The Great Princess

The Great Princess
Ep. 74



Malam itu juga, Putri Masako dan kedua pelayan setianya menemui seorang Miko yang tinggal di kuil jauh ke dalam hutan.


"Fuen, kau yakin Miko itu tinggal disini?" Tanya Putri Masako ragu, pasalnya tempat yang didatanginya lebih mirip rumah hantu daripada sebuah kuil.


Fuen mengangguk ragu, "Kita tidak akan tahu jika hanya berdiri disini, Putri!" Ucapnya terdengar meyakinkan.


Yutaka ikut mengangguk -sejujurnya ia sedang takut daripada menyetujui ucapan Fuen. Putri Masako berpikir, "Baiklah-"


.


.


.


"-jadi kalian ingin membuat ramuan hitam?"


Seorang Miko cantik dengan surai daffodil membuka mulut setelah mendengar penjelasan panjang dari ketiga tamunya. Ketiga orang yang ditanya segera mengangguk.


"Aku ingatkan! Jika ramuan itu gagal maka kau akan menerima karmamu cepat atau lambat..." Ucap Shio (si Miko) memperingatkan.


"Dan juga meski jarang terjadi, pasti ada seseorang yang sangat kuat hingga ramuan itu tak mempan padanya." Tambahnya masih memberi peringatan.


Putri Masako nampak menimang, namun kedua pelayannya justru menggeleng -seolah itu adalah risiko yang terlalu besar jika sampai ramuan hitamnya gagal.


"Lakukan seperti yang kuperintahkan!" Putus Putri Masako akhirnya.


Shio mengangguk, "Berikan aku gambaran orang yang ingin kau beri ramuan!" Pinta Shio pada Putri Masako.


Putri Masako tanpa ragu mengeluarkan lukisan wajah Aika dari balik kimononya. "Putri, dia..." Yutaka terkejut saat tahu lukisan siapa yang diserahkan oleh Putri Masako.


"Tapi, Putri Aika akan-"


"Fuen! Yutaka! Cukup! Tutup mulut kalian!" Desis Putri Masako mematikan. Kedua pelayan itu sontak menunduk dan diam mengunci rapat mulutnya.


"Aku melihat sesuatu yang besar pada wanita ini." Celetuk Shio tiba-tiba. Membuat Putri Masako memandangnya penuh tanya.


"Dia akan menjadi wanita berpengaruh dimasa depan dan Putra-Putranya akan menjadi Kaisar menggantikan ayah dan pamannya. Ramalanku, ia akan menjadi Kaisar wanita pertama dalam dinasti Sawamura." Sambung Shio melanjutkan ramalannya.


Putri Masako terkejut sekaligus tidak senang dengan ramalan yang baru didengarnya. Tak mau kalah ia juga meminta Shio untuk meramalkan nasibnya dengan menyodorkan telapak tangannya.


"Malang sekali nasibmu. Kau akan mengalami banyak penderitaan dan wanita inilah-" tunjuk Shio pada lukisan Aika "-yang menyebabkan semua penderitaanmu." Jelas Shio saat membaca ramalan wajah Putri Masako.


"Jaga mulut lancangmu, Miko rendahan!" Marah Putri Masako tak terima dikatai bernasib buruk.


"Bukankah kau kemari untuk meminta ramuan kematian, dan bukan ramalan!? Bukan salahku jika aku melihat ramalan buruk tentangmu! Kau lah yang meminta." Sahut Shio tenang.


"Tenanglah, Putri!" Fuen menenangkan Putri Masako yang mulai kebakaran jenggot.


"Lakukan seperti perintahku! Kirimkan segel kutukan dan berikan ramuan itu pada wanita sialan ini! Akan kutanggung apapun risikonya asalkan jal*ng ini mati!" Perintah Putri Masako penuh penekanan.


"Baiklah! Pertama, siapkan sebuah altar pemujaan yang jauh dari kerumunan orang. Seperti Kuburan atau hutan misalnya. Kedua, siapkan sebuah boneka fudu dan tulislah namanya dengan menggunakan darah dari ayam cemani dan tusuk dengan tiga jarum ini ketitik-titik vitalnya. Ketiga, selundupkan aku ke dalam kediamannya agar aku dapat mengirimkan simbol kutukan itu. Dan terakhir, gantung boneka berbentuk hantu ini agar ia bermimpi buruk setiap malam." Shio menjelaskan apa saja alat dan bahan yang akan digunakannya untuk memulai ritual pelenyapan.


Putri Masako dan kedua pelayannya mengangguk mengerti. "Apa darah manusia bisa digunakan? Aku ingin sekali datang ke mimpinya dan mencekiknya sampai mati!" Tanya Putri Masako penuh harap.


Shio memicing galak, "Darah ayam cemani!" Tegasnya.


"Baiklah! Kami mengerti!"