
1 jam sebelumnya...
Gerbang utama Sawamura dihebohkan dengan datangnya para kroni Serigala Putih yang diketahui tak memiliki kabar selama tiga hari lamanya. Dan kini mereka tengah berdiri dengan kondisi yang sulit terdefinisi-kan, terkesan rusak, bobrok, dan hancur. Namun, lebih dari itu mereka telah kembali dalam keadaan hidup meski banyak luka di tubuh mereka.
Mereka terjatuh kelelahan setelah berhasil memasuki wilayah Kerajaan Sawamura, semua Jendral dan para Kapten ksatria segera berlari kearah mereka untuk memberikan pertolongan.
Daiki yang sudah sembuh dari lukanya tersenyum kearah Ukai yang juga tengah menatapnya. Daiki berjongkok lalu menyerahkan ikat kepala pada sang pemilik. Ukai tersenyum manis melihatnya dan dengan tangan bergetar ia mengambil ikat kepalanya.
"Kau adalah ksatria sejati, Ukai." Puji Daiki tulus. Ia menyerahkan bendera kroni Serigala Putih sebagai bukti pengakuannya pada ksatria baru itu.
Ukai dan para kroninya terbelalak tak percaya. Apa ini mimpi? Mereka diakui sebagai salah satuan ksatria hebat yang setara dengan sembilan ksatria lainnya. Ini tidak mungkin pikir semuanya kompak. Mereka bahkan sampai meneteskan air mata tanpa sadar.
Ukai mencoba berdiri dengan bertopang pada benderanya guna memberi hormat pada Jendral dan Kapten ksatria lain sebagai ungkapan kebahagiannya, namun naas ia jatuh pingsan sebelum melakukan penghormatan itu.
.
.
l
Ukai tersadar dari pingsannya dan menemukan ia dan rekan-rekannya sudah dalam keadaan terobati. Kemudian matanya menangkap bendera bukti pengakuan dari para Jendral dan Ksatria telah berdiri kokoh di depan kamp mereka. Ukai tersenyum saat melihat seluruh kerja keras mereka yang kini mendapat sebuah penghargaan besar yang bahkan dalam mimpi pun Ukai tak pernah membayangkannya.
Namun, secepat senyuman itu datang secepat itu pula senyuman itu lenyap, tergantikan wajah sendu dengan raut terluka yang mendalam tergores tepat pada tatapan matanya. Ukai seketika tersadar bahwa ia tak pantas mendapatkan ini semua jika menyelamatkan satu nyawa saja ia tak mampu.
Ya, Ukai tengah menyesal karena ia tak berhasil membawa kembali satu orang yang telah dijanjikannya untuk dilindungi. Sekuat apapun ia mencoba merelakan namun hati kecilnya berteriak menyalahkannya yang bersikap bodoh dengan membiarkan satu lagi nyawa menghilang setelah kepergian Lee.
Ukai menatap kosong langit-langit baraknya. Ia mencoba menutup mata untuk menghilangkan sesak di dadanya dan berharap saat ia terbangun dengan beban yang hilang dari pundaknya.
oOoOoOoOoOoOoO
Aula Pertemuan
Di dalam aula pertemuan kini penuh dengan adanya seluruh anggota keluarga kerajaan beserta Dewan Negara dan juga beberapa Gubernur. Terlihat Pangeran Noya juga berada disana bersama dengan Pangeran Daichi yang senantiasa disampingnya.
Ditengah aula terdapat Ukai yang berdiri tegak hendak memberikan laporannya.
"Lapor Kaisar! Kami pasukan Serigala Putih berhasil mengamankan perbatasan Utara." Lapor Ukai, wajahnya nampak kosong terlihat dan semua orang menyadari hal itu.
Ukai menutup mata sejenak mencoba mengurangi rasa ngilu pada ulu hatinya. Membuka matanya Ukai pun menjawab, "Ada dua korban, Kaisar."
"Siapa?"
"Lee dan-" Ukai memotong ucapannya, tiba-tiba ia merasa tenggorokannya tersendat oleh ribuan silet tajam yang membuatnya sulit untuk berbicara.
"-Ai..Aika" sambung Ukai susah payah mengeluarkan cicitan-nya.
Noya yang mendengar nama Aika disebut melirik Ukai sejenak, kemudian memejamkan matanya untuk mengurangi rasa sesak yang tiba-tiba menjalari hatinya.
"Dimana mayat mereka?"
"Kami hanya berhasil membawa satu di antara keduanya." Jawab Ukai mencoba menyembunyikan suaranya yang bergetar.
"Apa yang terjadi dengan salah satunya!?" Suara Jendral Besar Ryuichi kini menggema, menuntut Ukai untuk menjelaskan secara terperinci.
Diam-diam Noya ikut menyimak, meski tak dipungkiri hatinya masih berdenyut tak tertahankan dan rasanya ia ingin Tuhan memanggilnya saat itu juga.
"Jenazah Lee berhasil kami temukan. Tapi, Aika tertebas pedang dan tubuhnya dibawa oleh seorang pasukan Negara Angin yang kemudian membakarnya hidup-hidup, Yang Mulia." Jelas Ukai tak dapat lagi menutup getaran dalam suaranya.
Semua orang terdiam, cukup sulit bagi beberapa orang untuk menerima informasi yang mengejutkan ini. Pasalnya Aika bukanlah nama yang asing bagi mereka. Ia adalah ksatria yang menduduki kursi raja dalam duel tahunan selama 3 tahun berturut-turut.
"Mereka akan mendapatkan penghormatan terakhir sebagai ksatria Sawamura. Haku, menjadi tugasmu untuk mencari tahu keberadaan keluarga mereka dan memberitahukan tentang kematian keduanya." Perintah Hideki pada Penasehatnya itu.
"Baik, Kaisar!"
Hideki mengangguk kecil, "Dotto, bacakan titah ku!" Perintahnya pada sang Perdana Menteri.
Dotto mengumumkan bahwa dalam perang kali ini, Kageyama Norio mendapatkan 2 hektar tanah di daerah Desa Lembah. Lalu, karena Dotto kalah dalam taruhan ia mengubah beberapa susunan Menteri dan Gubernur (atas usul Daichi) karena Menteri Seyu berhasil kembali dalam keadaan selamat.
Dan sebagai hadiah Putra dari Menteri Nara (Nara Seiya) diangkat menjadi Menteri Kemiliteran. Kemudian untuk Ukai diberi sebuah rumah beserta peternakan di daerah Desa Bulan, sedang kroninya mendapat beberapa peti emas dan hadiah lainnya.
To be Continue...