The Great Princess

The Great Princess
Ep. 62



Istana Sawamura kembali disibukkan oleh sebuah acara siang itu. Bukan acara penting memang, hanya sekedar mengantar para tamu yang beberapa waktu lalu datang untuk kembali ke kandang masing-masing.


Semua keluarga Sawamura bersama tamunya tengah berkumpul di sebuah ruangan yang cukup luas hanya untuk sekedar saling mengumbar sapa.


Setelah berpamitan dengan Kaisar dan Ratu Nakashima yang kemudian disusul oleh Keluarga Ishikawa yang diakhiri oleh cipika cipiki dramatis seolah mereka tak akan bertemu untuk waktu yang lama nantinya. Kini mereka tengah menunggu si manis Aika yang tak jua melapas lengan sang ayah yang hendak pergi.


Putri bungsu Kaguya itu sedikit tak rela ditinggal, dan kini tengah merengek manja. Kekanakkan memang, tapi Aika adalah tipe gadis lollipoli jika sudah menyakut ayah dan kakaknya itu.


"Ayah akan selalu mengirimkan surat padaku, kan?" Rengek Aika manja, bergelanyut manja pada lengan sang ayah.


"Tentu saja, Putriku! Siapa yang akan menjaga ibumu jika Ayah tidak kembali, hum?" Balas Kaisar Hiruko mengeluarkan bujukannya, yang entah sudah kesekian berapa kalinya.


"Lalu, apa Ayah akan membiarkan kakak untuk sering datang menjengukku?" Rengek Aika lagi, menuai banyak gelengan kepala setiap orang di dalam ruangan itu.


Bahkan Pangeran Noya tak habis pikir, apa yang di makan oleh istrinya itu pagi tadi hingga berubah 90° hanya dalam kurun waktu cepat. Ingatkan Pangeran Noya untuk memasukkannya ke dalam buku rekor jika hal itu terjadi padanya. Karena dengan senang hati Pangeran Noya akan memenuhi rengekan Aika saat itu.


Mengapa? Jangan tanyakan itu, sebab Pangeran Noya seakan gila karena melihat wajah merengek yang terlihat beribu kali lebih manis itu.


"Tentu saja, adikku! Aku pasti akan sering datang berkunjung!" Janji Pangeran Akashi menenangkan adiknya yang terlihat hampir menangis itu. Yang dengan jelas hanya dibuat-buat oleh si Rubah Betina.


"Bersama Ibu!?" Tanya Aika mencoba tawar menawar.


"Ya, jika beliau mau bertemu dengan Putri nakalnya ini tentu saja!" Usil Pangeran Akashi yang sukses dapat cebikan bibir dari Aika.


Tak habis akal Akashi mencium kedua pipi bakpao milik Aika dan berakhir lama di keningnya. Dan mencuri pelukan dari adik mungilnya itu. "Sampai jumpa!" Ucapnya, kemudian melambaikan tangan untuk yang terakhir kalinya.


Dari kejauhan nampak Pangeran Noya yang sedikit mendidih kala melihat adegan panas kakak beradik itu.


"Hmm? kau mau yang kanan atau yang kiri?" Sahut Pangeran Riyu menunjukkan dua kepalan tangannya.


"Ck, tidak! Terima kasih!" Decak Pangeran Akira malas karena percuma berceloteh humor pada orang-orang Sawamura yang kaku itu. Pangeran Akira menyayangkan keputusan Aika yang menikahi manusia batu macam Pangeran Noya, entah kenapa hatinya sedikit tidak rela.


"Kau akan tetap tinggal sampai acara berburu nanti, kan Pangeran?"


Lamunan Pangeran Akira terpotong tatkala ucapan Kaisar Minato masuk ke dalam gendang telinganya.


"Ya, Ayah! Bolehkah aku kembali setelah acara berburu nanti?"


"Tentu, Putraku! Kalau begitu Ayah dan Ibu pamit."


Dan ketiganya berpelukan ala Teletubies. Setelahnya, kepergian ketiga Kaisar dihantar sampai ke depan gerbang utama Sawamura.


"Pangeran Mahkota Nishinoya!" Panggil Pangeran Akashi saat dirinya sudah hampir keluar dari bibir gerbang.


Pangeran Noya mendongak hanya sekedar untuk melihat wajah serius dari kakak iparnya itu.


"Jaga adikku baik-baik sampai aku kembali saat acara berburu nanti! Dan ketika aku datang jangan sampai kau membuatnya menangis atau menyakitinya seperti tempo hari. Karena akan kupastikan Putri Aika tak akan jadi istrimu lagi setelahnya!" Ancam Pangeran Akashi dengan teriakkan yang membahana sampai keseluruh penjuru istana.


Pangeran Noya mengangguk mengerti, sedangkan Aika justru terkikik geli di samping suaminya yang sedikit terkejut karena tiba-tiba mendapat ancama mematikan dari kakak iparnya.


"Tenanglah, Pangeran!" Ucap Pangeran Daichi menenangkan Pangeran Noya yang dari bahunya terlihat tegang.


Sedang keempat Pangeran yang lain berusaha menutup mulut mereka agar tak tertawa terbahak-bahak saat itu juga.