
Ukai mencari Aika sampai di area bekas peperangan mereka sebelumnya, yang penuh dengan lumpur dan becek. Ukai membalik setiap mayat bak orang gila demi memastikan bahwa tidak ada Aika diantara ribuan mayat itu, sambil terus merancau bahwa Aika tidak bisa mati secepat itu.
Tanpa Ukai sadari ternyata ada salah seorang musuh yang masih hidup -tertutup penyamaran karena tubuhnya terbalut lumpur dan hendak menyerangnya.
"Aika! Aika! Aika!" Panggil Ukai kalap sambil terus membalik mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam lumpur.
"Kau tidak boleh mati, bodoh!" Kata Ukai frustasi dengan suara mencicit diakhir kalimatnya. Masih tetap berusaha mencari.
Hyaaaaa!
Ukai yang tidak siaga mendapatkan serangan dari seorang musuh yang ternyata membawa tombak hanya dapat menghindar kepayahan. Namun, karena refleknya yang bagus ujung tombak hanya mengenai lengan atasnya.
"Sshhh...!" Desis Ukai saat ujung tombak berhasil mengoyak lengannya.
Dan pertarungan pun tak dapat terhindari. Ukai nampak tersudut karena luka pada lengannya dan hampir terbunuh berkali-kali. Namun, Ukai terus berhasil bangkit dan terus melawan. Dan pada akhirnya Ukai pun tersudut dan hampir terhujam tombak.
Ukai memejamkan mata erat. Siap menerima kematian saat seseorang memungut busur dari lumpur dan menembakkan panahnya kearah Ukai dan sukses menancap tepat pada jantung si musuh. Ukai yang merasakan suara bedebum jatuh melihat musuhnya sudah tergeletak tak bernyawa di bawah kakinya.
Ukai lantas mendongakkan kepalanya melihat siapa pelaku yang telah menolongnya, dan menemukan Aika yang berlutut dengan busur panah ditangannya. Ukai langsung berlari saat melihat tubuh Aika limbung dan dengan sigap menangkap tubuh yang lebih kecil darinya itu.
"Bodoh! Lihat betapa menyedihkannya dirimu!" Omel Ukai saat Aika hampir kehilangan kesadarannya.
Aika tersenyum kecil, "A..ku ba..baik sa..ja!" Cicit Aika terbata, nyaris serupa bisikan jika Ukai tidak memasang pendengaran dengan baik.
Ukai langsung mengambil inisiatif menggendong Aika dipunggung-nya. Sejenak Ukai membelalakkan matanya saat menyadari sesuatu pada tubuh Aika. Namun, sejalan kemudian ia hanya tersenyum kecil sambil membawa Aika kembali ke benteng.
Kou dan Kiyoshi sangat senang saat melihat Ukai kembali dengan Aika dipunggung-nya. Itu berarti kroni Serigala Putih lengkap tanpa ada yang terbunuh meski banyak yang terluka.
"Kapten!" Seru Kou girang, membantu Ukai menurunkan Aika dari punggungnya.
"Biarkan dia istirahat, Kou!" Perintah Ukai saat Kou akan membawa Aika ke tabib untuk diobati luka-lukanya. Kou mengangguk mengerti.
"Aku akan membawanya ke tabib dulu baru membantunya beristirahat." Usul Kou yang langsung diberi anggukkan oleh Ukai sebagai persetujuan.
Kerajaan Sawamura
Shouta yang diberi perintah oleh Norio untuk menyampaikan berita kemenangan mereka telah sampai di Kerajaan Sawamura pagi itu. Dan sekarang Shouta tengah menghadap di depan Keluarga Kerajaan, Dewan Negara, Gubernur, maupun perwakilan dari Ishikawa dan Nakashima.
"Lapor Kaisar! Saya membawa pesan bahwa Desa Bulan dan Chuubu berhasil kita taklukkan kembali." Lapor Shouta dengan ketegasan dalam setiap ucapannya.
"Bagaimana kabar pasukan yang dipimpin oleh Menteri Nara?" Tanya Noya datar, meski tersirat nada keingintahuan yang besar pada ucapannya.
"Saya tidak tahu Pangeran Mahkota." Jawab Shouta acuh.
Noya hanya mendengus kasar mendengar jawaban Shouta yang dengan jelas menunjukkan ketidaktertarikannya.
"Apa Jendral Kageyama tidak memberikan bantuan pada pasukan Menteri Nara?" Tanya Noya lagi, mengabaikan wajah Shouta yang jelas enggan memberikan konfirmasi.
"Kami sudah mengirimkan bantuan." Jelas Shouta singkat. Sukses membuat Noya mengetatkan rahang, karena menahan kekesalannya.
"Bukankah itu terlalu berlebihan? Menteri Nara sudah membawa banyak pasukan, ditambah dengan bantuan dari tentara Ishikawa. Apa itu tidak cukup?!" Sindir Dotto menyerukan ketidaksetujuannya dengan keputusan yang diambil Norio dengan mengirimkan bantuan.
Sejujurnya Dotto ingin menyingkirkan Menteri Nara dalam perang kali ini, dan menggantinya dengan Menteri dari kroninya -agar ia lebih leluasa mengendalikan pemerintahan. Namun, rencananya akan gagal jika Seyu kembali dalam keadaan selamat karena bantuan pasukan dari Norio.
"Saya setuju dengan Perdana Menteri!" Seru Ryuichi ikut menyahut. "Jika Jendral Kageyama mengirim pasukan ke Chuubu, maka akan menambah konflik baru dan juga Desa Bulan bisa dalam keadaan genting kembali tanpa pasukan yang cukup untuk menjaga daerah itu." Lanjut Ryuichi memberikan alasannya.
Kaisar Hideki mengangguk tanda setuju dengan alasan yang diberikan oleh Jendral Besarnya itu. Membuat Noya duduk tidak nyaman di kursinya karena jika tidak ada bantuan, itu berarti ada kemungkinan Aika akan bertarung hingga titik darah penghabisan.
Daichi yang melihat kegelisahan adiknya mencoba memberi dukungan lewat tepukkan pada bahu Noya. "Tenanglah!" Ucap Daichi menenangkan. Noya melirik sejenak Daichi kemudian mengatur nafas untuk mengurangi kegelisahannya.
Daichi tersenyum samar saat melihat Noya sudah sedikit tenang. Ia kemudian kembali menatap ke depan dan tanpa sengaja bertatapan dengan Dotto yang menyeringai setan kearahnya.
To be Continue...