
Keesokan harinya, aula kembali dipenuhi oleh kepala-kepala yang datang di hari sebelumnya. Tanpa basa-basi seleksi tahap kedua pun dimulai.
"Seleksi tahapan kedua mengambil tema musik..." Permaisuri Chikara menjeda ucapannya ia memandangi satu persatu gadis yang berbaris rapih di depannya dengan sunggingan senyum manisnya.
"...Tapi, sebelum itu apa ada yang bisa memberitahuku apa arti sebuah musik?" Lanjutnya memberikan sebuah pertanyaan sebagai pemanasan.
Semua gadis terdiam. Musik? Tentu mereka hanya tahu cara memainkannya karena itu yang ayah mereka ajarkan. Dalam artian bahwa para gadis itu bodoh tentang filsafat meski mahir dalam praktik.
Permaisuri Chikara masih menunggu, begitupun telinga yang lain. Namun, ketika Permaisuri Chikara hendak membuka mulut, salah seorang gadis tiba-tiba berdiri.
"Bolehkah saya menjawabnya, Permaisuri?"
Permaisuri Chikara tersenyum, kemudian mengangguk sebagai persetujuan.
"Musik adalah bahasa ruh. Melodinya bagaikan hembusan angin sepoi-sepoi yang membuat dawai-dawai bergetar dengan cinta. Ketika jari-jari Musik yang lembut mengetuk pintu perasaan kita, mereka membangunkan kenangan yang telah lama tersembunyi dalam kedalaman Masa lalu..."
"...Nada-nada sedih Musik membawa kita pada ingatan yang menyedihkan, dan nada-nada tenangnya membawa kita pada kenangan-kenangan yang menyenangkan. Suara dawai-dawai membuat kita mencucurkan air mata saat ditinggal sang kekasih, atau membuat kita tersenyum pada kedamaian yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita..."
"...Jiwa Musik adalah bagian dari Ruh, dan pikirannya adalah bagian dari Hati. Ketika Tuhan menciptakan Manusia, Dia memberikan Musik sebagai bahasa yang berbeda dari segenap bahasa. Dan manusia pertama menyanyikan kemuliaannya dalam hutan belantara, dan dia menarik hati para raja dan memindahkan mereka dari singgasananya."
Semua orang tertegun. Entah mengapa mendadak lidah mereka kelu. Jawaban yang sempurna, para sastrawan hingga ahli kesenian istana pun ikut bungkam dibuatnya.
"Du, duduklah kembali!" Perintah Permaisuri Chikara sedikit tergagap diawal, nampak masih terkejut dengan jawaban tak terduga itu.
Si gadis bermarga Kaguya itu menurut dan kembali meletakkan bokongnya dengan tenang. Tanpa diketahui olehnya dari kejauhan ada sepasang mata yang memandang penuh kebencian padanya.
"Baiklah, untuk seleksi tahap kedua adalah permaianan alat musik." Ucap Permaisuri Chikara kemudian, setelah berhasil mengendalikan rasa terkejutnya.
"Seluruh peserta akan diperdengarkan sebuah lagu yang akan dimainkan oleh seorang ahli musik istana. Dan tugas kalian adalah menjelaskan makna dari musik yang kalian dengarkan."
Kemudian ucapannya disambung oleh Putri Masako yang dengan liciknya membuat proses seleksi semakin sulit. Ia meminta seorang ahli musik untuk memainkan musik yang tersulit hingga tidak ada satupun gadis yang bisa menafsirkan artinya.
Seorang ahli musik mempersiapkan diri memegang kecapi dan berancang-ancang memainkan lagunya. Tak lama sentuhan jemarinya telah menari diatas kecapi. Menciptakan alunan melodi yang indah. Hingga membuat para gadis berkeringat dingin karenanya.
Alunan musik berhenti kurang dari 5 menit setelahnya. Para gadis bodoh, manja dan tidak berguna menjawab dengan cepat dan asal dibarengi dengan sikap sombong dan tidak tahu malunya.
"Manusia yang mengeluarkan suara-suara tangisan itu. Dan airmatanya mengesankan sebuah pemahaman."
Begitulah kira-kira jawaban dari kesembilan putri Gubernur itu, karena itulah yang dirasa memang benar jawabannya.
Hanya tersisa tiga orang gadis yang masih berdiri (karena yang sudah menjawab boleh kembali duduk) tak lama hingga gadis ketiga mulai membuka mulut.
"Kicau burung membangunkan Manusia dari tidurnya, dan mengundangnya untuk bergabung dalam mazmur kemuliaan menuju Kearifan Abadi yang telah menciptakan kicau burung lain." Jawab seorang gadis bermarga Ennoshita, kemudian kembali duduk.
Tinggal dua orang gadis, namun tak lama kemudian gadis kedua ikut menyusul menjawab.
"Manusia dengan pemahamannya tidak dapat mengetahui apakah yang dikatakan oleh hujan ketika ia jatuh di atas daun-daun pepohonan atau ketika ia mengetuk kaca jendela. Dia tidak bisa mengetahui apa yang angin sepoi-sepoi katakan kepada bunga-bunga di taman..."
"...Namun hati manusia dapat merasakan dan menggenggam makna-makna dari suara-suara yang bermain dalam perasaannya." Jawab gadis bermarga Kimura sekaligus kandidat dari Permaisuri Chikara itu, kemudian ikut duduk setelah menafsirkan isi nada yang tadi dimainkan.
Tinggal si gadis Kaguya seorang. Semua orang heran mengapa gadis itu tidak bisa menebak lagu semudah itu. Bahkan para Bangsawan dan beberapa Gubernur beranggapan bahwa jawaban yang benar adalah sama seperti kesembilan gadis sebelumnya. Dan meragukan jawaban dua gadis yang terakhir.
"Mereka benar-benar bodoh. Itukah yang mereka banggakan sebagai seorang Putri Gubernur? Bahkan hal semudah ini mereka tidak bisa menjawab dengan benar." Cemooh seorang pria tua yang datang bersama si gadis Kaguya.
Sedang pria yang duduk di sebelahnya hanya diam tanpa mau berkomentar.
Putri Masako yang ikut menunggu mulai mengeluarkan asap merah imajiner dari kepalanya. Apa gadis itu sangat bodoh hingga membutuhkan banyak waktu untuk menjawab, begitu pikirnya.
Tak ayal para gadis ikut mengatainya bodoh. Bahkan mengejek dengan berbagai macam olok-olokan. Namun, hal itu tidak dilakukan oleh dua orang gadis yang tadi masih tertinggal diakhir.
Si Kaguya mengabaikan segala bisikan dibelakangnya dan fokus mengingat alunan musik yang ia dengar tadi dan menyadari bahwa lagu itu pernah didengarnya ketika ia berusia 4 tahun saat bersama ibunya menjadi pelayan dikedai makan.
Musik Ilahi!
Putri dari Jiwa Cinta
Jambangan kepahitan dan Cinta
Mimpi hati manusia, buah dari penderitaan
Bunga kegembiraan, keharuman dan karangan bunga perasaan
Lidah para pecinta, penjelas rahasia-rahasia
Ibu airmata dari cinta yang tersembunyi
Pemberi inspirasi bagi para penyair, komposer, arsitek
Kesatuan pikiran dalam fragmen-fragmen dari kata-kata
Desainer cinta di luar keindahan
Anggur hati yang bersuka-ria dalam sebuah dunia mimpi
Yang membesarkan hati para prajurit, dan yang menguatkan jiwa-jiwa
Samudra kasih sayang dan lautan kelembutan
Wahai Musik
Di kedalamanmu kami menaruh hati dan jiwa-jiwa
Engkau bergegas menangkap kami untuk melihat dengan telinga kami
Dan mendengar dengan hati kami.
Semua orang kembali dibuat terheran dan terkagum-kagum, begitupun dengan Pangeran Nishinoya yang sejak tadi ikut memperhatikan gadis itu. Namun, sejurus kemudian ia dibuat terpesona oleh puisi yang tiba-tiba diperdengarkan oleh sang gadis pada seluruh pasang telinga di dalam aula.
"Apa kau yakin dia akan berhasil?" Bisik Tsuki pada Uroko (yang menyamar sebagai pria tua kali ini) yang duduk tepat disampingnya.
"Tentu. Meski hanya 3 bulan tapi dia bukan gadis sembarangan." Kata Uroko penuh keyakinan. Ia adalah pria yang membawa gadis itu dari Negara Air bersama Tsuki.
Tsuki mengangguk mengerti dengan seringai mengerikan yang terlukis apik di wajahnya.
"Yang Mulia, dari kesebelas gadis. Hanya jawaban dari gadis inilah yang berbeda. Bolehkah saya mengajukan alasan kenapa ia menjawab seperti itu?" pinta seorang ahli musik.
Permaisuri Chikara mengangguk mengizinkan. Kemudian seluruh pasang mata tertuju hanya pada gadis Kaguya itu seorang.
"Alunan musik tadi adalah sebuah bait puisi yang ditulis oleh seorang penulis ternama. Tulisannya kemudian dijadikan sebuah syair dan diperdengarkan melalui sebuah alunan musik oleh para penggemar tulisannya." Ungkap gadis itu dengan jelas dan tepat.
Semua orang terkejut -kecuali Uroko dan Tsuki yang saat ini saling bertatap dan melempar senyum penuh kemenangan.
"Yang Mulia, hanya jawaban gadis ini yang 100% tepat dan saya memberikan nilai penuh padanya. Sedang untuk dua orang gadis terakhir, saya memberi separuh nilai karena jawaban keduanya berbeda dari kesembilan gadis lainnya." Lapor si Ahli musik memberikan penilaiannya.
"Terimakasih. Penilaianmu akan menjadi masukan untuk menentukan hasil akhir." Sahut Permaisuri Chikara diiringi senyuman manis. Seperti mendapat pencerahan gadis mana yang pantas untuk Putra kesayangannya itu.
"Aku telah melihat usaha kalian untuk hari ini. Besok adalah hari terakhir seleksi, semoga kalian lebih mempersiapkan diri sematang mungkin nantinya. Sekarang beristirahatlah." Perintah Permaisuri Chikara pada para gadis dan hari itu proses seleksi tahap kedua telah usai.
Bersambung...