
Desa Bulan, Provinsi bagian Utara Sawamura
Seluruh pasukan Negara Angin telah dikirim kembali untuk merebut Chuubu dari tangan pasukan Sawamura. Namun, perhitungan itu tentu saja salah. Karena tiba-tiba Norio kembali bersama tiga ribu pasukannya menyerbu masuk ke dalam Desa Bulan yang sudah kosong.
Banna yang ternyata masih tinggal disana terkejut saat dirinya diringkus bak tikus terpojok dan langsung ditahan dan dimasukkan kedalam penjara.
Pasukan Sawamura berhasil merebut kembali Desa Bulan dan menancapkan bendera Negara Api dan Sawamura disana.
"Bawa separuh pasukan Sawamura dan Nakashima untuk membantu ke Chuubu!" Perintah Norio pada pasukannya.
Semua pasukan segera memecah dan tergesa menuju Chuubu dengan pacuan kuda. Ukai yang berada dibarisan pasukan ikut memacu kuda cepat guna bertemu dengan kroninya dan juga seseorang yang sudah dijanjikannya untuk dilindungi.
Pasukan tambahan dari Desa Bulan tiba saat hampir separuh tentara Negara Angin telah gugur. Mereka berperang habis-habisan dan akhirnya memenangkan perang dan berhasil mengamankan perbatasan.
.
.
.
Satu jam kemudian...
Di dalam benteng nampak seluruh ksatria Sawamura, Ishikawa, dan Nakashima tengah merayakan kemenangan mereka. Ada yang minum, bersenda gurau, bernyanyi, mengobati luka, melamun, tidur, ada pula yang meratapi nasib, atau bahkan menangisi rekan mereka yang tewas dan/atau masih banyak lagi.
Mengalihkan perhatian ke sudut yang lain terlihat Daiki nampak marah sambil menatap galak Lee.
"Kebodohanmu telah membuat Kerajaan Sawamura kehilangan 12 ksatria hebat dari kroniku!" omel Daiki menatap sengit Lee.
"Maaf!" Hanya kata inilah yang bisa Lee ucapkan sebagai pembelaan atas dirinya.
"Apa dengan maafmu mereka yang telah terbunuh akan kembali hidup?" Tanya Daiki masih dengan nada kebencian yang kentara.
Lee hanya semakin menunduk dalam mendengar ucapan Daiki yang semakin mengecilkan hatinya. Namun, tepukan pelan pada bahu Lee mengejutkannya dan membuatnya secepat kilat menoleh kebelakang.
"Cukup, Lee! Semua akan baik-baik saja!" Kata Ukai menenangkan anak buahnya itu.
Daiki yang melihat Ukai membela Lee menatap tidak suka padanya. Daiki bahkan berdecih keras saat Ukai meminta Lee kembali bersama rekannya yang lain.
"Ini belum selesai Ukai! Kau tinggal pilih, Dia atau Kau yang akan mati?!" Ucap Daiki tanpa meminta sebuah jawaban dan melangkah pergi.
Ukai menghela nafas berulangkali dan kemudian berbalik menuju rekannya yang sedang berkumpul. Ukai memperhatikan semua rekannya untuk memastikan tidak ada yang kurang dari anggotanya. Namun, matanya segera membola saat menghitung anggotanya yang ternyata tidak lengkap.
"Hanya tinggal kalian? Di mana yang lain?" Tanya Ukai dengan nada yang dibuat senormal mungkin, untuk menutupi kegelisahannya.
"Biarpun hanya kami yang berhasil bertahan, tapi tentara musuh jauh lebih banyak yang mati." Kata salah satu ksatria mewakili rekannya yang lain.
"-Aika?" Sambung Ukai lirih saat berhasil menguasai dirinya.
"Dokku terluka dan sedang ditangani tim medis disebelah sana-" Jelas Kou menunjuk kearah Dokku. Ukai menoleh kearah yang ditunjuk Kou dan menemukan Dokku berbaring dengan berbagai perban ditubuhnya.
"-Roshi sedang makan disana, dan Inari tidur disebelah sana!" Lanjut Kou lagi menunjuk Roshi dan Inari. Ukai yang melihat keduanya baik-baik saja sedikit menghembuskan nafas lega.
"Tapi, aku tidak melihat Aika sejak satu jam yang lalu." Kiyoshi ikut menyahut dan ucapannya berhasil membuat wajah Ukai pucat pasi seketika.
"A..apa?" Gagap Ukai masih setengah shock.
"Eh, tapi bukankah tadi Lee bersama Aika?" Tanya ksatria lain pada Kou dan Kiyoshi.
Kou dan Kiyoshi mengangguk bersamaan. Bodoh! Kenapa mereka berdua baru ingat kalau tadi Lee berpasangan dengan Aika. Kou langsung menerjang Lee yang masih nampak kalut dengan pikirannya.
"Hei, Lee! Di mana Aika?" Tanya Kou, namun dianggap angin lalu oleh Lee yang masih sibuk melamunkan rasa bersalahnya atas tewasnya rekan-rekan yang lain akibat kebodohannya.
"Hoi, Lee!" Panggil Kou lagi sedikit keras. Namun, nihil Lee tetap bergeming.
"LEE!" Suara Kou naik satu oktaf bersamaan dengan jitakkan keras di rambut punk kebanggaan Lee.
"Akh!" Teriak Lee keras dengan tangan yang spontan mengusap kepalanya yang benjol.
"Ada apa Kou?!" Tanya Lee dengan nada sebal yang terdengar jelasm
"Ada apa kau bilang? Seharusnya aku yang bertanya begitu!" Sembur Kou mencoba menahan diri agar tidak lagi menjitak kepala Lee.
Ukai yang geram karena melihat pertengkaran bodoh yang tidak penting itu, maju untuk menengahi sekaligus bertanya tentang Aika.
"Lee, di mana Aika?" Tanya Ukai langsung pada intinya, dengan nada datar dan terkesan dingin. Membuat Kou yang tadi mengomel langsung menutup mulut rapat saat merasakan aura suram milik Ukai.
"Aika?" Kata Lee balik bertanya.
"Ya, Ai-"
"Diam, Kou!" Seru Ukai memotong ucapan Kou. Kou yang merasa semakin takut segera mengambil langkah seribu untuk menjauhi Ukai.
"Aku tidak tahu. Aku tidak bersama-" ucapan Lee terpotong saat memori sempitnya memutar kilas balik dimana ia meninggalkan Aika begitu saja dibawah benteng.
"Astaga! Aika masih diluar!" Seru Lee heboh, membuat semua ksatria di dalam benteng menatapnya dengan berbagai macam tatapan.
Ukai yang berhasil mencerna ucapan Lee segera berlari keluar benteng untuk mencari Aika yang sudah hilang selama hampir satu jam. Kakinya ia bawa lari tak tentu arah dan pencarian pun dimulai.
To be Continue...