
Setelah menghadiri acara perkenalan dan pemberian nama, para Gubernur pergi memenuhi undangan pesta di kediaman Shimura. Diantaranya terdapat Kageyama Norio yang sebenarnya adalah mata-mata disana.
Perdana Menteri Dotto dengan bangga terus menimang Putranya dihadapan para Gubernur yang tentu tahu kalau sebenarnya Dotto lah ayah biologis dari Pangeran Udon.
"Rencana kita sudah sejauh ini kapan anda akan memulai kudeta, Perdana Menteri?" Tanya salah seorang Gubernur.
Dotto tersenyum miring, "Tenangkan dirimu Fudo! Ini masih terlalu dini. Akan ada saat di mana Sawamura akan jatuh. Tunggu saja waktunya!" Balasnya santai. Menikmati menimang Putra ketiganya itu.
"Tapi, Perdana Menteri! Kau tidak lupa dengan ramalan itu bukan!?" Kazan memperingatkan.
"Apa yang kau takutkan, Tuan Kazan? Gadis itu hanyalah seorang gadis kecil. Satu tusukan pisau dan dia akan mati." Sahut Putri Masako remeh.
"Tidak jika dia bertambah kuat." Kazan kembali mengingatkan. Matanya melirik pada Tatewaki yang duduk tenang meminum ocha.
Tatewaki yang merasa dilirik menegakkan badan. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia berada di posisi yang riskan untuk mengambil banyak risiko!" Jelasnya tenang.
"Sebenarnya siapa gadis itu, Jenderal Tatewaki?" Tanya Putri Masako gemas. Ia sungguh ingin membunuh wanita yang akan menjadi penyebab kehancuran dari klannya kelak.
Tatewaki menurunkan cawannya dan mengedarkan pandangan ke seluruh pasang mata yang juga menatapnya, menanti jawaban. "Ennoshita-"
.
.
.
"-Aika!" Panggil sebuah suara yang dengan seketika menghentikan langkah Putri Aika yang hendak memasuki kamarnya. Ia berbalik dan menemukan Kapten Mitsuki berdiri beberapa langkah dibelakangnya.
"Kageyama?" Aika balas menyapa, ia mengangguk saat Kapten Mitsuki membungkuk padanya. "Apa sudah dimulai?" Tanya Aika tepat sasaran.
"Kalau begitu-"
.
.
.
"-apa yang membuat anda begitu gelisah, Putri?"
Putri Masako berhenti melangkah -karena sejak kembali dari Istana Shimura ia terus berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia menatap Yutaka seolah kematian akan datang padanya esok hari.
"Apa yang harus kulakukan, Yutaka? Musuh keluarga kami... Di-dia begitu dekat dengan kami dan kami baru mengetahui.. hah~ aku sangat pusing sekarang!" Ucap Putri Masako tak menutupi nada gusarnya.
"Tenanglah, Putri!" Ucap Yutaka saat Putri Masako kembali bolak-balik seperti setrika kurang panas.
Melihat Putri Masako yang begitu gelisah, Fuen memutar otak untuk membantu tuannya dan menemukan sebuah ide. "Putri, bagaimana jika kita memberinya Racun Hitam yang dibuat oleh seorang Miko (*Pendeta wanita) pilihan di sebuah kuil suci?" Tanyanya menatap serius pada Putri Masako.
Putri Masako berhenti dan menatap kepala pelayan pribadinya dengan alis berkerut. "Racun hitam?" Ulangnya tak mengerti.
"Ya, racun yang ditandai dengan simbol kutukan dan memberikan efek kematian dalan jangka waktu singkat. Saya dengar ada seorang Miko yang bisa membuat racun hitam tersebut." Jelas Fuen panjang lebar.
Putri Masako nampak menimang, "Membunuh dengan membubuhi racun? Tapi, gadis Kaguya itu kebal terhadap racun. Bagaimana bisa kita meracuninya?" Tanyanya memastikan, Fuen terdiam sejenak kemudian mengingat sesuatu.
"Jangan khawatir, Putri! Ramuan hitam itu tidak berbau dan berasa. Hamba sangat yakin Putri Aika tak akan menyadarinya." Fuen menjelaskan.
"Bawa aku pada Miko itu!" Perintah Putri Masako tanpa pikir panjang dan tak mau tahu apa akibat yang akan diterimanya nanti.