
Istana Shimura, Timur Laut Kerajaan Sawamura
Sreek
Gesekan halus halaman buku yang di balik terdengar di sebuah kamar dengan pendar cahaya temaram. Seorang pria paruh baya duduk bersila di atas tatami. Mata hitamnya sibuk meneliti dokumen di atas mejanya.
Tok. Tok. Tok.
"Tuan, mereka telah berkumpul. Siap menerima perintah anda." Lapor si pengetuk. Membuat gerakan meneliti dokumen pria tua itu berhenti sejenak.
"Tunggu di aula!" perintahnya. "Baik" jawab si pengetuk pintu kemudian berlalu menuju aula.
Merapikan kimononya pria tua itu segera beranjak menuju tempat pertemuan para pengikutnya.
.
.
.
Srek!
Pintu shoji di geser pelan. Menandakan seseorang tengah memasuki ruangan. Semua mata tertuju ke arah pintu masuk, setelahnya mereka berdiri dan membungkuk hormat.
"Duduk!" perintah pria tua itu setelah menyamankan posisi duduknya di atas tatami.
"Aku tidak akan berbasa-basi. Cepat tempatkan seluruh anak buahku di setiap penjuru istana. Tak boleh ada satu celah pun terlewat!" perintahnya yang segera di balas anggukan oleh tujuh orang lainnya yang berada di dalam ruangan itu.
"Tapi Tuan, ada sedikit masalah. Ada berita palsu tentang Desa Arang. Jika Yang Mulia Raja tahu dan menyelidikinya, kita akan di curigai." lapor seorang bawahan berambut wortel dengan warna mata tawny.
"Bukankah sudah tugasmu menyelesaikan masalah itu, Fuu." perintahnya santai sambil menyeduh minumannya.
Fuu hanya diam, memikirkan cara agar ia bisa menyelesaikan masalah yang dipercayakan padanya.
"Jangan banyak berpikir, selesaikan dengan cara termudah. Hancurkan dan lenyapkan." usul pria tua itu santai. Tangannya sibuk memutar cawan minuman. Sedang bibirnya menyeringai licik. Fuu mengangguk tanda mengerti.
"Ada informasi apa lagi?"
"Tidak ada Tuan, semuanya masih dalam kendali." ucap salah seorang pria botak mewakili ke tujuh rekan lainnya.
"Bagus! Ayo berpesta!" serunya senang memulai acara pesta malam itu.
oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO
"Baik, cukup! Besok kita lanjutkan lagi latihannya." seru Aika riang menatap murid-muridnya.
"Kakak, bukankah besok kau pergi berlatih?" tanya gadis cantik bersurai apple, Mina.
"Ah, aku hampir lupa! Tidak masalah, kita bisa kembali berlatih tiga hari lagi."
"Kalau begitu sampai jumpa tiga hari lagi, Kak Aika!" seru gadis lainnya (Sora), sambil melambaikan tangan dan berlari pulang.
Semua anak-anak itu melambai pada Aika sambil berjalan pergi. Tanpa mereka sadari sepasang mata onxy memperhatikan kegiatan mereka sejak tadi.
"Keluarlah!"
Noya melangkahkan kedua kakinya keluar dari tempat persembunyian.
"Aku baru tahu. Ternyata seorang Pangeran Sawamura memiliki kebiasaan menguntit."
"Kau mengajari mereka bertarung?" tanya Noya, mengabaikan sindiran dari Aika.
Aika berbalik, menatap sang pangeran bungsu Sawamura. "Ya, mereka harus belajar cara melindungi diri." kata Aika tenang.
"Kau mau pergi?" tanya Noya lagi setelah mereka terdiam cukup lama.
"Ya, aku juga punya urusan lain." jelas Aika singkat. "Pangeran? Boleh aku membuat satu permintaan?" tambah Aika lagi, matanya menatap Noya dengan serius -penuh permohonan.
Noya mengangguk, meminta Aika melanjutkan ucapannya.
"Tolong jaga desaku selama aku pergi! Berjanjilah agar tidak ada masalah selama kalian ada di sini. Aku percayakan desaku padamu, Pangeran." Lanjutnya. Aika melangkah pergi setelah melihat anggukan persetujuan dari Noya.
"Aku berjanji, Aika!" janji Noya setengah berbisik. Dari kejauhan Daichi yang melihat tingkah tidak biasa Noya hanya tersenyum tipis. 'Aku harus melakukan sesuatu' ucapnya dalam hati.
oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO
Satu minggu telah berlalu, Pangeran dan pasukannya memutuskan kembali ke Kerajaan Sawamura. Semua persiapan telah siap. Bahkan Shizuka berbaik hati meminta para rombongan membawa setengah dari persedian desa. Awalnya Pangeran Daichi menolak, namun setelah Aika yang membujuk. Mereka akhirnya setuju membawa perbekalan itu -meskipun keputusan itu Noya lah yang menyetujuinya.
"Semoga anda selamat sampai tujuan, Pangeran." ucap Shizuka sembari menunduk hormat di ikuti seluruh warga desa -termasuk Aika.
Daichi mengangguk sebagai jawaban. Kemudian para rombongan segera memacu kuda mereka keluar dari desa. Namun sebelum pergi Noya bergumam pelan, "Semoga kita bertemu lagi, Aika!"
Aika yang mendengar gumaman Noya tertegun. Ia menatap punggung tegap yang mulai menjauh itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Setelah tersadar Aika tersenyum tipis dan bergumam, "Ya, sampai bertemu lagi."
oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO
"Kenapa kau tak mengajaknya, Noya?!" tanya Daichi dengan sebelah alis terangkat, mencoba menggoda adiknya.
Dengusan kasar Noya berikan sebagai jawaban. Daichi tersenyum geli melihat tingah malu-malu sang adik.
"Jangan sampai kau menyesal, Noya! Cepat jadikan dia 'istrimu' dan beri aku banyak keponakan manis." celoteh Daichi mulai melantur, mengabaikan tatapan tajam dan aura gelap sang adik.
"Hn." gumam Noya cuek dan memacu kudanya sedikit lebih cepat mendahului kakaknya yang tiba-tiba menjadi 'wanita cerewet' itu.
Daichi tergelak melihat tingkah 'unik' Noya yang jarang (sangat jarang) dilihatnya. Membuat ia semakin bersemangat menggoda sang adik.
.
.
.
"Buka gerbangnya!" seru Jendral Keito yang bertugas menjaga gerbang utama Kerajaan Sawamura.
Tanpa diperintah dua kali prajurit segera menarik tuas untuk memutar roda gigi yang digunakan untuk membuka gerbang. Gerbang berukuran 4 x 5 m itu terbuka perlahan. Tanpa menunggu gerbang terbuka sepenuhnya seluruh pasukan segera melewati gerbang tersebut.
Setelah memastikan seluruh pasukan memasuki kawasan istana, Jendral Keito kembali memberi perintah untuk segera menutup gerbang utama.
Di sepanjang jalan para penduduk yang melihat kedatangan Pangeran Sawamura segera menundukkan kepala hormat. Meninggalkan sejenak seluruh aktifitas yang mereka lakukan.
Gerbang Istana Sawamura telah di depan mata, seluruh pasukan mengambil jalur yang berbeda dari Kedua Pangeran Sawamura. Para pasukan beserta Jendral-nya langsung menuju istana khusus prajurit. Sedang kedua pangeran Sawamura menuju Istana Utama.
Kedua pangeran segera turun dari kudanya setelah sampai di halaman istana. Seorang pengurus kuda segera membawa kedua kuda itu menuju kandang di bagian belakang istana.
Melangkahkan kaki menyusuri lorong istana menuju area istana utama, kedua pangeran segera disambut oleh senyum hangat nan teduh milik Permaisuri Sawamura yang menyembul dari balik pintu penghubung istana utama.
Permaisuri cantik dengan kimono berlapis duabelas itu merentangkan kedua tangannya lebar. Menyambut kedua 'separuh jiwanya' itu ke dalam pelukan hangat.
Namun seperti yang telah diperkirakannya hanya satu dari kedua putranya yang akan menghambur dalam pelukannya. Sedang yang satunya hanya mendengus dan mengganggukan kepala.
"Kau tidak merindukan Ibu, Putraku!" rajuk Chikara dengan wajah sendu yang dibuat-buat setelah melepas pelukan Daichi.
Noya mendengus, tidak berniat meladeni sandiwara ibunya dan melangkah pergi menuju Istana Barat (kediamannya) untuk beristirahat.
"Huh! Anak itu tidak ada manis-manisnya sama sekali sekarang." gerutu Chikara pelan, suaranya bahkan menyerupai bisikan seekor semut.
Daichi yang mendengar gerutuan sang ibu hanya tersenyum geli, akan jadi gosip panas jika ada orang yang mendengar ucapan 'kekanakan dan manja' dari seorang Permaisuri.
Menghentikan gerutuannya, Chikara menatap putra sulungnya dengan wajah usil. "Bagaimana perjalanan kalian? Aku ingin mendengar seluruh ceritanya. Ayo, kita minum teh bersama!" ucap Chikara tanpa menyembunyikan rasa antusiasnya.
Daichi tersenyum miris, sudah hafal betul dengan maksud 'minum teh' ibunya. Itu merupakan ajang interogasi atau wajib lapor yang tidak bisa Daichi hindari. Karena jika ia menolak maka akan ada ancaman 'selamat tinggal pada rambut panjang kebanggaanmu.'
Tak ada pilihan lain, pikirnya. Keduanya berjalan beriringan masuk ke area minum teh dan memulai sesi 'bercengkraman' mereka.
oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO
"Apa?!"
"Aku sudah mengemasi barang-barangmu, bungkusan yang ini perbekalan. Kudanya juga sudah siap!" celoteh Shizuka tanpa menatap Aika yang melongo bodoh di depannya. Tangannya sibuk meneliti barang yang akan dibawa Aika.
"Untuk apa semua ini?" protes Aika mengeluarkan satu persatu barang yang telah di siapkan Shizuka.
"Bodoh, masukkan kembali!" seru Shizuka melotot galak. Geram karena Aika kembali mengeluarkan barang-barang yang susah payah disiapkannya.
Aika tidak menurut, namun tangannya berhenti mengeluarkan barangnya.
"Sudah kubilang kau harus pergi ke Desa Api!" perintah Shizuka gemas. Ia telah memberi tahu Aika puluhan kali tapi Aika tak juga mengerti.
"Aku tahu! Tapi untuk apa?" sahut Aika jengkel, merasa jengah karena Shizuka terus berbelit-belit memberi jawaban.
"Kau akan tahu setelah ke sana." dan jawaban inilah yang selalu diterimanya.
"Ini alamatnya." ucapnya menyodorkan sebuah alamat setelah selesai mengepak barang Aika (yang tadi di keluarkan lagi oleh si empunya).
"Tidak perlu buru-buru. Bersenang-senanglah beberapa hari di sana. Ini uang jajan untukmu!" tambah Shizuka sambil menyodorkan beberapa keping uang.
Aika menerima uang itu dengan gontai. Terlalu malas berdebat dengan wanita batu di depannya. Ia kemudian berbalik dan segera menunggangi kudanya.
"Jaga dirimu baik-baik! Pastikan desa ini utuh saat aku kembali!" pesan Aika.
Ia melirik lewat ekor matanya, menanti respon dari kepala desanya itu. Setelah mendapat anggukan dan senyum manis Shizuka ia segera memacu kudanya menuju Desa Api.
.
.
.
25 Hari Kemudian...
Gerbang Perbatasan Desa Api
"Hah~" sebuah helaan nafas terdengar. Aika baru saja tiba namun langkahnya harus terhenti kala barisan pasukan menghadang jalannya.
"Berhenti! Siapa kau dan apa keperluanmu?!"
Membatu. Ini dia yang Aika tidak tahu sejak awal. Pertanyaan itulah yang menari-nari dipikirkannya selama beberapa hari yang lalu. Ada keperluan apa ia di Desa Api.
"Ugh.. Ano.. Eto.. Emm.." gagap Aika, entah kenapa di tatap intens oleh si penjaga gerbang membuat otak cerdasnya mendadak bodoh, kosong, dan tidak berguna.
Ting!
Sebuah bohlam lampu menyala. "Aku pesuruh dari Desa Arang. Aku datang untuk mendatangi alamat ini." setidaknya ia tidak bohong. Tangannya menyerahkan gulungan kertas yang di berikan Shizuka tempo hari.
Si penjaga gerbang meneliti isi gulungan itu, lalu mengangguk pada rekannya dan berkata, "Kau boleh masuk. Tapi-"
Jeda ucapan si penjaga gerbang menghentikan langkah Aika beserta kuda yang senantiasa di sampingnya.
"-Bawa semua barangmu untuk diperiksa sebelum kau melewati gerbang ini." lanjut si penjaga. Aika mengangguk dan berjalan ke arah pos pemeriksaan.
.
.
.
Butuh waktu selama dua hari bagi Aika untuk menempuh jarak dari gerbang perbatasan menuju gerbang utama Desa Api. Meski bukan pertama kalinya menempuh perjalanan jauh. Entah kenapa kali ini rasanya sungguh melelahkan.
Setelah berhasil melewati gerbang utama dengan alasan dan prosedur yang sama dengan gerbang perbatasan, Aika memutuskan mencari penginapan lebih dahulu.
Mengingat matahari telah sedikit condong ke barat, membuat Aika mengambil keputusan untuk mendatangi alamat itu esok hari. Sekarang ia ingin segera mengistirahatkan tubuh lelahnya.
.
.
Esok hari datang dengan cepat. Pagi yang sedikit basah menyapa pandangan Aika. Melangkah menyusuri pasar mencari sebuah alamat adalah tugasnya pagi itu.
Tak sampai satu jam Aika telah sampai di depan alamat yang di tujunya. Sebuah plang bertuliskan "Camellia Sailor" terpasang apik di depan rumah bergaya tradisional itu. Membuat Aika yakin bahwa ini alamat yang tepat.
Dengan langkah mantap Aika memasuki rumah yang diyakininya merangkap sebagai butik itu.
"Permisi!"
"Ya, ada yang bisa saya bantu?" seorang pelayan menghampiri Aika dengan senyum ramahnya.
"Aku utusan dari Desa Arang." jawab Aika setengah tidak yakin.
Si pelayan mengerutkan keningnya. Namun sedetik kemudian ia tersenyum.
"Ah! Kau orangnya! Kemarilah!" seru si pelayan, kemudian menuntun Aika semakin masuk ke dalam butiknya.
"Aku sudah menunggumu cukup lama. Aku pikir kau tersesat. Oh ya, siapa namamu?" celoteh pelayan itu tanpa memandang Aika.
"Aika... hanya Aika!"
"Oh.." si pelayan berhenti, kemudian berbalik dan menghadap Aika. "Aku Shiho. Pemilik butik ini." ucap wanita itu memperkenalkan diri.
"Tegakkan badanmu, kau terlalu formal." ucap Shiho salah paham dengan maksud Aika. "Hei, aku pikir Shizuka akan mengirim seorang gadis." celetuk Shiho sambil memperhatikan tubuh Aika.
"Aku..."
"Ah, tidak masalah. Pria atau wanita sama saja. Benarkan?" potong Shiho, tidak membiarkan Aika menyelesaikan ucapannya. Kemudian ia berbalik dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
"Ya, tapi..."
"Padahal tadi aku ingin mempekerjakanmu jika kau seorang wanita, bla.. bla.. bla.." celoteh Shiho panjang lebar memotong ucapan Aika (lagi).
"Itu.. aku.."
"Habis wajahmu terlalu manis untuk seorang pria. Aku jadi salah menduga." goda Shiho sambil mengerling lewat kacamata bulatnya.
"Ano, sebenar..."
"Nah, kita sudah sampai!" seru Shiho memotong ucapan Aika lagi.
Aika menghela nafas pasrah karena sejak tadi ucapannya terus dipotong. Aika memutuskan untuk tetap diam jika tidak ditanya. Percuma, toh dia tidak didengarkan.
"Ini ambillah." Shiho menyodorkan sebuah karung pada Aika.
"Apa ini?" tanya Aika sambil membuka karung dari Shiho. "Pakaian?" celetuknya setelah melihat isi karung tersebut.
"Ya, untuk anak-anak, remaja, para ibu dan wanita tua di desa mu." jelas Shiho santai sambil bersandar di dinding.
"Maaf, bukan dari bahan utuh. Aku menjahitnya dari kain perca pelangganku. Tapi, semua berbahan dasar sutra." tambahnya dengan ekspresi sedikit sendu.
Aika tertegun, namun ia tersenyum setelahnya. "Bukan masalah. Bantuanmu sangat berharga untuk kami. Terimakasih banyak." ucapnya ditambah cengiran lima jari.
Cengiran yang segera menular pada Shiho yang sempat muram.
"Hei, mau menolongku?" tawar Shiho tiba-tiba. Memotong keheningan panjang keduanya. Aika menaikkan sebelah alis sebagai respon.
"Bisakah kau mengantar pesanan ini?" Shiho menunjuk beberapa peti besar dengan banyak kimono sutra di dalamnya.
"Istana Sawamura akan mengadakan pesta, dan mereka memesan puluhan kimono untuk pelayan dan kasim istana. Ada juga kimono sutra untuk keluarga inti Sawamura. Pesuruhku seharusnya sudah datang sejak tadi, tapi sepertinya dia tidak datang. Jadi apa kau mau mengantarkan ini?" pinta Shiho setelah berceloteh panjang.
"Jangan khawatir, ada kereta kuda dan anak buahku yang akan mengantarmu. Tugasmu hanya sebagai pengantar dan menyerahkan peti-peti ini pada pihak istana. Kau bisa meminta anak buahku yang mengangkatnya. Bagaimana?" ucap Shiho lagi karena tak kunjung mendapat jawaban dari Aika. Wajahnya sudah seperti anjing yang minta dipungut.
Menghela nafas pelan Aika tak punya pilihan lain. Ia pun mengangguk mengiyakan permintaan Shiho.
"Yosh! Kau memang baik Aika." girang Shiho sembari melompat-lompat kecil. Seolah-olah rasa sedihnya tadi hanya sandiwara opera sabun. Aika jadi menyesal telah bersimpati.
oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO
Desa Arang (10 hari setelah kepergian Aika)
Beberapa pembunuh bayaran mengepung desa para wanita dimana seluruhnya sedang sibuk berkelana dialam mimpi. "Bagaimana?" Tanyanya pada beberapa anak buahnya.
"Persiapan telah selesai, Tuan." Jawab salah seorang pembunuh mewakili rekan-rekannya.
"Tunggu apa lagi, hancurkan dan lenyapkan!" Perintah sang pemimpin dengan wajah bringas dan macam orang gila.
"Baik~!" Jawab pengikutnya serempak.
Dan kehancuran desa Arang pun tak dapat dihindari.
.
.
.
"Kyaaa~"
Terdengar jeritan penuh keterkejutan sekaligus rasa takut dari para penghuni gubuk yang tiba-tiba dihadiahi pedang dan juga tali tambang ketika mereka terbangun.
"Ampuuunn, Tuaaannn!"
Segala bentuk kekerasan sekaligus penyiksaan tak henti-hentinya dilakukan, bahkan tak sedikit yang mendapatkan pelecehan meski wanita tua sekali pun.
"Jangan ambil Puterikuuuu!!!"
Para Ibu menjerit kala putri-putri mereka yang masih berusia belia diseret dan dijadikan bahan tontonan erotis, dan setelahnya mereka diseret untuk dijadikan budak nafsu dilain waktu.
"Ibuuu~ ibuuu~"
Anak-anak pun juga tak dapat memberontak dari kungkungan tangan-tangan jahat yang menggerayangi tubuh mereka. Hanya menangis dan berteriaklah yang dapat mereka lakukan.
"Sakitttt~"
"Tolonggggg~!"
.
.
Shizuka yang menyaksikan kejadian naas penduduk desanya hanya dapat menangis dan menggigit bibirnya hingga berdarah. Ia juga dalam situasi yang sulit, tubuhnya digantung setelah pakaiannya disobek. Namun beruntung ia tak mendapat pelecehan.
Namun rasa syukurnya tak dapat berlangsung lama saat pemimpin dari pemberontak itu menyeret dan menjadikannya bahan pemuas nafsu.
"Ai...ka, ce..pat kem..bali!! Ugh~"
oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO
Istana Sawamura
"Kita sudah sampai, Tuan!"
"Panggil Aika saja!"
"Umm, baik."
Aika turun dari keretanya setelah sampai di halaman istana Sawamura. Kusir beserta anak buahnya segera menurunkan peti-peti itu untuk dibawa masuk kedalam istana para pelayan dan beberapa di bawa ke istana utama.
"Muu (si kusir), aku memerintahkanmu membawa peti-peti para pelayan dan kasim. Tunjukkan tanda bukti ini dan segera minta pelunasan pembayaran. Aku akan ke istana utama untuk memberikan tujuh peti lainnya untuk keluarga kerajaan." jelas Aika pada anggota rombongannya.
"Kalian pergi bersama Muu!" tunjuk Aika pada 10 anak buah Shiho. "Sisanya ikut bersamaku." tambahnya.
Orang-orang yang di tunjuk Aika mengangguk dan bergegas melakukan tugas masing-masing. Sedang Aika bersama tujuh anak buahnya masuk ke dalam istana utama.
.
.
.
"Anda Kazumi Yuhi?"
"Ya, kau pengantar pakaian?"
"Ya."
"Ikut denganku!"
Kazumi dan Aika berjalan beriringan (dengan tujuh pembawa peti di belakangnya) menyusuri roka istana. Melewati lorong-lorong yang berbelok-belok. Hingga tiba di sebuah bangunan kastil terdalam istana utama. Posisinya berada di tengah-tengah, di samping kanan kastil terdapat taman bunga, samping kirinya ada kolam ikan jernih dengan jembatan penghubung di tengah-tengahnya. Bagian belakang ada lorong penghubung istana lain sedang bagian depan tentu saja aula istana utama.
Aika tak henti-hentinya terperangah dengan keindahan, kemegahan, dan segala bentuk pujian lain yang tak dapat diungkapkannya. Mata Sapphire-nya tak sedikitpun kehilangan celah untuk mengamati seluruh isi istana agung itu.
"Anda sudah selesai." suara ketus Kazumi menginterupsi kegiatan Aika mengagumi istana Sawamura.
"Umm.. Maaf." ucap Aika kikuk dengan senyum kaku.
"Masuklah." ucap Kazumi datar.
Aika dan ketujuh anak buahnya masuk ke dalam ruangan yang tak kalah indah dengan bagian luarnya. Lagi-lagi ia terperangah bak orang bodoh dan melongo tidak etisnya.
"Ekhm!" sebuah deheman menginterupsi kegiatan delapan manusia bodoh yang melongo itu.
"Eh!"
"Taruh petinya dan kalian bertujuh bisa keluar." perintah Kazumi tanpa melihat lawan bicaranya.
Tanpa di suruh dua kali ketujuh pria itu segera menurunkan peti-peti mereka dan bergegas keluar. Setelah memastikan ketujuh pria itu keluar Kazumi berbisik pada Aika, "Tundukkan kepalamu! Jangan menunjukkan wajahmu tanpa di suruh. Mengerti!"
Aika mengangguk sebagai jawaban. Kazumi maju selangkah dan mengetuk sebuah Fusuma. Tak lama kemudian Fusuma itu di geser oleh seorang pelayan yang ada di baliknya.
"Hormat, Yang Mulia."
"Bawa peti-peti itu mendekat!" perintah sebuah suara anggun di hadapan Aika. Mengabaikan salam dari Kazumi.
Para pelayan segera menggotong ketujuh peti berisi kimono itu ke hadapan duabelas orang yang duduk di atas kursi di hadapan Aika.
"Bisakah kau membukakan peti ini untuk kami? dan bisakah kau tunjukkan yang mana milik satu persatu di antara kami?" tanya suara tadi di tujukan untuk Aika.
"Yang mulia itu.."
"Tidak apa, Kazumi. Biarkan pemuda ini yang melakukannya. Bukankah itu tugas pengantar pakaian?" tanya suara lembut itu lagi.
"Tapi pengantar pakaian sebelumnya adalah seorang wanita. Ini dilarang Yang Mulia."
"Kau ingin mengaturku, Kazumi!" suara yang tadinya lembut kini berubah dalam dan dingin. Bahkan bulu roma Aika meremang seketika.
Kazumi menunduk dalam sebagai permintaan maafnya.
"Lakukan tugasmu, pemuda!" suara itu kembali melembut ketika bicara dengan Aika.
Mau tak mau Aika mengangguk dan berjalan ke arah peti-peti itu. Ia membukanya satu persatu dan menjelaskan milik siapa saja kimono sutra itu.
Setelah seluruh kimono di coba dan di simpan kembali dalam peti, Aika segera mendapatkan upahnya dan beranjak pergi.
.
.
.
Aika berjalan melewati lorong istana sendirian setelah melakukan tugasnya. Ia memacu kaki-kakinya untuk segera ke luar dari istana megah ini. Namun sejauh apapun kakinya melangkah jalan keluar tak jua ia temukan.
Ya, Aika sedang tersesat sekarang. Niat awal ingin segera pulang ke penginapan kembali pupus mengingat ia tak tahu sedang berada di mana sekarang. Bagaimana tidak, hampir semua lorong bentuknya sama.
Ia belok ke kiri ada banyak lorong, belok ke kanan juga sama saja. Ia merasa sedang bermain labirin. Ucapkan terimakasih pada arsitek yang membangun istana super megah ini dengan banyak lorong yang memusingkan, karena hal itu berhasil membuat kaki Aika hampir putus dari tempatnya.
"Astaga, bagaimana caranya keluar dari sini?!" gerutuan inilah yang menemani kesunyian lorong saat Aika tak jua menemukan jalan keluar.
"Huh~ aku sudah lelah!"
"Hei, apa kalian mau melihat pertarungan itu bersama?" ucapan salah seorang pelayan sukses menghentikan gerutuan dan langkah Aika.
"Ya, tentu saja. Lagipula pertarungan ini hanya terjadi sekali dalam setahun. Tujuannya untuk menguji kemampuan para ksatria kerajaan." sahut pelayan lain yang menanggapi ucapan pelayan sebelumnya.
"Kau benar, bahkan lapangannya sudah di persiapkan jauh-jauh hari." pelayan lain ikut menyahut.
"Benarkah? Wah, ini pasti akan seru."
"Tentu akan sangat seru. Bahkan para rakyat di beri tempat tersendiri untuk menonton."
"Aku dengar rakyat juga boleh berpartisipasi untuk menantang para ksatria. Mereka juga akan mendapat banyak hadiah. Rakyat yang berhasil mencapai perempat final akan di beri satu kantung emas. Juara 3 mendapat dua kantung emas, Juara 2 mendapat satu peti emas kecil, dan Juara 1 akan mendapat satu peti emas ukuran sedang."
"Beruntung sekali jika mereka menang."
"Ya, Aku jadi ti..."
"Ano, maaf." ucapan si pelayan terpotong oleh interupsi dari Aika.
Para pelayan yang sedang bergosip itu menoleh serempak ke arah Aika.
"Un maaf, tadi aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian." kata Aika gugup karena di pandangi intens oleh para pelayan itu.
"Eh! Uhm.. ya tidak apa-apa, Tuan." jawab salah satu pelayan setelah selesai dari acara mengamatinya.
'Tuan?' batin Aika merana. Menggeleng untuk mengembalikan kewarasannya, Aika kembali membuka mulut.
"Boleh aku bertanya?"
"Te..te..tentu saja, Tuan. Apa yang ingin anda tanyakan?" tanya pelayan lain yang juga baru selesai dari acara menatapnya.
"Bisakah kalian menceritakan padaku tentang pertarungan yang kalian bicarakan tadi?"
oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO
To be Continue...