The Great Princess

The Great Princess
Ep. 34 Berita Buruk



"-Pangeran Noya mereka pasti kembali."


"Tapi, ini sudah tiga hari semenjak kepulangan Daiki dan Tooru, Kak." Suara Noya terdengar putus asa saat menyahut ucapan Daichi.


Daichi yang mendengar jelas nada putus asa sang adik mengembuskan nafas lelah, Daichi berjalan kearah Noya dan menepuk pelan punggung tegap itu.


"Kalau begitu relakan sa-"


"Apa maksudmu!?" Bentak Noya tanpa sadar. "Mana bisa aku membiarkan Aika pergi? Cepat tarik ucapan-mu, kak!" Murkanya.


Daichi yang sadar akan kesalahannya segera meralat ucapannya, "Maaf, Noya! Aku menarik kembali ucapanku!"


Kemudian, Daichi membawa Noya untuk duduk berdampingan dan menyeduhkan teh ocha untuk meredam emosinya.


"Maaf! Aku..." Cicit Noya setelah berhasil mengendalikan emosinya.


"Tak apa, Noya. Sebaiknya kita berdoa saja agar mereka cepat kembali dan dalam keadaan selamat." Papar Daichi mencoba menenangkan Noya yang sedikit terguncang.


Tok! Tok! Tok!


Suara pintu diketuk terdengar dan dibuka pelan. Terlihat Rei memasuki ruang santai dan mendekati tempat yang digunakan untuk Noya dan Daichi duduk.


"Ada berita baik dan buruk. Mana yang ingin kalian dengar lebih dulu?" Tanya Rei setelah menyamankan pantatnya di kursi, dan dengan lancang meminum ocha milik Noya yang dituang oleh Daichi.


"Aku sedang tidak mood dengan berita buruk jadi berita baik saja." Jawab Daichi (dengan sedikit ada nada sebal disana) mewakili keduanya.


Rei mengangguk ringan sebelum menjawab, "Serigala Putih sudah kembali-"


"Benarkah?" Tanya Noya kelewat batas antusias memotong ucapan Rei. Rei mengangguk.


"Kau tidak sedang berbohong, kan?!" Tanya Daichi dengan lirikan penuh kecurigaan.


Rei hanya menggendikkan bahu ringan, "Mereka datang sekitar satu jam yang lalu." Ucapnya santai.


"Kau tidak ingin mendengar berita buruknya?" Tanyanya santai namun terdengar serius kali ini.


Noya menggantungkan tangannya pada gagang pintu. "Apa berita buruknya?" Suaranya sedikit tersangkut saat mencoba mengeluarkan pertanyaan itu.


Entahlah, Noya enggan menerka atau bahkan membayangkan hal buruk apapun saat ini. Ia hanya ingin menyakinkan dirinya sendiri bahwa semua baik-baik saja.


"Dia tidak kembali."


.


.


.


Noya mencoba mempertahankan kewarasannya saat langkahnya ia tuntun menuju kamp ksatria Serigala Putih. Jantung yang bertalu-talu dan lutut yang melemas tak ia rasakan bilamana mengingat ucapan Rei.


Noya mencoba menormalkan deru nafasnya saat ia telah menginjakkan kakinya di depan kamp Serigala Putih. Menutup mata sejenak Noya kembali mencoba meyakinkan diri bahwa saat ia memasuki barak itu ia melihat seseorang yang telah lama dirindukannya.


Namun, angan hanya menyisakan angan. Sejauh mata memandang, secuil celah yang terlihat apa yang diharapkan Noya tak berada di sana. Entah karena apa Noya tiba-tiba merasakan sakit tepat di jantungnya seolah ada yang meremasnya dari dalam.


Ulu hatinya terasa ditusuk oleh ribuan jarum tak kasat mata. Dan seolah kantung empedunya pecah hingga rasa pahit itu menjalar hingga ke rongga mulutnya. Kepalanya juga ikut berdenyut hebat seakan baru mendapat tindihan batu ribuan ton.


Noya hampir saja jatuh terduduk jika saja Daichi tak menopang berat tubuhnya. Daichi melihat wajah adiknya itu dengan pandangan nanar bahkan terkesan tidak percaya. Noya terlihat bak mayat hidup, tak ada kehidupan pada sorot matanya. Hanya ada kegelapan dan kekosongan sejauh apapun Daichi menyelaminya.


"Kita kembali, Pangeran!"


Bahkan ucapan Daichi bagaikan angin lalu untuk Noya. Ia hanya menurut bak manekin yang rela dibawa kemanapun Daichi mau.


To be Continue...