The Great Princess

The Great Princess
Ep. 65



Hari berburu pun tiba. Pangeran Noya dan Putri Aika bersiap mengikuti perburuan. Namun, sebuah "kegiatan" sedikit menghambat keduanya saat di dalam tenda.


"Akh, Sa-sakit Pangeran Noya!"


"Tahanlah sedikit lagi, Aika! Semuanya akan segera aku masukkan."


"Isshh, pelan-pelan!"


"Ini sempit, Aika!"


"Akh, Pangeran Noya! Ah, berdarah!"


"Maaf, apa sakit?"


"Ugh, tentu saja. Hiks!"


"Sshh, jangan menangis Aika! Maaf, maafkan aku sayang!!"


"Hiks, kalau tidak muat hiks jangan dipaksakan Pangeran Noya itu sakit sekali kau tahu!"


"Apa yang kau lakukan pada adikku, Pangeran!?" Tanya Pangeran Akashi penuh ancaman kala telinga tajamnya mendengar suara tangis sang adik tercinta.


"Kakak, lihat apa yang Pangeran Noya lakukan padaku." Rengek Aika manja -ikut menyudutkan sang suami.


"Astaga! Kau membuatnya berdarah?" Tuduh Pangeran Akashi tak percaya, memandang tajam Pangeran Noya yang justru terlihat tenang.


"Ck, tidak bisakah kalian menghentikan percakapan ambigu kalian?" Decak Pangeran Akira saat suara Pangeran Noya dan Aika tadi membangun fantasi liar yang nyatanya jauh dari ekspektasi pendengarannya.


"Apa maksudmu, Pangeran?" Tanya Pangeran Riyu tidak mengerti, memang apa yang dipikirkan si Rubah Merah itu.


"Ayolah, Pangeran Noya hanya memasangkan sepatu yang kekecilan. Kenapa jadi seheboh itu?" Ucap Pangeran Akira disertai gelengan tak percaya.


"Jika begitu kenapa kalian tidak menghentikannya!? Lihat kaki adikku jadi berdarah karenanya!" Marah Pangeran Akashi menunjuk-nunjuk kaki Aika.


Mereka masih saling berdebat tentang siapa yang salah karena berdarahnya kaki Aika. Sedang si korban (Aika) sudah dibawa lari oleh Pangeran Noya menjauhi orang-orang yang berdebat tak penting itu.


Aika tertawa kecil, "Bagaimana dengan kakiku?" Tanyanya geli.


"Ini salahmu karena memakai sepatu yang salah dan tidak ada sepatu cadangan yang muat untukmu karena terlalu besar." Jelas Pangeran Noya mendengus keras.


"Lebih baik daripada kekecilan. Lihat kau harus bertanggung jawab pada kakiku!" Aika menyodorkan kakinya pada Pangeran Noya.


"Hanya luka ringan! Kenapa kau harus merengek dan membuatku dalam masalah!?" Dengus Pangeran Noya tidak terima saat ia hampir di pukul oleh kakak iparnya tadi.


Aika tertawa, "Maaf! Sudahlah lupakan! Ayo, berburu!" Ajak Aika setelah puas mengerjai Pangeran Noya tadi.


Pangeran Noya mengangguk, kemudian menggenggam tangan kanan Aika dan membawanya ke tempat perburuan.


Dari kejauhan nampak Putri Masako dan beberapa pengikutnya memperhatikan keduanya sedari awal. Ia memang memaksa ikut demi rencana besar yang telah ia persiapkan bersama kroni pamannya.


"Sebaiknya kau memastikan si jal*ng itu mati, karena aku selalu bermimpi ia terus mengejarku dan berusaha mencekikku!" Wanti Putri Masako pada Kapten Kin yang berdiri tepat dibelakangnya.


Setelahnya Putri Masako membawa langkahnya menuju ke arah yang sama dengan para pangeran itu. Putri Masako berpaspasan (sengaja) dengan para Pangeran lalu tersenyum manis.


"Sebaiknya kau tidak perlu ikut! Berburu tidak cocok untuk wanita yang hamil 5 bulan." Ketus Pangeran Daichi pada Putri Masako, jelas terdengar dari nada bicaranya kalau Pangeran Daichi enggan melihat wajah jal*ng itu berlama-lama.


Putri Masako tersinggung, senyumnya luntur seketika. "Aku adalah wanita keturunan Bangsawan Shimura-" Putri Masako melirik Aika dengan pandangan menghina saat mengatakan Bangsawan, dan Aika tak mengerti mengapa Putri Masako memandangnya seperti itu.


"-Shimura terkenal dengan keteguhan dan sikap ksatria-nya. Tak peduli pria atau wanita sekalipun." Ucap Putri Masako menyombongkan diri.


"Terserah!" Putus Pangeran Daichi yang ogah berdebat dengan Putri Masako. Ia melangkah menjauh dan berjalan mendahului yang lain.


Dibelakangnya; Pangeran Riyu, Pangeran Akira, Pangeran Rei, Pangeran Ren, Pangeran Noya, dan Aika mengekor tanpa mau repot memandang ke arah Putri Masako lagi.


Kapten Kin yang sejak tadi ikut mencuri dengar sedikit khawatir dengan ucapan kakak sepupunya itu. Jika Aika terbunuh dalam perburuan kali ini bukankah otomatis kroni mereka akan dicurigai.


Karena seluruh istana Sawamura tahu bahwa hubungan antara Aika dan Putri Masako tidaklah sebaik kelihatannya. Dan tentunya para pangeran itu akan langsung menjatuhi hukuman pada mereka yang menjadi sasaran empuk untuk yang tertuduh.


Mengabaikan pemikirannya, Kapten Kin kembali mengekori Putri Masako yang berjalan ke arah yang berlawanan. Dan berharap bahwa rencana Putri Masako akan gagal kali ini.