
Matahari pagi bersinar sedikit redup di dalam hutan. Bau tanah basah akibat lembabnya curah hujan tercium menusuk di hidung. Rumput hijau sedikit melayu akibat terjangan kaki-kaki yang melewatinya.
Empat orang pengawal dan keempat ksatria tertidur lelap di pos mereka. Bahkan para Pangeran pun juga tak ada yang menyadari bahwa ada yang telah hilang dari mereka. Mimpi indah atau ilusi hutan barat telah membuat mereka lupa daratan hingga hampir setengah hari lamanya.
Deru langkah kaki kuda memasuki kawasan perkemahan para Pangeran Sawamura. Tubuh seorang pria penunggang kuda dengan kimono berburu berwarna maroon itu turun dari kudanya. Tanpa basa-basi ia meminta dua pengawalnya membangunkan seluruh penghuni perkemahan itu.
Tak berselang lama semua telah terbangun dan sedikit bingung dengan suasana disekitarnya. Para ksatria berdiri di belakang tuannya masing-masing. Mereka membungkuk kearah Pangeran Mahkota Ishikawa yang baru saja tiba.
"Astaga! Inikah yang kalian maksud dengan berburu?" cemooh Akira memandang penuh sindiran keempat orang Pangeran Sawamura yang masih berbalut kimono tidur.
"Apa maksudmu?!" seru Rei tidak suka dengan ucapan dan tatapan si merah.
"Lihat!" tunjuk Akira kearah pakaian para Pangeran di depannya.
"Memangnya kenapa? Toh ini masih pagi." celetuk Riyu santai sembari menguap.
"Pagi? Kalian yakin? Setahuku aku datang saat matahari hampir tenggelam." sindir Akira lagi dengan seringai menyebalkan, dagunya menunjuk ke arah matahari yang telah condong ke barat.
Semua mata otomatis melihat arah yang di tunjuk dagu Akira. Ada berbagai macam ekspresi yang ditunjukkan.
"Kenapa bisa kita terlambat bangun? Ini bahkan sudah sore." ucap Riyu dengan wajah tidak percayanya.
"Aku rasa ada yang salah dengan letak matahari di hutan ini." celetuk Ren mencoba berkilah.
"Ya terserah." seru Akira cuek, memutar bola matanya bosan.
"Sudahlah, sebaiknya kita berburu sekarang sebelum matahari tenggelam. Bagaimana?" usul Rei meminta persetujuan.
"Kupikir itu tidak perlu. Aku sudah berburu rusa besar sebelum kemari. Aku pikir, aku akan terlambat datang. Jadi, aku berburu lebih dulu." sahut Akira menyebalkan. Ia memberi tanda pada pengawal yang membawa rusa hasil buruannya untuk segera di potong dan di bakar agar segera dapat di makan.
Para Pangeran mau tak mau ikut membantu, bagaimanapun mereka cukup tertolong dengan Akira yang membawa hasil buruannya. Toh, sebenarnya mereka juga sangat lapar karena hampir seharian mereka tidak makan.
"Ada apa, Kak?" tanya Riyu heran melihat raut kekhawatiran dari wajah kakak sepupunya itu.
"Noya dan ksatria-nya menghilang!" seru Daichi, ia kemudian berdiri dan menerobos tenda Noya dan tidak menemukan apapun disana.
"Mungkin mereka masih berburu." ucap Rei kalem, mencoba menenangkan Daichi.
"Entahlah, aku punya firasat buruk tentang ini." kata Daichi dengan raut wajah gusar.
Hiro yang melihat raut wajah tuannya seperti kaleng remas mencoba mengambil inisiatif.
"Saya akan mencari mereka sebelum gelap, Daichi-sama. Perintahkan saya!" pintanya.
Daichi menoleh, menatap Hiro yang menundukkan kepala kearahnya. Baginya Hiro bukan hanya ksatria-nya, namun sudah seperti bayangan dari diri Daichi sendiri. Tanpa mau membuang waktu, Daichi segera memberi titah untuk Hiro.
"Cari mereka untukku, Hiro! Dan kembalilah saat matahari telah tenggelam. Hutan barat terlalu berbahaya saat malam hari." perintah Daichi. Meski ia sangat mengkhawatirkan adik kesayangannya itu, tetap saja ia tak ingin kehilangan seorang sahabat seperti Hiro.
Hiro mengangguk dan berojigi sebelum melangkah pergi.
"Tunggu!" ucap Ren menghentikan langkah Hiro.
Hiro berhenti, lalu berbalik menghadap Ren.
"Bawa Han bersamamu!" perintah Ren sambil menunjuk Han, ksatria-nya.
"Kurasa kalian bisa membantu. Semakin banyak semakin cepat kita menemukan mereka, kan?!" usul Akira menunjuk seluruh ksatria Sawamura.
Semua Pangeran Sawamura mengangguk. Mereka memerintahkan para ksatria-nya untuk ikut bersama Hiro mencari Aika dan Noya.
To be Continue...