
Putri Aika berjalan-jalan santai di taman pagi itu. Hari ini keadaannya sudah lebih baik, selain itu alasannya yang lain adalah karena ia merasa bosan terus berada dikamarnya.
Putri Aika asyik menyusuri lorong dan tanpa sengaja bertemu Pangeran Udon dan pengasuhnya. Ia pun berganti arah dan menghampiri keduanya.
"Yang Mulia." Sapa si pengasuh.
"Syukurlah, Pangeran sudah sehat." Aika berujar tulus. Ia membelai penuh kasih sayang rambut coklat milik Udon.
"Ini berkat kemurahan hati, Yang Mulia." Sahut pengasuh itu, karena bukan menjadi gosip belaka tentang kemurahan hati Aika yang rela berdoa dan berpuasa demi anak orang lain.
"Putra dari Istri Pangeran adalah putraku juga. Secara aturan aku dan Putri Masako adalah Kakak-Adik. Wajar jika aku juga menganggap Pangeran Udon sebagai Putraku." Sahut Aika manis. Namun, hatinya tetap tahu bahwa itu tidaklah benar karena Udon bukanlah anak kandung Pangeran Daichi.
"Apa anda ingin menggendongnya?" Tawar si pengasuh. Aika melihat susu yang dibawa pengasuh itu telah habis. Tandanya mungkin sekarang pangeran tengah mengantuk dan tak masalah baginya jika belajar menidurkan seorang bayi.
Putri Aika mengambil Udon dari tangan sang pengasuh. Ia menina bobokan Pangeran Udon layaknya seorang Ibu. Namun, Putri Masako yang baru kembali dari kediaman Shimura tak sudi melihat putranya disentuh oleh Aika.
"Apa kau mau membunuhnya?!" Tuduh Putri Masako sarkas.
Putri Masako menarik putranya yang telah tertidur pulas dan menyerahkannya pada Fuen.
"Setelah doa-doamu gagal membunuhnya. Apa sekarang kau mau melemparkannya dari gendonganmu. Kemudian bersandiwara dengan tidak ada rasa bersalah?!" Putri Masako terus merancau dengan tuduhan-tuduhannya.
"Kau jangan salah paham, Putri. Aku tak berniat melakukan apapun." Jelas Aika tenang.
"Apa kau merasa iri karena hampir beberapa bulan menikah kau belum juga mengandung?" Sindirnya.
Aika tetap bungkam, membiarkan Putri Masako berceloteh dengan semua sugesti buruknya.
Cukup! Aika mulai kehabisan kesabaran. "Hati-hati dengan ucapan anda, Putri. Anda tak pernah tau apa dampak dari ucapan anda barusan." Aika berujar tenang. Ia kemudian maju selangkah dan berbisik.
"Siapa tau karma akan segera mendatangimu."
Putri Masako menggertakan gigi-giginya. Ia secara sengaja mendorong Aika hingga terguling dari tangga. Aika jatuh pingsan dengan beberapa luka ditubuhnya. Putri Masako bergeming, ia kemudian meminta para dayang untuk memasukan Aika ke dalam gudang beras dan membakarnya hidup-hidup disana.
Para pelayan itu menurut, mereka mengikat Aika pada sebatang pilar dan menyirami gudang tersebut dengan minyak tanah. Satu sulutan api dan gudang itu pun terbakar secara perlahan.
"Pastikan mayatnya menjadi abu atau kalian yang akan menggantikan abunya!" Perintah Putri Masako mutlak, ia pun bergegas pergi setelah mendapat anggukan dari para pelayannya.
Para pelayan itu saling berbisik. Mereka tentu tak ingin kepergok dan kehilangan nyawa begitu saja. Itu sebabnya mereka ikut menghilang dan membiarkan si jago merah melahap habis isi gudang.
Tanpa disadari siapapun datang seorang pria samurai yang mengendap-endap dan menyelamatkan Aika. Wajah yang tertutupi kain hitam itu menerobos masuk dan membopong tubuh Aika keluar dan membawanya sedikit jauh dari gudang. Dan setelah memastikan tubuh itu aman, ia pun pergi begitu saja.
Dayang Yui berjalan kesana-kemari, ia mencari keberadaan putrinya yang sejak siang tadi menghilang. Mengelilingi istana dengan mengobrak-abrik setiap ruangan dan terpaku begitu melihat tubuh Aika yang compang-camping sisa terbakar di bawah tangga.
"Putri!" Pekiknya terkejut. Dayang Yui membelai wajah Aika yang kehitaman oleh arang. "Ada apa dengan anda, Yang Mulia?" Tanyanya sendu.
Dayang Yui berlari kencang untuk membawa seseorang dan menemukan Ksatria Kou di tengah perjalanan. Ia langsung menarik Kou begitu saja. Kou yang notabane menyukai Aika tentu merasa terkejut sekaligus sedih kala wanita pujaannya itu hampir hangus terbakar.
Kou tanpa berfikir dua kali segera menggendong Aika ke kediamannya. Aika yang telah dipindahkan di periksa oleh seorang tabib yang telah dipanggil Dayang Yui sebelumnya.
Tabib itu menyentuh denyut nadinya dan terbelalak. Wajahnya berubah sendu, berita duka ia sampaikan. "Bayinya keguguran."