
Istana Shimura
"Ah~ hah~ uhmm lebih kerashh! Yahh~ uhh~"
Terdengar desahan ambigu dari sebuah kamar yang dipenuhi oleh intrik antar keponakan yang memiliki hubungan gelap dengan pamannya.
"Sshhh~" sebuah geraman tertahan ikut meramaikan suasana malam yang semakin pekat.
"AAHHHH~"
Hingga desahan yang diiringi sedikit teriakkan mengakhiri suara-suara aneh di malam itu.
"Ada apa, Paman?" Tanya Putri Masako bingung ketika Dotto langsung turun dan melepaskan penyatuan mereka begitu saja. Padahal biasanya mereka akan melakukannya hingga pagi menjelang siang.
"Ada yang ingin kutunjukkan padamu!" Sahut Dotto yang sudah hampir sampai pada laci mejanya. Ia kemudian kembali ke ranjang dan menyerahkan sesuatu pada Putri Masako.
"Bacalah!" Perintahnya.
Putri Masako membaca cepat deretan kanji yang tertulis apik pada kertas gulungan di tangannya. Seketika wajahnya terpahat sebuah senyum misterius yang persis milik wanita gila yang haus akan dahaga.
"Benarkah ini, Paman?" Tanyanya tak sedikitpun menyembunyikan rasa senangnya.
Dotto mengangguk sekali. "Jika kau ingin berperang kau membutuhkan strategi. Tapi, sebelum strategi dibuat kau harus menyelidiki dulu siapa lawanmu." Terangnya yang kemudian duduk menghadap selangkangan Putri Masako.
"Apa imbalan yang Paman inginkan?" Tawar Putri Masako seolah hapal gelagat sang Paman.
"Aku ingin bertemu dengan Putraku!" Jawab Dotto yang sudah mengelus perut buncit Putri Masako. Tanpa menunggu lebih lama ia kembali melesakkan p****nya pada liang surga milik Putri Masako dan keduanya kembali larut dalam kenikmatan dunia.
.
.
.
.
Paviliun Barat, Istana Sawamura
Suara hembusan angin sepoi-sepoi menghantarkan suara dawai-dawai cinta hingga berterbangan keseluruh penjuru kamar milik Pangeran Mahkota Sawamura.
Pangeran Nishinoya POV
Aku duduk di samping orang yang kucintai, dan aku mendengarkan kata-katanya. Jiwaku mulai mengembara di wilayah yang tak terbatas di mana alam tampak seperti mimpi, dan tubuh bagaikan sebuah penjara yang sempit.
Seorang gadis bertahtakan emas meliuk-liukan jemarinya di atas dawai-dawai kecapi, mengalunkan sebuah lagu cinta bagi si pendengar.
Suara Kekasihku yang mempesonakan memasuki relung hatiku.
Inilah Musik, wahai teman, karena aku mendengarnya melalui napas panjang dari orang yang kucintai, dan melalui kata-kata itu, yang setengah-terucap di antara kedua bibirnya.
Dengan mata pendengaranku aku me...
Seruan protes -karena imajinasinya terpotong, dari si pemilik kamar menarik atensi sang istri untuk menengok barang sejenak.
"Tidakkah ini membosankan?!" Balas gadis itu menyuarakan tanya.
Pangeran Noya menggendikkan bahu, "Kemari!" Perintahnya menepuk sisian kosong di tempat tidurnya.
Putri Aika menjauh dari kecapinya dan mulai memposisikan tubuh berbaring menghadap sang suami.
"Aika?" Panggil Pangeran Noya kemudian, setelah mereka terdiam cukup lama.
Aika mengerling sekilas. Tangannya sibuk memutari dada Pangeran Noya.
"Apa kau tak ingin memiliki seorang anak?" Tanya Pangeran Noya setelah jeda panjang dari panggilannya.
Aika mendongak, kebingungan jelas tercetak pada wajah ayunya. "Kau mau?" Tanya Aika akhirnya, sejujurnya pertanyaan ini adalah pertanyaan yang tak ingin ia tanyakan untuk sekarang. Karena ambisi balas dendamnya masih belum di mulai, dan seorang anak akan menghalangi semua rencananya nanti.
Pangeran Noya mengangguk, "Hn." Gumamnya.
Hening. Aika mulai menimbang, hingga sebuah keputusan telah ia buat. Biarlah ia pasrahkan diri untuk sekarang, ia bisa mencegah kehamilan itu nantinya. Dengan begitu setidaknya ia tak menyakiti hati Pangeran Noya lebih jauh.
"Kau ingin seorang Putri atau seorang Putra?"
"Putri yang cantik sepertimu pasti akan menggemaskan." Jawab Pangeran Noya menerawang jauh. Sedikit senang karena ajakannya tak lagi mendapat penolakan dari wanitanya.
"Jadi?" Tanya Aika dengan sebelah alis terangkat.
"Tapi, aku ingin seorang Putra sulung darimu!" Putus Pangeran Noya akhirnya. Memandang penuh cinta pada istri yang tengah tersenyum padanya itu.
"Kalau begitu lakukan!" Suruh Aika memasrahkan diri.
Pangeran Noya memandang tak percaya pada Aika yang justru menahan senyum geli saat memandangnya. Tak mau membuang kesempatan yang langka Pangeran Noya mulai memajukan tubuh dan mencium lama bibir merah istrinya.
Itu, adalah isapan pertama dari cangkir yang di isi dengan minuman Kehidupan yang sangat lezat oleh sang dewi.
Itu, adalah garis yang membedakan antara Keraguan yang memperdayakan ruh dan yang membuat hati sedih, dengan Kepastian yang membanjiri batin manusia dengan kegembiraan.
Itu, adalah permulaan dari lagu Kehidupan dan tindakan pertama dalam drama Manusia Ideal.
Itu, adalah ikatan yang menyatukan keterasingan masa lalu dengan cerahnya masa depan, pengikat antara kebisuan perasaan dan kidung-kidungnya.
Itu, adalah sebuah kata yang diucapkan oleh empat bibir yang menyatakan bahwa Hati adalah sebuah mahkota, Cinta adalah seorang raja, dan Kesetiaan adalah sebuah takhta.
Itu, adalah sentuhan lembut jari-jemari halus dari angin sepoi-sepoi di atas bibir mawar - yang mengeluarkan desahan panjang pembebasan dan sebuah rintihan yang manis.
Itu, adalah permulaan dari vibrasi magis yang membawa para pencinta dari dunia yang penuh beban dan ukuran menuju dunia mimpi dan wahyu.
Itu, adalah penyatuan dari dua bunga yang harum semerbak, campuran dari keharuman mereka menciptakan jiwa ketiga.
Bila pandangan pertama dari mata sang kekasih bagaikan sebuah benih yang ditaburkan dalam hati manusia, dan ciuman pertama dari bibirnya bagaikan sekuntum bunga di atas cabang Pohon Kehidupan, maka penyatuan dua kekasih dalam perkawinan adalah bagaikan buah pertama dari bunga pertama benih itu.