
6 bulan telah berlalu semanjak Aika menjadi ksatria Sawamura. Meski mendapat kesulitan selama 2 bulan pertama, Aika tak sedikitpun patah arang. Ia justru semakin bersemangat menjadi seorang ksatria.
Meski hari-harinya tidak semudah dan sebebas saat di desa, Aika tetap bertahan. Sebab menjadi ahli pedang itu adalah mimpinya. Meski menjadi ksatria sangat jauh dari ekspektasi kecilnya mengingat ia hanya orang biasa dari kalangan rakyat rendahan.
Tapi, sekarang Aika tahu tidak ada yang namanya kebetulan. Tidak ada yang bisa merubah takdir baik dan buruk, semua telah digariskan menurut timbangan keadilan masing-masing. Dan disinilah ia sekarang berbekal keahlian dasar pedang terbaik, Aika langsung dimasukkan dalam barisan pasukan khusus hanya dalam waktu 6 bulan masa pelatihan.
Di istana Sawamura terdapat 10 Pasukan Elit Khusus ditambah 2 Pasukan Tambahan. Setelah berhasil masuk, Aika selalu menjalankan misi-misi kecil, sedang, hingga besar sekalipun. Dan dalam kurun waktu hampir satu setengah tahun Aika berhasil menjadi ksatria terbaik mengalahkan Shouta ditahun-tahun sebelumnya.
Tadinya Aika mendapat rekomendasi khusus dari Ryuichi karena kemampuan pedangnya untuk menjadi seorang Jendral Pasukan. Tapi sebuah misi konyol membuatnya secara otomatis menghapus segala kerja kerasnya selama hampir 2 tahun. Berterimakasih lah pada Noya untuk itu.
"Jend. Ukai kenapa aku harus mendapat tugas seperti itu?" tanya Aika sedikit kesal pada pria cantik (yang Aika kira awalnya wanita) itu. Demi apa Aika dijadikan pengawal Pangeran Mesum itu daripada Ksatria di medan perang.
"Ayolah, Aika-chan kenapa dari semua pasukanku hanya kau yang selalu mengeluhkan tugasmu?" tanya Ukai bosan, mengingat ini bukan pertama kalinya ia mendapat protesan Aika.
"Aku sudah akan menjadi Jendral jika bukan karena tugas konyol itu." gerutu Aika menunjukkan dengan jelas ketidaksukaannya.
"Baru 'akan', kan?! Sudahlah bukankah itu lebih baik. Kau bisa meminta Pangeran Noya menjadikanmu Jendral Besar jika kau berhasil membujuknya menurunkan pamannya itu." usul Ukai mulai melantur. Ia kemudian membuat gerakan tangan mengusir kearah Aika.
"Pergilah, aku juga harus memberi tugas pada yang lain." usirnya kejam. Mengabaikan Aika yang mulai berjalan menjauh bahkan tanpa membungkuk hormat terlebih dulu padanya.
"Huh, dasar tidak sopan!" gerutunya saat melihat kelakuan Aika yang masih mencibirnya dan menggerutu disepanjang langkahnya.
.
.
.
Aika berjalan disepanjang lorong istana dengan wajah ditekuk masam. Bahkan aura membunuh keluar secara otomatis mengikuti mood tuannya. Sudah hampir 2 bulan Aika menjadi ksatria pribadi Noya atas permintaan langsung pria tampan itu.
Bukankah ada Tooru? Lalu kenapa ia yang dipilih? Pertanyaan inilah yang selalu menari-nari dipikirkannya. Namun, karena ego tingginya Aika enggan bertanya atau bahkan membuka mulut jika sudah di hadapan Noya. Karena pasti akan terjadi perang mulut jika ia berani membuka mulutnya sesenti saja.
Berdiri di depan aula bermain, Aika menghitung sampai sepuluh sebelum memutuskan memasuki ruang aula itu. Di dalam aula itu telah berdiri ksatria pribadi milik empat pangeran Sawamura. Aika berojigi lalu berdiri disamping keempatnya. Tempat mereka 3 meter jauhnya dari kelima pangeran yang sedang bermain itu.
"Kau kalah Ren!" seru Pangeran Rei dengan seringai kemenangannya.
"Hn, apa permintaanmu, kakak?" tawar Ren tenang, wajah datarnya tak menampilkan ekspresi yang berarti.
"Ayo berburu!" usul Riyu masuk ke dalam percakapan.
"Bukan ide yang buruk. Sudah lama kita tidak melakukannya." tambah Rei antusias.
"Aku akan mengirimkan pesan pada Pangeran Mahkota Akira." kali ini Daichi ikut menimpali. Keempat orang lainnya mengangguk setuju dan mulai beranjak untuk bersiap-siap.
Aika juga ikut beranjak dan mengekor di belakang Noya dengan tenang. Ia mengikuti kemanapun langkah kaki Noya berjalan. Hingga mereka tiba di depan kamar sang pangeran lalu Aika memilih berdiri di sisi pintu, tak berniat mengekor lebih jauh.
Lama Aika berdiri disisi pintu hingga beberapa orang pelayan masuk lalu keluar lagi sambil menggotong beberapa peralatan berburu dan berbagai persiapan lainnya. Aika kembali berojigi saat melihat Noya telah ikut keluar dengan kimono berburunya. Dan tugasnya, kembali mengekor dibelakangnya.
Aika dan Noya tetap diam dalam perjalanan menuju gerbang utama. Saat di tengah perjalanan mata safir Aika tak sengaja menangkap pemandangan menarik, di mana Pangeran Daichi tengah berbincang dengan seorang wanita yang belum pernah Aika lihat sebelumnya.
Mereka terlihat mesra dari kejauhan. Tampak pangeran Daichi tengah tersenyum manis saat meladeni ucapan si wanita cantik berkimono merah menyala itu. Wajahnya terlihat ayu bahkan saat memasang wajah datar, dan Aika menemukan banyak keganjilan diwajah itu. Seperti ada sesuatu misteri yang menyelubungi mata bulat itu.
Menyadari kelancangannya, Aika segera mengalihkan tatapan dan kembali mengekori Noya dalam diam. Sesampainya disana keempat pangeran sudah berkumpul dengan para ksatria mereka masing-masing. Setelah semua perlengkapan siap, dan seluruh pasukan pengawal juga bersiap. Rombongan berburu pun berangkat kebagian barat Kerajaan Sawamura.
.
.
.
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah hari. Para rombongan memutuskan melakukan perburuan esok hari (sembari menunggu Akira) dan memilih mendirikan tenda untuk bermalam. Ditengah mendirikan tenda, dua orang pangeran memutuskan mencari bahan makanan untuk di masak malam nanti dan sisanya tetap mendirikan tenda.
Setelah tiga tenda besar didirikan tak berselang lama kedua pangeran kembali membawa seekor rusa berukuran sedang sebagai menu makan malam. Dua pengawalnya juga membawa beberapa kayu bakar.
Setelah selesai membuat api, daging rusa yang sudah di potong segera di bakar. Suasana hening menyelimuti malam yang semakin dingin itu. Apa yang diharapkan dari para pangeran Sawamura yang terkenal dengan gunung es berjalan itu. Jadi, jangan harap mereka mau bekerja sambil bicara karena itu tak ada dalam kamus mereka.
Aika yang tenggorokannya mulai gatal karena terus di paksa diam. Memberanikan diri, bermodalkan nyali tipis ia mulai mengajak keempat ksatria lainnya berbicara. Toh, mereka tidak sekumpulan dengan gunung es itu.
"Hoshigaki, apa kau sudah lama menjadi ksatria?" tanya Aika membuka pembicaraan.
Hoshigaki Hiro, ksatria pribadi milik Pangeran Daichi itu sedikit terkejut karena diajak bicara tiba-tiba. Ia melirik kearah tuannya, melihat para pangeran sedang asyik dengan dunia masing-masing, Hiro memilih mengikuti alur pembicaraan.
"Aku sudah menjadi ksatria Pangeran Daichi saat usiaku 12 tahun."
"Wah, sudah lama sekali." ucap Aika riang. "Bagaimana dengan kalian." tanyanya lagi menatap ketiga ksatria yang lain.
"Kami semua direkrut di usia yang hampir sama." jawab salah satunya mewakili ketiga ksatria.
"Gah! Itu berarti hanya aku ya yang baru?!" gerutu Aika dibuat-buat, bibirnya sudah maju beberapa senti.
Mereka terus berbincang-bincang dengan riangnya berkat pancingan-pancingan kecil dari Aika. Mereka bahkan sesekali tertawa dengan candaan Aika. Membuat atmosfir hangat melingkupi kumpulan mereka dan seolah melupakan sejenak tugas berat mereka sebagai ksatria.
Tanpa mereka ketahui, ternyata para pangeran itu sudah memperhatikan mereka sejak tadi. Mereka memandang kumpulan itu dengan berbagai macam arti tatapan. Bahkan para pangeran itu ikut tersenyum kecil dengan candaan yang dilontarkan oleh Aika. Hanya ada satu orang yang merasa tidak rela dengan kedekatan mereka, siapa lagi kalau bukan Noya.
Noya merasa sedikit tersingkir berkat keempat orang yang berkumpul bersama Aika. Ia merasa hanya dialah yang boleh mendapatkan senyum dan seluruh perhatian Aika. Egois memang, tapi ia tidak peduli karena seorang Sawamura tidak pernah berbagi.
Malam semakin larut, semua orang telah memasuki tenda untuk beristirahat sekaligus menyiapkan stamina untuk berburu esok hari. Empat orang pengawal sudah menuju tempat penjagaan masing-masing. Sedang para ksatria menunggu di depan tenda para pangeran untuk melakukan tugas berjaga.
Sreek!
Sreek! Sreek!
Aika memicingkan matanya ke segala penjuru arah. Telinganya ia pasang setajam mata pedang. Di dalam kegelapan ia merasa sedang diawasi oleh sesuatu. Maklum hutan bagian barat adalah hutan yang dikenal dengan mitos berhantunya.
Meski Aika sangat takut dengan segala hal yang berbau dengan hantu, tapi ia tak boleh lengah untuk sekarang. Mengesampingkan rasa takutnya, Aika melangkah menjauh dari tenda yang dihuni oleh Noya dan berjalan menuju kearah suara berasal.
Biru safir Aika bergerilya menyapu seluruh hutan. Semak-semak menari tanpa iringan angin membuat suasana mistis semakin mendukung. Sekelebat bayangan hitam lewat di sebelah kanan Aika secepat gerakan tolehan kepalanya.
"Siapa disana?" tanya Aika, suaranya sedikit bergetar jika didengarkan dengan jeli.
Flash~
Aika menoleh ke kanan dan kiri dengan cepat. Ia merasa tengah di kepung oleh sesuatu yang tak kasat mata. Matanya tak berhenti meneliti gelapnya malam. Dadanya naik turun mencoba menetralkan detak jantungnya. Ayolah, demi apapun Aika mulai tak bisa mengendalikan rasa takutnya.
"Tunjukkan diri kalian!" serunya lantang, berbanding terbalik dengan ujung kepala hingga kakinya yang mulai bergetar.
Slice!
"Ugh~!" rintihan kecil terdengar dari bibir Aika saat lengan kirinya tergores tiba-tiba.
"Sial! Aku harus kembali." ucap Aika sambil memegangi lengannya yang tergores cukup dalam.
Ia tak mungkin melawan musuh yang diperkirakan lebih dari 35 orang itu. Apalagi di perkuat dengan dugaan bahwa mereka bukan manusia sontak membuat Aika memilih mundur untuk sekarang.
Aika berlari dengan cepat untuk kembali ke tendanya. Namun sialnya disaat genting pun insting navigator-nya mendadak bobrok dan membuatnya lagi-lagi tersesat. Inginnya selamat dari kepungan makhluk aneh yang tak diketahuinya, ia malah semakin mendekati sarang para makhluk-makhluk itu.
Terbukti dengan semakin banyaknya mata yang mengiringi langkahnya. Angin malam semakin dingin saat Aika berlari semakin masuk ke dalam hutan. Tanpa melihat langkahnya tak sengaja Aika jatuh ketepian tebing dan hanyut terbawa arus sungai.
To be continue...