The Great Princess

The Great Princess
Ep. 51



"Iissh, jangan tertawa Noya!" Rajuk Aika kekanakkan, memukul lengan kokoh milik suaminya itu pelan.


"Ah! Sakit, Aika." Protes Pangeran Noya pura-pura kesakitan. "Lalu, bagaimana bisa kau datang kemari dan menjadi pengantar baju?" Tanya Pangeran Noya kembali pada topik awal.


"Kak Shizuka memintaku mengambil pakaian dari temannya. Dan temannya itu memohon agar membantunya mengantar pakaian karena pesuruhnya tidak datang waktu itu..."


Pangeran Noya masih setia mendengar. Sesekali ia mencomot hidangan apapun yang ada dihadapannya.


"...lalu aku mendengar istana sedang mengadakan Duel Tahunan dan aku mendaftar dan kau pasti tahulah apa yang terjadi selanjutnya."


Pangeran Noya manggut-manggut tanda mengerti, tangannya beralih mencomot buah-buahan. Sedang telinganya ia pasang baik-baik.


"...setelah kalah berduel-"


"Tunggu!" Interupsi Pangeran Noya memotong penjelasan Aika. "Apa yang terjadi waktu itu? Kenapa kau tiba-tiba menjatuhkan pedangmu?"


"Pangeran Mahkota Ishikawa yang memintaku mengalah." Kali ini Aika yang memotong ucapan Pangeran Noya.


"Apa?"


Aika menceritakan semua yang terjadi pasca Duel Tahunan kala itu. Dan ceritanya berhasil membuat darah Pangeran Noya mendidih karena tertipu oleh si Rubah Merah.


"Setelah duel usai Jendral Besar Ryuichi mendatangiku dan memintaku menjadi ksatria. Tadinya aku ingin menolak tapi ia tak mau mendengarkan ucapanku. Dan aku terjebak menjadi ksatria dan tetap di kira pria oleh semua orang..."


"..Lalu, kau yang tiba-tiba menjadikanku ksatria pribadimu. Membuat posisiku sulit karena para ksatria lain yang merasa iri dan menjadikanku bulan-bulanan mereka..."


"Cukup! Lalu kemana saja kau selama 3 bulan terakhir. Mereka bilang kau... Ugh! Apa kau tahu betapa aku sangat hancur karena kepergianmu?" Tanya Pangeran Noya dengan kekalutan yang nampak jelas di matanya. Seolah berita kematian Aika adalah hukuman kematian juga untuknya.


Suara Pangeran Noya penuh dengan pesakitan yang kentara, membuat Aika dirundung rasa bersalah karenanya.


Menghela nafas pelan untuk menormalkan gejolak rasa penyesalan, Aika kembali membuka mulut.


"Aku hampir terbunuh dalam perang waktu itu. Bahkan hampir dibakar hidup-hidup oleh tentara Negara Angin. Tapi, aku berhasil bertahan. Jendral Uroko menemukanku dan kemudian membawaku kembali ke istana Kaguya."


"Jadi, kau benar-benar seorang Putri? Lalu, bagaimana bisa kau mengikuti proses seleksi kemarin?" Pangeran Noya kembali memasang wajah penasaran.


"Ya, begitulah. Untuk yang kemarin a..aku ha..hanya me..menepati janjimu." Jawab Aika tergagap pada bagian akhir katanya, diiringi pipi bersemu merah.


"Aish! Jangan menggodaku!" Seru Aika dengan pipi menggembung chubby.


Pangeran Noya melebarkan senyumnya, "Tapi, seingatku aku berencana menikahi seorang gadis dulu baru menikahimu." Usilnya


"Yak! Untuk apa menikahi gadis lain jika aku saja sudah cukup!" Marah Aika membuang muka, enggan melihat wajah Pangeran Noya yang semakin tergelak.


"Berhenti tertawa, brengs*k!" Tangan Aika melayang tepat di lengan atas Pangeran Noya.


"Akh! Sakit, bodoh!" Ejek Pangeran Noya balas memanggil dengan panggilan sayang mereka.


"Ugh!" Rajuk Aika tak suka di panggil bodoh. Ia beranjak dan mulai membaringkan diri bersiap untuk tidur.


"Hei, kau mengacuhkanku?" Tanya Pangeran Noya tak percaya ia diabaikan di malam pertama mereka.


"Bodoh, bangun!" Suruh Pangeran Noya menarik selimut, meski begitu Aika tetap bergeming dengan mata tertutup.


"Aika?" Kali ini suara Pangeran Noya berubah kalem dan lembut. Ia mendudukkan diri tepat di bibir ranjang.


"Hei!" Kali ini ucapan Pangeran Noya diiringi goyangan pelan pada lengannya.


Aika membuka matanya, menatap penuh tanya pada Pangeran Noya.


"Maaf." Ucapnya, Aika mendudukkan diri ketika nada penuh penyesalan itu meluncur mulus dari bibir suaminya itu. Ia kemudian tersenyum dan membawa Pangeran Noya tidur bersebelahan dengannya.


"Aika?"


"Hmm?"


"Apa kau benar-benar seorang gadis?"


Aika menatap Pangeran Noya dengan alis menukik tajam. Sedetik kemudian seringai menantang ia pasang apik di wajahnya.


"Kenapa kau tidak memeriksanya sendiri?!"