The Great Princess

The Great Princess
Ep. 75



2 hari kemudian...


Di sebuah hutan di belakang istana, tepatnya di sebelah utara Paviliun Barat (Paviliun pribadi milik Pangeran Noya dan Aika) Putri Masako menyiapkan sebuah altar pemujaan yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari tempat tinggal Aika.


Putri Masako juga sudah menggantukan boneka hantu di dekat kediaman Aika. Tepat seperti yang diperintahkan oleh Shio.


Shio kemudian diselundupkan masuk ke dalam istana pada malam hari untuk menyiapkan ramuan hitam sekaligus mengirimkan segel tomoe (*pusaran mirip koma berwarna hitam/Yin) itu.


Di kamarnya Aika tiba-tiba mengalami mimpi buruk. Ia bermimpi dikejar-kejar oleh seekor ular besar hingga terjatuh dan tergigit pada bagian pergelangan tangannya dan hampir mengoyak nadinya. Beruntung Aika terbangun dengan cepat sebelum urat nadinya benar-benar putus.


Hal itu bersamaan dengan Putri Masako yang menusukan jarum pada boneka fudu yang telah disiapkannya. Ia menusuknya pada pergelangan tangan Aika. Dan entah datang dari mana boneka itu mengelurkan darah dari bekas tusukan pertama.


Aika terbangun dengan nafas memburu dan keringat yang membanjiri seluruh tubuhnya. Ia terkejut saat mendapati bekas luka gigitan yang sama seperti di dalam mimpinya dan mengeluarkan banyak darah pada bagian nadinya.


"Dayang Yui!" Panggil Aika parau.


Dayang Yui yang siap sedia di depan pintu sontak masuk dan terbelalak horor menatap nadi tuannya yang mengeluarkan banyak darah. "Putri!" Pekiknya heboh.


"Cepat ambilkan kain!" Perintah Aika tenang. Namun Dayang Yui yang masih syok hanya terdiam tak bergerak.


"Dayang Yui!" Panggil Aika sedikit keras. Dayang Yui tersadar dan segera berlari keluar. Ia kembali secepat kilat dengan sebaskom air hangat dan sepotong kain.


"Sebenarnya ada apa, Putri?" Tanya Dayang Yui hampir menangis saat melihat wajah Aika yang pucat pasi.


"Tenanglah! Aku baik-baik saja!" Jawab Aika menenangkan. Sejujurnya ia tengah mati-matian mengendalikan tubuhnya yang hendak pingsan karena kehabisan banyak darah.


Tapi, Aika tetap mencoba bertahan karena jika ia pingsan maka Dayang Yui pasti akan membuat masalah dengan membangunkan seluruh penghuni istana nantinya.


"Putri-"


"Tidak, Dayang Yui! Rahasiakan ini dari siapapun! Masalah ini tidak boleh keluar dari kamar ini!" Perintah Aika mutlak.


Dayang Yui mengangguk patuh, meski ada rasa khawatir tapi ia tidak boleh melanggar perintah.


"Pergilah! Aku akan kembali tidur!" Setelah mendengar perintah dari Aika, Dayang Yui melangkah keluar dengan perasaan khawatir yang dengan apik berhasil ditutupinya.


.


.


.


Di malam berikutnya, Putri Masako kembali menyiapkan boneka fudu yang sudah diberi mantra oleh Shio. Ia menusukan jarum kedua pada bagian leher Aika.


Tak hanya itu keesokan harinya ketika Aika makan, Putri Masako menyuruh seseorang memasukkan racun hitam tanpa bau dan rasa itu ke dalam makanannya, beruntung berkat simbol tomoe itu Aika seolah linglung dan tak menyadarinya.


Pangeran Noya yang pagi harinya makan bersama dengan Aika dibuat khawatir karena Aika terus memegangi lehernya seperti kesakitan. Dan kekhawatirannya semakin bertambah kala melihat wajah istrinya -yang jika ditelisik lebih cermat, sangat pucat dan bibirnya membiru. Didukung dengan Aika yang tidak mau makan dan minum apapun.


"Apa kau sakit, Putri?" tanya Pangeran Noya penuh perhatian.


Aika mengangguk tak menutupi. Tapi, itu justru membuat Pangeran Noya berkerut curiga. "Apa perlu ku panggilkan Tabib?" Tanya Pangeran Noya datar, menutupi rasa curiganya.


"Tidak, aku baik-baik saja." Jawab Aika kalem, suaranya bahkan hampir menghilang diakhir kalimatnya.


Meski tak menampik ada rasa curiga karena Aika seperti menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi, Pangeran Noya memilih untuk percaya saat ini dan diam-diam menyelidiki kondisi tak normal Aika nantinya.


.


.


.


Khawatir dengan kondisinya yang semakin memburuk, Aika memanggil Kapten Mitsuki untuk menemuinya di pagi buta.


"Kageyama ada sesuatu yang aneh padaku. Aku bermimpi dikejar-kejar ular besar dan berakhir digigit pada nadiku dan semalam aku dililit ular hingga hampir mati tercekik." Jelas Aika panjang lebar.


Kapten Mitsuki terdiam tak merespon. Otak cerdasnya sedang berpikir keras dan menemukan sebuah keganjilan disana.


"Bahkan muncul tanda aneh diperpotongan leherku." Tambah Aika.


"Bolehkah saya melihatnya?" Pinta Kapten Mitsuki dengan sopan. Kapten Mitsuki yang berpengetahuan luas langsung tahu jika Aika terkena guna-guna saat melihat tiga tomoe yang di lingkari api hitam itu adalah sebuah simbol kutukan.


"Apa Anda pernah mendengar tentang ilmu hitam, Putri?"


Aika berkerut tidak mengerti, "Apa itu yang terjadi padaku?" Tanyanya memastikan.


Kapten Mitsuki mengangguk sekilas, "Dan Anda tahu benar siapa yang mengirimkannya!"


Aika tersenyum, seolah mudah mengira siapa musuh yang dapat melakukan tindakan pengecut seperti ini. "Ya!"


Hening beberapa saat. "Lalu, bagaimana aku melawan kutukan ini, Kapten Mitsuki?" Tanya Aika tak lagi bersikap terlalu formal.


"Kurasa kita harus meminta petunjuk dari Tuan Uroko."