The Great Princess

The Great Princess
Ep. 60



Pagi-pagi sekali Aika mendapat surat kaleng dari rekan kroninya yang baru. Ia membaca surat itu dan mengetahui bahwa kroninya meminta bertemu dan sekarang ia tengah mengendap-endap keluar dari kamarnya -karena semenjak insiden cambuk, Pangeran Nishinoya selalu bermalam di kamarnya.


Dari kejauhan Mitsuki melihat Aika yang berjalan tertatih-tatih, namun tetap mempertahankan harga dirinya sebagai seorang Putri kemudian menghampirinya. "Putri!" Sapanya.


"Kapten Kageyama." Aika balik menyapa, sedikit terkejut melihat Mitsuki berada disana pagi buta begini.


"Apa kau yang mengirim surat ini?" Tanya Aika menyodorkan surat kaleng yang ditemukannya.


Mitsuki mengangguk dan kemudian menuntun Aika menemui ayahnya.


"Anda sudah datang?" Tanya Jendral Besar Norio basa-basi, ketiganya pun duduk berseberangan.


"Apa ada sesuatu yang penting?" Tanya Aika yang justru enggan berbasa-basi. Ia harus segera menyelesaikan pertemuannya dan kembali sebelum Pangeran Noya terbangun.


Norio mengangguk, "Aku baru selesai menyelidiki Provinsi San'yõ, Tohoku, Koshinetsu, dan Shikoku. Ini hasilnya!" Lapor Norio, kemudian menyerahkan gulungan laporan pada Aika.


"Ini hasil penyelidikan dari Provinsi Chūbu, Kyushu, Kanto, dan Tõkai." Mitsuki juga ikut menyerahkan gulungan laporannya.


"Aku akan menyelidikinya nanti. Terimakasih atas kerja keras kalian." Kata Aika tulus, ia menyembunyikan kedua gulungan itu ke dalam kimono-nya.


"Aku dengar ada insiden yang membuatmu di cambuk hingga 200 kali. Apa itu benar?" Tanya Norio memastikan rumor yang didengarnya.


"Ya, aku sengaja menerima tantangan Putri Masako dan menjadikan diriku korbannya." Jelas Aika singkat.


"Apa kau meneteskan airmata di depan musuh? Jika musuh melihat airmata kita, maka mereka akan semakin senang dan merasa menang."


Aika duduk dengan tenang, "Tidak! Sayang sekali kalian tidak melihat wajah terluka Putri Masako saat itu." Cemooh Aika saat mengingat ekspresi Putri Masako setelah mencambuknya.


Norio mengangguk, sedikit banyak ia tidak lagi tertarik dengan hal-hal yang tidak menguntungkan baginya. "Lalu, apa rencanamu selanjutnya?"


Aika tersenyum miring kearah Norio dan Mitsuki tanpa niatan memberitahu rencananya.


.


.


.


.


"Siapa yang menyuruh kalian?" Tanya Aika tenang, masih pada posisi awal.


Keempat pelayan itu saling lirik. Entah sengaja bungkam atau tidak tahu maksud dari ucapan Aika. "Apa maksud anda, Putri?" Tanya salah satu di antara mereka yang ternyata tidak ngeh dengan ucapan Aika.


Aika tersenyum manis, sebuah sinyal WASPADA! jika mereka mengenal Aika dengan baik. "Dayang Yutaka atau Putri Masako?" Tanya Aika menatap langsung keempat pelayan itu.


"Kami tidak-"


"Bohong! Kalian tahu bukan, apa hukuman bagi seorang pembohong!?" Ucap Aika kelewat kalem, memutar-mutar cawan tehnya.


Splash!


Tanpa aba-aba Aika menjerat kaki keempat pelayan itu dengan cambuk dan membuat mereka berlutut dengan tubuh menggigil ketakutan.


"Sa-Saya adalah pelayan tingkat 1! Anda akan mendapat hukuman jika berani melukai saya." Aku salah satu pelayan mencoba menggertak Aika.


Aika bergeming, tak sedikit pun merasa takut akan gertakan itu. Ia kembali mengangkat cambuknya dan berniat kembali mengayunkannya.


"Dayang Yutaka! Di-Dia yang menyuruh kami!" Namun, suara seorang pelayan berhasil menghentikan niatan Aika.


"Kalau begitu pilih! Di cambuk sampai mati atau mengaku pada Permaisuri!?" Tawar Aika setelah menyingkirkan cambuknya.


Keempatnya terdiam, bukan pilihan yang menguntungkan memang, karena jika mereka memilih di cambuk mereka sudah jelas akan di cambuk sampai mati. Tapi, jika mereka mengaku, jelas nyawa mereka juga dipastikan tidak akan selamat pula.


"Panggil Dayang Yutaka kemari!" Perintah Aika pada Yui yang berada di depan pintu.


Tak lama kemudian Yutaka datang dan berdiri tepat dihadapan Aika.


Plak!


Suara tamparan keras Aika layangkan tepat di pipi kanan Yutaka. Yutaka mendongak dan terkejut saat tatapannya bertemu dengan empat pelayan suruhannya yang juga ada disana -berlutut disisi lain ruangan.


"Aku akan membuat kejahatanmu terungkap di aula besok. Jadi bersiaplah!" Ucap Aika tiba-tiba memberi peringatan, yang sukses mendapat kernyitan bingung dari Yutaka. Setelahnya ia mengusir kelima orang itu dari kamarnya tanpa penjelasan lebih lanjut.