The Great Princess

The Great Princess
Ep. 57



Para pelayan yang bertugas memandikan dan mengantar makanan bagi Putri Aika hilir mudik mengadu pada Yutaka. Mereka berkata tak lagi sanggup menangani Putri Aika yang terlihat lembut namun mengerikan itu.


Yutaka segera melapor pada Putri Masako tentang masalah tersebut.


"Ini menarik, Yutaka! Kau tahu seberapa besar keinginanku untuk menghancurkannya?" Tanya Putri Masako memandang Yutaka dengan senyum cerah yang terkesan aneh bagi pelayan itu.


Yutaka diam tak menyahut. Sejujurnya ia tidak mengerti maksud dari ucapan Putri Masako barusan.


"Ya, kau benar! Aku berniat menghancurkannya tepat seperti aku membunuh 15 anak kecil di masa lampau." Kata Putri Masako sambil menerawang entah kemana.


Yutaka semakin takut tatkala melihat wajah Putri Masako yang sudah seperti orang gila itu.


"Ah! Bukankah lebih baik jika aku turun tangan? Bagaimana menurutmu?" Putri Masako meminta saran dengan wajah yang benar-benar seperti wanita gila.


Yutaka mengangguk pelan. Tentu ia masih sayang nyawa jika sudah melihat wajah bak malaikat maut milik Putri Masako itu. Untuk sekarang menurut adalah pilihan terbaik.


"Kemari!" Perintah Putri Masako pada Yutaka, yang kemudian membisikkan sesuatu padanya.


.


.


.


Empat orang pelayan datang ke kamar Aika pagi itu. Mereka sengaja di kirim Yutaka guna melancarkan serangan yang telah ia susun bersama Putri Masako semalam.


"Putri, anda diperintahkan menghadiri upacara do'a di kuil Budha bagian Barat Istana!" Lapor salah satu pelayan.


Aika melirik sekilas, "Benarkah? Tapi, aku di larang pergi kesana dalam keadaan kotor (haidh)." Sahut Aika tenang, kembali membaca buku-bukunya.


Keempat pelayan itu saling berpandangan, "Ta-tapi ini adalah perintah langsung dari Permaisuri, Putri." Bujuk pelayan kedua.


Aika nampak menimang. Sejujurnya ia sedikit merasa curiga dengan gelagat empat pelayan barunya itu. Namun, ia enggan berangan jauh dan lebih memilih mengabaikan firasat buruknya.


"Baiklah kalau begitu." Putus Aika, yang kemudian beranjak.


Keempat pelayan itu mulai mendandani Aika dengan cantik. Ia dipakaikan sebuah kimono berwarna merah merekah dan banyak perhiasan yang dipasangkan pada tubuhnya.


"Ini terlalu berlebihan. Lepaskan!" Perintah Aika ketika ia akan dipakaikan sebuah mahkota.


"Tapi-"


"Lepas atau aku tidak jadi pergi!?"


Keempat pelayan itu kembali berpandangan kemudian mengangguk serempak. "Baiklah." Ucap keempatnya bersamaan.


Disela-sela memperbaiki pakaian dan perhiasan Aika, para pelayan itu sesekali terkikik-kikik dibelakangnya seolah tengah menertawakan penderitaan yang akan menjemput Aika nantinya.


.


.


.


Namun, bukan itu yang membuatnya tersenyum, melainkan mengerti akan kebodohannya yang mudah saja di jebak dengan perintah konyol itu. Karena sejauh netranya memandang hanya ada warna hitam yang dikenakan oleh keluarganya dan tak ada satu wanita pun yang bersolek ataupun memakai perhiasan.


Aika tahu ia akan mendapat hukuman nantinya, namun ia tak sedikitpun meninggalkan tempatnya berdiri dan menerima tantangan apa yang akan Putri Masako lakukan padanya nanti.


Pelaksanaan do'a telah selesai. Putri Masako yang pertama kali menengok dan menemukan Aika yang berdiri tepat di mulut pintu. Seketika bibirnya mengulas senyum merekah.


"Ah! Putri Aika, sedang apa kau disana?" Tanya Putri Masako pura-pura tidak tahu.


Semua orang sontak menoleh ke arah pintu. Nampak disana Aika berwajah tenang seolah menanti rencana apa yang akan Putri Masako jalankan kali ini.


"Astaga! Mengapa kau datang ke kuil dengan pakaian mencolok dan berhias seperti itu? Apa kau tidak tahu jika peraturan istana melarang siapapun menggunakan pakaian selain hitam dan putih ketika berkunjung ke kuil dan berdoa!" Putri Masako memulai rencananya.


"Oh, dan juga apa kau tidak tahu jika bersolek dan memakai perhiasan itu di larang karena di anggap menghina para dewa!?" Kata Putri Masako panjang lebar, nada mengejek sangat kentara terdengar di telinga Aika.


Aika tersenyum samar. Jadi begitu, kau ingin menghinaku lalu menghukumku? Lakukan sesukamu dan lihat apa yang bisa aku lakukan. Batin Aika berucap.


"Maafkan aku, Putri. Aku tidak tahu tentang hal itu." Aika mencoba merendah.


"Apa kau belum mempelajari peraturan istana Putri Aika? Lalu apa saja yang kau lakukan di kamarmu?" Ejek Putri Masako lagi, seolah menegaskan tugas Aika hanyalah bermalas-malasan.


"Permaisuri, bukankah itu berarti Putri Aika telah melanggar peraturan?" Lanjut Putri Masako tanpa mau mendengar penjelasan Aika -yang sebenarnya juga tidak berniat menjelaskan apapun.


"Ya, tapi-"


"Menurut anda hukuman apa yang pantas untuknya, Permaisuri?" Desak Putri Masako pada Permaisuri Chikara yang sepertinya enggan memberi hukuman.


Permaisuri Chikara memandang Aika. Sejujurnya ia tidak setega itu menghukum menantu barunya, mengingat Aika baru beberapa hari tinggal di istana wajar jika ia belum mengetahui seluruh peraturannya.


Selain itu, Aika merupakan menantu spesial baginya, karena Aika satu-satunya gadis yang bisa meluluhkan hati Putranya yang ia sendiri pun tak bisa melakukannya. Bagaimana jika ia menghukum istri Putranya itu? Sudah pasti akan ada jarak antara ia dan Putranya nanti -mengingat Pangeran Noya sangat mencintai Aika.


Namun, di sisi lain ia adalah seorang Permaisuri yang dituntut untuk bersikap adil. Apa kata rakyat nanti jika mereka tahu ia tak memberi menantunya hukuman karena takut di benci oleh Putranya. Permaisuri Chikara dalam kebimbangan saat ini.


"Permaisuri? Anda tidak berniat memaklumi kesalahan ini bukan? Jika anda melakukan itu, rakyat akan menjadikan hal ini sebagai contoh yang buruk nantinya." Putri Masako mencoba memanasi keadaan.


Menghela nafas berat, Permaisuri Chikara menyiratkan tatapan mata penuh maaf pada Aika. Aika membalas dengan anggukan samar dan senyum manis menyiratkan arti ia tidak masalah di hukum.


"200 kali hukuman cambuk aku jatuhkan pada Putri Aika!" Putus Permaisuri Chikara akhirnya. Yang sontak menuai tatapan terkejut dari seluruh penghuni kuil.


Mereka tentu tidak menyangka jika Permaisuri Chikara akan menghukum sampai sejauh itu. Terutama Pangeran Noya yang jelas-jelas keberatan dengan keputusan Ibunya.


"Bawa Putri Aika ke lapangan!" perintah Putri Masako pada empat pelayan yang berdiri tepat di belakang Aika. Dengan sigap mereka membawa (menyeret) Aika keluar dari kuil dan membawanya ke lapangan.