The Great Princess

The Great Princess
Ep. 48



Gerbang Utama Istana Kaguya, Negara Air


Dua orang berbeda gender dengan santai memasuki kawasan istana. Kedua langkah berbeda itu terhenti sejenak sekedar menatap pahatan kastil megah dihadapan mereka.


Tak lama mereka meneliti Kastil yang hampir separuh hidup mereka huni itu. Seorang wanita berambut pirang menatap pria yang juga tengah menatapnya.


Tanpa ada kata keduanya kembali melangkah masuk dan menemukan seorang pria dewasa yang telah siap menyambut kedatangannya.


"Selamat Datang!" Sapanya ramah pada kedua tamu istimewanya itu.


Keduanya mengangguk sebagai respon. Dan kembali masuk semakin ke dalam kastil setelah si pemilik mempersilakan.


Mereka kembali berhenti setelah ketiganya sampai disebuah ruangan santai yang beralaskan tatami dan meja kecil serta bantalan duduk sebagai pemanis.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya si pria basa-basi. Menatap penuh rindu pria dewasa dihadapannya.


"Aku baik!" Jawabnya tenang, tangannya sibuk menuangkan ocha ke dalam cawan tamunya.


Si pria mengangguk mengerti. Lalu, mengambil cawan ocha dan membawanya kedepan bibir kemudian menenggak dalam sekali teguk.


"Bagaimana dengan adikmu?" Kali ini suara si wanita yang terdengar. Nampak sekali keingintahuan dalam ekspresi dan juga nada bicaranya.


"Kurasa dia baik." Ada nada keraguan disana. Yang sukses mendapat kernyitan dalam dari si wanita.


"Dia tidak disini?" Si wanita mulai menengokkan kepala ke kanan dan ke kiri, guna mencari gadis yang tengah mereka bicarakan.


Pria muda itu menggeleng, "Tidak, dia sudah pergi!" Ucapnya santai kembali menuang ocha lalu meminumnya.


"Kau sudah memulainya, Pangeran Akashi?" Tanya pria paruh baya di depannya dengan sebelah alis terangkat.


"Ya."


"Kena-"


"Tenanglah! Ada Tuan Uroko dan Tuan Tsuki yang menjaganya." Potong pria itu cepat, yang sukses mendapat tatapan tidak percaya dari satu-satunya wanita disana.


"Aku tidak membiarkan diriku ditahan selama hampir 12 tahun hanya untuk melihat Putriku dikorbankan begitu saja!" Protes si wanita keras. Mulai menitikkan air mata.


Kedua pria berbeda usia itu gelagapan. Demi apapun keduanya tidak ingin wanita yang disayangi mereka itu bersedih bahkan hingga menitikkan air mata.


Akashi berjalan mendekati wanita itu kemudian merengkuhnya dalam dekapan hangat. "Jangan menangis, Bu!" Bisiknya menenangkan.


"Dia pasti baik-baik saja. Aku bahkan sudah mendengar kabar pernikahannya yang akan berlangsung dua hari mendatang." Lanjut Akashi dengan usapan menenangkan ditubuh wanita yang telah mengasuhnya itu.


"Kalau begitu ijinkan aku ikut!" Pinta wanita itu menatap pria yang juga sedang meliriknya dengan tatapan memelas.


"Aku sudah menunggu selama 12 tahun. Apa penantianku masih belum cukup, Hiruko?" Tanya Reiko putus asa. Menatap penuh pesakitan pada suami yang telah menikah dengannya hampir 10 tahun itu.


"Tidak! Kau hanya perlu bertahan sebentar lagi." Kata Hiruko kalem, kemudian beranjak. Namun, saat baru beberapa langkah Hiruko kembali menambahkan, "Akashi bersiaplah! Kita akan berangkat menghadiri pernikahan adikmu." Kemudian tubuhnya hilang tertelan pintu.


"Ibu?"


Reiko mendongak, menatap sendu wajah orang yang memanggilnya itu. Akashi tersenyum, "Ayo, istirahat!" Ajaknya, kemudian diiringi perginya Ibu-Anak itu menuju peraduan.


.


.


Kerajaan Sawamura, Negara Api


Saat ini seluruh penghuni istana Sawamura tengah disibukan dengan adanya persiapan untuk pernikahan agung Pangeran Mahkota Sawamura. Meski persiapan telah 100% rampung, namun masih banyak persiapan lain yang harus dipastikan tak akan menjadi kendala nantinya.


Tak berselang lama pernikahan agung itu berlangsung dengan hikmat dan khusyu serta berjalan dengan lancar. Tak ada acara rempong yang diharuskan mencium atau melakukan "hal-hal aneh" karena Pangeran Noya tak mungkin mau melakukan hal yang dianggapnya tabu itu.


Pengantin bermarga Kaguya itu masih disembunyikan wajahnya. Mengamit lengan seorang pangeran yang kaku dan tak tersentuh. Dibalik penutup wajahnya, ia melirik sekilas wajah suaminya. Nampak kosong dan hampa. Sejenak ia merasa tak nyaman. Sesakit itukah Pangeran Noya ditinggalnya? Tanyanya dalam hati.


Bahkan hingga segala ritual pernikahan usai pun, ia dan suaminya itu tak melakukan kontak yang berarti. Hingga seusai ritual, gadis itu dibawa masuk untuk persiapan pengenalan pada anggota keluarga Sawamura pun Pangeran Noya masih bergeming.


Dan saat ini seluruh keluarga besar Sawamura beserta kedua kroninya (Ishikawa dan Nakashima) sedang berada di aula khusus keluarga. Sedang apa mereka disana? Tentu saja menyambut gadis yang telah resmi menjadi bagian dari keluarga besar mereka beberapa waktu lalu.


Namun, hampir setengah jam lamanya si pemeran utama tak jua menampakkan batang hidungnya. Membuat semua orang menunggu dengan berbagai macam emosi yang tak jua dipuaskan.


Justru si pengantin baru nampak tenang-tenang saja ditempatnya, seolah tak terpengaruh oleh atmosfir aneh yang merebak disekitarnya.


Cklek!


Suara pintu dibuka terdengar. Tanpa sadar membuat hampir seluruh penghuni ruangan menahan nafas serentak. Namun, buru-buru menghela nafas kecewa saat pembawa pesanlah yang memasuki ruangan.


"Yang Mulia, Kaisar dari Negara Air datang berkunjung." Lapor si pembawa pesan dengan tubuh membungkuk 45°.


Kaisar Hideki menaikan sebelah alisnya, "Siapa katamu?" Tanyanya mencoba memastikan pendengarannya yang barangkali salah.


"Raja dari Negara Air. Kaguya Hiruko beserta Pangeran Mahkota Kaguya Akashi datang membawa beberapa hadiah, Yang Mulia."


Hideki mengangguk mengerti, "Antar mereka kemari!" Perintahnya yang segera disambut anggukan oleh si pembawa pesan.


Bersambung...