
Setelah rapat usai, Noya yang merasa khawatir dengan duel antara Serigala Putih dan Gagak Hitam segera melajukan kakinya menuju kamp para ksatria guna bertemu dengan Aika.
"Dimana Aika?" Tanya Noya to the point, matanya celingukan mencari si kuning ke segala arah.
Ukai yang mendengar suara dari balik punggungnya, sontak menoleh ke belakang dan menemukan Noya di sana. Ukai membungkuk saat tahu siapa yang tengah ada dihadapannya itu.
"Aika sedang di hukum, Pangeran Mahkota." Jawabnya tenang, setelah kembali berdiri tegak.
Noya yang mendengar kata hukuman langsung menoleh cepat ke arah Ukai. "Kenapa dia di hukum?" Tanya Noya susah payah menyembunyikan kemarahannya.
Ukai menceritakan kejadian yang terjadi 2 Minggu yang lalu di mana kroni Serigala Putih di tuduh merusak bendera milik kroni Gagak Hitam, dan semua menganggap Aika lah pelakunya karena menghilang di saat yang sama.
"Bukan Aika pelakunya!" Ucap Noya cepat setelah mendengar cerita Ukai. Ia memberi pembelaan bukan tanpa alasan, tentu Noya tahu kalau Aika saat itu tidur bersamanya sampai pagi (menjelang siang lebih tepatnya) bukannya mengurusi hal-hal bodoh seperti merusak bendera misalnya.
Ukai yang mendengar pembelaan yang terdengar meyakinkan itu mengernyitkan dahi. Demi apa seorang Pangeran Mahkota sepertinya mau membela orang yang berasal dari garis kasta rendah seperti mereka?!
"Bagaimana Anda bisa berkata seperti itu, Pangeran?" Heran Ukai saat melihat wajah Noya yang sekilas nampak menahan amarahnya tadi.
"Karena, dia bersamaku malam itu." Jelas Noya singkat.
"Aku memintanya menjaga pintu kamarku. Ingat! Dia adalah ksatria-ku!" Tambah Noya cepat saat melihat wajah Ukai yang sepertinya salah paham dengan ucapannya tadi.
Ukai mengangguk paham dan menelan mentah-mentah alasan yang separuh bohong itu.
"Apa kau mau aku menghentikan duel ini untuk kalian?" Tawar Noya tiba-tiba, membuat Ukai menatap kaget sang pangeran.
"Anda tidak bisa melakukan itu, Pangeran Mahkota. Karena, jika itu terjadi maka seluruh kroni Serigala Putih tidak akan dapat mengangkat wajahnya lagi dihadapan siapapun." Jelas Ukai tenang, setelah sadar dari Norio terkejutnya.
"Baiklah jika itu maumu. Aku tidak akan melakukan apapun untuk duel kalian." Putus Noya setuju dengan ucapan Ukai.
Ukai tersenyum kemudian membungkuk sebagai ucapan terimakasih. "Anda tidak jadi bertemu dengan Aika?" Tanya Ukai heran saat Noya berbalik hendak melangkah pergi.
"Tidak!" Jawab Noya singkat tanpa menoleh pada Ukai. "Aku titipkan dia padamu." Tambah Noya, setelahnya ia melangkah semakin menjauh. Meninggalkan Ukai dengan berbagai pertanyaan yang menggantung dipikirannya.
Menyingkirkan keingintahuannya, Ukai menghela nafas pelan, "Siap laksanakan, Pangeran." Ucap Ukai sambil membungkuk. Meski Noya tidak mungkin mendengar jawabannya, tapi tetap saja ia harus menyanggupi perintah itu
.
.
.
Ukai datang memasuki sekumpulan anggota pasukannya yang sedang duduk bersantai setelah selesai berlatih. Ukai juga melihat kearah Aika yang duduk sedikit jauh dari kelompoknya yang lain. Meski Ukai tahu Aika tidak bersalah tetap saja duel tidak akan dibatalkan mengingat ini semua pasti adalah rencana jebakan yang telah disiapkan oleh para pasukan Gagak Hitam untuk membalas dendam pada mereka.
Jadi, mau tidak mau mereka harus melakukan duel untuk membersihkan nama kroni mereka. Meski jelas-jelas mereka tidak bersalah dalam hal ini.
"Aika!" Panggil Ukai pada Aika, ia memberi isyarat tangan agar Aika lebih mendekat padanya.
Aika menurut, namun sedikit merasa tidak nyaman saat duduk bersama rekannya yang lain. Mengingat hampir beberapa dari mereka menyalahkannya karena harus terlibat duel. Aika mendudukkan diri tepat berseberangan dengan Ukai.
"Aku memerintahkanmu untuk selalu dibelakangku saat duel nanti!"
"Tidak! Aku ingin di garis depan!" Sanggah Aika tidak terima.
"Kau tidak akan menang. Tidak peduli seberapa keras pun usahamu." Ucap Ukai mencoba memberi peringatan pada Aika.
"Kau kejam, Ukai! Benar-benar kejam! Apa kau mau memintaku melihat seluruh rekan-rekanku jatuh satu persatu dan hanya berdiri saja dibalik punggungmu?" Ucap Aika tak habis pikir. Ia adalah juara duel selama 3 tahun berturut-turut. Kenapa ia harus berdiri di belakang jika ia bisa melawan mereka tanpa mengorbankan rekan-rekannya.
"Kau-"
"Aku bersumpah! Aku akan berada di garis depan dan akan mati jika harus mati!" Potong Aika penuh keyakinan.
"Tidak akan ada yang mati." Kata Ukai dengan helaan nafas lelah. Ayolah, Ukai hanya ingin melindungi Aika sebagai janjinya pada Pangeran Noya. Kalau sampai nanti Aika terluka, Ukai tidak akan pernah bisa lagi mengangkat wajahnya pada sang Pangeran Mahkota.
Aika yang keras kepala dengan kemarahan yang memuncak memutuskan pergi dari rekan-rekan kroninya.
"Kalian dengar itu?!" Ucap Ukai tanpa meminta sebuah jawaban.
"Dia hanya orang bodoh yang ingin berdiri melindungi rekan-rekannya. Dan apa yang kalian lakukan? Hanya duduk sambil terus menyalahkan orang yang selalu menganggap kalian lebih berharga dari nyawanya sendiri." Lanjut Ukai tanpa memandang satupun anggota pasukannya. Matanya menerawang jauh menatap langit.
"Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau kerja sekedar bekerja, kera juga bekerja." Kata Ukai kemudian sebelum pergi dari pasukannya yang hanya diam membisu.
To be Continue..