
Aika yang terlalu bersemangat berkuda tanpa sadar telah jauh membawa kudanya semakin memasuki hutan yang sudah dipasangi jebakan oleh Kapten Kin dkk semalam. Disana juga ada Kapten Kin dan para kroninya yang sudah menunggu di balik batu besar -mengamati pergerakan Aika.
Mereka terkejut kala melihat Aika melenggang begitu saja tanpa jatuh ke dalam perangkap. Ternyata itu adalah ulah Kapten Ukai, Kou dan Kiyoshi yang semalam mengikuti mereka dan berpikir jebakan itu di buat untuk berbuat curang dengan mendapat buruan yang besar.
"Kenapa tidak berfungsi?" Tanya Kapten Kin pada Fuu yang bungkam disampingnya.
"Entahlah, Tuan. Haruskah saya periksa?" Tanya Fuu, setelahnya ia berjalan menuju jebakan yang ternyata sudah di sabotase.
Di balik batu, Kapten Kin menghembuskan nafas lega. Siapapun orang yang merusak jebakan itu ia sungguh berterima kasih. Kapten Kin bahkan berharap bahwa ada seseorang yang merusak semua jebakan-jebakan itu.
.
.
.
.
.
Di lain tempat, Pangeran Kenma yang berburu bersama Ksatria Serigala Putih menemukan tetesan darah hewan. Niat awal ingin mencari jejak asal darah itu, justru menuntun mereka pada ksatria dari pasukan lain yang tengah menunggui sesuatu.
"Mereka memasang banyak perangkap hampir di seluruh hutan semalam." Kata Kou berceloteh ria.
Pangeran Kenma menoleh tidak mengerti, "Apa maksudmu?" Tanyanya.
"Mereka ingin berbuat curang dengan memasang jebakan-jebakan itu." Jelas Kou semakin tidak jelas.
"Tapi, anda tidak perlu khawatir, Pangeran! Kami sudah merusak banyak sekali jebakan mereka!" Tambah Kiyoshi menenangkan, salah mengerti arti diamnya Pangeran Kenma.
Pangeran Kenma yang cerdas justru menangkap maksud lain dari dibuatnya jebakan-jebakan itu, karena jika memang untuk menangkap buruan kenapa harus diletakkan di tempat yang sering dilalui oleh manusia dan juga untuk apa banyak sekali ksatria yang menungguinya.
Pangeran Kenma teringat perkataan Putri Masako sebelumnya.
Kau tak perlu khawatir. Kau akan segera menikmati perburuan kali ini, dan kupastikan kau akan lebih senang nanti.
Pangeran Kenma langsung menduga bahwa perburuan yang dimaksud adalah rencana melenyapkan seseorang. "Pergilah! Cari bantuan dan minta mereka ke belakang air terjun!" Perintah Pangeran Kenma pada kroni Serigala Putih.
Seluruh pasukan itu mengangguk, kemudian berbalik arah mencari bantuan dan melaksanakan perintah dengan ribuan pertanyaan yang bergelayut di otak mereka.
.
.
.
.
.
"Turunkan jaringnya!" Perintahnya, tak lama tali penghubung jaring telah terpotong, namun lagi-lagi jebakan itu telah rusak.
"Apa yang terjadi?" Tanya Putri Masako dengan gigi bergemrutuk menahan kesal.
"Sepertinya ada yang merusak jebakan kita, Putri!" Lapor Jendral Shin -Kakak sepupu sekaligus pengawal pribadinya.
"Brengs*k!" Umpat Putri Masako murka.
"Yutaka, cari Kapten Kin dan minta dia segera menyusulku!" Suruhnya kemudian.
Setelahnya Putri Masako kembali memusatkan perhatian pada punggung Aika yang semakin jauh dari jangkauan matanya. Mau kemana dia? Batinnya bertanya-tanya.
Tak mau kehilangan kesempatan ketika Aika sedang sendiri, Putri Masako segera mengambil sembarang kuda dan menungganginya mengikuti jejak Aika.
.
.
.
.
.
Di perkemahan, Dayang Yui yang baru selesai membersihkan tenda milik Aika dibuat bingung dengan tingkah aneh para Ksatria yang berbondong-bondong meninggalkan perkemahan dengan terburu-buru.
"Ada apa dengan mereka, Dayang Kurama?" Tanya seorang pelayan.
"Entahlah." Jawab Yui singkat.
"Bukankah tadi Kapten Ukai sudah membawa banyak pasukan?!" Tanya pelayan itu lagi.
"Perlukah kita melapor pada Pangeran Mahkota? Mereka terlalu mencurigakan!" Sambung pelayan kedua.
Dayang Yui diam membisu, otaknya ia peras sedemikian keras untuk membuat sebuah keputusan.
"Ayame, ikut denganku!" Perintah Dayang Yui pada Ayame -salah satu pelayan pribadi Aika yang berada di bawah perintahnya.
"Kalian tetap disini dan lakukan tugas kalian!" Perintah terakhir Dayang Yui sebelum ia dan Ayame pergi dari perkemahan.