The Great Princess

The Great Princess
Ep. 41



Aula Utama


Aula utama telah siap untuk digunakan sebagai pemilihan calon istri bagi pangeran bungsu Sawamura. Seluruh kursi sudah dipenuhi dengan orang-orang yang diundang sekaligus menjadi penonton dalam pemilihan kali ini. Karena memang acara ini terbuka namun tidak untuk rakyat. Sebab ada hari dimana rakyat akan tahu saat pemilihan telah usai.


Kursi Kaisar telah terduduki oleh Raja dari Kerajaan Terbesar di Negara Api yang tak lain adalah Sawamura Hideki. Disebelahnya ada Permaisuri yang tentunya menjadi bagian terpenting dalam pemilihan kali ini karena ia adalah juri utama dalam tes nanti.


Di kursi lainnya ada Pangeran Mahkota Nishinoya dan kakaknya Pangeran Daichi yang setia mendampinginya, bahkan Pangeran Daichi tidak peduli dimana Putri Masako duduk.


Di singgasana lainnya (bagian kiri) ada Raja dari Kerajaan Terbesar Kedua setelah Sawamura yaitu Nakashima. Raja Nawaki bersama Ratu Kiri dan juga Pangeran Mahkota Kouji hadir sebagai saksi sekaligus datang sebagai kerabat jauh dari Sawamura.


Menilik singgasana lainnya (bagian kanan) ada Raja dari Kerajaan Ishikawa sebagai keluarga dekat yang juga di undang dalam acara besar kali ini. Nampak Kaisar Minato, Permaisuri Keiko, dan Pangeran Mahkota Akira duduk dengan tenang sembari menunggu para gadis dipersilakan masuk.


Disisi kanan ruangan terdapat para Dewan Negara, Menteri, Pejabat, Gubernur, sampai Kepala Desa hadir memenuhi undangan. Sedang disisi kanan terdapat Jendral-Jendral Besar Sawamura, dan juga beberapa dari Ishikawa dan Nakashima dan sisanya adalah para ksatria dan beberapa kepala pelayan dan kasim istana yang bertugas.


"Perhatian! Para calon Putri memasuki ruangan!" Seruan salah seorang penjaga pintu sontak menghentikan segala aktivitas di dalam aula utama. Dan mengalihkan seluruh pandangan kearah pintu yang mulai terbuka.


Satu persatu para gadis memasuki ruangan aula. Mereka kemudian membuat dua barisan (kanan dan kiri). Seluruh gadis berojigi pada sang Kaisar dan seluruh penghuni ruangan. Kecuali, yang berpangkat rendah.


Permaisuri lah yang paling memperhatikan setiap inci dari tubuh para gadis itu. Dan menyadari hanya ada 11 gadis dalam barisan sehingga ada satu barisan yang tidak memiliki pasangan.


"Kenapa hanya ada sebelas gadis?" Tanya Permaisuri pada Kazumi (Kepala Pelayan Istana) yang membawa para gadis itu.


"Itu-"


"Maaf, atas keterlambatan hamba Permaisuri!" Sebuah suara merdu memotong ucapan Kazumi.


Tepat di bibir pintu seorang gadis dengan cadar sutra putih berdiri dengan anggun kemudian berojigi sebagai permohonan maaf dan sikap hormatnya.


Permaisuri tersenyum, "Tidak apa. Masuklah!" Perintahnya.


Seluruh pasang mata di dalam aula memperhatikan keduabelas gadis yang berdiri di tengah ruangan. Ada tatapan kagum, iri, dan merasa takjub karena melihat barisan wanita cantik dihadapan mereka. Meski hanya dilihat dari bagian matanya saja.


Pangeran Noya juga ikut memperhatikan satu-persatu mata gadis itu dengan intens hingga ia bersitatap dengan biru safir dibarisan paling belakang. Sejenak ia terpaku pada mata biru itu, pun sebaliknya si gadis merasa tersedot oleh mata hitam yang tak mengalihkan pandangannya barang sedikit.


Di dalam penutup wajahnya si gadis tersenyum. Aku kembali, Pangeran Noya! Untuk memenuhi janji kita, ucapnya dalam hati.


Putri Masako yang juga mengikuti arah pandang Pangeran Noya, mengernyit saat ia tidak ingat pernah melihat mata biru itu selama berada di asrama khusus. Dan saat itulah ia menyadari kebodohannya karena tidak menghitung terlebih dahulu jumlah gadis-gadis sialan itu.


"Permaisuri, bolehkah saya ikut berpartisipasi dalam pengujian calon Putri dan ikut dalam menyeleksi?" Tanya Putri Masako setelah memutar otak dan menemukan sebuah ide apik.


"Tentu saja, Putriku. Hanya saja kau pasti tahu bahwa apapun penilaian kita tetap Pangeran Nishinoya lah yang akan menentukan keputusannya." Balas Permaisuri Chikara dengan senyum manis, sembari mengingatkan.


Putri Masako meruntuk dalam hati, memang benar Pangeran Noya lah yang akan memilih. Namun, bukankah itu adalah tugasnya untuk tidak membiarkan satu gadis mana pun terpilih nantinya?!


Putri Masako mengangguk kecil, untuk menutupi kekesalan dalam dirinya. Bersabar adalah hal paling benar yang harus dilakukannya untuk saat ini.


Para calon Putri akan melalui beberapa proses seleksi, dan salah satu dari mereka akan dipilih berdasarkan proses tersebut.


Para gadis diberi waktu selama 30 menit untuk mempersiapkan diri sementara Permaisuri dan Putri Masako membicarakan apa saja bagan dari proses seleksi yang akan dilalui para gadis itu nantinya.


"Bolehkah saya yang menentukan tema dalam proses seleksi nanti, Yang Mulia?" Pinta Putri Masako dengan senyum manisnya.


Meski sedikit aneh karena Putri Masako tiba-tiba meminta ingin menghandle seluruh proses seleksi, namun Permaisuri Chikara tidak ambil pusing dan menyetujuinya dengan tenang.


Membuat Putri Masako tersenyum penuh kemenangan. Karena ia akan membuat proses seleksi ini sesulit melewati lubang jarum. Hingga tidak akan ada satu gadis pun yang akan lolos.


Bersambung...