
Di tempat lain...
Kroni Serigala Putih menuju barak gabungan mereka, disana terlihat kroni dari pasangan kelompoknya (Giok Singa) sudah memenuhi barak. Namun, saat Serigala Putih ingin memasuki barak justru salah seorang ksatria dari Giok Singa mengusir mereka.
"Mau apa kalian?" Tanya salah seorang ksatria Giok Singa congkak, menyilang tangan didepan dada dan juga menghalangi pintu masuk.
"Tentu saja ingin masuk ke dalam barak." Jawab Kou dengan wajah bosan.
"Cih, kalian pikir kalian siapa?" Tanya ksatria Giok Singa lain, ikut maju menghadang pintu.
"Apanya yang siapa? Kalian jelas tahu kami ini manusia." Nyelonong Lee dengan wajah polosnya.
"Ck, ayolah! Kalian tidak pantas berada disini pergilah!" Usir ksatria Giok Singa yang pertama.
"Kenapa kami harus pergi?" Tanya Kou tidak terima dengan teriakan cemprengnya.
"Apalagi alasannya, jika bukan karena kalian akan menjadi beban untuk kami!"
"Apa?!"
"Oh, Ayolah. Selain bodoh, amatir, ternyata mereka juga tuli rupanya." Cemooh ksatria Giok Singa yang kedua. Sontak membuat seluruh rekannya tertawa terbahak-bahak mendengar sindiran itu.
"Brengsek!!" Seru Kou geram mulai melayangkan tinjunya. Dan pertarungan kembali tak bisa terelakkan.
"Ada apa ini!?"
Sebuah suara menghentikan sejenak aktivitas para ksatria yang saling beradu gulat itu. Bahkan Aika yang sedang menggigit salah satu tangan ksatria Giok Singa juga ikut menghentikan gigitannya dan menoleh ke asal suara.
"Ka..Kapten!" Gagap Lee saat melihat suara siapa yang berhasil menginterupsi kegiatan mereka.
Ukai mendekat dengan sebelah alis terangkat tinggi. "Ada apa ini?" Ucap Ukai datar, mengulangi pertanyaannya tadi.
"Mereka yang memulai lebih dahulu!" Ucap Aika membela rekan-rekannya setelah melepaskan gigitannya.
Kroni Giok Singa memang tidak mau menuruti perintah Ukai masuk ke dalam barak, tapi mereka memilih menghentikan pertengkaran yang kenyataannya memang tidak bermanfaat itu.
Tak lama setelah kejadian itu, Kageyama Norio datang bersama Shouta dan Daiki (Kapten Giok Singa) menuju barak untuk bertemu dengan Ukai.
"Dimana Ukai?" Tanya Norio dengan wajah tanpa ekspresi.
Ukai yang memang sedang siaga langsung menghadap sang Jendral, kemudian membungkuk hormat.
"Ikutlah bersamaku! Kita akan ke Provinsi Chuubu!" Perintah Norio pada Ukai. Membuat hampir seluruh pasukan Serigala Putih dan Giok Singa membelalak tak percaya, tak terkecuali Daiki dan Shouta.
Demi apa sang Jendral elite itu lebih memilih Kapten amatir seperti Ukai daripada Daiki atau Shouta yang jelas-jelas lebih hebat.
"Tidak bisa seperti itu, Jendral!" Protes Daiki setelah sadar dari rasa terkejutnya.
"Aku adalah Kapten dari pasukan gabungan ini. Dan Serigala Putih berada dibawah komando saya. Jika, Giok Singa diperintahkan berada disini. Bagaimana bisa Ukai dan kroninya pergi dengan anda." Lanjut Daiki dengan nada tidak suka yang sama sekali tidak disembunyikannya.
"Aku hanya akan membawa Ukai, sedang kroninya tetap berada disini. Apa kau puas?!" Ucap Norio tajam, lalu berbalik pergi bersama Ukai yang mengekor dibelakangnya.
Namun, sebelum benar-benar pergi, Ukai berbisik pelan saat melewati Aika. "Jaga dirimu baik-baik!"
Aika menggeleng, "Tidak! Jendral Kageyama pasti merencanakan sesuatu. Jadi, kaulah yang seharusnya berhati-hati." Balas Aika ikut berbisik.
Ukai tersenyum kecil mendengar bisikan Aika. "Jika terjadi sesuatu padaku. Aku menunjukmu sebagai penggantiku!" Ucap Ukai tenang sambil berlalu menjauh.
Aika berbalik menatap punggung Ukai dengan wajah sendunya. Aika sangat berharap itu bukanlah kata terakhir yang akan didengarnya dari bibir orang yang sangat dihormatinya itu.
Jika Aika berwajah sedih, lain halnya dengan Shouta dan Daiki yang merasa iri dengan Ukai -yang notabene ksatria baru tapi langsung bertarung bersama Jendral elite seperti Kageyama, mereka semua memasang wajah penuh kebencian saat menatap punggung Ukai.
To be Continue...