The Great Princess

The Great Princess
Kembali ke Istana?



Aika terbangun di tempat yang asing baginya. Sebuah kamar dengan dinding kayu berkualitas super mengelilinginya. Tubuhnya terbaring di atas ranjang empuk dengan sprei sutra terbaik berwarna merah dengan sulaman burung bangau perak. Menilik ke berbagai penjuru terdapat banyak hiasan keramik, lukisan, dan ornamen-ornamen mahal khas istana.


Aika mengernyitkan keningnya dalam. Mencoba menyatukan puzzle-puzzle ingatnya. Lama ia terbang ke dalam lamunan, dan terduduk cepat dengan mata membola dan bibir terbuka saat seluruh ingatannya kembali. Ia menoleh kesana-kemari, kemudian menatap tubuhnya.


Seketika mata indah yang sudah membola itu semakin melotot hendak keluar dari tempatnya (jika bisa) saat menyadari kimono ksatria-nya telah berganti nagajuban putih. Nagajuban? pikir Aika horor. Wajahnya berubah pucat bak Sadako berpenyakit leukimia.


Selama Aika masih dengan wajah anehnya. Seseorang mengetuk pintu dan masuk sambil membawa nampan berisi penuh makanan. Bahkan sampai orang itu meletakkan makanannya pun Aika belum juga tersadar akan kehadiran orang lain di dalam kamar itu. Sampai orang itu menepuk pelan bahu Aika.


"Silakan, umm..!"


Aika terkesiap, ia memandang pelayan (yang menepuk bahunya) dengan tatapan bingung. Lalu, sedetik kemudian ia tersadar.


"Ah, uhm, maaf.. ada apa?" tanyanya tergagap, masih bingung dengan situasinya.


"Apa Anda baik-baik saja?" ucap pelayan itu balik bertanya.


"Un, y..ya. Apa itu untukku?" tanya Aika mengalihkan suasana canggung di antara keduanya. Pelayan itu mengangguk sebagai jawaban.


"Apa ada yang bisa saya bantu?" tawarnya ramah, namun ada ekspresi aneh yang di tangkap Aika dari wajah pelayan itu.


"Tidak." jawab Aika singkat, mengabaikan keingintahuannya tentang ekspresi tersembunyi dari wajah itu. Si pelayan membungkuk sebelum berbalik hendak pergi, namun langkahnya terhenti saat ucapan Aika mengaum diruangan itu.


"Tunggu! Apa kau yang menggantikan pakaianku?" tanya Aika tanpa menutupi nada penasarannya. Si pelayan mengangguk.


"Apa kau tahu kalau aku-"


"Saya berjanji tidak akan memberitahukan hal ini pada siapapun jika anda mau." ucap pelayan itu cepat dengan wajah menunduk dalam.


"Tidak, tidak perlu ada yang disembunyikan. Aku percaya padamu." kata Aika yakin. Ia tersenyum kearah si pelayan.


Pelayan itu mendongak, menatap tidak percaya pada Aika. Ia kemudian ikut tersenyum dan berkata. "Saya tidak akan mengatakan apapun."


"Terserah padamu. Oh, ya siapa namamu?" tanya Aika ramah, ia beranjak dari kasurnya menuju meja yang telah terisi penuh makanan yang di bawa pelayan tadi.


"Saya Kurama Yui."


"Nah, Yui boleh ku panggil begitu?" tanya Aika memandang wajah gadis yang juga tengah memandangnya itu. Yui mengangguk setuju.


"Kemarilah! Ayo, makan bersama. Aku tak mungkin menghabiskan semua ini." pinta Aika menunjuk ke arah makanan didepannya dengan sumpit.


"Maaf, sa-"


"Mereka tidak akan tahu. Aku akan menjaga rahasia ini di antara kita berdua saja. Bagaimana?"


"Ba.. baiklah." putus Yui, berjalan ke arah meja makan dan duduk tepat di hadapan Aika.


Keduanya makan dengan tenang. Sesekali terdengar dentingan suara sumpit yang membentur dengan mangkuk keramik mahal itu. Setelah acara makan selesai Yui membersihkan sisa makan mereka dan hampir beranjak berdiri.


"Yui, apa ini istana Sawamura?" ucapan Aika lagi-lagi menghentikan langkah Yui.


"Ya."


"Apa yang terjadi? Bukankah aku.. maksudku, bagaimana bisa aku berada disini?" tanya Aika bingung merangkai kata-katanya.


"Saya tidak tahu. Saya hanya ditugaskan untuk melayani anda, umm.."


"Aika. Panggil aku Aika, dan jangan terlalu formal padaku. Mengerti?!"


"Umm, ya. Aika-san, aku hanya di minta untuk merawatmu oleh Pangeran Mahkota Noya itu saja." jelasnya singkat.


"Oh, lalu bagaimana keadaan Pangeran?" tanya Aika mulai ingat dengan keadaan tuannya itu.


"Pangeran baik-baik saja. Ia sudah sembuh dan sering menjengukmu sebelum kau siuman."


"Benarkah? Kupikir dia akan mengunci diri di kamar dan berpura-pura sakit." cemooh Aika dengan wajah mengejek.


"Aku dengar dia sempat menolak kunjungan dari siapapun dan hanya ingin di rawat olehmu. Tapi, saat dia mendengar bahwa kau belum siuman, Pangeran justru keluar dari kamarnya dan memilih menginap disini." jelas Yui sembari menerawang.


"Me..menginap? Kau yakin?" tanya Aika dengan alis menukik tajam. Merasa aneh dengan sikap tuannya itu.


"Ya, dia akan datang saat malam tiba dan keluar pagi-pagi sekali."


Aika melongo mendengar ucapan Yui. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi, di tambah dengan sikap aneh Noya yang terlihat khawatir padanya. Membuat Aika sedikit merasa GR karena terlalu diperhatikan.


Merasa tak lagi mendapat pertanyaan dari Aika, Yui membungkuk kemudian berjalan keluar dari kamar itu sambil membawa baki berisi piring kotor sisa makan siang mereka dengan tenang. Sedang Aika mulai berkelana lagi kedalam lamunannya.


TBC