaikkan resleting kaki Mikko tersandung celana nya sendiri dan ia jatuh di lantai toilet dengan hidung yang membentur lantai.


...🍒🍒🍒🍒...


Seperti biasa embun pagi ini enggan untuk meninggalkan dedaunan tempat nya berpijak, sedangan angin semilir tanpa rasa dosa memisahkan si embun yang sudah nyaman dengan pijakan nya, tapi dengan berbesar hati, embun tak akan pernah menyalahkan angin yang telah menggoyahkan daun dan menjatuhkan nya.


Karena ia sadar cepat atau lambat ia pun akan hilang seiring mentari pagi yang menyinari belahan dunia yang siap di sapa nya.


Di balkon sebuah kamar, terlihat sepasang kekasih tengah menikmati secangkir kopi berdua, sungguh indah pemandangan ini jika mengingat kejadian semalam.


Ayu dan Jerik tengah bersantai di sana, sampai suara gaduh dari salah satu kamar menghancurkan keromantisan nya.


"Uegh... Uegh... Uegh...!!!"


Sontak Jerik dan Ayu saling pandang kemudian bergegas menuju sumber suara.


Suara langkah kaki mereka berdua mengganggu Lina yang terlihat tengah mengobati hidung Mikko.


"Ada apa? kenapa lari-lari?" Tanya Lina yang melihat Jerik dan Ayu menuju kamar Grace.


"Kalian gak denger ya? kayak nya Grace sakit deh" Ucap nya dengan berhenti sejenak kemudian kembali melangkahkan kaki nya menuju kamar Grace.


Tanpa permisi kedua nya langsung menerobos kamar yang sudah di rusak engsel nya semalam oleh Jerik.


"Grace! Lo sakit bestie?" Ayu yang terlewat khawatir segera berlari mendekati Gracelina yang ada di depan wastafel.


Ayu memijit tengkuk Grace yang masih mual-mual, berharap ia bisa membantu sahabat nya mengurangi rasa mual.


Di samping itu Jerik menatap curiga pada Arthur, "Apa lihat-lihat?!" Datar namun tatapan mata tajam begitulah Arthur saat ini.


Jerik menarik lengan Arthur agar sedikit menjauh dari kedua gadis itu.


"Kakak apa in dia?!" Bisik Jerik.


"Bocil nggak boleh tanya begituan!" Sahut Arthur dengan menoyor kepala Jerik.


"Itu dia muntah-muntah, bisa jadi dia hamil kak" Ucap Jerik yang memang kuliah dan mengambil jurusan kedokteran.


"Kamu yakin?" Tanya Arthur dengan mengerutkan kedua alis nya.


Tanpa pikir panjang Jerik segera berteleportasi tanpa sepengetahuan siapa pun kecuali Arthur.


Tak lama kemudian Jerik sudah sampai di vila lagi dengan membawa alat tes kehamilan, ia berjalan mendekati Grace.


"Coba kamu tes dulu" Jerik menyodorkan alat tes kehamilan itu kepada kakak ipar nya.


"Beib!! Apa-apaan sih, orang Grace nya lagi sakit begini malah di kasih alat begituan!" Ayu langsung ngeGas ketika melihat alat tes kehamilan yang Jerik berikan kepada Grace.


"Tapi Yuk, apa gue beneran hamil ya?" Ucap Grace yang secara tidak langsung setuju dengan Jerik.


"Hamil?" Tanya Ayu heran.


"Ya jangan heran gitu dong Yuk! mereka kan udah nikah, yang aneh itu kalau kamu yang hamil" Ucap Jerik.


"Oh iya ya, ya udah deh bestie, kamu cek dulu gih!" Ayu meraih alat kecil itu dari tangan Jerik dan memberikan nya kepada Grace.


Sementara Grace, Ayu, Jerik, dan Arthur menunggu hasil, di lantai bawah Lina baru saja selesai mengobati hidung Mikko.


"Lain kali jangan gitu dong" Ucap Lina yang masih dengan malu-malu saat berhadapan dengan Mikko.


"Ya gimana ya? Gue sendiri bingung kenapa nama lo juga bayangan lo yang mengisi fantasi gue semalam" Jujur Mikko namun itu malah membuat Lina semakin malu, karena itu arti nya secara tidak langsung diri nya sudah mampu menembus relung hati dan otak Mikko.


"Duh jangan gitu dong kak, kan Lina nya jadi ke GE ER an ini hehehe... " Canda Lina malu-malu, Mikko meraih tangan gadis yang ada di samping nya itu.


"Tapi boleh kan gue deket sama lo?" Tanya Mikko dengan menatap wajah Lina yang saat ini mungkin sudah memerah seperti buah tomat yang siap panen.


"AAAAAAAAAAAA!!!" Belum selesai Lina mengucapkan jawaban nya, suara Grace yang berteriak lebih dulu menyita perhatian kedua nya, terutama Lina yang khawatir jika terjadi sesuatu dengan sahabat nya itu.


Baru saja ia berdiri kembali Mikko menarik tangan nya, seperti dejavu lengan Lina yang di tarik oleh Mikko membuat gadis itu kembali duduk namun kali ini tubuh nya terhuyung dan menimpa dada Mikko hingga bibir kedua muda mudi itu menempel.


Lina yang terkejut membelalakkan mata nya dan segera mundur namun Mikko malah menahan tengkuk Lina sedikit kuat hingga posisi Mikko menjadi rebahan dengan Lina yang menindih nya.


Dengan lembut Mikko menyesap bibir Lina dengan lembut indra perasa nya bermain-main dengan lembut di luar bibir Lina.


Sedangkan Lina masih kaku dengan memejamkan mata nya, dan bibir nya masih tertutup rapat.


Syok dan juga ingin menolak, tapi sungguh manis nya perlakuan Mikko juga kelembutan nya membuat Lina terlena hingga sebuah teguran membuyarkan kenikmatan kedua nya.


"HAYO LO! PADA NGAPAIN!" Ferdi yang dari jauh berlari dengan berteriak, sontak Lina segera bangun dari atas tubuh Mikko dan segera berlari menuju kamar Grace.


Mikko yang sudah mendapatan manis nya bibir gadis itu menyunggingkan senyum tipus di ujung bibir nya.


"Udah kaya yang terciduk aja Lina langsung lari ngibrit!" Ucap Ferdi yang baru sampai di samping Mikko.


"Lagian lo ngagetin, liat ni hidung gue sampai di tabrak sama dia" Alasan itu yang digunakan Mikko.


"Ya gue tadi iseng aja, ada cicak lagi nemplok di dindingkan berduaan gitu, ya gue bentak aja, eh tau nya Lina yang kaget hahahaa...." Tawa Ferdi menggelegar.


"Eh gimana Sarah sama Fani?" Mikko berusaha mengalihkan topik pembicaraan nya.


"Udah mendingan kok mereka lagi jalan-jalan sama Fino, eh tadi gue denger suara Grace teriak, ada apa lagi?" Tanya Ferdi yang tiba-tiba merubah ekspresi Mikko.


"Em palingan kenapa, orang ada suami nya itu, lo mau ke sana?" Tanya Mikko dengan menunjuk arah kamar Grace.


"Hah? Iya yuk kesana yuk?" Ajak Fredi namun Mikko dengan halu menolak.


"Sarapan belum siap loh, gue mau masak dulu ntar kita sarapan bareng-bareng" Ucap Mikko dengan melangkahkan kaki nya menuju dapur.


...🍒🍒🍒🍒...


Di dalam kamar Grace, setelah ia berteriak di dalam kamar mandi sontak Arthur dengan segera melesat dan masuk ke dalam kamar mandi, diikuti langkah Ayu dan Jerik.


"Ada apa?" Tanya Ketiga nya.


"Arthur, aku hamil" Ucap Grace dengan menunjukkan alat tes kehamilan yang menunjukkan garis dua itu.


"Saking senang nya Arthur langsung memeluk Grace dengan mengecup wajah Grace berkali-kali.


" Ekhem-ekhem di sini ada orang lain juga kali bukan cuma kalian yang hidup di sini" Ucap Jerik dengan batuk so cool nya.


Ayu berjalan mendekati Grace dan mengelus perut nya, "Oh ya ampun, gue udah mau jadi tante dong" Ucap Ayu dengan senyum bahagia nya.


"Kita keluar jangan di sini, di sini engap" Ucap Ayu, mereka pun segera keluar dari dalam toilet.


Lina yang melihat ke empat teman nya baru saja keluar dari dalam toilet mengira kalau Grace terpeleset atau jatuh.


"Grace kamu nggak papa say?" Tanya Lina dengan mengelus kepala sahabat nya yang tengah berjalan dengan di papah oleh Arthur.


"Nggak papa kok Lin" Sahut Grace yang pucat tersenyum.


"Lo yakin? Lo pucat banget loh ini!" Lina masih saja khawatir.


"Nggak papa kok Lin, morning sickness biasa dialami ibu hamil muda" Jelas Jerik.


"Apa? Lo hamil Grace?" Dengan senyum bahagia nya Lina menata Grace kemudian menatap Jerik yang memberikan penjelasan.


"Tapi ngomong-ngomong bibir lo kenapa Lin? kok kaya jontor gitu?" Tanya Jerik yang melihat bibir Lina sedikit membengkak dan merah.


"Hah?" Lina meraba bibir nya dan bingung mau menjawab apa...


Ikuti terus setiap bab novel THE GUARD ya, jangan bosa, berikan komentar terbaik kalian, berikan jempol kalian untuk klik like, vote dan dukungan yang lain nya, see you again...