The Guard

The Guard
Nikah Dadakan



NFantasi Arthur semakin liar ketika benda pusaka nya terhimpit oleh Grace yang duduk di atas nya.


"Ough... emmhhh" Kembali Arthur menghujani Grace dengan kecupan-kecupan manja lengkap dengan belaian-belaian serta rem-asan yang menggairahkan.


CEKLEK!!


Tiba-tiba pintu terbuka dan, "Oh Astaga! apakah waktu satu bulan terlalu lama untuk kalian berdua?" Terdengar suara Sani yang kini tengah berdiri di ambang pintu.


Ia menyaksikan anak gadis nya tengah duduk di atas pangkuan pemuda tampan yang ia pilih sebagai calon menantu nya.


"Grace? Apa ini? Kau merayu nya dengan cara tidak berpakaian seperti itu?" Teriak Sani hingga Digo yang sudah ada di kamar sebelah pun ikut keluar.


"Ada apa ini?" Tanya Digo yang baru saja datang.


"Lihat putri mu! dia bahkan menanggalkan pakaian nya untuk merayu dosen nya!" Sani mengadu sedangkan Arthur membantu Grace mengenakan kembali kaos nya.


"Benarkah?" Digo menongol kan kepala nya ke dalam kamar Grace, dan di sana memang ada sepasang kekasih tapi sudah rapi dengan pakaian masing-masing, Arthur juga sudah rapi dengan kemeja putih nya.


"Arthur? Kau masuk dari mana?" Tanya Digo.


"Yang benar saja yah kau bertanya begitu, lihat saja jendela kamar yang terbuka itu, sudah pasti mereka saling membantu lewat sana" Jelas Sani. Digo melihat ke arah jendela dan menghampiri nya.


"Tapi ini sangat tinggi lo bun" Ucap Digo yang mulai berfikir jika manusia mau naik dari mana dan jika melompat pasti nya tidak akan sampai.


"Hieleh ayah ini, kaya nggak pernah muda aja!" Gerutu Sani.


"Ya sudah mumpung belum terlalu larut kita panggil penghulu saja sekalian, takut nya nanti malah terjadi yang tidak di inginkan" Ucap Digo yang segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana nya.


Sani pun segera menuju lantai bawah, telfon rumah lah tujuan nya, ia menghubungi nomor telepon rumah Irina.


Tuuuuutttt... Tuuuuuutttt... Tuuuuutttt...


Suara sambungan telfon mengisi telinga Sani, karena Irina tak kunjung menerima telfon dari nya.


Di kediaman Akles, tepat nya di kamar Akles dan Irina tengah sling mencumbu.


"Kau sangat sexy sayang" Akles mencubit gemas pinggang istri nya yang sedikit berisi.


"Bukan nya gemuk ya? hidup di dunia fana ini makanan nya membuat ku gemuk" Irina mencebikkan bibir nya.


"Tak apa sayang, aku menyukai nya" Dengan sebelah tangan yang menarik tengkuk Irina, Akles mendaratkan ciuman panas nya.


Mendapati pusaka kebanggan Akles sudah siap tempur, Irina merangsang sedikit dengan mengelus nya.


"Ough... Kau memang pandai baby" Erang nya di samping telinga Irina dan kemudian sedikit ia menggigit telinga istri sexy nya itu.


"Ah, sayang... "


KRRRRRRIIIIINNNGGGGG!!!


KRRRRRRIIIIINNNGGGGG!!!


KRRRRRRIIIIINNNGGGGG!!!


Dering telepon rumah meminta perhatian kedua insan yang tengah memanas dalam percumbuan nya.


💢"Siapa sih malam-malam begini?" Tanya Akles dengan ekspresi yang sedikit kesal.


"Tunggu sebentar ya!" Ucap Irina dengan sekilas mengecup pipi Akles dan kemudian berjalan menuju sumber suara.


Irina mengatur nafas nya sejenak, "Ekhem... ekhem... "


"Halo?" Suara elegan itu kemudian menyebrang ke seberang telfon sana.


📞"Halo, maaf sebelum nya mengganggu malam-malam begini, bisakah anda dan suami anda ke rumah saya sekarang juga?!"


Terdengar suara Sani dari balik sambungan telfon, namun Irina merasa kalau suara Sani kali ini tidak se ramah biasa nya.


"Tunggu! ada apa ini?" Tanya Irina yang ingin tahu sebenar nya ada apa dengan suara Sani yang tiba-tiba tidak ramah pada nya, bahkan seperti memendam rasa kecewa.


📞"Putra putri kita melakukan hal yang tidak seharus nya! Cepat kau kemari dan ajak suami mu, sekarang juga kita nikahkan mereka, aku tidak mau ya kalau sampai Grace hamil di luar nikah!"


Begitu menggebu suara Sani dari balik sambungan telfon itu.


Kemudian Irina menutup telfon nya setelah ia mengiyakan kalau diri nya dan suami nya akan segera ke rumah Sani.


Irina berjalan tergesa menunju kamar, di sana Akles sudah siap tempur dengan mengekspos perut kotak-kotak nya yang setiap kali Irina melihat ingin sekali jari jemari nya mereba keindahan itu, namun beda dengan yang kali ini.


Irina segera mengubah diri nya dengan mantra nya, ia kembali mengenakkan pakaian yang sopan ala manusia biasa yang akan menikahkan putra putri nya.


"Lho Yank? Apa ini? kau mau kemana?" Akles yang tak paham beranjak dari duduk nya dan merai tangan Irina.


"Putra mu! meniduri calon menantu mu! Mereka akan di nikahkan malam ini, ayo segera bersiap!" Ucap Sani dengan berjalan menuju pintu.


Dengan sedikit kesal Akles merubah diri nya dengan berjalan mengejar istri nya yang sudah lebih dulu keluar dari kamar.


Akles meraih tangan Irina dan mengajak nya ber teleportasi, Swiiiiiiinngggg!!!


Kedua nya kini telah sampai di depan pintu kediaman Digo.


Baru saja tangan Akles hendak mengetuk daun pintu tiba-tiba dari arah belakang muncul seorang laki-laki yang mungkin berumur sekitar 45 tahun.


"Permisi pak, buk? Mau tanya, benar ini rumah nya pak Digo?" Tanya laki-laki itu.


"Benar, ada apa ya?" Tanya Akles yang menunjukkan aura dingin nya.


"Saya penghulu yang di panggil nya" Ucap laki-laki yang ternyata seorang penghulu yang di panggil oleh Digo.


"Ooo... mari-mari saya juga mau masuk!" Akles kembali akan mengetuk pintu rumah Digo namun tiba-tiba dari dalam rumah, daun pintu itu terbuka, dan muncullah sang tuan rumah, ya itu Digo.


"Wah cepat sekali ya? Silahkan masuk-silahkan masuk" Ucap Digo dengan mempersilakan masuk semua nya.


Setelah semua masuk, Irina melihat Arthur yang duduk dengan menundukkan wajah nya, itu sudah berhasil membuktikan kalau memang benar kalau pasangan muda itu ketahuan telah melakukan hubungan yang tidak semestinya.


"Cukup Om! ini salah Grace, seharusnya Grace tidak menggoda Arthur" Ucap Gracelina Janitra dengan memeluk kepala Arthur.


"Pak Digo, jeng Sani, saya minta maaf karena telah gagal mendidik anak kami" Ucap Irina dengan menyatukan kedua telapak tangan nya di depan dada nya.


"Tidak jeng, jangan seperti itu, ini juga salah Grace, benar kata Grace, Grace lah yang menggoda Arthur, karena saya melihat nya sendiri" Ucap Sani dengan memegang tengan Irina yang masih menyatu di depan dada.


"Sudah-sudah, asal kita nikahkan saja mereka malam ini kan pasti sudah aman, jadi untuk bulan depan tinggal pestanya saja" Ucap Digo, yang di setujui oleh semua anggota yang hadir, Pak penghulu yang hadir segera memulai upacara pernikahan.


Setelah selesai pengucapan janji suci itu mereka berdua telah sah menjadi suami dan istri, kini kedua nya kembali ke dalam kamar setelah Akles dan Irina kembali ke rumah nya.


Di dalam kamar, Arthur tengah duduk di tepi ranjang sedangkan Grace duduk di meja rias nya dengan posisi menghadap ke cermin namun tatapan mata melihat bayangan Arthur yang ada di cermin.


"Kenapa?" Tanya Arthur yang mengetahui kalau istri cantik nya itu tengah mengintai nya dari cermin.


Grace membalikkan posisi duduk nya dan menghadap ke arah Arthur.


"Maaf" Ucap Grace dengan menundukkan wajah nya.


Arthur berdiri dari duduk nya dan menghampiri istri cantik nya itu.


"Kenapa harus minta maaf?" Tanya nya dengan mengangkat dagu Gracelina. "Bukankah kau bahagia dengan pernikahan ini?" Imbuh nya.


"Entahlah, tapi sekarang aku merasa takut" Ucap Grace dengan berdiri dari duduk nya dan melangkah menuju lemari pakaian.


Arthur hanya melihat sekilas Grace yang melewati nya begitu saja.


Seperti biasa Arthur hanya mengganti pakai nya dengan mantra ya Ssshhhhhiiinnngggg!!!


Kini Arthur hanya mengenakan piyama dengan warna nevy, tak sengaja Grace juga mengenakan piyama kimono yang berwarna sama dengan yang di kenakan suami nya, bukan tak direncanakan Arthur selalu tau apa yang ada di dalam otak kecil istri nya itu.


Arthur sudah berbaring di ranjang sedangkan Grace perlahan melangkahkan kaki nya menuju ranjang, gadis yang sudah ber status istri itu duduk di tepi ranjang.


"Duh kok jadi canggung gini ya?" Batin Grace dengan masih membelakangi Arthur, karena Grace tak kunjung mendekat Arthur tak mau menunggu lagi, ia berpindah dan meletakkan kepala nya di atas paha Gracelina.


"Ini yang aku takutkan" Ucap Arthur dengn menghirup aroma damai dengan mengusakkan kepala nya di perut rata Grace.


"Apa?" Tanya Grace dengan mengelus kepala Arthur.


Arthur membuka mata nya dan menatap Grace dalam-dalam, "Kau menjadi canggung, bahkan beberapa jam yang lalu kau yang menggoda ku terlebih dahulu" Cecar nya.


"Tapi aku hanya ingin tau saja, sebesar apa nafsu mu" Jawab Grace asal.


"Lalu kenapa sekarang sudah sah malah kau terdiam? Hem?" Tanya Arthur yang kini berpindah duduk dibelakang Grace.


"Malam ini dingin, naikkan kaki mu!" Ucap Arthur dengan memeluk Grace dari belakang.


"Jika dingin kenakan baju mu!" Sahut Grace yang merasakan kulit polos Arthur menempel pada kulit lengan nya juga.


"Dengan begini, akan mempermudah kita menghasilkan rasa hangat" Ucap Arthur dengan memberikan kecupan-kecupan di leher Grace.


"Arthur, geli ah" Ucap Grace dengan menghindar namun juga menikmati sentuhan Arthur yang ngeyel.


Bahkan tangan yang tadi nya hanya memeluk perut rata itu kini merambat ke atas nya menuju dua gundukan yang sangat kenyal dan menggemaskan.


"Aahhh... " Kembali Grace meleng-uh, ketika Arthur meremas nya. Grace menengadahkan kepala nya dengan membusungkan dada nya, sehingga Arthur melihat dua gundukan yang setengah menyembul dari wadah nya itu.


Kini Arthur membalikkan tubuh Grace dan membaringkan nya dengan nyaman di ranjang, adegan panas pun mereka mulai.


...🍒🍒🍒🍒...


Pagi hari mentari sudah menyapa dengan sinar lembut nya, berhasil menerobos tirai tipis yang ada di jendela kamar Gracelina, sinar itu mengganggu Grace yang masih asik dengan selimut tebal nya.


"Emmmhhh... " Grace menggeliat, sebelum akhir nya ia bangun dari tidur nya, ia pun duduk dengan rambut yang acak-acakan.


Senyum tipis menghiasi wajah nya kala ia mengingat kejadian manis malam tadi.


Perlahan ia meraba bibir nya kemudian ia teringat betapa Arthur sangat menikmati nya.


Grace menggelengkan kepala nya pelan dengan senyum malu yang ia tampilkan, perlahan Grace turun dari ranjang hangat nya kemudian meraih piyama kimono nya dan mengenakan nya lalu ia berjalan menuju wastafel, di sana ia bercermin.


Setiap sentuhan yang Arthur berikan masih terasa, dan itu membuat hati nya berdesir, kecupan di leher yang meninggalkan bekas merah tak luput dari rabaan tangan Gracelina, dan lagi bayangan saat Arthur menyesap nya pun masih jelas di benak nya bahkan rasa nya masih terasa.


Grace tersenyum tipis dengan menggigit bibir bawah nya.


"Apakah banyak yang memar?" Tiba-tiba suara Arthur mengagetkan juga membuyarkan lamunan Grace.


"Apa maksud mu?" Tanya Grace dengan memandang suami tampan nya dari cermin di depan nya.


"Astaga Grace, aku sudah menyakiti mu! Bahkan jika ku ingat semalam aku mengabaikan air mata mu yang menetes, jeritan kesakitan mu! Apa kau lupa?" Cecar Arthur dengan meletakkan salep di atas wastafel.


Grace membalikkan tubuh nya menghadap Arthur, "Tapi sayang, aku tidak papa, aku menikmati nya" Sahut Grace dengan membelai pipi Arthur bahkan menampilkan senyum manis nya.


"Kau!" Arthur mengernyit dan itu membuat Grace bingung.


dengan paksa Arthur membuka piyama Grace dan menunjukkan di bagian pundak ada bekas memar di sana, Grace kembali menutup nya.


Kembali Arthur menyibak rambut Grace dan di sana ada bekas gigitan Arthur, lalu di bagian paha ada bekas-bekas memar, bahkan di punggung Grace ada banyak luka memar di sana sini,


"Sudah lihat?!" Dengan tatapan tajam nya Arthur terlihat menyesal melakukan hubungan dengan nya semalam.


"Tapi Arthur, aku sama sekali tidak... "


"Itu karena kau bodoh!" Ucap Arthur dengan melangkahkan kaki nya keluar dari kamar mandi.


Di sana lah baru terasa sakit, sakit yang sangat mendalam, bahkan air mata tak mampu menyembuhkan nya, Grace berendam dengan rasa sakit nya.


Semua luka kini terasa perih setelah mendengar kata BODOH keluar dari mulut suami nya.


"Apa aku terlalu bodoh?...