
Zzzrrrtt~
Sebuah anak panah melesat cepat melewati sisian kepala Aika, menyebabkan beberapa helaian emasnya terpotong dan terbang tertiup angin.
Beberapa tikus yang mencuri dengar pun ikut dibuat terkejut dengan datangnya anak panah yang dadakan itu.
Aika melirik sekilas dan menemukan Putri Masako berdiri tegak dibelakangnya dengan busur panah yang mengacung kearahnya. Aika berbalik, wajah menantang ia pasang untuk Putri Masako.
"Sepertinya panah anda meleset, Putri." Sindir Aika sambil melirik anak panah Putri Masako yang menancap pada pohon nan jauh disana.
Putri Masako tersenyum miring, "Khe, aku tidak akan membunuhmu secepat itu. Aku akan menyiksamu terlebih dahulu kemudian membuatmu mati secara perlahan." Katanya meremehkan.
"Ada apa denganmu, Shimura?" Tanya Aika dingin. "Bukankah aku sudah memperingatkanmu!?" Sambungnya tajam.
"Aku juga sudah memperingatkanmu, Ennoshita!" Geram Putri Masako mengingatkan.
Seluruh serangga penguntit dibuat terkejut. "Ennoshita?" Ucap Pangeran Akira, Pangeran Riyu, Pangeran Rei, dan Pangeran Ren bersamaan.
"Bukankah itu marga Ibumu, Pangeran Akira?" Tanya Pangeran Daichi dalam keterkejutannya.
Pangeran Akira mengangguk, "Ya, tapi bagaimana dia-"
.
.
"-tahu kalau marga asli adikku Ennoshita?" Tanya Pangeran Akashi entah pada siapa.
"Mungkin Shimura telah menyelidiki Putri Aika sebelumnya, Pangeran." Sahut Kapten Mitsuki mengira-ngira.
"Sial! Seharusnya aku tahu sejak awal-"
.
.
"-kalau Aika seorang Ennoshita apa ia memiliki hubungan denganmu, Pangeran?" Tanya Pangeran Riyu bingung.
Pangeran Akira menggeleng, "Entahlah, setahuku Ibu hanya memiliki dua adik perempuan dan tidak ada gadis lain kecuali Karin dalam Istana Ennoshita." Jawabnya sambil mengingat silsilah dari keluarga ibunya.
"Bisakah kalian diam!? Aku tak bisa mendengar apapun!" Tegur Pangeran Noya dengan lirikan tajam pada Pangeran Akira dan Pangeran Riyu. Pangeran Akira berdecak sebal, sedang Pangeran Riyu mengangguk takut sebagai respon.
Aika tersenyum, "Kalau begitu lakukan sesukamu! Mati pun aku tak akan menyesal!" Tantangnya santai.
Putri Masako terkejut, Kenapa ia tak terkejut dan malah bersikap begitu santai? Apa dia tidak takut aku akan membocorkan rahasianya? Batinya bertanya-tanya.
"Kau tidak terkejut?" Tanya Putri Masako tak menyembunyikan rasa ingin tahunya.
Aika tertawa geli, "Ada apa? Memang kenapa jika marga asliku Ennoshita? Apa kau tak bisa membunuhku?" Ucapnya meremehkan.
"Tutup mulutmu rendahan!" Marah Putri Masako tak terima seorang bangsawan sepertinya direndahkan oleh wanita kalangan bawah macam Aika.
Aika bungkam, wajahnya mengeras seketika. Kesalahan besar bagi seseorang yang telah berani menghina harga dirinya. Terutama orang itu adalah seorang jal*ng.
"Kenapa? Kenapa kau diam? Oh! Apa kau sudah sadar siapa dirimu yang sebenarnya?!" Hina Putri Masako kelewatan.
"Apa jadinya jika Pangeran Nishinoya tahu kalau istrinya ternyata dulu adalah Putri seorang pelayan di Istana Ennoshita? Aku bertaruh dia pasti akan mengusirmu saat itu juga..." Jeda sejenak.
"...Di mana tempatmu setelahnya? Jalanan? Atau Jeruji besi? Jadi, posisikan dirimu dan berhentilah bermimpi menjadi seorang Permaisuri Sawamura di masa depan!" Lanjutnya memberi ancaman.
"Apa kau sudah selesai!?" Tanya Aika dengan kerlingan kecil.
"Berhentilah berbicara omong kosong, Shimura! Bukan hanya aku wanita rendahan disini." Desis Aika penuh ancaman. Membuat Putri Masako mengernyit waspada ditempatnya.
Putri Masako menyipitkan mata ketika Aika berjalan mendekatinya. "Apa maumu!?" Tanyanya waspada.
Aika tersenyum berbahaya, "Apa aku sudah memberitahumu jika aku tahu siapa ayah dari bayi HARAM-mu ini?" Desisnya penuh intimidasi.
Putri Masako membatu seketika, menatap horor Aika yang tersenyum mengejek padanya. "Apa kau berpikir kau sebanding denganku?" Remeh Aika menyudutkan Putri Masako hingga mundur ke belakang beberapa langkah.
"Perlu kau tahu! Meski aku wanita rendahan, setidaknya aku bukan jal*ng sepertimu!" Lantang Aika, tanpa tahu efek suaranya berhasil membuat beberapa penguntit mengetahui rahasia besar itu.
"Kau tahu, apa jadinya jika Keluarga Sawamura dan seluruh penghuni Istana tahu jika menantu sulung Sawamura mengandung bayi kekasih gelapnya dan mengaku-aku itu adalah bayi Pangeran Daichi? Aku bertaruh hukuman mati mungkin yang terbaik." Kata Aika membalikkan ucapan Putri Masako sebelumnya.
Kini giliran Aika yang memandang rendah Putri Masako. Ia berbalik untuk menjaga jarak dari tikus yang terpojok itu.
"MATI KAU RENDAHAN!" Murka Putri Masako menyerang Aika dari belakang dengan belatinya.
Belati Putri Masako dengan mudah dielakkan oleh Aika. Putri Masako kembali melayangkan belatinya dengan asal, namun tentu saja ia bukan tandingan ksatria terlatih seperti Aika. Keadaan berbalik, nyawa Putri Masako berada di tangan Aika.
"K-kau tidak bisa membunuhku! Kau akan dituduh karena telah membunuh bangsawan sekaligus menantu keluarga Sawa-"
Plakkkk!!!
Aika menampar keras pipi Putri Masako untuk menghentikan ocehan tak bermutunya hingga sudut bibirnya berdarah. "Tak ada seorang pun disini! Membunuhmu pun tak akan ada yang tahu jika itu aku!" Ucap Aika enteng.
Putri Masako bergindik ngeri sambil memegangi pipinya. "Aku akan menghentikan kekejaman satu dari empat Shimura di tempat ini!" Sambung Aika terdengar serius.
Putri Masako ketakutan, "Tidak! A-aku mohon lepaskan aku! Jangan bunuh aku! Kumohon kasihanilah kami" Pintanya memelas. Tangannya menyatu memohon.
Aika memandang datar dan jijik pada Putri Masako. "Shimura, apa kau ingat apa yang telah kalian lakukan pada Ibu, teman-teman, dan penduduk desaku?" Tanyanya dingin dan datar. Putri Masako membeku, dia terlalu takut sekedar untuk menganggukkan kepala.
"Kalian membuatku kehilangan Ibuku saat usiaku 5 tahun! Kau membunuh teman-temanku! Dan kronimu menghanguskan seluruh penduduk desaku!-" Jeda sejenak, Aika mencoba mengendalikan diri untuk tidak membunuh Putri Masako saat itu juga.
"-Kalian membuat aku sendirian hampir di separuh hidupku!" Aika mengakhiri ucapannya dengan menutup mata -menahan sesak dalam hatinya.
"APA KAU SUDAH TAHU APA DOSA-DOSAMU, HAH!?" Teriak Aika mengeluarkan kemarahannya. Membuat seluruh pasang telinga yang mendengarnya terkejut dengan reaksi tak terduga si pirang.
Putri Masako semakin bergetar ditempatnya. Ia tak pernah tahu jika Aika akan semengerikan ini jika sedang marah.
"Jika nyawamu begitu berharga, apa nyawa mereka tidak?" Desis Aika mencoba menahan suaranya yang bergetar.
Putri Masako menggeleng, "Ti-tidak! Bu-buk-an! Maaf, ak-"
"Tutup mulutmu!" Bentak Aika. Ia menggenggam belati Putri Masako (yang tadi direbutnya) dengan tangan bergetar dan susah payah mengendalikan emosinya.
"Hukuman mati bagimu adalah hukuman yang terlalu mudah. Pergi! Tapi, ingatlah aku akan menghukummu dengan hukuman yang jauh lebih menyakitkan dari kematian!" Ancam Aika penuh penekanan.
Melihat kesempatan, Putri Masako segera menjauhi Aika dengan kedua kaki lemas dan dendam yang semakin terpupuk bara api. Setelah Putri Masako jauh dari pandangan, Aika jatuh terduduk dengan tangis yang pecah.
Dibalik semak Pangeran Noya yang melihat wanitanya yang menangis rapuh hendak keluar dari persembunyiannya -setelah mendengar banyak rahasia yang tak terduga olehnya. Namun, niatannya tak sampai karena Pangeran Akashi keluar terlebih dahulu.
"Putri Aika?!" Panggil Pangeran Akashi pura-pura terkejut karena melihat Aika yang menangis keras.
Aika mendongak, sedikit terkejut sang kakak menemukannya dalam kondisi mengenaskan seperti itu. "Kakak!" Panggilnya parau.
"Ada apa denganmu, Putri?"
"Kakak!" Aika langsung memeluk erat dan menyembunyikan wajahnya pada dada Pangeran Akashi. Pangeran Akashi menenangkannya dengan mengelus surai emas milik Aika.
"Ssttt~ tenanglah! Ada aku disini!"