The Great Princess

The Great Princess
Ramalan?



Camellia Sailor


"Kenapa kau tersenyum seperti itu?" Shiho menatap horor Aika. Pasalnya sejak Aika menginjakkan kaki kembali ke butiknya senyum 'aneh' tak pernah lepas dari bibirnya.


"Shiho, apa kau tahu tentang duel para ksatria di kerajaan Sawamura?" tanya Aika dengan mata berbinar dan senyum selebar bunga mawar yang merekah.


"Duel? Kenapa? Kau mau melihat duel itu?" tanya Shiho sambil meletakkan pantatnya di kursi berseberangan dengan Aika.


Bukannya menjawab Aika hanya nyengir lima jari. Lalu beranjak dari kursinya.


"Shiho, kau harus datang ya! Aku menunggumu di sana." ucap Aika sambil menatap Shiho sejurus, kemudian berjalan dengan wajah berbinar keluar dari butik.


Shiho balas menatap punggung gadis itu dengan raut kebingungan, menghembuskan nafas pasrah Shiho hanya menggeleng dengan sifat ajaib teman barunya itu.


.


.


.


Aika sedang duduk 'manis' di depan peramal 'buta(?)' dan sedang menunggu ramalan dari pria tua itu tentang keberuntungannya.


"Kebenaran dan kebajikan. Peruntunganmu terlihat bagus anak muda. Ini benar-benar keberuntungan yang tidak bisa dipercaya." ucap peramal itu memulai 'ramalannya'.


Aika nyengir kuda dengan mata berbinar mendengar ramalan itu.


"Kurasa aku juga pernah mendengar jika aku adalah pemilik keberuntungan terbaik di Negara Api." ucap Aika kelewat percaya diri.


Si peramal manggut-manggut tanda setuju.


"Meskipun hanya duduk-duduk saja, kau akan dikelilingi oleh banyak orang, dan meskipun kau tidak bekerja uang akan jatuh sendiri ke pangkuanmu dari langit. Takdirmu adalah tidak melakukan apa-apa dan hanya bersenang-senang seumur hidupmu." kata peramal itu melanjutkan ramalannya.


"Hahahaha~ Ya, hampir mendekati." Aika tertawa terbahak-bahak mendengar ramalan itu. Terlalu senang dengan takdir baiknya.


"Kau seorang pengemis. Hidupmu ada di jalan dan memohon belas kasihan orang-orang." lanjut si peramal santai.


Ucapannya sukses membuat Aika tersedak ludahnya sendiri dan hampir terjungkal tidak elit kalau tidak sempat mengendalikan diri.


Aika menghela nafas pelan setelah berhasil mengendalikan rasa shock nya. "Kau salah besar! Tidak ada gunanya kau duduk di situ dengan kemampuan menipumu." Ucapnya kemudian yang kini terdengar serius.


Si peramal gelagapan, "Ah! Sepertinya aku salah melempar beras un-..."


Aika memotong ucapan si peramal, "Katanya kau tidak bisa membaca garis tangan karena kau buta, sekarang kau mau bilang tidak bisa meramal dengan menggunakan beras?" jeda sejenak.


"Sebenarnya, aku lebih ahli dalam membaca garis tangan. Kau adalah guru pedang terkenal di Negara Api. Dan sampai lima tahun lalu, kau di kenal dengan julukan Jendral Besar Legendaris. Namamu bahkan terkenal sampai ke tiga Negara (Angin, Air, Bumi) selain Negara Api tentu saja..." jeda lagi.


"... Guru Mesum Uroko. Itu adalah masa lalumu, kan?" ucap Aika dengan seringai penuh kemenangan.


Uroko terkejut dengan mata melotot dan mulut terbuka lebar. "Siapa kau sebenarnya?" tanyanya sumbang, terlihat sangat terkejut penyamarannya selama bertahun-tahun terbongkar tidak terhormat oleh bocah ingusan didepannya.


"Aku hanya seseorang yang tinggal di sebuah desa kecil di bagian barat daya kerajaan Sawamura." jawab Aika santai, cara duduknya pun macam orang congkak.


Mencondongkan tubuh lebih ke depan, Aika kembali berbicara, "Aku akan merahasiakan semua tentangmu dengan satu syarat." tawarnya.


Uroko hanya menaikkan sebelah alisnya sebagai respon. Masih shock sepertinya.


"Jadilah guru pedangku! Maka aku akan tutup mulut."


oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO


Istana Shimura


"Khukhukhu~ mari berpesta!"


"Bersulang~"


"Tuan Dotto, anda tidak minum?" tanya salah satu anak buah Dotto.


"Aku tidak mau mabuk untuk malam ini. Besok ada rapat dengan Kaisar." jawab Dotto sambil membawa cawan tehnya ke bibir.


"Apa saya membuat kesalahan, Tuan?" tanya anak buah Dotto lainnya.


Dotto melirik lewat ekor matanya, "Justru aku sangat puas dengan pekerjaan mu. Mungkin besok 'itu' akan dibahas dalam rapat." terangnya.


"Apa itu baik untuk kita, Dotto? Bagaimana jika Kaisar curiga?" tanya pria botak yang duduk di sebelah kirinya.


"Apa yang kau khawatirkan, Kazan? Mereka terlalu bodoh untuk tahu, dan kita harus cukup pintar untuk bermain." jelas Dotto santai sambil menyalakan cerutunya.


"Aku sejujurnya agak ragu. Kau tahu, Pangeran Daichi tidak bisa diremehkan." ucap seorang pria berambut merah dengan gusar.


"Biarkan saja ia berulah. Sudah tugas kita untuk mengimbanginya. Itu bukan masalah sulit." jawab Dotto dengan percaya diri.


Hening sejenak sampai, "Ada yang lebih penting dari itu-" mata Dotto memicing ke arah seorang samurai yang berdiri di dekat pintu.


"-Aku belum bisa tidur dengan tenang sebelum mayat 'gadis kecil' itu sampai di depan mataku." lanjutnya mengalihkan pandangan dari sang samurai.


Samurai yang di sindir mencoba membela diri. "Anda tidak perlu khawatir, saya akan mengurusnya untuk anda."


"Sampai berapa lama lagi aku harus menunggu? Lima belas tahun, apa itu waktu yang kurang?" sidir Dotto tajam.


"Saya masih mengawasinya sampai sekarang. Anda tidak perlu khaw-.."


Brak!


"JANGAN MENGUJIKU, TATEWAKI!! KAU MAU MENUNGGU SAMPAI GADIS ITU MEMBUNUHKU TERLEBIH DAHULU BARU KAU MAU MEMBUNUHNYA?" murka Dotto kalap setelah menggebrak meja.


"Tenanglah, Dotto. Kau hanya terbawa emosi. Biarkan Tatewaki yang menyelesaikan masalah gadis itu." ucap si merah mencoba menenangkan 'sekutunya'.


"Kau mau ke mana, Dotto?" tanya Kazan heran melihat sekutunya meninggalkan pesta lebih awal.


Dotto mendengus kasar dan berjalan cepat tanpa menoleh sedikitpun kebelakang.


"Hah~ sejak kapan dia percaya pada ramalan konyol seperti itu." tanya si merah tak habis pikir dengan tingkah sekutunya itu.


"Tuan Dotto bilang ia hanya bersikap waspada." kata satu-satunya wanita yang menjadi anak buah Dotto.


"Waspada? Dia bahkan lebih seperti orang gila." cemooh si merah mendengus geli.


"Itu karena Tuan Dotto sering bermimpi tentang gadis itu." jawab pengawal setia Dotto, Nobunaga.


"Ah, sudahlah. Ayo, lanjutkan pestanya." kata Kazan mencoba keluar dari topik 'teror si gadis pembunuh(?)'.


oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO


Kerajaan Sawamura


Pagi ini istana disibukan dengan persiapan untuk acara pesta malam nanti. Di mana pesta mewah ini untuk merayakan suksesnya kerjasama antara Kerajaan Sawamura dengan Kerajaan Ishikawa dalam pelatihan gabungan antar ksatria.


Bahkan setelah pesta berakhir, dua hari kemudian akan diadakan duel antar ksatria dari kedua kerajaan. Dengan mencalonkan enam kandidat (untuk setiap kerajaan) sebagai peserta.


Waktu berjalan dengan sangat cepat. Malam ini Istana Sawamura sangat ramai dengan datangnya tamu dari dua kerajaan besar lainnya.


Kerajaan Ishikawa dan Kerajaan Nakashima datang bersama seluruh rombongan keluarga besarnya. Di Kerajaan Sawamura sendiri terdapat banyak klan-klan penting yang hadir menambah suasana menjadi semakin hiruk pikuk.


Bahkan sebagai kerajaan yang royal dan ramah pada rakyatnya. Kaisar Sawamura telah menyiapkan tempat khusus untuk para rakyat agar dapat ambil bagian dalam pesta besar tersebut.


Di dalam istana utama tampak seluruh keluarga bangsawan sedang bekumpul. Tak terkecuali sang tuan rumah beserta kedua tamu besarnya. Semua nampak sibuk dengan urusan masing-masing.


"Aku tidak tahu anda suka dengan pesta, Pangeran." sindir seorang pria ber-haori warna wine dengan hakama berwarna fire dengan kamon pusaran di balik punggungnya.


"Aku hanya menyesuaikan diri." ucap Daichi santai (tidak terusik dengan sindiran pria merah di sebelahnya), sambil tersenyum menawan.


"Ya, kau memang selalu bisa menyesuaikan diri. Berbeda dengan seseorang." sindir pria itu lagi, namun kali ini iris ruby itu memicing ke arah pria muda di sebelah Daichi.


"Cukup, Akira! Jangan mengganggu Daichi dan Noya." seru seorang pria lainnya yang juga duduk bersama kedua Pangeran Sawamura.


"Kau tidak asyik, Kakak!" seru Akira jengkel, dengan menekan kata kakak pada kalimatnya.


"Aku sedikit bosan." ucap Sawamura lainnya yang sama duduknya bersama keempat orang di atas.


"Ayo bertaruh!" seru Akira kelewat antusias.


Lima orang pemuda yang duduk di dekatnya menoleh kearahnya, sedikit tertarik.


"Duel dua hari lagi. Aku menjagokan Shouta sebagai pemenang." lanjut Akira percaya diri.


"Hah~ kenapa kau mendukung ksatria dari kerajaan lain? Dasar pengkhianat!" sembur Riyu tajam.


"Ck, siapa yang peduli." sahut Akira cuek.


"Tapi, aku ragu Shouta menang kali ini." celetuk Daichi tiba-tiba.


"Kenapa?" tanya Noya yang sejak tadi hanya diam.


"Bukankah sudah jelas? Rakyat ikut ambil bagian dalam duel kali ini. Siapa tahu ada yang bisa menandingi kemampuan pedang Shouta." jawab pria dengan potongan rambut berantakan.


Tiga pria mengangguk setuju, sedang Akira mendengus keras.


"Perbandingannya 1:1000, peluangnya kecil." ucap Akira mencoba optimis.


"Tapi, bukan berarti tidak ada." sahut Daichi sambil tersenyum kecil.


Hening.


"Lalu apa taruhannya?" tanya Rei (si pria dengan potongan rambut berantakan) memecah keheningan di antara mereka.


Semua mata tertuju pada Akira.


"Jika Shouta menang kalian harus memberiku 1 keranjang apel setiap bulannya selama 1 tahun." ucap Akira congkak.


"Jika Shouta kalah?" tanya Riyu kemudian.


"Jika kalah, kau (Akira) akan mengabulkan 1 permintaan dari kami berlima." serobot Daichi seenaknya.


Akira melotot hendak protes namun tak ada satu kata yang keluar dari bibirnya.


"Baiklah." ucap Akira akhirnya, sedikit tidak rela 'dikeroyok' lima orang sekaligus.


Berbeda dengan Akira yang meratapi nasib, kelima pria itu menyeringai setan. 'Waktunya membuatmu menderita, Ishikawa Akira' pikir kelimanya kompak.


.


.


.


"Mungkin di tahun depan ketiga kerajaan bisa melakukan pelatihan gabungan bersama. Bagaimana menurut anda Yang Mulia?" tanya Minato pada Kaisar Nakashima yang duduk tepat di depannya.


"Aku sama sekali tidak keberatan." jawab sang Kaisar Nakashima santai namun terdengar tegas.


"Kenapa anda diam saja, Yang Mulia? Apa anda tidak setuju dengan usulan saya?" tanya Minato lagi kali ini ditujukan untuk Kaisar Sawamura.


"Tidak, tentu saja tidak. Justru itu sangat baik. Dengan begitu hubungan kekeluargaan kita semakin terjalin erat." sergah Hideki, tidak ingin membuat adik ipar jauhnya salah paham.


Minato hanya tersenyum. Ia sempat berfikir jika ucapannya telah menyinggung sang kakak ipar. Namun, mendengar jawaban itu, ia merasa lega, karena kakaknya tidak salah paham dengan ucapannya.


"Bisakah kita tidak terlalu formal? Ini membuatku tidak nyaman. Dan juga, jangan terus membahas politik atau segala ***** bengek kerajaan. Kita tidak bisa sering berkumpul. Jadi, bisakah kita membicarakan tentang keluarga?" ucap Chikara sedikit risih dengan formalitas kaku antara 'Kaisar dan Permaisuri'.


"Kaulah yang terlalu kaku, kakak." timpal Keiko sambil tertawa. Chikara mendengus kecil, lalu ikut tersenyum.


"Sejujurnya aku juga tidak terlalu suka dengan suasana berat. Lihat bahkan putra-putra kita terlihat akrab tanpa sikap formalitas mereka." ucap salah seorang Puteri Sawamura lain (yang duduk di antara Keiko dan Chikara), menunjuk ke arah meja para pangeran.


"Ya, kakak ipar benar. Mereka terlihat menikmati peran mereka tanpa ada batasan formalitas seorang Pangeran." dukung Keiko, menatap kearah putranya.


"Ah! Kenapa aku baru menyadarinya?!" seru Permaisuri Nakashima tiba-tiba.


Semua orang menoleh, menatap Permaisuri Nakashima dengan alis menukik tajam. Sedikit terkejut dengan seruan tiba-tiba sang Permaisuri yang terkenal pendiam itu.


Yang dipandangi malah terkikik geli melihat seluruh pasang mata yang menatapnya dengan berbagai macam ekspresi dan arti yang berbeda-beda.


"Apa ada yang bisa memberitahuku, apa yang ganjil di sana?" tanya wanita nomor satu di Kerajaan Nakashima itu dengan senyum geli. Jemari lentiknya menunjuk ke meja para pangeran.


Seluruh pasang mata yang tadinya melihat kearahnya, kini serempak menatap para pangeran. Lama mereka mengamati, namun tak kunjung ada yang membuka mulut.


"Sebenarnya apa yang ingin Ibu katakan?" Nakashima termuda diantara yang lain angkat bicara, memutus keheningan panjang diantara mereka.


Wanita Nakashima itu tersenyum manis pada putra semata wayangnya itu. "Kau tahu betul, Puteraku." ucapnya.


Semua orang semakin tidak mengerti maksud dari ucapan wanita dengan satu anak itu.


"Tidak ada seorang gadis diantara mereka." sambungnya tenang, jemarinya membawa cawan ocha ke bibir sewarna salmon-nya.


Semua orang tertegun. Mereka kembali memperhatikan meja para pangeran. Putra Mahkota Nakashima hendak membuka mulut sebelum-


"Bukan seorang kekasih, tapi saudara perempuan." dipotong Kiri (Permaisuri Nakashima) yang juga ikut memperhatikan keenam pangeran muda yang tengah tertawa itu.


Suasana hening seketika. Tak ada satupun yang membuka pembicaraan kembali setelahnya. Mereka sibuk mencerna dengan baik setiap kata dan kalimat yang baru saja diucapkan oleh Kiri.


Terlalu larut dalam lamunan, mereka tidak menyadari salah seorang diantara mereka mengalami perubahan wajah pucat pasi mendengar kata-kata Kiri. Bahkan bibir merahnya sedikit bergetar.


Putaran kisah masa lalu kembali muncul dibenaknya, bak kaset rusak yang membuat tubuhnya mengigil. Kepalanya berputar dan berdenyut sakit seolah mengingatkannya tentang kesalahannya di masa lalu. Rasa takut menghantamnya begitu kuat. Hampir membuat pertahanannya roboh.


Berhasil mengendalikan diri ia mencoba bersikap senormal mungkin, seolah tak terjadi apapun sebelumnya. Malam itu ia kembali berhasil mengelabuhi semua orang (lagi).


oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO


Pagi hari yang cerah menyambut dengan riangnya. Sinar mentari tak sedikitpun takut menyinari bumi, hingga seluruh kehangatannya sampai pada setiap insan yang berada di bawah sinar teriknya. Bahkan sengatan panas itu tak sedikitpun membuat seluruh manusia yang duduk di tribune berhenti bersorak, mengelu-elukan nama jagoan mereka. Seolah panas bukanlah kelemahan mereka.


Seluruh area lapangan kini penuh sesak oleh banyaknya penonton yang ingin menyaksikan secara langsung duel antara dua kubu ksatria dari kedua kerajaan besar. Bahkan seluruh mimbar telah dipenuhi oleh seluruh manusia dari berbagai plosok Negara Api. Terutama di bagian selatan tribune yang merupakan tempat khusus untuk para rakyat.


Bagian barat tribune diisi oleh prajurit, kasim, pelayan, dan seluruh staf istana yang juga ikut memeriahkan acara. Bergeser dari tribune barat ke sebelah timur yang telah terisi oleh seluruh klan yang berada di bawah Kekaisaran Sawamura dan Ishikawa.


Sedangkan di tribune utara dihuni oleh keluarga bangsawan, serta keluarga besar kerajaan Sawamura, Ishikawa, dan Nakashima tentu saja.


Dibagian atas mimbar terlihat Kaisar Hideki dan Permaisuri Chikara dari Kerajaan Sawamura. Di sebelah kirinya ada Kaisar Nawaki dan Permaisuri Kiri dari Kerajaan Nakashima. Lalu, di sebelah kanan sang kaisar Sawamura ada Kaisar Minato dan Permaisuri Keiko dari Kerajaan Ishikawa.


Saat ini seluruh penonton tengah menunggu duel perempat final, setelah menyaksikan duel sengit dari keduabelas ksatria. Dan dari duel tersebut ada tiga ksatria yang berhasil lolos dalam perempat final kali ini.


Siapa peserta keempatnya? Tentu saja dari kalangan rakyat. Namun tak ada yang tahu siapa dari golongan rakyat yang berhasil lolos ke perempat final, karena duel antar rakyat di laksanakan di tempat yang berbeda.


Lalu di mana orang itu sekarang? Saat ini keempat peserta sedang dalam masa istirahat setelah melewati duel panjang. Dan kurang dari 5 menit lagi mereka akan kembali memasuki arena duel.


"Astaga, di mana si bodoh Aika itu. Aku sudah lama sekali menunggunya. Apa ia tidak jadi datang? Tapi, kenapa dia tidak memberitahuku? Sial, tidak! Dia pasti datang, dan sekarang sedang tersesat. Ya, pasti dia tersesat. Ugh! Dasar bodoh! Cepatlah datang!" terdengar suara gerutuan dari salah satu penonton dari berpuluh ribu penonton yang duduk di barisan mimbar.


"Ah, Nona. Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya seorang pria, menginterupsi gerutuan Shiho.


"Ah, tidak!" jawab Shiho cepat.


"Benarkah? Kulihat kau sedang gelisah sejak tadi." ucap pria tadi sedikit khawatir.


"Ah, sudahlah. Aku tidak perlu mengkhawatirkannya, dia pasti bisa menemukan jalan untuk menemuiku disini." gumam Shiho mengabaikan ucapan pria di sebelahnya.


"Kau mengatakan sesuatu, nona?" tanya pria itu lagi.


"Ah, tidak. Aku tidak bilang apa-apa." sahut Shiho dengan senyum kaku.


"Oh, baiklah. Jangan sungkan mengatakan masalahmu padaku nona. Aku akan membantumu." tawar si pria baik hati. Nampaknya ia tertarik pada Shiho.


"Itu tid-" tiba-tiba ucapan Shiho terpotong oleh...


"PERHATIAN! DUEL PEREMPAT FINAL AKAN SEGERA DI MULAI. SELURUH PESERTA DI PERSILAKAN MEMASUKI ARENA!" seruan lantang salah seorang Jendral yang bertugas memberi pengumuman.


Suasana menjadi senyap. Seluruh penonton mendadak menutup mulut. Inilah saatnya pikir semua orang kompak. Tak berapa lama setelah pemberitahuan tersebut dua pintu gerbang besar arena terbuka perlahan.


Dari pintu sebelah barat muncul dua orang ksatria (perwakilan dari kerajaan Sawamura yang berhasil lolos). Pria pertama berambut crimson dengan balutan haori hitam dan hakama magenta berjalan dengan gagahnya. Disampingnya seorang pria dengan rambut putih berbalut haori biru dan hakama putih berjalan mengekori.


Pemandangan yang sama juga terjadi di gerbang bagian timur. Dua orang blonde memasuki wilayah arena dengan sama gagahnya. Blonde pertama menggunakan setelan haori navy dan hakama hitam. Sedang blonde lainnya memakai haori hitam dan hakama merigold.


Keempat peserta berjalan menuju ke tengah lapangan untuk memberi hormat kepada seluruh keluarga besar ketiga Kaisar (Sawamura, Nakashima, dan Ishikawa). Setelah mendapat anggukan dari Kaisar Sawamura keempat ksatria mengangkat wajah dan menghadap Jendral Besar Sawamura. Siap menerima perintah.


"Se..se..sedang a..pa di..dia di sa..na?" Gagap Shiho sesaat setelah matanya menangkap seseorang yang tidak asing berdiri ditengah-tengah arena.


"Ada apa nona?" tanya pria tadi, khawatir melihat wajah gadis di sampingnya.


"Ke..na..pa?"


oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO


"Berapa lama lagi, Riyu?" tanya Daichi pada pria yang duduk tepat di sebelahnya.


"Masih beberapa menit lagi." sahut Riyu sekadarnya.


"Apa si merah itu mencoba kabur?" tanya Rei ikut nimbrung pembicaraan Daichi dan Riyu.


"Dia tidak akan berani." ucap Daichi enteng dengan seringai kecil di bibirnya.


"Tapi, kenapa dia belum kembali? Ini sudah lebih dari 30 menit. Apa dia ingin tinggal di kamar mandi?!" sindir Rei.


"Hn, mungkin." sahut Noya angkat bicara.


"Ah! Itu dia! Panjang umur sekali." seru adik Rei menunjuk ke arah "si merah".


Lima kepala serentak menoleh kearah yang di tunjuk pangeran keempat dinasti Sawamura itu.


"Apa aku ketinggalan acara utamanya?" tanya Akira dengan senyum lebar.


"Ada apa dengan wajahmu, Pangeran?" tanya Rei sarkastik.


"Hoho.. Aku? Hahaha, tidak apa-apa!" jawab Akira menunjuk dirinya sendiri sambil tertawa. Tak terpengaruh dengan nada sarkastik dari Rei.


"Ah! Sepertinya aku belum terlambat!" ucapnya lagi dengan riang. Membuat keenam pria di sekitarnya melirik kearahnya dengan berbagai macam ekspresi.


"PERHATIAN! DUEL PEREMPAT FINAL AKAN SEGERA DI MULAI. SELURUH PESERTA DI PERSILAKAN MEMASUKI ARENA!"


"Ah! Akhirnya!" seru Akira kelewat girang. Membuat keenam pangeran itu semakin mengerutkan alis bingung.


"Ada apa?" tanya Akira heran karena di tatap intens oleh enam orang sekaligus.


"Tidak, hanya saja apa yang membuatmu begitu senang, Pangeran?" tanya Riyu penasaran.


"Hei, lihat mereka mulai bertarung!" seru Akira mengalihkan topik pembicaraan.


Kembali, seruan dari si merah membuat enam hidung menolehkan kepala kearah empat ksatria yang telah duduk di kursi tunggu (menanti siapa yang akan duel terlebih dahulu).


Ketujuh pangeran mengamati keempat wajah ksatria yang sedang duduk dengan tenang itu. Crimson, White dan dua Blonde.


Noya mengamati wajah keempat orang itu. Ia kenal betul dua orang dengan rambut kontras itu. Lalu, untuk kedua blonde itu...


Tunggu! Blonde? Noya membelalakkan kedua Onxy nya, ia memang mengenal seorang 'pemuda' blonde. Tapi, apa mungkin pemuda yang sedang menarik perhatiannya itu ada disini. Itu tidak mungkin, batinnya.


Noya semakin memicingkan matanya. Ingin memastikan, bahwa ia tidak sedang berilusi sekarang.


"Aika?!" suara kecil Daichi membuat Noya spontan memandang wajah kakaknya.


"Jadi, itu benar dia?" tanya Noya meminta kepastian.


"Entahlah, tapi kurasa itu memang dia." jawab Daichi setengah tidak yakin.


"Tapi-...."


.


"-SEDANG APA BOCAH IDIOT ITU DISANA?!" teriak Shiho histeris.


Pria yang duduk di sebelahnya terkejut mendengar teriakan histeris dari wanita incarannya itu.


"Tentu saja berduel memangnya apalagi?!" sahut pria itu sekenanya.


Shiho menoleh cepat, mendengar jawaban itu. "Apa? Duel? Si bodoh itu? Cih!" decak Shiho merendahkan.


"Ada apa? Dia sudah duduk disana, itu berarti dia hebat." sahut pria itu mencoba memberi dukungan (entah pada siapa, karena memang ia hanya menyahut saja tanpa tahu siapa yang dimaksud 'wanitanya' itu).


"Yah, kita lihat sehebat apa dia!" putus Shiho akhirnya. Kembali duduk dengan tenang. Aku akan minta penjelasan darimu setelah ini, Idiot! ucapnya dalam hati.


oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO


Semilir angin berhembus perlahan. Menerbangkan ribuan daun yang gugur dari tubuh sang pohon. Membawa seluruh debu berterbangan melewati celah hutan yang rimbun. Siulan angin menerpa ranting-ranting, menimbulkan bunyi syahdu gesekan biola.


Seorang wanita cantik duduk di sebuah batu di pinggir sungai. Kedua kaki putihnya separuh tenggelam di dalam air. Wajah ayunya mendongak, merasakan sengatan kecil sinar mentari. Bibir mungilnya mencicitkan bait-bait puisi, menemani keheningannya.


Kelopak seindah bunga itu bergerak perlahan. Memperlihatkan kelereng bak batuan permata pada dunia. Bibir ranumnya telah berhenti bergerak. Wajah yang tadinya lembut itu kini nampak serius. Mutiara yang diperlihatkannya tadi kini nampak kosong.


"Hari ini musuhmu telah tiba. Musuh yang akan membawa kematianmu. Seorang gadis yang akan membalaskan dendamku. Hari ini takdirmu akan berubah, dan takdirnya adalah menghancurkanmu."


Ucapan yang diiringi seringai iblis itu, mengalun indah. Meminta angin menyampaikan pesannya. Berharap daun-daun menyetujui kewarasannya.


Tak jauh dibelakangnya seseorang menatapnya dalam diam, membiarkan iblis yang dipeliharanya kembali mengucapkan ramalan-ramalan kosong miliknya.


To be Continue....