The Great Princess

The Great Princess
Kekalahan



Di lapangan itu kini hanya tersisa pasukan Serigala Putih. Mereka semua sibuk dengan berbagai pikiran yang berkecamuk. Duel kali ini adalah tantangan 1 lawan 1 dan bisa dipastikan ksatria baru seperti mereka akan bonyok habis-habisan atau paling buruk mati di tempat. Menghela nafas lelah semua akhirnya pasrah pada takdir mereka esok hari dan melangkah pergi kembali ke kamp.


Hanya tersisa Ukai dan Aika disana. Ukai hanya dapat menatap Aika dalam diam, dan melangkah pergi tanpa mengucapkan satu patah katapun. Aika hanya menatap sendu punggung Ukai yang berjalan menjauh darinya, ia sangat menyesal telah mengecewakan Ukai karena kebisuannya yang tidak bisa mengatakan alasan ia pergi semalam.


.


.


.


Hari berlalu semakin cepat, Istana Sawamura tengah di landa kegusaran akibat perang di Desa Bulan yang masih belum menemukan titik terang hingga hampir 2 Minggu lamanya. Bahkan pernikahan Pangeran Daichi dengan keponakan dari Perdana Menteri harus di tunda demi menghormati mereka yang pergi berperang.


Dan bukan hanya pernikahan, bahkan semua aktivitas yang di kira dapat di tunda akan di laksanakan setelah perang usai. Terutama duel tahunan yang membuat kroni Serigala Putih sedikit bisa bernafas karena masa perpanjangan waktu. Meski tidak banyak, tapi setidaknya mereka jauh lebih bisa mempersiapkan diri secara matang saat penjadwalan ulang tiba.


Beralih ketempat lain...


Di dalam aula pertemuan, Dotto dan para petinggi negara mendapat kabar dari Kin tentang akan diadakannya duel tahunan antara kroninya dengan Serigala Putih yang telah dijadwalkan ulang. Noya yang mendengar Serigala Putih akan kembali berduel merasa resah. Noya cukup tahu kalau Aika dkk hanyalah ksatria baru yang akan mudah dikalahkan oleh seseorang seperti Kin dan kroninya, dan itu membuatnya sangat frustasi.


Suasana yang tadinya tenang, kini mendadak gaduh saat Menteri Pertahanan dan Strategi muncul dan berjalan tergesa kehadapan sang Kaisar. Seyu datang memberi laporan bahwa seluruh tentara Negara Angin berhasil menduduki wilayah Desa Bulan seutuhnya. Dan bukan hanya itu, Seyu juga mengatakan jika Shouta berhasil dikalahkan.


Kaisar Hideki terkejut, meski hanya wajah datar yang nampak, tapi guratan itu tak bisa disembunyikan-nya.


Seyu mengangguk, "Tapi, tentara Negara Angin sangat kuat. Jendral Banna jelas bukan tandingan Shouta." Jelasnya kemudian dengan nada putus asa.


"Untuk apa mengeluh sekarang?! Itu tak ada gunanya. Kita harus segera mengirimkan tentara bantuan, akan sangat berbahaya jika mereka berhasil menduduki Desa Bulan lebih lama lagi." Ucap Dotto memberi pendapat, yang segera mendapat persetujuan dari Seyu dan para dewan lainnya.


"Kali ini siapa usulanmu, Perdana Menteri Dotto?"


"Kageyama Norio. Kita semua tahu keluarga Kageyama adalah ksatria terhebat sepanjang masa milik Sawamura." Usul Dotto yang lagi-lagi mendapat persetujuan seluruh dewan.


Hideki nampak menimang usulan itu. Hideki menatap kedua putranya untuk meminta pendapat. Noya tentu saja tidak mau membuang waktu dan ikut menyetujui saja usulan itu. Namun, Daichi justru berfikiran sebaliknya. Apa perlu Kageyama turun tangan? Apa ini tidak berlebihan, pikirnya.


"Ada apa, Pangeran?" Tanya Hideki pada Daichi saat tak juga mendapat jawaban dari permintaan pendapatnya.


"Tidak, Kaisar. Aku hanya merasa, kenapa harus Kageyama yang diturunkan? Kenapa bukan kroni ksatria lainnya saja?" Kata Daichi menyuarakan isi pikirannya.


Noya jelas tidak menyukai ucapan kakaknya itu. Ia merasa Daichi sangat ingin kroni-kroni yang tidak bisa diandalkan itu maju berperang. Bukankah itu akan sia-sia saja jika mereka kalah. Tapi, tentu saja itu hanya sebagian dari alasan ketidaksetujuannya, sebab alasan utamanya adalah Noya tidak mau Aika berperang.


Namun, Kaisar Hideki tidak memiliki pemikiran yang sama dengan Daichi dan memilih menyetujui usulan Dotto. Kaisar Hideki menurunkan titah untuk Kageyama agar segera di kirim ke medan perang secepatnya


To be Continue...