The Guard

The Guard
Penetapan Hari Pernikahan



CEKLEK!!


Digo mendengar suara pintu rumah nya di buka, ia pun melihat siapa yang akan muncul dari balik pintu utama nya itu.


"Loh...siapa itu?" Teriak Digo yang membuat semua mata tertuju pada pintu utama, mau tak mau wanita yang berdiri di depan pintu utama menoleh ke arah kerumunan dua keluarga itu.


"Sri?!" Ucap Digo dan Sani bersamaan, sedangkan Akles, Irina, Arthur, dan Grace menepuk pelan kening mereka masing-masing.


"Sedang apa kau di sana?" Tanya Sani dengan raut curiga nya, apa lagi yang di kenakan Srikantil saat ini adalah pakaian Grace.


"Em... e... saya... "


"Tadi Grace yang suruh Sri buat beliin siomay di depan gang yang banyak anjing itu lo yah, Grace kan takut anjing" Sela Grace memberi alasan, dan semua menganggukkan kepala nya mendengar alasan yang sebenar nya tidak masuk akal.


"Baby pengen siomay?" Tanya Digo dengan memandang putri cantik nya itu.


"Hehe... i... iya yah, em... emang nya nggak boleh makan siomay ya?" Grace sedikit gugup karena seperti nya Digo tidak mempercayai nya.


"Bukan begitu sayang, boleh kok" Sahut Digo dengan menganggukkan kepala nya.


"Lalu kenapa Sri memakai pakaian mu?" Akhir nya pertanyaan yang sudah Sani pendam dalam-dalam pun keluar begitu saja.


"Oh itu... em... Grace emang kasih Sri baju itu karena kan baju Grace banyak dan lemari nya nggak cukup hehe... " Srikantil terlihat menundukkan kepala nya mendapati pertanyaan yang diri nya sama sekali tidak dapat menjawab nya, tapi untung sekali nona Grace nya itu tidak tinggal diam.


"Lupakan soal pakaian, lalu mana siomay nya?" Mendengar Digo bertanya soal siomay Srikantil tiba-tiba mendongakkan kepala nya menatap bingung semua nya.


"Ah anu, itu, tukang siomay nya... "


"Belum lewat pasti ya?" Sela Grace lagi, dan itu cukup membuat Digo dan Sani merasa ada yang aneh.


"Ayah tanya Sri, kenapa lagi-lagi Grace yang jawab, itu tidak sopan baby" Digo sedikit mengerutkan alis nya.


"Iya ayah, maaf" Grace menundukkan kepala nya.


"Ya sudah, sudah, barang siomay aja di permasalahkan, Sri cepat ke dapur, bikin kan kami minum ya!" Sani menyudahi perdebatan tidak penting itu, dan lagi itu di depan calon besan nya, ia pikir tidak pantas jika harus mempermasalahkan masalah siomay.


"Iya nyonya, permisi" Masih dengan sopan, Srikantil membungkukkan tubuh nya dan berjalan menuju dapur.


Kembali ke ruang tengah...


Kedua keluarga itu kembali membahas tentang rencana pernikahan yang tertunda beberapa hari yang lalu.


"Bagaimana jika tiga bulan lagi? itu akan menjadi waktu yang cukup untuk kita bersiap-siap" Akles mengusulkan.


"Apa?! 3 bulan lagi? apa tidak terlalu cepat ayah?" Arthur bertanya dengan suara sedikit pelan, namun masih saja suara nya itu di dengar oleh telinga tajam Gracelina.


"Tiga bulan adalah 90 hari lebih paling 2 hari an, kok segitu di bilang terlalu cepat sih, bukan nya lama ya? nggak ketemu satu bulan aja lama banget" Batin Grace dengan melirik ke arah Arthur, yang pasti nya Arthur mengetahui isi pikiran gadis nya itu.


"Apa dia berubah pikiran karena kemarin Grace terlalu bodoh? haduh, kok malah jadi sakit sendiri sih? ah au ah, biar para orang tua aja yang ngurusin" Batin Grace masih dengan sesekali memandang Arthur.


"Ayah, Grace capek! Grace mau tidur!" Ucap Grace dengan beranjak dari tidur nya.


"Tapi baby, ini masih sore loh" Ucap Digo berusaha menahan putri nya.


"Seperti nya Tiga bulan terlalu lama ya?" Akles yang mengerti kekecewaan Grace segera mengubah rencana.


"Nggak papa kok om, Arthur bilang tiga bulan terlalu cepat jadi lebih baik 12 bulan lagi aja, itu akan menjadi waktu yang pas untuk mempersiapkan segala nya" Ketus Grace namun masih berusaha menampilkan senyum nya sebelum melihat ke arah Arthur dan kembali melanjutkan langkah kaki nya menuju kamar nya.


"Aduh kok jadi begini ya, mungkin Grace sedikit lelah, maaf kan kelakuan putri saya ya pak bu" Ucap Digo yang tak enak hati dengan respon Grace barusan.


"Tidak apa-apa pak Digo, biasa anak muda, mungkin dia banyak pikiran, atau mungkin Arthur, bisa kau bujuk calon istri mu itu?" Ucap Irina menawarkan.


"Oh iya, coba nak Arthur susul, siapa tau sama nak Arthur dia mau cerita" Sani menyahuti nya.


"Bagaimana jika Grace ingin menyendiri?" Arthur berusaha meredam keinginannya yang sebenar nya ingin sekali ia segera mengejar Gracelina.


"Oh baik lah, biarkan dia istirahat dulu saja, kita saja yang membahas semua nya" Irina kembali menyerukan pendapat nya.


"Bagaimana jika di lakukan di halaman kita dan itu di jadi kan satu, pasti akan sangat mewah" Sani yang asli nya seorang designer, ide kreatifitas nya mulai tercurah.


"Oh mau outdoor? ok bisa-bisa-biasa" Sahut Ketiga nya dengan menganggukkan kepala nya.


"Jadi Deal satu bulan lagi pas hari ulang tahun Grace, bagaimana?" Sedikit berbisik Digo memberikan saran, ternyata rencana tiga bulan lagi tadi hanyalah alibi yang mereka gunakan untuk membuat Gracelina marah dan meninggalkan mereka.


"Deal!" Sahut Sani, Akles, dan Irina, suara mereka terdengar sampai ke lantai atas ya itu kamar Grace.


"Jadi beneran mereka setuju aku nikah satu tahun lagi? Haaaah... jadi nyesel deh asal ceplos" Gumam Grace dengan duduk dan memeluk guling nya.


Beberapa jam kemudian...


Masih dengan hati yang di selimuti rasa sesal dan kecewa gadis itu mulai memejamkan mata nya, dingin nya angin senja terhembus masuk ke dalam kamar nya memalui jendela yang tidak di tutup nya.


Terlihat sedikit menggigil tubuh Grace, masih dengan mata yang terpejam perlahan ia menarik kain yang ada di belakang nya dan di gunakan nya untuk menyelimuti tubuh nya.


Drrrrtttzzz... Drrrrtttzzz... Drrrrtttzzz...


Sebuah notifikasi pesan masuk membuat gawai tipis yang ada di depan wajah Grace bergetar, dan itu membuat Grace membuka mata nya.


πŸ’’"Duuuuhhh... Siapa sih?!" Dengan terpaksa Grace membuka mata nya dan mengeluarkan tangannya dari dalam kain yang menutupi tubuh nya untuk meraih gawai tipis yang sempat mengganggu mimpi indah yang bahkan belum tercapai.


πŸ“₯ "Grace, keluar yuk!"


"Hais... mager aku!" Gumam nya tanpa membalas pesan Ayu, Grace melempar benda canggih itu kembali ke tempat nya, dan ketika ia melihat sinar yang keluar dari gawai tipis itu menyinari sebuah lipatan kain tebal, ia mulai berpikir.


"Loh? ini selimut ku kan?" Gumam nya dengan memegang lipatan itu.


"Lalu... " Mata Grace beralih ke kain yang sudah sedari tadi menghangatkan tubuh nya, "Hah... nggak mungkin!"


Grace perlahan membalikkan tubuh nya dan di sana di belakang nya ternyata ada Arthur yang berbaring dengan memejamkan mata nya.


πŸ’’"Arthur!!" Ucap nya dengan mengernyit, Arthur yang hanya pura-pura memejamkan mata pun segera membuka mata nya dan menatap Grace yang masih menekuk wajah nya.


"Apa?" menyahuti Grace dengan mengangkat kedua alis nya membuat Arthur lebih ber damage.


DHEG-DHEG... DHEG-DHEG...


"Oh ya Tuhan kenapa bisa setampan ini, jantung oh jantung tenang dikit bisa nggak sih!"


Detak jantung Grace yang saat itu tidak dapat di kontrol nya membuat gadis itu beberapa kali menarik nafas hingga dada nya naik turun tak karuan.


Arthur yang melihat kegugupan di dalam ekspresi Grace tanpa sadar menarik ujung bibir nya.


"Apa an coba?! pakai senyum-senyum segala!" Batin Grace dengan mengalihkan pandangan nya.


Arthur mencubit dagu Grace dan memangkas jarang wajah diantar kedua nya, hampir saja Grace terpesona dengan adegan manis itu, namun dengan segera Grace mengingat kembali kata-kata Arthur.


"Apa?! 3 bulan lagi? apa tidak terlalu cepat ayah?"


Ucapn bak penolakan halus itu selalu melayang-layang di benak Gracelina, kini jarak kedua bibir mereka tinggal 1cm dan dengan kasar Grace mendorong dada Arthur.


"Jangan menyentuh ku! Kau pikir aku wanita murahan! yang bisa di sentuh seenak nya, bahkan setelah kau tolak!" Cecar Grace dengan duduk di sisi kanan ranjang sedangkan Arthur masih berbaring di sisi kiri ranjang.


"Apa ini Grace? Kau menolak ku?" Tanya Arthur tak mengerti.


"Kau bisa tau kan apa yang ku pikirkan sekarang?! cari tau sendiri lah!" Ketus Grace yang segera beranjak dari ranjang nya dan berjalan menuju lemari pakaian nya.


Gadis itu acuh dengan keberadaan Arthur yang kini tengah memandangi nya, bahkan ia melepas kaos oblong yang di kenakan nya dan melempar nya serampangan sebelum ia kembali mencari baju ganti yang akan di kenakan nya.


Ketika tangan Grace meraih baju yang ada di dalam lemari, lengan-lengan kekar Arthur memeluk pinggang Grace dari belakang.


Dengan dagu yang ia tancapkan di pundak Grace, "Sayang mau kemana?" Suara Halus Arthur sungguh mampu melelehkan bongkahan es yang membekukan hati Grace.


Sejenak gadis itu merasakan kehangatan yang nyaman ketika Arthur menghembuskan nafas yang tak sengaja menerpa kulit-kulit polos nya.


"Maaf, maaf jika aku salah, aku tidak bermaksud menolak mu, aku hanya ingin kita mempersiapkan nya secara matang" Ucap Arthur masih dengan posisi yang sama.


"Berarti kau pikir aku tidak berpikir secara matang?" Tanya Grace dengan sedikit menolehkan kepala nya.


"Bukan begitu sayang, kau tau kan kalau sudah menikah suami istri bakal ngelakuin apa?" Arthur membalikkan tubuh Grace agar gadis itu menghadap ke arah nya.


Melihat dua gundukkan yang seolah ingin menyembul itu Arthur memejamkan mata nya dan menghela nafas dalam-dalam.


"Aku sedikit sulit mengendalikan nafsu ku, jika berhadapan dengan mu, pegangan ku hanya satu, aku tidak mau menghancurkan mada depan mu" Ucap Arthur dengan meraup pipi kanan dan kiri Grace.


"Tapi jika kita sudah menikah, bukan kah lebih aman untuk kita saling menyentuh?" Tanya Grace dengan memegang tangan Arthur yang bertengger di kedua pipinya.


"Aku sudah mempelajari hubungan intim itu dari beberapa media manusia, dan seperti nya, wanita lah yang akan lebih banyak merasakan sakit, dan aku tidak mau kalau kau sampai kesakitan sayang" Grace melihat ketulusan dari netra indah yang ada di hadapan nya itu, Arthur terlihat lebih serius dari biasa nya.


Sengaja Grace mengalungkan kedua lengan nya di leher Arthur dan dengan kaki yang berjinjit Grace berusaha mencapai bibir sang kekasih.


Awal nya Grace hanya mengecup bibir itu namun semakin lama ia menyesap nya perlahan, sebelah tangan Grace melepas kancing kemeja Arthur satu persatu sampai terekspos dada dan juga perut kotak-kotak nya.


Jari jemari lentik itu mulai meraba dari sana Grace mulai memdapatkan balasan ciuman dari Arthur.


Bahkan sebelah tangan Arthur menekan tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciuman nya, sedangkan tangan yang lain meraba punggung mulus Grace dan turun ke pinggang kemudian merambat ke depan awal tujuan nya hanya perut ramping namun tangan itu perlahan naik dan menelusup ke dalam br-a.


"Emmmhhh... " Lenguhan di sela-sela ciuman itu terdengar sexy ketika tangan Arthur dengan gemas meremas si kenyal yang sangat lembut itu.


Tak mau tinggal diam sebelah tangan Grace meraba turun dan mendapati sebuah tonjolan jang begitu keras yang masih tertutup oleh celana Arthur.


Perlahan Grace meremas nya, "Ough...ssshhh..." Dan terlihat Arthur mendongakkan kepala nya.


Kembali Arthur mengecup leher putih itu dan sesekali menyesapnnya.


"Aahhh..." Lagi-lagi Grace lepas kendali dan berteriak.


"Sssstttt... jangan kencang-kencang sayang" Bisik nya dengan memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut Grace, "Ough... yeah... emmhh... " Arthur kembali mendongak dengan menggigit bibir bawah nya ketika lagi-lagi Grace meremas pusaka nya.


Arthur melepas gesper yang melingkar di pinggang nya kemudian meleparkan nya sembarangan dan dengan cepat ia mengangkat tubuh sexy kekasih nya itu dan dengan cepat pula Grace mengkaitkan kedua kaki nya di pinggang Arthur.


Arthur membawa Grace untuk duduk di tepi ranjang dengan posisi Arthur memangku gadis sexy itu.


Fantasi Arthur semakin liar ketika benda pusaka nya terhimpit oleh Grace yang duduk di atas nya.


"Ough... emmhhh" Kembali Arthur menghujani Grace dengan kecupan-kecupan manja lengkap dengan belaian-belaian serta rem-asan yang menggairahkan.


CEKLEK!!


Tiba-tiba pintu terbuka dan, "Oh Astaga! apakah waktu satu bulan terlalu lama untuk kalian berdua?...


Jangan lupa klik favorit πŸ’ž, beri dukungan, vote dan juga likeπŸ‘ ya, see you di bab selanjut nya...