
Pangeran Noya dan ketiga bawahannya berhenti tepat di muka pintu. Kou berinisiatif membukakan pintu dan setelahnya Pangeran Noya masuk.
"Kalian berdua (Kou dan Kiyoshi) tunggu di depan pintu! Jangan biarkan siapapun masuk! Tak ada pengecualian!" Ancam Pangeran Noya dengan desisan mematikan.
"Dan kau, -tunjuk Pangeran Noya pada Yui. Panggil tabib kemari!" Lanjut Pangeran Noya. Setelahnya pintu mahoni itu tertutup rapat menelan Aika dan Pangeran Noya di dalamnya.
.
.
.
.
"Ugh!" Rintih Aika tatkala tubuhnya diturunkan ke ranjang oleh Pangeran Noya.
Pangeran Noya mengusap pipi gadisnya itu, "Bersabarlah, tabib akan segera datang." Setelahnya Pangeran Noya mengecup mesra Aika mulai dari kening, kedua kelopak matanya, hidung, pipi, dagu dan yang terakhir melum*t bibir manis Aika intens.
"Maaf." Ucap Pangeran Noya parau menatap penuh cinta mata sayu istrinya. "Maaf.. Maaf.. Maaf.. Maaf.." Ucapnya beribu kali, kembali menciumi Aika di sembarang tempat yang bisa dijamahnya.
"Noya..." Panggil Aika pelan. Pangeran Noya menghentikan ciumannya yang berakhir di kedua tangan kekasihnya itu. "Aku mencintaimu." Aku Aika penuh cinta, setelahnya ia jatuh terlelap tepat di pangkuan Pangeran Noya.
"Aku juga mencintaimu." Balas Pangeran Noya parau, setelahnya ia mencium pucuk kepala Aika penuh cinta.
Ia memiringkan sedikit tubuh Aika agar punggungnya yang terluka tidak tertindih. Setelahnya ia ikut berbaring dan keduanya pun tertidur saling berpelukan.
.
.
.
.
"Saya permisi, Pangeran." Pamit Shizune (tabib istana) setelah mengobati luka pada punggung Aika.
Pangeran Noya berkedip sekali sebagai respon. Setelah Shizune lenyap dari pandangan mata, Pangeran Noya mendudukkan diri di samping Aika yang sibuk merapihkan nagajuban-nya.
"Sudah lebih baik?" Tanya Pangeran Noya ikut membantu Aika memasangkan nagajuban. Ia mengusap pelan pipi Aika ketika istrinya itu mengangguk.
Hening untuk beberapa waktu.
"Noya-"
"Tidak! Apapun perkataanmu jawabanku tetap Tidak!" Potong Pangeran Noya mutlak. Tangannya tak lagi berada di pipi Aika dan mengepal dipangkuannya.
"Tapi, dia ibumu." Kata Aika kalem memposisikan diri senyaman mungkin berhadapan dengan Pangeran Noya.
"Ibu? Seperti itukah seorang Ibu menghukum anaknya? Jika dia tidak melihatmu setidaknya dia mengingatku sebagai Putranya." Elak Pangeran Noya tak sepaham dengan pemikiran Aika.
"Ayolah, Noya! Beliau hanya memberikan contoh yang baik dan juga menjalankan kewajibannya." Rayu Aika mencoba membuka pemikiran batu Pangeran Noya.
"Kenapa kau membelanya?" Tanya Pangeran Noya tak habis mengerti. Ia marah karena Aika disakiti dan itu juga menyakitinya. Tapi, kenapa Aika tak sejalan dengan pengertiannya.
"Karena dia Ibumu dan Ibuku juga. Beliau adalah wanita yang telah melahirkan, menjaga, dan mendidik suamiku dengan segenap hatinya. Bagaimana mungkin aku membenci Ibu yang telah melahirkan pasangan cintaku? Bagaimana mungkin aku membenci seorang Ibu jika aku juga akan menjadi Ibu suatu hari nanti?" Ucap Aika tulus dari hatinya, yang dengan sukses mengetuk hati Pangeran Noya dan membuatnya hampir goyah.
"Mengertilah Noya, ia tak berniat buruk!" Tambah Aika diiringi sapuan wajahnya pada dada bidang Pangeran Noya.
Pangeran Noya bungkam seribu bahasa, matanya terpejam mencoba meresapi ucapan Aika. Tangannya ia bawa membelai rambut pirang istrinya yang menjuntai indah hingga ke pinggul.
"Pangeran Mahkota, Permaisuri datang berkunjung!"
Kegiatan intim suami-istri itu di interupsi oleh suara pelayan yang mendadak masuk dengan lancangnya.
"Berapa kali harus kukatakan!? Jangan biarkan siapapun masuk!" Perintah Pangeran Noya mutlak. Keputusan telah ia ambil. Jika Aika keras kepala maka Pangeran Noya jauh lebih keras kepala. Jadi, ia tetap pada pendiriannya saat ini.
"Noya, aku mohon!" Pinta Aika memelas, mendongak sekedar untuk melihat Pangeran Noya yang memalingkan wajahnya.
Menghela nafas keras Pangeran Noya berucap, "Terserah! Aku akan pergi saat ia disini." Setelahnya Pangeran Noya melepaskan pelukan Aika dan berniat beranjak. Namun, segera ia urungkan saat suara Aika kembali terdengar.
"Kenapa? Apa kau mau menjadi durhaka hanya karena istrimu?" Tanya Aika sedikit kesal usahanya membujuk tak sedikitpun di respon baik oleh suaminya yang ternyata seratus kali lebih keras kepala darinya itu.
Pangeran Noya menoleh, menatap tajam Aika. "Hanya kau bilang? Kau lebih dari itu!" Ucapnya sarkastik, tidak terima dengan ucapan enteng Aika. Pangeran Noya bahkan perpikir nyawa Aika lebih berharga dari nyawanya sendiri.
"Cukup! Hanya sebatas ini toleransiku, Aika!" Potong Pangeran Noya cepat saat Aika hendak kembali membuka mulut. Ia berlalu pergi saat Permaisuri Chikara sudah memasuki kamar.
Permaisuri Chikara merasa teriris hatinya tatkala Putra kesayangannya berlalu melewatinya dan tak sedikitpun melirik kearahnya. Ia melangkah semakin dalam ketika pintu telah kembali tertutup rapat.
"Aika." Panggil Permaisuri Chikara pelan. Ia mendudukkan diri tepat di kursi di sebelah ranjang Aika. Aika tersenyum sebagai respon.
"Apa kalian bertengkar?" Tanya Permaisuri Chikara was-was, takut kalau-kalau ialah penyebab dari pertengkaran kedua orang yang disayanginya itu.
Aika mengangguk tak menyangkal, "Bukankah itu biasa terjadi. Kami hanya sedang menyesuaikan diri." Tapi ucapannya jelas penuh kepalsuan.
"Apa itu karena-"
"Bukan! Ini karena aku yang sedikit rewel dan menyusahkan Pangeran Nishinoya. Itu sebabnya dia terus marah-marah." Potong Aika cepat, seolah tahu apa yang akan dikatakan Permaisuri Chikara.
Permaisuri Chikara ikut tersenyum saat Aika melemparkan senyuman padanya. Permaisuri Chikara tentu tahu Aika hanya mencoba menutupi kegelisahan hati Permaisuri Chikara dengan berbohong pada ibunya itu.
"Bagaimana keadaanmu, Nak?" Tanya Permaisuri Chikara mengalihkan pembicaraan.
"Seperti yang Permaisuri lihat! Aku baik-baik saja." Jawab Aika dengan senyum manisnya.
Permaisuri Chikara ikut tertulari senyuman itu, "Syukurlah!" Katanya. Ia membelai penuh sayang rambut pirang Aika.
"Aika, Ibu-"
"Tidak apa-apa, Bu!" Potong Aika lagi, tangannya ia bawa pada pipi Permaisuri Chikara yang basah oleh lelehan airmata.
"Wajar jika seorang Ibu menghukum Putrinya jika mereka berbuat kesalahan. Aku sama sekali tidak merasa kesal ataupun marah." Tambah Aika, mencoba menenangkan Permaisuri Chikara yang tubuhnya mulai bergetar menahan tangis.
"Tapi, Bu. Pangeran-"
"Tidak, Nak!" Kali ini Permaisuri Chikara yang memotong ucapan Aika. "Tentu Pangeran Noya marah. Aku telah menyakiti hatinya dengan membuatnya melihatmu disiksa di depan matanya. Aku telah menyakiti wanita yang begitu dicintainya, menggoreskan kebencian padanya. Tak apa jika ia marah bahkan benci padaku!" Lanjutnya tak lagi menutupi rasa sesak di hatinya. Permaisuri Chikara mulai menangis tersedu dan tubuhnya semakin bergetar.
Aika memeluk Permaisuri Chikara dan mengusap punggung Ibunya itu pelan. "Tenanglah, Bu. Aku yakin Pangeran Noya akan memaafkan Ibu nantinya. Ia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri." Ucap Aika menenangkan.
Aika sedikit bernapas lega, saat tubuh Permaisuri Chikara tak lagi bergetar dan tak lagi terdengar suara tangis dari bibir ibunya itu. Permaisuri Chikara orang pertama yang melepas pelukan keduanya.
"Aku akan membantu Ibu mendapatkan maaf dari Pangeran Noya." Janji Aika sedikit berbisik. Ia mendapat pelukan hangat dan banyak ucapan terimakasih dari Permaisuri Chikara.
Di depan pintu, ternyata Pangeran Noya menguping pembicaraan kedua wanita yang memiliki tempat tersendiri di hatinya itu. Pangeran Noya menghembuskan nafas pelan tatkala hatinya ikut berdenyut sakit ketika mendengar curahan hati ibunya.
Tak kuasa dan tak ingin mendengar lebih banyak, Pangeran Noya memutuskan beranjak dari tempatnya.