
Perintah dari Kaisar telah diturunkan. Dimana pasukan Kageyama yang dikirim ke Chuubu harus ditarik kembali dan menjaga Desa Bulan sampai keadaan kembali normal.
"Apa maksudmu?" Tanya Menteri Nara pada salah seorang pengantar pesan.
"Saya membawa laporan bahwa tidak akan ada bantuan yang mengarah ke Chuubu." Kata prajurit itu mengulang laporannya.
"Bagaimana bisa?" Tanya Tooru ikut menyerukan protesan-nya.
"Perintah dari Kaisar!" Kata pembawa pesan itu dengan santai lalu membungkuk sebelum berlalu pergi.
"Apa itu berarti kita tidak kembali?" Tanya Ukai pada Menteri Seyu.
"Tapi, tidak ada gunanya juga kita disini. Tempat ini sudah bersih." Kata Daiki tenang. Tanpa tahu kalau pasukan Negara Angin baru saja sampai dan masih mengintai diluar benteng.
"Tidak!" Kata Seyu, "Kita tidak bisa meninggalkan perbatasan begitu saja. Kita perlu meninggalkan beberapa pasukan sebagai penjaga dan memberi jalan untuk melindungi pasukan utama." Lanjut Seyu setelah berhasil memutar otak mencari jalan keluar.
Semua ksatria mengangguk mengerti. Bahkan mereka sudah siap mengorbankan diri untuk tetap tinggal sementara waktu di benteng, agar pasukan utama berhasil kembali dan membawa bantuan.
"Lalu, siapa yang anda tunjuk Menteri?"
"Giok Singa dan Serigala Putih. Apa kalian siap?" Tanya Seyu pada Ukai dan Daiki. Tanpa keraguan keduanya mengangguk.
"Kami akan mengingat kalian dan pengorbanan kalian selamanya." Ucap Seyu memberi tepukkan pada bahu Ukai (kanan) dan Daiki (kiri).
"Aku tidak akan meninggalkan satu orangpun, Jendral! -Maksudnya, jika ada ksatria yang terluka, mereka akan langsung dibunuh karena dianggap menjadi beban rekannya yang lain, jadi tidak akan ada tawanan." Janji Daiki tegas. Seyu mengangguk kemudian melangkah pergi.
Aika yang baru bangun dari acara istirahatnya menatap bingung rekan-rekannya yang kembali memakai baju zirah-nya. "Ada apa?" Tanyanya.
Ukai yang baru menyadari bahwa Aika tidak ikut dalam rapat tadi segera menyahut, "Bersiaplah! Kita akan membukakan jalan untuk pasukan utama." Perintah Ukai dengan tangan yang sibuk memakai baju zirah.
Tanpa banyak bertanya Aika segera melaksanakan perintah Ukai dan kembali memakai zirah-nya. Namun, saat sedang tergesa Aika tak sengaja mendengar Daiki memerintahkan beberapa ksatria-nya untuk meninggalkan (membunuh) para ksatria yang menjadi beban kesatuannya.
"Kau tidak bisa melakukan itu, Pemimpin!" Seru Aika keras tepat dihadapan Daiki.
"Apa hakmu?! Ini adalah peraturan!" Ucap Daiki tak kalah keras. Memandang sinis Aika yang hanya setinggi bibirnya.
"Kau tidak bisa membunuh nyawa para ksatria begitu saja, seolah nyawa mereka tidak berguna!"
"Khe! Lebih baik dibunuh daripada dijadikan tawanan kemudian disiksa lalu membocorkan rahasia negara!" Kata Daiki dengan nada yang semakin naik diujung kalimatnya.
Mengabaikan Aika yang ingin melanjutkan kembali protesan-nya. Daiki segera bergegas mengambil langkah seribu dan meminta kesatuannya mengikuti langkahnya.
Gerbang perbatasan Utara dibuka, pasukan utama Sawamura keluar dengan penuh kewaspadaan. Mereka kemudian melajukan kuda cepat saat dirasa kondisi cukup aman. Tanpa tahu bahwa tentara Negara Angin masih bersembunyi dibalik semak-semak. Menunggu pasukan Sawamura berkurang agar mereka dapat kembali menguasai perbatasan.
Dan benar saja, tak lama setelah pasukan utama cukup jauh dari perbatasan seluruh tentara Negara Angin menyerbu dan peperangan kembali dimulai.
To be Continue...