The Guard

The Guard
Kejujuran



Ayu masih menatap lekat laki-laki di hadapan nya itu, "Je, jawab gue!"


Terlihat Jerik menarik nafas nya berat, kemudian ia menatap gadis dewasa yang ada di hadapannya itu.


"Kau sudah siap untuk mengetahui semua nya?" Tanya Jerik dengan meraih tangan Ayu.


Ayu menatap telapak tangan yang kini menutupi tangan nya itu.


"Siap, aku siap" Sahut Ayu yakin.


"Kau sudah siap, tapi aku belum siap jika harus kehilangan mu" Sahut Jerik dengan bulir bening tanpa permisi meluncur dari pelupuk mata nya.


"Tapi buat apa jika masih ada kebohongan di dalam hubungan ini Je?" Lirih Ayu dengan masih menatap lekat netra tajam milik Jerik.


Terlihat dokter tampan itu kehabisan kata-kata, ia terdiam cukup lama dan itu membuat Ayu merasa tak percaya diri sebagai kekasihnya.


"Apa kita akhiri saja hubungan ini? Lagi pula pertunangan itu hanya aku kan yang memimpikan nya" Ucap Ayu dengan melepas cincin berlian yang ada di jari manis nya.


"Tidak Yuk, jangan kau lepas cincin itu" Tangan Jerik menahan lengan Ayu agar tak melepaskan cincin pengikat hubungan kedua nya.


"Buat apa di pertahankan jika kau saja tak percaya dengan ku? Carilah wanita lain yang bisa terus-terusan kau bohongi, maaf aku tidak bisa Je!" Ucap Ayu dengan memindahkan tangan Jerik yang menahan tangan nya.


Dengan cepat Jerik menarik tubuh Ayu ke dalam pelukan nya dan SSSHHHHLLLLAAAPPP...


Kini kedua nya berada di taman yang indah, Ayu mengerutkan kening nya tak mengerti.


"Jadi benar kau bukan manusia?" Tanya Ayu dengan memandang kekasih nya yang kini ada di hadapannya.


Jerik terlihat membaca mantra dan kemudian tangan nya mengusap wajah nya SRING!!


Dokter tampan itu kini berubah menjadi makhluk bersayap namun masih dengan wajah yang tampan hanya saja kepala nya lengkap dengan mahkota kebesaran nya.


Ayu menutup mulut nya tak percaya, ternyata selama ini kekasih nya bukan manusia, perlahan langkah nya maju mendekati Jerik yang bersayap.


Dibelai nya bulu-bulu sayap yang melambai tertiup angin.


"Je? ini kah wujud asli mu?" Tanya Ayu dengan memegang pipi Jerik.


Kembali Jerik mengubah diri nya SRING!! Dokter tampan itu kini mengenakkan jubah kebangsaan nya, ya yang malam itu dipakai nya saat penobatan dan juga pertunangan nya.


"Jadi malam itu bukan mimpi?" Tanya Ayu lagi dengan meraih lengan Jerik yang di sana juga tersemat cincin yang sama.


"Lalu kemana cincin ini saat kau menjadi sosok manusia?" Tanya Ayu penasaran.


"Tersimpan di dalam sini, ketahuilah kalau cincin ini tidak bisa dilepas kecuali salah satu di antara kita berkhianat, maka batu permata ini akan hancur dan akan merasuk kedalam tubuh hingga menembus jantung" Jelas Jerik.


"Apa?" Seolah tak percaya Ayu dengan kata-kata Jerik, awal nya ia hanya menganggap kalau itu hanya akal-akalan Jerik saja agar diri nya tidak macam-macam dibelakang nya.


"Tunggu sebentar!" Ucap Jerik, kemudian ia menumbuhkan salah satu kuku panjang nya yang runcing, kemudian ia menggoreskan nya di lengannya sendiri sampai darah nya menetes.


"A... Aw... Je... lengan ku sakit" Ayu meringis merasakan perih di lengan nya, padahal Jerik lah yang berdarah.


"Kau percaya sekarang?" Tanya Jerik yang kemudian mengusap luka nya dengan telapak tangan nya dan dalam sekejap luka itu sembuh begitu juga dengan rasa sakit yang di rasakan Ayu, menghilang tanpa meninggalkan bekas.


"Berati secara tidak langsung kita sudah saling terhubung?" Tanya Ayu.


"Ya kita sudah menjadi satu, hanya upacara pernikahan saja yang belum kita lakukan" Ucap Jerik.


"Bagaimana kita menikah jika... "


"Ssstttt itu urusan ku yang terpenting sekarang kau sudah tau segala nya dan mau menerima ku" Ucap Jerik, kemudian ia kembali menarik tubuh sintal Ayu kedalam pelukan nya.


...🍒🍒🍒🍒...


Grace dan Arthur tengah duduk di ruangan dimana Grace menjalani perawatan selama di rumah sakit ini.


"Sayang aku mau pulang" Ucap Grace dengan nada lesu nya.


"Kau yakin kau baik-baik saja?" Tanya Arthur dengan melihat istri tercinta nya itu.


"Iya aku baik-baik saja" Sahut Grace, mau tak mau Arthur menuruti kemauan istrinya itu, ia berjalan menuju ruangan Jerik namun tak sengaja ia melewati sebuah kamar yang pintu nya tak tertutup rapat.


"Kinanthi?" Gumam Arthur dengan melihat ke dalam celah pintu yang terbuka itu.


Tok... Tok... Tok...


Pintu di ketuk berkali-kali oleh Arthur, tapi tak sedikit pun sahutan dari dalam ruangan yang tertutup itu.


Dengan kemampuan tembus pandang nya Arthur melihat ke dalam ruangan itu, kosong tak ada siapa pun di dalam nya.


Dengan segera Arthur kembali ke kamar istrinya, dengan wajah penuh kekhawatiran ia duduk di samping Grace.


"Ada apa sayang?" Tanya Grace yang mendapati perubahan di wajah suaminya.


"Kinanthi ada di sini" Sahut Arthur yang membuat Grace membelalakkan mata nya.


"Kinanthi? Mau apa dia? Rencana apa lagi yang ada di dalam otak licik nya?" Gumam Grace, jujur saja ia masih trauma dengan kekacauan yang terjadi di taman gelembung beberapa bulan yang lalu.


"Apa dia tau kalau Gresta sudah menemui kita?" Tanya Grace.


"Entahlah, nanti kita cari tau" Ucap Arthur dengan membelai surai hitam Gracelina.


"He'em" Grace mengangguk pelan dan menyandarkan kepala nya di belahan dada suami nya, biarkan rasa nyaman itu mengisi dan menenangkan hati nya.


...🍒🍒🍒🍒...


Gresta dan Syaqila yang menunggu Aldi tak kunjung datang pun mengajak Chrisa untuk berkunjung ke rumah sakit.


"Bibi ayo kita ke rumah sakit" Ajak bocah tampan itu.


"Tuan Muda mau menjenguk Momy apa mama?" Tanya Chrisa bingung.


"Mau mengantar Syaqila" Sahut Gresta dengan polos nya.


"Gresta kamu perhatian banget sih" Gadis kecil itu tersenyum dengan merangkul lengan Gresta.


Sebelum salah tingkah menguasai diri nya, bocah tampan itu menepis lengan Syaqila kemudian beralih memandang Chrisa.


"Bibi ayok!" Gresta menggoncang kan lengan pengasuh nya itu.


"Iya Tuan Muda!" Sahut Chrisa yang segera mengajak Gresta serta Syaqila berteleportasi menuju rumah sakit.


SRING!!


Ketiga nya kini sampai di depan pintu kamar Kinanthi, "Jangan bilang Nyonya Kinan kalau kita berteleportasi ya?!" Pinta Chrisa.


"Baiklah" Sahut Gresta namun baru saja bocah tampan itu memegang handel pintu seseorang memanggil nama nya.


"Gresta? Sayang?" Suara yang sangat dan amat di rindukan bocah itu memanggil nya.


"Momy?" Lirih Gresta dengan menolehkan kepala nya, namun dari dalam ruangan Kinanthi yang mendengar suara Gresta juga memanggil bocah tampan itu.


"Kevin? Kau di sana sayang?" Dua perempuan yang sangat ia sayangi kini tengah memanggil nya, bocah tampan itu terlihat bingung.


"Momy kangen sayang, sini nak!" Teriak Grace yang duduk di atas kursi roda berusaha memajukan kursi itu.


Gresta hendak mendekati Grace namun lagi-lagi Kinanthi memanggil nya, "Kevin sayang? kau sudah pulang dari sekolah nak? maaf mama tidka bisa mengurus mu, mama belum cukup sehat nak" Ucap Kinanthi dengan suara yang memelas.


"Bagaimana ini apa aku harus menemui Momy atau mama? Kedua nya sangat menyayangi ku" Batin Gresta dengan tetap berdiri di depan pintu masuk.


Akhir nya kaki kecil itu melangkah kan kaki nya mendekati Gracelina dan memeluk sejenak ibu kandung nya itu.


"Momy rindu Gresta?" Tanya bocah tampan itu.


"Iya sayang, kau datang untuk Momy?" Tanya Grace, dan bocak kecil itu hanya tersenyum kemudian tanpa di suruh bocah tampan itu mendorong perlahan kursi roda Grace dan memasuki sebuah ruangan.


"Ini ruangan siapa sayang?" Tanya Grace kemudian ia melihat ke dalam ruangan itu dan betapa terkejut nya ia melihat musuh bebuyutan nya duduk di atas ranjang pasien.


"Kinanthi?"


"Gracelina?"


Kedua perempuan berbeda ras itu sama-sama terkejut...


Bagaimana ya? apakah Kinanthi akan menyerang Grace di depan Gresta? kita nantikan kelanjutan nya di episode berikut nya ya bay bay... jangan lupa like dan komentar 🥰🥰🥰