The Great Princess

The Great Princess
Menyentuh



Derap langkah kaki berjalan tergesa di antara ubin kayu lorong istana. Ekor kimono uchikake berwarna hitam dengan motif burung jenjang menyapu lantai berhiaskan karpet beludru. Langkah kaki kecilnya berburu waktu mendatangi sebuah hunian di bagian istana barat, di mana salah seorang Pangeran Mahkota tinggal.


Tap!


Terdengar langkah kaki itu berhenti di depan sebuah pintu besar dengan ukiran emas berbentuk burung Phoenix pada setiap daun pintunya.


"Buka pintunya!" Perintah sebuah suara pada penjaga pintu di depannya.


Kedua penjaga pintu itu saling berpandangan. Mereka telah mendapat perintah untuk tidak membiarkan siapapun masuk tapi seseorang di depan mereka saat ini adalah wanita nomor satu di kerajaan Sawamura, bisa-bisa nyawa mereka dalam bahaya.


"Maaf, Permaisuri. Tapi, Pangeran Mahkota melarang siapapun masuk."  Ucap salah satu penjaga itu sedikit menunduk takut.


Sebenarnya mereka berdua tak punya pilihan. Sebab jika melawan perintah Permaisuri itu berarti sama dengan berkhianat. Tapi, jika Permaisuri dibiarkan lewat pun nyawa mereka pasti juga tak akan diampuni oleh sang Pangeran.


"Kau ingin menahanku?!"


Tuh, kan. Ini percuma! pikir keduanya kompak. "Tapi, kami takut di hukum karena melanggar perintah, Permaisuri." Ucap penjaga kedua mencoba menjelaskan situasi mereka.


"Buka pintunya! Pangeran Mahkota tidak akan marah jika tahu akulah yang berkunjung." Perintah Permaisuri tenang.


Kedua penjaga pintu itu kembali beradu pandang. Hingga mereka mengangguk kecil dan membukakan pintu untuk sang Permaisuri.


Chikara memasuki kamar putranya dengan tenang, mata hitamnya menyapu keseluruh sudut ruangan dan menemukan putra tercintanya tengah berbaring manja di kasur empuknya.


Chikara mendekat dan duduk ditepian ranjang sambil memandang intens wajah putranya yang hampir tiga hari tak dilihatnya setelah tahu bahwa putranya itu baru saja mengalami kecelakaan.


Raut wajah Chikara berubah sendu saat melihat beberapa luka memar yang hampir hilang diwajah tanpa cacat itu. Bulir air matanya telah mengelumpuk pada bagian sudut matanya. Chikara mencoba mengulurkan tangannya, hendak menyentuh wajah putranya itu.


"Apa yang ibu lakukan disini!" Namun suara Noya berhasil menghentikan gerakan tangan itu. Membiarkannya menggantung di udara.


Chikara memandang mata yang sama dengannya itu dengan lembut, terpancar kasih sayang dan juga kekhawatiran diwaktu yang sama. Ia menarik kembali tangannya dan tersenyum sayang khas seorang ibu.


"Tentu saja mengunjungi putraku. Memang apa lagi?!" Ucap Chikara mengangkat bahu ringan.


"Aku tak ingin dikunjungi siapapun." Kata Noya cuek mengindahkan tatapan terluka Chikara.


"Aku tahu. Tapi, ibu mana ya-"


Cklek!


Suara pintu di buka terdengar, sontak membuat dua kepala yang berbeda gender itu menoleh ke asal suara. Terlihat Aika tengah berdiri di belakang pintu dengan raut wajah terkejut. Aika merasa sedikit kikuk karena memaksa masuk tanpa tahu ada siapa didalamnya.


Merutuki kebodohannya, Aika berniat meninggalkan tempatnya setelah membungkuk dalam (sebagai tanda maaf). Tadinya sih begitu sebelum-


"Mau kemana kau!" -kalimat bernada tajam yang keluar dari bibir tipis Noya menghentikan niatannya.


Aika gelagapan, inginnya sih langsung kabur saja tapi melihat wajah dingin itu Aika mengurungkan segala niatannya -termasuk menyerampah pada wajah tampan menyebalkan itu.


"Kemari!" Perintah Noya datar.


Aika yang mendengar itu melirik sekilas kearah Permaisuri yang duduk di samping Noya. Wajahnya sama datarnya, membuat Aika menerka-nerka apa yang wanita itu pikirkan tentang dirinya yang dengan lancang memasuki kamar Pangeran saat ada Permaisuri didalamnya.


Mengabaikan segala kerumitan tentang membaca wajah keluarga datar. Aika memilih menuruti perintah Noya daripada ia berakhir di penggal di tiang gantungan karena bersikap tidak setia, lebih baik jadi anjing penurut untuk sekarang.


Aika berjalan pelan dengan kepala menunduk menuju ranjang Noya. Setelah sampai ia hanya berdiri mematung disana menunggu perintah Noya lagi.


"Ambil obat itu lalu oleskan. Tolong!" Noya kembali memberi perintah, dengan jari menunjuk nampan di atas meja disampingnya.


Aika dan Chikara terdiam dengan wajah sedikit terkejut. Tentu saja dengan alasan yang berbeda-beda. Aika terkejut dengan alasan mengapa harus ia yang mengoleskan obat padahal ada banyak pelayan atau Permaisuri (mungkin) yang bisa dimintainya.


Sedang Chikara terkejut karena mempertanyakan pendengarannya yang sempat rusak beberapa detik yang lalu, ia seolah berdelusi mendengar Noya mengatakan kata keramat (tolong) dengan suara mendayu halus. Demi apapun Chikara bahkan tidak pernah membayangkan kata manis itu akan keluar dari bibir putra bungsunya itu.


Noya semakin jengah di tempat duduknya. Pasalnya melihat wajah bodoh keduanya membuat ia seolah-olah baru saja melakukan tindakan kriminal. Dan itu membuatnya bersungut-sungut emosi.


Chikara yang tadinya terkejut semakin dibuat melongo. Setelah bicara manis dan meminta dengan kata keramat sekarang putra tampannya itu baru saja memohon padanya.


Demi langit yang ingin runtuh, ada apa sebenarnya dengan putranya ini. Apa saat kecelakaan ada sesuatu yang merusak atau mencuci otak putranya. Entahlah Chikara pusing sendiri memikirkannya.


Tidak ingin membuat putranya marah, Chikara mengangguk lemah menyanggupi permintaan Noya. Namun sebelum melangkah pergi ia sempat memandang Aika sejenak. Dalam hati ia bertanya, apa Noya menyukai pemuda ini?


Tidak ingin berprasangka buruk tentang orientasi Noya, Chikara segera keluar dari kamar mewah itu dengan banyaknya pertanyaan yang mampir diotaknya.


Setelah memastikan Chikara keluar dan terdengar bunyi pintu di tutup Noya segera menarik Aika duduk di pangkuannya secara tiba-tiba. Membuat Aika yang tidak waspada sebelumnya memekik terkejut dengan tindakan frontal Noya.


"Astaga! Pangeran a..apa yang kau lakukan?" Tanya Aika gelagapan, mencoba melepaskan kungkungan Noya. Nihil tidak longgar sesentipun, justru Noya semakin mendekatkan tubuh keduanya hingga Aika tepat berada di tengah paha dalam Noya.


"Cepat ambil obatnya!" Perintah Noya mengabaikan gelagat risih dari Aika.


Aika cemberut, kesalahan fatal yang hampir membuat Noya hilang kesadaran dan langsung ingin memakan Aika saat itu juga. Tapi, berkat pengendalian diri yang baik Noya hanya memasang wajah datar. Meski terkesan ogah-ogahan Aika tetap melakukan perintah dari tuannya itu.


Sementara tangan Aika mengambil salep di nakas (dengan posisi yang masih sama seperti tadi) Noya dengan cekatan melepaskan kimono-nya dengan bagian pinggul kebawah hanya tertutup oleh selimut. Aika yang melihat itu langsung merasakan wajahnya memanas bahkan hingga ke telinga.


Dengan wajah yang diyakininya memerah, Aika memalingkan wajahnya dan mengerlingkan sapphire-nya meneliti ruangan. Noya yang ternyata sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Aika tersenyum tipis dan bersorak girang dalam hati. Dengan gerakan patah-patah Aika mulai mendekatkan tangannya ke tubuh Noya dengan pandangan ke lain arah.


"Kau ingin mengobatiku atau apa?!" Tanya Noya menyeringai geli, pasalnya tangan Aika malah menuju bagian perut bawahnya.


Aika menoleh cepat, mengikuti arah tangannya yang hampir menyentuh perut dengan tahu kotak-kotak di tubuh Noya. Sadar telah melakukan kesalahan wajah Aika semakin memerah bak tomat masak karena malu.


"Kau ingin terus memandangiku atau-"


"Uhm! Baiklah! Baiklah!" Potong Aika cepat, mengabaikan panas diwajahnya Aika mencoba mengendalikan jari tangannya yang mendadak gemetar.


Aika berjenggit kecil saat jemarinya menyentuh kulit alabaster hangat milik Noya. Aika mulai mengoleskan sedikit demi sedikit obat itu ke tubuh Noya yang ternyata sangat lembut itu. Aika bahkan menghentikan sejenak kegiatannya saat meresapi kulit sutra itu menyentuh jemarinya.


Lalu, bagaimana respon dari Noya? Dia hanya diam dan menikmati. Seolah sentuhan jari mungil nan jenjang itu adalah vitamin kulit yang membawanya melayang hingga langit ketujuh.


Setelah selesai mengoleskan salep ke seluruh tubuh Noya, Aika mengembalikan obat itu kembali ke nampan dan hendak melangkah pergi. Sebelum-


"Mau kemana?" -Langkahnya terhenti oleh ucapan dan genggaman tangan Noya pada tangannya.


"Kembali ke asrama." Jawab Aika singkat, matanya menatap mata hitam Noya dengan tenang.


"Buka kimonomu! Aku juga akan mengobati lukamu!" Perintah Noya hampir berhasil menarik obi Aika, namun segera ditahan oleh si empunya.


"Tu..tung..gu! Ti..tidak perlu! Aku bisa sendiri." Tolak Aika gelagapan. Menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Aika mulai menggeliat tak nyaman di pangkuan Noya dan tanpa sadar membangunkan Noya Junior. Membuat Noya menahan segala hasrat yang tiba-tiba muncul dalam dirinya.


Aika yang berpikir Noya diam karena memikirkan cara untuk membujuknya, semakin bergerak gelisah. Melupakan tubuhnya yang hampir menempel pada tubuh polos Noya karena terlalu larut dalam pemikirannya sendiri. Sedang Noya mencoba mati-matian untuk tetap mempertahankan kewarasannya agar tidak memperkosa pemuda itu sekarang juga.


Noya yang geram karena Aika terus mencoba menggoda imannya, menghentak tubuh yang lebih kecil darinya itu keranjangnya. Membuat posisinya berada di atas tubuh mungil Aika yang seketika menegang.


"Berhenti menggodaku, Aika!" Ucap Noya serak namun penuh penekanan. Bisa dipastikan jika ia tidak memiliki mengendalikan diri yang baik, bisa-bisa Noya langsung memakan Aika saat ini.


"A..apa? A..aku tidak!"


"Kau ya! Cep-" ucapan dan gerakan Noya terhenti saat tangannya tanpa sengaja menyentuh bagian tubuh Aika. Noya menatap Aika yang juga menatapnya dengan wajah memerah. Mata Aika terlihat sayu dipenglihatan Noya. Sejenak waktu terhenti hanya untuk keduanya saling berpandangan dan berbicara lewat tatapan mata.


Noya lah yang tersadar lebih dahulu. Ia langsung beringsut mundur dan membiarkan Aika terduduk sambil memegangi kimono bagian atasnya yang terbuka sedikit. Noya masih memandangi Aika intens, seluruh pertanyaan yang ada dipikirannya tersendat di tenggorokan seolah sulit mencicitkannya.


"Bo..boleh aku pergi, Noya?" Pinta Aika dengan wajah yang sama seperti sebelumnya.


Noya tersadar, ia hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Aika yang mendapat peluang segera beranjak dan melangkah cepat menuju pintu. Sedang Noya masih bergelut dengan banyaknya pertanyaan yang sulit keluar dari kerongkongan-nya itu dengan menatap punggung Aika dengan tatapan yang sulit diartikan.


To be continue...