The Great Princess

The Great Princess
Pelatihan



Aika kembali ke kamp dengan wajah yang masih memerah. Sesekali ia juga menepuk kedua pipinya guna menghilangkan rasa terbakar pada wajahnya. Membuat beberapa pasangan mata yang melihatnya nampak berbeda presepsi antara bingung, aneh, hingga rasa penasaran.


Sesampainya di kamp sudah ada Ukai yang berdiri di depan barisan pasukan Serigala Putihnya. Aika buru-buru masuk barisan dan menunggu Ukai memberi perintah.


"Latihan hari ini adalah membawa karung berisi gandum seberat manusia. Tujuannya untuk berlatih menolong teman kita yang terluka pada saat perang nanti. Mengerti?" Perintah Ukai tegas kemudian berlari memimpin pasukan menuju karung gandum dan memikulnya keliling lapangan kamp.


"Laksanakan!" Sorak pasukan Serigala Putih yang kemudian mengikuti langkah Ukai.


Selain ksatria dari Serigala Putih lapangan juga berisi berbagai pasukan ksatria lainnya (yang juga sedang berlatih). Dan saat pasukan ksatria Serigala Putih melewati pasukan lainnya tiba-tiba terdengar suara cemooh dari salah satu ksatria.


"Hoho, lihat bukankah itu si Bodoh?" Tunjuk Kapten ksatria Naga Air kearah Aika.


Aika yang mendengar itu sontak menolehkan kepala ke asal suara. Aika melihat beberapa kapten ksatria menatapnya dengan tatapan yang sama (mencemooh).


"Yak, bukankah dia si bodoh yang suka membuat kesalahan?!" Sindir kapten ksatria lain yang ikut memandang sinis ke arah Aika.


"Hei, apa yang kalian katakan? Apanya yang bodoh, dia itu hanya tolol kau tahu."


"Ya, kau benar. Mana ada ksatria bertubuh dua kali lebih kecil (cebol maksudnya) dari ksatria lainnya?!"


"Pantas saja dia dipanggil 'Bodoh' oleh Pangeran Mahkota."


Begitu banyak sindiran, cemooh, dan berbagai kata yang terlontar mulus dari bibir para ksatria itu. Kemudian mereka tertawa keras karena sindiran mereka sendiri. Membuat Aika semakin geram dan ingin menyumpal mulut kotor mereka dengan gandum yang tengah dibawanya.


"Bagaimana jika mulut besar kalian dibawa mengikuti duel tahunan?!!" Tantang Ukai tiba-tiba dari balik punggung Aika.


Aika mengerjap kaget dengan ucapan Ukai yang tiba-tiba meminta mereka untuk berduel. Jika menilik masa lalu jelas Aika jauh lebih unggul mengingat ia telah menang tiga kali dalam duel itu (ingat pertandingan pertama Aika melawan Shouta ditambah 2 tahun setelahnya).


Semua ksatria membisu seketika. Memang kemampuan Aika masih kalah dengan yang lain (dalam segala hal kecuali otak -yang kadang macet- dan skill pedang) tapi itu dulu, sekarang jangan tanyakan, karena Aika bukan lawan yang sebanding dengan mereka. Tentu mereka akan kalah telak jika Shouta yang notabene ksatria unggul saja juga kalah.


Semua ksatria hanya bisa memandang sinis kearah Ukai (sebagai pelampiasan kekesalan) yang telah membela Aika, kemudian segerombolan itu mengambil topik lain untuk mengurangi rasa malu mereka yang tidak bisa menyanggupi tantangan Ukai.


Ukai menyeringai meremehkan, lalu menarik Aika untuk melanjutkan latihan mereka yang tertunda.


To be Continue..