
Gadis itu mengangguk, dengan perlahan ia membuka tudung kepalanya terlebih dahulu kemudian menarik salah satu sisian cadar. Perlahan-lahan wajah gadis itu nampak, memperlihatkan pipi halus yang kemerah-merahan, hidung mancung yang pas, serta bibir cherry yang merah merekah.
Semua orang kembali di buat menganga dengan rahang hampir jatuh dan bola mata yang siap keluar dari tampuknya ketika melihat dengan jelas wajah di balik cadar itu.
Berbeda dengan wajah horor seluruh kepala di aula keluarga. Kedua pria Kaguya itu justru tersenyum saat kembali dapat melihat wajah yang dirindukan mereka itu.
.
.
.
"A..Ai..ka?"
Gadis yang di panggil Aika itu menoleh. Wajah cantiknya nampak pada pandangan Pangeran Nishinoya saat ia menoleh dengan senyum yang sama seperti pemuda yang dulu dikenalnya. Ia masih setengah tak percaya dengan penglihatannya.
Pemu- Tidak! Gadis yang dikiranya menghilang selama lebih dari 3 bulan itu kini kembali dengan identitas barunya. Pertama, pria menjadi wanita; lalu ksatria menjadi seorang Putri kerajaan. Dan semua kejutan itu terlalu sulit di cerna bagi otak cerdas Pangeran Noya.
Dan lagi apa yang terjadi selama 3 bulan sebelumnya hingga ia pergi dan membuat Pangeran Noya hampir gila, kemudian datang dengan segala sesuatu yang sulit dijabarkan.
Saat ini kedua pengantin baru itu sedang berada di Paviliun Barat lebih tepatnya kamar pribadi milik Aika. Tadinya Aika seorang diri setelah menghadiri acara pengenalannya -yang tidak berjalan lancar karena semua orang tiba-tiba membatu.
Lalu, Pangeran Noya datang dengan wajah anehnya dan sekarang sedang berdiri tepat di muka pintu.
"Ada apa, Pangeran Mahkota? Masuklah!"
Bergeming, Pangeran Noya entah kenapa merasa kakinya seolah tertancap dalam menusuk bumi hingga rasanya sulit untuk hanya sekadar bergerak.
Melihat tak ada perubahan, Aika mengambil inisiatif menarik Pangeran Noya untuk masuk ke dalam kamarnya. Ajaib! Tubuh itu seolah bak kapas yang menuruti siapa saja yang meniupnya. Termasuk saat di tarik Aika menuju tempat duduk.
Aika menghembuskan nafas berat saat di rasa Pangeran Noya tetap bungkam meski mereka sudah duduk berdua dan berhadapan pula.
"Pangeran?"
Panggilan Aika tak di respon balik. Sehingga suaranya hanya bagaikan angin lalu yang mengisi kekosongan malam. Dan setelahnya ia ikut terdiam tanpa ada kata yang terucap lagi sebelum lawan bicaranya mengajukan tanya.
"Hah~!" Percuma mengharapkan gunung es berbicara, jadi...
"Pangeran Noya! Apa kau tahu-"
"Jelaskan padaku! Semuanya!" Tuntut Pangeran Noya dengan tatapan intens pada Aika. Memotong ucapan gadis itu begitu saja.
Aika tersenyum, "Apa yang ingin kau tahu, Pangeran?" Tanyanya manis.
Aika mengerling sebagai jawaban.
"Tunggu! Siapa kau sebenarnya?" Tanya Pangeran Noya ambigu. Membuat Aika mengernyit dan mempoutkan bibirnya bingung.
"Ah! Begini Noya, bagaimana ya menjelaskannya?! Umm.. sebenarnya pertemuan pertama kita adalah saat di dalam hutan, kau ingat?"
"Aku mendengar sesuatu! Apa kau tak mendengarnya, Pangeran Noya?"
Pangeran Noya yang ditanya sang kakak segera menajamkan seluruh panca indranya. Samar-samar ia bisa mendengar apa yang didengar oleh kakaknya. Ia kemudian mengangguk membenarkan ucapan sang kakak. Masih memasang mata dan telinga, keduanya mencoba mencari tahu dimana bunyi itu berasal. Kedua Pangeran Sawamura itu saling berpandangan, mengangguk, kemudian mengarahkan kuda mereka ke asal suara. Tanpa ba-bi-bu para prajurit segera mengikuti kedua Pangeran tersebut.
Jleb.. Jleb.. Jleb
"Ugh, sial~ kenapa panahku meleset?!" gerutu seorang gadis sambil mempoutkan bibir bawahnya beberapa centi.
"Bukankah tadi sudah berhasil? Kenapa sekarang gagal?" gadis itu terus menggerutu namun tangannya tetap mengarahkan anak panahnya menuju sasaran yang berjarak beberapa meter di depannya. Matanya memicing menatap arah sasaran. Sampai...
Wink.. Wink..
"Semoga aku selalu di lindungi oleh Tuhan." rancau gadis itu memalingkan wajahnya (yang tiba-tiba menjadi pucat) dari mata onyx yang sempat dilihatnya. Gadis itu terus merancau tidak jelas seolah-olah baru saja melihat momok yang paling ditakutinya. Dengan tergesa ia segera melangkahkan kedua kakinya meninggalkan tempat latihan, dan berlari semakin masuk ke dalam hutan.
"Huaaaaa~ Hantuuuuu~!!!" teriaknya sebelum menghilang ke dalam hutan gelap.
"Bagaimana, Pangeran Noya? Apa kau melihat sesuatu?" Pangeran sulung bertanya pelan. Pangeran Noya menggeleng dan menjawab, "Bukan apa-apa! Sebaiknya kita segera melanjutkan perjalanan!"
Pangeran Daichi hanya mengangguk dan berjalan di belakang adiknya (yang melangkah pergi lebih dahulu) tanpa sempat mempertanyakan perihal gadis yang berteriak tadi.
Pangeran Noya mencoba mengingat pertemuan pertamanya dengan Aika. "Kau gadis yang berlatih panah itu?"
"Ya, dan saat kita kembali bertemu di Desa Arang aku sedikit lupa." Terang Aika dengan menekuk ibu jari dan telunjuknya saat mengucapkan kata sedikit. Tak lupa senyum bodoh yang terlukis di wajahnya.
Sapphire dan Onyx bertemu.
Aika mengernyitkan dahi, merasa tidak asing dengan mata hitam di depannya. Seakan konslet otaknya tiba-tiba tidak bisa mengingat. Tak mau ambil pusing Aika membiarkan pertanyaan itu berlalu.
Pangeran Noya mengangguk, sebenarnya ia juga tak ingat, jadi anggap saja impas. "Lanjutkan!"
"Sebenarnya aku tinggal di desa hanya untuk melindungi desa itu yang sama sekali tak mendapat perhatian kalian..."
"...jadi, saat Aku mengatakan menjadi seorang Jendral itu sebenarnya bohong. Hehehe." Kekeh Aika garing yang sukses mendapat delikan tajam dari Pangeran Noya.
"Dan yang lebih parah aku dianggap pemuda, padahal sudah jelas aku tinggal di desa para wanita dan... Hei! apa wajahku tidak terlihat cantik?" Tunjuk Aika pada wajahnya, ekspresinya sedikit menunjukkan pesakitan.
Pangeran Noya tersenyum, hingga deretan gigi atasnya terlihat. Merasa geli dengan ekspresi wajah Aika saat ini.