The Great Princess

The Great Princess
Fitnah



Aika masih sering bertemu secara diam-diam di tengah malam dengan Noya. Mengapa diam-diam? Tentu saja itu atas kemauan Pangeran Sawamura itu. Sebelumnya Aika telah di beri keringanan oleh Noya (saat ia menceritakan tentang hukuman mencucinya) dengan mengurangi jadwal ksatria-nya.


Dan sebagai gantinya, Aika harus mau menemani malam Noya dengan menginap di kamarnya tentu saja. Dan hebatnya Aika setuju-setuju saja dan melakukan tugasnya tanpa protes apalagi curiga. Padahal jika di lihat dari sudut manapun, Noya jelas-jelas mencari waktu yang tepat untuk berduaan dengan Aika.


Seperti saat ini di mana posisi aneh keduanya terlihat Aika tengah duduk nyaman di atas ranjang Noya dengan bersandar pada kepala ranjang. Sedang Noya sendiri menindurkan kepalanya di atas paha Aika dan meminta Aika mengelus rambutnya.


Awalnya Aika sempat menolak posisi aneh antara ia dan Noya. Tapi, mau bagaimana lagi berkat ancaman hukuman, Aika setengah hati menurut saja.


"Aika?" Panggil Noya pelan, matanya tertutup rapat meresapi sentuhan jemari Aika pada rambutnya.


Aika tak menjawab, tapi Noya tahu Aika mendengarkan. Noya tahu itu karena jemari Aika masih setia mengelus surai hitam kebanggaannya.


"Beberapa bulan lagi akan ada pemilihan calon istri untukku...." Ucap Noya melanjutkan ucapannya yang sempat tersendat saat ingin memberi tahu Aika beberapa hari yang lalu akhirnya berhasil ia keluarkan sekarang.


Ucapan Noya barusan berhasil menghentikan jemari Aika yang sedang mengelus rambutnya. Noya membuka matanya saat dirasakan tangan Aika tak lagi di atas kepalanya.


"....dan Minggu depan Daichi akan menikah." Lanjut Noya lagi. Matanya menatap langsung mata biru kesukaannya. Menyalurkan isi hatinya yang belum sampai pada si pemiliknya.


"Aku berencana memilih salah satu di antara mereka...." kata Noya sengaja menggantung ucapannya. Bermaksud melihat apa respon atau reaksi dari Aika.


Nihil, Aika tetap diam membisu.


"....dan kemudian melamarmu dan menjadikanmu milikku seutuhnya." Sambungan ucapan Noya berhasil menyedot seluruh kewarasan Aika.


"Aku mencintaimu." Ucap Noya tiba-tiba, membuat Aika semakin gila dibuatnya dan hampir mengeluarkan bola safir-nya dari tempatnya. Bahkan rahangnya bisa jatuh ke lantai jika tidak ada tulang penyangga diwajahnya.


.


.


.


Keesokan harinya, Ryuichi memanggil Ukai dan seluruh pasukannya untuk menemuinya di tempat pelatihan. Tak hanya ksatria Serigala Putih saja. Namun, juga para ksatria lain yang telah lebih dulu menanti mereka.


"Aku mendapat laporan bahwa bendera pasukan Gagak Hitam telah dirusak oleh salah seorang di antara kalian..." Terang Ryuichi menatap dingin semua pasukan Serigala Putih.


"Cepat! Mengaku saja!" Seru salah satu anggota pasukan lain ikut memanasi suasana.


"Cih, pecundang! Jika kalian tidak berani berduel, kenapa bertindak bak pecundang dengan merusak bendera pasukan lain?!" Sindir anggota lainnya.


"Ksatria baru tidak tahu diri!"


"...bla..bla..bla.."


"Tanpa mengaku pun aku sudah tahu siapa pelakunya."


"...bla..bla..bla.."


"Si Bodoh, kau saja yang mengaku!"


Berbagai cacian dihujat-kan pada pasukan Serigala Putih yang jelas-jelas tidak tahu menahu tentang masalah bendera Gagak Hitam yang mendadak rusak itu. Mereka hanya diam saat cacian itu dilontarkan dengan mulus dari bibir para ksatria yang katanya terhormat itu.


"Cukup! Apa buktinya salah satu dari kami yang melakukannya?" Suara Ukai berhasil menghentikan sejenak segala cacian dan segala tuduhan yang dialamatkan pada mereka.


"Kami sudah mengira kalian akan meminta bukti, jadi..." sela Setsuna (anggota Gagak Hitam) sambil menyodorkan ikat kepala milik pasukan Serigala Putih.


Semua anggota Serigala Putih terkejut. Bagaimana bisa ikat kepala dengan Bros Serigala Perak itu ada pada salah satu anggota Gagak Hitam. Setahu mereka semalam tidak ada yang meninggalkan kamp, kecuali...


Aika! Seluruh pasang mata langsung menatap ke arah Aika berdiri. Aika yang merasakan berbagai macam arti tatapan itu sedikit merasa terintimidasi. Hei, bukan dia pelakunya. Aika bersama Noya semalam, bagaimana mungkin dia yang merusak bendera itu.


Tapi, bagaimana ia menjelaskannya. Bisa jadi gosip hangat jika mengatakan kalau semalam ia tertidur bersama Noya semalaman dan baru kembali ke kamp saat pagi sudah mendayu-dayu di langit. Dan sialnya ia menghilang di waktu yang tidak tepat. Membuat hampir semua rekannya memandangnya dengan tatapan menuduh.


Ryuichi yang seperti mendapat jawaban karena seluruh pasukan Serigala Putih menatap Aika juga mengira dialah dalang dari rusaknya bendera pasukan lain. Meski sebenarnya Ryuichi juga salah paham, tapi siapa yang peduli. Dia hanya bertindak berdasarkan sugesti tanpa ada pembelaan dari Aika (yang jelas-jelas dituduh dalam hal ini).


"Tidak ada pilihan lain. Karena bendera Gagak Hitam telah di robek maka itu berarti adalah tantangan duel. Besok aku ingin kalian menghadapku untuk persiapan. Sekarang, bubar!" Putus Ryuichi akhirnya membuat kedua kubu (Serigala Putih dan Gagak Hitam) menerima keputusan itu dengan timbangan berat sebelah.


Beberapa anggota Gagak Hitam menyeringai penuh kemenangan saat melihat wajah kusut dari lawannya. Waktunya bermain, pikir mereka. Sedang pasukan Serigala Putih hanya menatap seringai itu dengan wajah pucat pasi. Dan setelahnya seluruh pasukan membubarkan diri.


To be Continue..