
Meski tergopoh-gopoh, Lee berhasil dipapah Aika untuk menemui rekan mereka lainnya. Disaat hampir menemukan rekannya, Aika dibuat terkejut oleh Daiki yang tanpa ampun langsung membunuh ksatria Sawamura yang dalam keadaan terluka bahkan yang sekarat juga dihabisinya.
Aika langsung mengalihkan pandangan kearah lain dan menemukan Kiyoshi tak jauh dari mereka.
"Kiyoshi!" Panggilnya.
Kiyoshi yang baru membunuh seorang tentara, menengok kearah suara yang memanggilnya. Ia berlari cepat menuju Aika untuk membantunya.
"Cepat sembunyikan, Lee!" Pinta Aika saat Kiyoshi sudah berdiri tegak didepannya.
Tanpa bertanya Kiyoshi segera melaksanakan perintah Aika saat melihat Daiki juga melihat kearah mereka.
"Tunggu!"
Deg! Deg!
Aika, Kiyoshi, dan Lee berhenti bergerak dengan menghentikan nafas secara bersamaan. Bahkan tidak ada dari ketiganya yang berniat berbalik untuk menatap seseorang yang menghentikan langkah mereka.
"Ada apa?"
Tunggu! Aika kenal dengan suara itu. Suara itu bukan milik Daiki tapi-
"Aika? Ada apa?" -suara Ukai yang berjalan mendekat dan bertanya tentang mereka.
Secara tidak sadar ketiganya menghembuskan nafas bersamaan, lalu menoleh pada Ukai.
"Kami harus menyembunyikan Lee!" Kata Kiyoshi sambil mengendikkan dagu kearah Daiki yang masih menatap mereka dengan tatapan penuh selidik.
Ukai mengerti dengan isyarat itu, "Uhm, pergilah! Bawa ketempat yang aman!" Perintahnya.
Aika dan Kiyoshi mengangguk dan kembali melanjutkan langkah saat melihat Daiki juga melangkah cepat menuju mereka. Aika menengok dan melihat Ukai menghentikan langkah Daiki untuk mengejar mereka.
"Hah~"
"Tidak." Ucap Aika singkat dengan menutup mulut saat mereka melewati mayat tentara Negara Angin.
"Aika, kau pasti sangat membenciku. Benarkan?" Cicit Lee melirik takut kearah Aika.
Tak berniat menjawab, Aika reflek menampar Lee, "Bodoh! Aku hanya takut jika kau mati karena kesalahanmu sehingga aku harus membunuhmu. Setidaknya jika kau mau mati jangan berada di dekatku agar aku tidak merasa bersalah." Semburnya setelah berhasil memberi hadiah untuk Lee.
Lee dan Kiyoshi terdiam, tidak tahu harus menyahut apa.
"Aku benci itu. Itu membuktikan bahwa Kapten Daiki benar. Dan aku tidak suka." Cicit Aika dengan kepala menunduk dalam.
"Maaf, Aika." Ungkap Lee tulus dengan senyuman. Dan ketiganya kembali melanjutkan perjalanan.
Namun baru beberapa langkah tiba-tiba Aika dikejutkan dengan seorang ksatria sekarat yang memegangi kakinya. Aika yang terkejut segera melompat kecil lalu memandang kearah kakinya. Aika segera mendekatkan telinganya saat ksatria itu hendak berbicara.
"Si..sia..pa na..ma..mu? Ke..sa..tu..an a..pa?" Tanya ksatria itu terbata, suaranya bahkan hampir menghilang.
"Aika. Kesatuan Giok Singa dan Serigala Putih."
"Kem..ba..li! Min..ta me..re..ka se..ge..ra per..gi da..ri si..ni! Tem..pat i..ni su..dah ter..ke..pung!" Kata ksatria itu lagi dengan nafas yang mulai tersendat-sendat.
Aika sedikit bingung dan tidak bisa menangkap dengan jelas maksud dari ksatria itu. Namun, ia masih diam mendengarkan dan mencatat apa yang bisa ditangkapnya.
"Ha..nya Kap..ten Dai..ki ya..ng bi..sa kau an..dal..kan." lanjut si ksatria itu untuk yang terakhir kalinya sebelum tidur untuk waktu yang lama.
"Ada apa, Aika?" Tanya Kiyoshi saat melihat Aika hanya terdiam dengan mata yang kosong.
Aika tersentak kecil, ia menoleh kearah Kiyoshi yang mengernyit bingung. "Kita kembali!" Katanya kemudian melangkah kembali menuju area perang. Meninggalkan Kiyoshi dan Lee yang semakin berwajah heran akut.
To be Continue...