The Great Princess

The Great Princess
Ep. 45



Brak! Prang! Pyarrr!


Suara benda pecah belah terdengar di seluruh ruang kamar seorang Putri dari Kerajaan Sawamura. Lebih tepatnya menantu pertama milik Dinasti Sawamura.


"Cih! Bahkan setelah sejauh ini usahaku tetap sia-sia!" Maki sebuah suara entah pada siapa.


"Tenanglah, Putri. Kemarahan tidak akan menunjukkan sebuah jalan keluar." Si kepala pelayan memberanikan diri memberi nasihat. Namun, segera dihadiahi sebuah delikan tajam oleh tuannya.


"Tenang? Kau meminta aku untuk tenang?!! Gadis itu! Siapa dia sebenarnya!?" Tanya Putri Masako geram sekaligus kesal setiap kali mata safir itu terlihat menghina dirinya.


"Aku mendengar ia berasal dari Negara Air, Putri." Jelas Yutaka sedikit bergindik saat melihat wajah marah Putri Masako.


"Negara Air?" Tanya Putri Masako lagi saat mendapati suatu keanehan. Untuk apa gadis itu jauh-jauh datang kemari? Apa ia memang berniat menjadi Permaisuri Dinasti Sawamura? Dan segala pemikiran-pemikiran itu semakin membuat Putri Masako terbakar api kemarahan.


"Ya, dia datang sebagai perwakilan dari Provinsi Kinki." Celetuk Yutaka menjawab kebingungan Putri Masako.


"Kinki?" Gumam Putri Masako sembari berfikir entah apa.


"Putri, anda mau kemana?" Tanya Yutaka saat melihat Putri Masako bergegas keluar dari kamarnya.


.


.


.


Istana Shimura


Brakkk!


Suara pintu didobrak kasar terdengar. Putri Masako semakin mengetatkan rahang tatkala melihat pemandangan erotis yang tersuguh apik di depan matanya ketika ia membuka pintu kamar milik sang paman.


"Paman!" Panggil Putri Masako dingin. Membuat Dotto seketika memicingkan mata kearahnya.


"Ada apa?" Balas Dotto santai, tetap melakukan aktivitas 'sumo'-nya.


"Aku ingin bicara!" Sengak Putri Masako dengan nada yang masih sama.


"Aku mendengarkan."


"Cih! Selesaikan dulu urusanmu. Aku tunggu di tempat biasa!" decihnya jijik bercampur kesal, Putri Masako kemudian berlalu pergi setelah kembali membanting pintu shoji yang tidak berdosa itu.


.


.


.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Dotto menyandar pada sisian dinding kamar Putri Masako di istananya.


Dotto melangkahkan kakinya mendekati Putri Masako yang nampak tenang dengan ocha ditangannya. Ia mendudukkan diri tepat dihadapan Putri Masako setelahnya.


Lama keduanya tetap dalam posisi yang sama dan keheningan yang sama pula. Sampai Dotto membanting cawan ocha milik Masako yang memecah keheningan diantara keduanya.


Pyarrr!!


Putri Masako menatap tajam paman sekaligus kekasih gelapnya itu. "Apa maumu?" Tanyanya ketus.


"Kau tahu benar apa alasanku melakukannya." Dotto membuat alasan yang kontras dengan pertanyaan Masako. Dan dengan tenang mengambil cawan lain dan mulai menyeduh ocha.


Putri Masako kembali bungkam, enggan menanggapi ataupun sekadar berbasa-basi pada pria tua itu.


"Untuk apa kau datang kemari?"


"Kinki! Siapa gubernur yang bertugas disana?" Tanya Putri Masako sedikit ketus. Nampak masih kesal karena baru saja memergoki pamannya itu bermain dengan salah seorang wanita penghibur.


Dotto menaikkan sebelah alis. Terlihat jelas raut kebingungan di wajahnya.


"Ck! Ayolah, Paman! Aku harus segera kembali sebelum Pangeran Daichi tahu aku kabur dari istana." Decak Masako mendesak sang paman untuk segera menjawab keingintahuannya.


"Maeda Tomoe." Jawab Dotto singkat. Tak ambil pusing dengan alasan Masako yang tiba-tiba bertanya tentang salah satu anggota kroninya itu.


"Apa dia sudah menikah?"


"Entahlah, kurasa belum."


"Lalu siapa gadis itu?" Gumam Masako saat mengingat kembali gadis bermanik safir itu.


"Gadis?" Kali ini nada suara Dotto sedikit menunjukkan ketertarikan.


Putri Masako memutar bola mata jengah saat telinganya mendengar dengan jelas nada penuh ketertarikan itu.


"Ya, gadis dengan mata biru itu." Jelasnya tak mengindahkan sorot keingintahuan Dotto.


"Oh, dia cukup merepotkan untukmu begitu?" Tebak Dotto tepat sasaran.


Mau tak mau Masako mengangguk mengiyakan ucapan pamannya itu.


"Biarkan saja. Toh, gadis itu hanya akan mendapatkan harapan kosong dari Pangeran bodoh itu." Terang Dotto mencoba melapangkan hati Masako.


Masako mengerutkan kening. Mencoba mencerna ucapan pamannya itu. Namun, kemudian ia mengangguk samar tanda setuju-setuju saja.


"Jangan terlalu berpikir keras. Kau harus memperhatikan keadaanmu dan perlakukan mereka seperti biasanya." Usul Dotto dengan seringai misteriusnya, yang dengan segera menular pada Putri Masako.


Bersambung...