
"Ugh~!" rintihan kecil keluar dari bibir Aika saat matanya terbuka untuk pertama kalinya setelah terjatuh dari tebing dan terbawa arus sungai.
Mencoba bangun dari posisi jatuhnya, Aika merasa tubuhnya hancur bak keramik murahan yang pecah tak bersisa. Banyak luka menganga sekaligus luka lebam yang membiru menghiasi kulit ivory miliknya.
"Ugh!"
Suara rintihan lain terdengar, membuat Aika mengalihkan pandangan dari luka-lukanya kearah bawah tubuhnya.
Aika terbelalak saat menyadari apa -atau lebih tepatnya siapa- yang sedang ia duduki sekarang ini.
"P..Pa..Pangeran?!" gagapnya, masih shock dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Hn."
"Se..sedang apa Pangeran disini?" tanya Aika lagi. Matanya terpaku pada mata hitam Noya.
"Hn. Bisakah kau menyingkir." perintah Noya datar, sedatar wajahnya.
Aika gelagapan. Ia baru menyadari jika ternyata ia jatuh dan duduk di atas tubuh Noya. Aika buru-buru beringsut mundur turun dari tubuh Noya, yang tanpa sadar malah duduk di atara kedua paha pria tampan itu.
Noya mendudukkan dirinya setelah Aika turun dari tubuhnya. Ia meringis saat merasakan tubuhnya yang terluka bergesekan dengan kain kimononya.
"K..kau tidak apa-apa?" tanya Aika khawatir melihat luka di tubuh Noya yang lebih banyak dari miliknya.
"Hn."
Noya mengamati tubuh Aika intens. Kemudian ia menghembuskan nafas pelan, sedikit lega saat tak menemukan luka serius di tubuh Aika.
"Pangeran, bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Aika setelah mereka terdiam cukup lama. Aika bahkan tidak ingat ada Noya saat dirinya terjatuh.
Noya melirik ke arah Aika sejenak, kemudian mendengus keras. Ia mengamati wajah Aika yang terlihat penasaran.
"Bodoh!" ucapnya santai, malas menjawab pertanyaan Aika.
Perempatan siku imajiner muncul di kening Aika. Tadinya ia tak ingin marah-marah karena keadaan mereka yang tidak memungkinkan. Tapi, setelah mendengar kata cantik itu keluar dengan mulusnya membuat emosinya membludak tak terkendali.
"Ck, terserah!" decak Aika akhirnya, enggan membuang-buang tenaga untuk mengucapkan sumpah serapah untuk membalas ucapan Noya-mesum brengsek itu.
"Hn."
"Ish, aku benar-benar ingin tahu! Aku mohon Pangeran bisakah kau memberi tahuku?" pinta Aika putus asa. Ia benar-benar penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Noya mendengus, tak ada pilihan lain pikirnya. Noya mencoba mencari posisi duduk yang nyaman sebelum memulai cerita panjang yang mungkin akan menghabiskan cadangan dan tenaganya.
"Ekhem, singkatnya aku melihatmu pergi ke dalam hutan, lalu mengikutimu saat kau tiba-tiba berlari, setelahnya saat kau terjatuh aku memeluk tubuhmu dan terjatuh bersamamu." jelas Noya dalam satu tarikan nafas.
Aika terdiam, otak cerdasnya mencoba mencerna penjelasan yang singkat, padat, dan tidak jelas itu susah payah. Setelah lama memeras otak, Aika mengangguk tanda mengerti.
"Umm, terima kasih Pang-"
"Noya! Panggil aku Noya saat kita hanya berdua." potong Noya cepat sambil memalingkan wajahnya.
"Tapi-"
"Itu perintah!" ucap Noya menekan setiap katanya.
Mengalihkan pandangan, Aika mulai melihat ke sekelilingnya. Di mana ini? tanyanya dalam hati. Sejauh mata memandang hanya ada hutan dan juga tepian sungai. Sepertinya mereka terbawa arus cukup jauh.
"Kita tersesat." ucap Noya yang lebih dahulu mengamati keadaan. Aika mengangguk menyetujui.
"Kau bisa berjalan?" tanya Noya, kali ini pandangannya tertuju ke arah Aika. Aika hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Bisa kau memapahku? Kakiku sedikit sakit, mungkin terkilir." ucap Noya lagi diiringi ringisan kecil saat mencoba menggerakkan kakinya.
Aika yang melihat wajah kesakitan Noya segera memeriksa tubuh Noya dengan cermat. Banyak luka yang membuat ia merasa ngilu saat memandangnya. Saat memeriksa pergelangan kakinya, Aika melihat memar biru tercetak jelas di sana. Sepertinya Noya benar-benar terkilir.
"Berdirilah, Pang- Noya-sama!" perintah Aika sambil membantu Noya berdiri. Namun, bukannya menurut Noya justru menatap tajam Aika.
Mengernyitkan dahinya, Aika bertanya "Ada apa, Noya-sama?"
"Ck, panggil Noya saja." decak Noya tidak suka dengan embel-embel "sama" yang diucapkan Aika.
"Saya bisa di huk-"
"Tidak, jika kita hanya berdua. Cukup Noya! Tanpa embel-embel!" perintah Noya dengan nada mutlak.
Aika kembali mengangguk diiringi dengusan nafas kasar sebagai bentuk protes. Setelahnya, Noya berdiri dengan di papah oleh Aika mencari jalan keluar.
Lama keduanya terdiam tanpa ada yang memulai pembicaraan. Aika mengamati keadaan sekitar sambil sesekali melirik ke arah Noya. Yang tanpa diketahuinya, Noya semakin merapatkan tubuhnya ke arah Aika. Mencari kesempatan dalam kesempitan.
Aika dan Noya terus berjalan tanpa arah di dalam hutan. Mereka berjalan hampir separuh hari lamanya, namun tak kunjung menemukan perkemahan yang mereka dirikan. Sampai, lamat-lamat Aika mendengar suara seseorang didekatnya. Senyum merekah mampir di bibirnya. Bantuan, pikirnya senang.
Aika membantu Noya berjalan lebih cepat menuju asal suara.
"Ho~, lihat siapa di sana!" seru salah seorang dari ketujuh pria yang sedang berkumpul itu.
"Sial!" seru Aika pelan saat menyadari siapa yang ada di balik asal suara itu. Mereka adalah sekawanan perampok. Bagus! Tidak bisakah ada yang lebih buruk dari ini? Pikir Aika masam.
"Kau benar-benar, Bodoh!" ejek Noya saat melihat ketujuh pria itu mendekat kearahnya.
"Bisakah kau tidak memperburuk keadaan?!" tanya Aika sarkastik. Melirik tajam kearah Noya yang malah menyeringai mengejek.
"Tangan kananku patah, sepertinya kau harus bertarung sendirian, Idiot!" ucap Noya santai melepas tangan kirinya dari papahan Aika. Kemudian berjalan terpincang-pincang kearah pohon untuk duduk melihat sang ksatria berkelahi untuknya.
Aika menyipit tajam ke arah Noya. Kemudian menatap tujuh pria yang berdiri congak di depannya dengan garang. Hell, ia sendiri dalam keadaan tubuh hancur sekarang. Menghadapi tujuh pria sekaligus bukan ide yang bagus untuknya.
Menghembuskan nafas kasar berulang-ulang, Aika memasang kuda-kudanya bersiap untuk menyerang. Ketujuh pria itu menyerang bersamaan membuat Aika kewalahan. Serangan bertubi-tubi yang dilayangkan oleh ketujuh perampok itu berhasil Aika tangani. Tapi, karena kekuatan yang tidak sebanding membuatnya kehabisan banyak tenaga.
Pertarungan semakin sengit saat tak ada yang tumbang dari pertarungan itu. Tak ada pilihan lain Aika harus mengeluarkan seluruh kekuatannya. Dan setelah beberapa menit tiga di antara mereka berhasil ditumbangkan. Tinggal empat lagi pikir Aika miris.
Crack!
Terdengar bunyi tulang bergeser akibat gerakan Aika yang terlalu memaksakan diri. Meski masih terlihat cukup kuat tapi tubuhnya telah menyerah akibat banyaknya luka akibat terjatuh dari tebing. Berkali-kali Aika hampir kehilangan keseimbangannya dan terpelanting jauh karena tak bisa menghindari terjangan lawan.
Nafas Aika mulai tak beraturan akibat kekuatannya yang telah menipis. Dengan sekuat tenaga ia mencoba tetap tersadar dan kembali berhasil mengalahkan dua orang lagi. Namun sebelum menghabisi dua sisanya tubuhnya telah menyerah dan Aika jatuh tak sadarkan diri setelahnya.
TBC