
Aula Bermain, Istana Sawamura
Aku termenung di bawah pilar sangga kursi. Menerawang kenangan ganjil malam tadi. Di mana bungaku merintih dan mendesah oleh kungkungan si Raja Singa.
Hatiku bagai dimekari oleh ribuah sayap kupu-kupu tatkala kulihat merah darahnya menutupi diriku. Bukti cintanya yang hanya akulah pemenangnya.
Wanita yang kucintai bagaikan wanita yang kepadanya aku memberikan hatiku. Dia sangat cantik, seolah-olah dihias oleh dewa, selembut merpati, secerdik ular, seangkuh burung merak, segalak serigala, seindah angsa putih, dan semenakutkan malam yang gulita. Dia diciptakan dari segenggam tanah dan segelas buih-laut.
Dan malam yang bisu menjadi saksi bahwa Raja Singa telah mendapatkan bunga Mawar seutuhnya. Membawa cinta ke dalam benih kehidupan baru. (End Pangeran Noya POV)
"Hey! Pangeran Daichi, apa adikmu sudah gila?" Tanya Pangeran Akira memandang aneh Pangeran Nishinoya yang hanyut dalam dunia lamunan dengan senyum yang bisa membatalkan puasa kaum hawa.
Pangeran Daichi melirik Pangeran Noya sekilas kemudian kembali fokus pada permainan shoji-nya bersama si Rubah Merah.
"Hei! Kau mengacuhkanku!?" Galak Pangeran Akira memukul pelan sisian meja hingga membuat Pangeran Daichi berjenggit terkejut.
"Diamlah, Pangeran! Kau juga akan sama sepertinya setelah menikah nanti." Balas Pangeran Daichi santai setelah menormalkan rasa terkejutnya.
"Kalau begitu aku tidak akan menikah!" Putus Pangeran Akira tanpa pikir panjang. Di sambung ribuan gerutuan yang Pangeran Daichi sendiri panas mendengarnya.
"Tutup mulutmu atau kucium saat ini juga!" Ancam Pangeran Daichi berhasil membuat Pangeran Akira bungkam dan menelan gerutuan yang sudah di ujung lidah.
"Lebih baik kau di cium oleh Pangeran Daichi, Akira! Dia adalah seorang Master Kisser yang pro daripada wanita-wanita jal*ng itu. Mereka hanya barang murah." Celetuk Pangeran Riyu entah menjatuhkan atau pujian yang diucapkannya.
"Jangan salah! Aku tak pernah memakai barang murah apalagi bekas." Sahut Pangeran Akira remeh.
Pangeran Riyu dan Pangeran Daichi mengangguk cuek. Mereka tentu tahu kalau Pangeran Akira memiliki kwalitas langit untuk barang simpanannya.
"Kalau begitu Pangeran Daichi adalah pasangan yang cocok untukmu adikku!" Beo Pangeran Ren sing a song.
Pangeran Riyu, Pangeran Daichi, dan Pangeran Akira melotot. Ketiganya menoleh berjamaah pada Pangeran Ren yang duduk nyempil di pojok ruangan.
Pangeran Ren mengerling malas, "Apa? Apa aku salah?" Tanyanya tak berdosa. Ia mengamati Pangeran Akira dan Pangeran Daichi bergantian kemudian mengangguk. "Kalian terlihat cocok!" Tambahnya enteng.
"Aisshh! Apa otakmu sudah bergeser?" Tanya Pangeran Riyu tak habis pikir. Ia melempar buku tebal yang dengan sukses mengenai dada Pangeran Ren.
"Akh! Apa yang salah?" Tanya Pangeran Ren diiringi tawa jenaka yang menuai tiga gelengan kepala sekaligus.
"Di mana Pangeran Rei?"
Sebuah suara baritone lain terdengar. Empat kepala menoleh ke asal suara yang ternyata adalah milik si bungsu Sawamura.
"Sejak kapan kau bangun -dari acara melamun?" Tanya Pangeran Akira retoris, memandang Pangeran Noya dengan kedua alis berkerut.
"Aku tidak tidur!" Sahut Pangeran Noya santai. Karena begitulah kenyataannya.
"Di mana Pangeran Rei?" Ulang Pangeran Noya saat pertanyaannya tak kunjung terjawab.
"Benar juga! Aku tak melihatnya sejak pagi. Di mana dia?" Timpal Pangeran Riyu diiringi tanya yang dialamatkan pada Pangeran Ren.
"Kakak pergi berkencan!" Jawab Pangeran Ren cepat, risih saat di tatap tiga mata elang dan satu mata rubah dengan menuntut.
"Hohoho, gadis Inoue itu?" Celoteh Pangeran Riyu penuh minat.
"Inoue? Seleranya benar-benar tinggi." Timpal Pangeran Akira dengan anggukan kepala berulang-ulang. Sedikit takjub dengan selera kakak sepupunya itu.
Pangeran Daichi dan Pangeran Riyu mengangguk setuju. Sedang Pangeran Noya dan Pangeran Ren nampak cuek.
Sreek!
Pintu shoji terbuka. Nampak Pangeran Rei menjulang tinggi di depan pintu yang kemudian melangkah masuk setelah menyapukan pandangan.
Baru beberapa langkah diambilnya, suara Pangeran Ren mendadak menginterupsi, "Ah, sebaiknya aku pergi! Nona Hotaru pasti menungguku!" Setelahnya Pangeran Ren buru-buru pergi entah mengapa.
Lima kepala menatap bingung pada Pangeran Ren yang terlihat buru-buru. Sedikit acuh kelimanya tak ambil pusing dengan tindakan mencurigakan itu dan memfokuskan pandangan pada Pangeran Rei yang baru mendudukkan diri.
"Ada apa? Kenapa kalian menatapku begitu?" Tanya Pangeran Rei bingung, di tatap intens oleh empat pria dewasa bukanlah pertanda baik untuknya.
"Bagaimana kencanmu?" Tanya Pangeran Daichi dengan senyum menggoda.
"Kencan?" Tanya Pangeran Rei tidak mengerti.
"Kau punya selera yang cukup bagus, Kak." Pangeran Akira ikut menimpali dengan kedipan mata jahil.
Pangeran Rei semakin mengernyit bingung.
"Hei, kenapa kau tak cerita jika sudah punya kekasih?" Goda Pangeran Riyu menaik-turunkan kedua alisnya.
"Inoue, huh!" Pangeran Noya juga tak mau ketinggalan.
Pangeran Rei mulai kehabisan kesabaran, "APA YANG KALIAN KATAKAN SEBENARNYA, HA?!" Teriak Pangeran Rei marah, memandang geram keempat pria yang membeku bingung.
"Kau... Kau-"
"Aku kenapa? Aku pergi bukan untuk berkencan jika kalian mau tahu! Aku pergi karena mendapat tugas dari Kaisar mengantar sesuatu ke Chugoku. Kalian puas?!" Jelas Pangeran Rei memotong cepat ucapan Pangeran Riyu, setelahnya ia pergi tanpa mau menengok ke belakang.
"REEEENNNNNN!!!" Teriak Pangeran Akira dan Pangeran Riyu murka karena dikelabui oleh si brengs*k mata satu itu.
Sedang Pangeran Ren yang ternyata bersembunyi di samping aula bermain tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya. Sungguh hebat memang ia dapat mengelabuhi pangeran-pangeran Sawamura yang terkenal cerdas itu.