
Putri Aika gelisah dalam tidurnya. Ia mendapatkan mimpi buruk tentang kejadian hari ini. Dalam tidurnya ia bertemu dengan seorang gadis berambut pirang yang menangis memanggil-manggil nama ibunya.
Awalnya Putri Aika hanya mendengar suara, namun gambaran itu segera muncul dan menampakan seorang gadis berpakaian lusuh dengan wajah yang sembab oleh lelehan air mata.
Ia mendekatinya, kemudian wajahnya ikut menunduk sedih. Itu dirinya dimasa lampau. Ia yang kehilangan ibunya, dan ia yang hidup dengan kaki-kakinya. Aika menangis, masa lalu masuk ke dalam mimpinya. Mengobrak-abrik hatinya yang baru saja koyak.
Namun, sebuah tangan menggandengnya. Tangan bocah laki-laki berusia 10 tahun yang tersenyum menariknya menuju cahaya. Membawanya menuju sebuah dunia lain.
Putri Aika terbangun dari mimpinya. Peluh membanjiri tubuhnya. Nafasnya memburu. Matanya menatap sayu langit-langit kamarnya. Ia terbangun dan meminta Dayang Yui menyiapkan air mandi. Ia harus bergegas menghadiri pemakaman bayinya.
*
*
*
*
Seusai menghadiri pemakaman, Putri Aika mendapat kabar bahwa keluarganya tengah berkumpul di ruangan khusus, ia digiring untuk bertemu mereka dan ia sempat melihat wajah penuh kemenangan Putri Masako sebelum duduk bersama.
"Aku ingin memberikan sebuah keputusan besar. Ini adalah permintaan langsung dari Pangeran Nishinoya. Itu sebabnya kita akan membicarakannya secara kekeluargaan sebelum membawanya pada Dewan Negara." Permaisuri Chikara memulainya untuk yang pertama kali. Sejenak ia melirik Aika yang sama sekali tak menunjukan minat.
"Aku akan turun dari takhta!" Pangeran Noya menyahut dengan cepat penjelasan Ibunya.
Aika yang tadinya tak menampilkan ekspresi apapun kini mengangkat wajah dan mendapati Pangeran Noya yang menatap kearahnya.
"Selain itu Pangeran Daichi akan kembali menduduki kursi sebagai Pangeran Mahkota..." sambung Permaisuri Chikara.
Putri Masako nampak senang ditempatnya. Ia bahkan sempat melirik Aika dan melayangkan tatapan mengejeknya. Aika hanya membalasnya datar. Belum waktu yang tepat baginya untuk memulai perang ini kembali.
"... Dan juga memilih calon Permaisurinya." Lanjut Permaisuri Chikara menyelesaikan kalimatnya.
Senyum Putri Masako luntur seketika. Wajah terkejut ia pasang dengan apik. Kini giliran Aika yang mengejek kearahnya. Putri Masako nampak kesal.
"Kazumi, bawa gadis itu masuk!"
Semua perhatian kini tertuju pada pintu masuk. Seorang gadis memasuki ruangan dengan kimono yang berlapis hingga duabelas. Wajahnya tertutupi kipas, namun setelah pintu tertutup wajah itu dinampakkan.
Aika dan beberapa orang yang mengenalnya terkejut. Gadis itu adalah Inoue Kiyoko, seorang gadis yatim yang Aika bawa dan jadikan sebagai pelayan setianya.
Bisik-bisik mulai terdengar bersahutan. Tanpa mereka duga ternyata Kiyoko dan Pangeran Daichi akan menikah dalam waktu dekat. Dan itu tanpa proses seleksi layaknya Putri Aika dulu.
Kiyoko memandang Putri Aika. Gadis itu tersenyum hormat, Aika hanya membalas senyumnya sekilas.
Seusai acara perencanaan tersebut Permaisuri Chikara mengumumkannya kepada rakyat, mereka menyambut baik calon permaisuri cantik itu. Dan mereka mengelu-elukan nama Kiyoko dengan meriah.
Tak berapa lama Pangeran Daichi dan Kiyoko pun menikah. Layaknya pernikahan besar keduanya diarak mengelilingi istana sama seperti pernikahan Pangeran Noya dan Aika, hanya saja pernikahan ini terhitung kecil karena waktunya yang terkesan tergesa-gesa.
Dua hari setelah pernikahan, Kiyoko diberi gelar Putri Mahkota dan dijamin menaiki kursi sebagai calon Permaisuri. Dan untuk Putri Masako ia hanya diberi gelar sebagai Selir tingkat V.
Putri Masako kebakaran jenggot seusai penobatannya. Ia menghancurkan segala benda yang dapat dijangkaunya. Ia mengamuk layaknya angin badai yang memporak-porandakan istananya. Ingatkan ia bahwa Paviliun Selatan adalah rumah bagi istri-istri Pangeran Daichi. Tapi tidak! Kiyoko bahkan boleh tinggal sekamar dengan suaminya itu.
"Dimana Paman? Aku ingin bicara dengannya!" Bentak Putri Masako pada Fuen.
Fuen menunduk takut. "Bukankah Perdana Mentri kurang sehat akhir-akhir ini?" Balasnya balik bertanya.
Putri Masako semakin tak dapat menguasai dirinya. Ia begitu frustasi. Apakah ia mulai mencintai Pangeran Daichi? Pikirnya bertanya-tanya. Jika memang benar, maka ia harus menyingkirkan Kiyoko dengan cepat.
*
*
*
*
Sementara Putri Masako sedang menyusun rencana licik, Putri Mahkota Kiyoko dan Putri Aika duduk saling berhadapan dengan kudapan lezat menemani keduanya.
"Apa tidak ada yang ingin anda tanyakan, Putri?" tanya Kiyoko membuka mulut.
Aika meletakkan cawannya. "Apa yang sebenarnya para Pangeran itu rencanakan?" Balasnya dengan melirik Pangeran Noya dan Pangeran Daichi yang sedang berlatih memanah.
Kiyoko ikut mengarahkan pandangan pada para pangeran yang tengah asyik dengan dunia mereka itu. "Aku hanya diminta untuk menjadi istrinya. Bahkan alasannya pun aku tak boleh bertanya." Jelas Kiyoko singkat.
Aika kembali menatap Kiyoko. "Lakukan saja seperti yang mereka mau. Sebagai sebuah bidak kita hanya perlu berjalan sesuai aturan permainan." Ucapnya.
"Anda benar! Ini semua berkat kemurahan hati, Yang Mulia. Aku hanyalah pelayan, tapi berkatmu setidaknya aku bisa sedikit ambil bagian dalam peperanganmu." Balas Kiyoko dengan senyum manis.
Aika ikut tertulari senyum itu. "Cahaya wajahmu telah berubah. Apa Pangeran Mahkota telah menyentuhmu?" Tanya Aika santai, mengabaikan wajah bersemu Kiyoko.
Aika ikut tersenyum geli. Ia tak menyangka Kiyoko akan jujur menjawabnya. Namun, senyuman itu sirna kala mengingat ucapan tabib yang beberapa waktu lalu bercakap dengannya.
"Apa terjadi sesuatu yang buruk?" Permaisuri Chikara bertanya pada tabib yang memasang ekspresi aneh setelah usai memeriksa denyut nadi Aika.
Tabib itu sedikit menggeleng takut. "Maafkan hamba Permaisuri! Hukum saja hamba." Ucapnya.
"Katakan saja tabib." Ucap Aika lembut. Sudah siap menerima segala kemungkinan buruk.
"Untuk sementara waktu anda tidak diperbolehkan hamil, Putri. Rahim anda cidera karena kecelakan kemarin dan itu membutuhkan waktu untuk pulih." Jelas sang tabib.
"Lalu berapa lama?" Tanya Permaisuri Chikara tak sabaran.
"Kira-kira satu tahun." Tutup sang Tabib tak enak hati.
Aika memejamkan mata. Beruntung tak ada Pangeran Noya saat itu. Ia tak akan bisa membuat prianya itu menjadi Ayah dalam waktu dekat. Dan itu membuatnya semakin sakit karena kekurangan yang dimilikinya membuat Pangeran Noya tak bahagia.
Mungkin inilah karma baginya, dulu ia mencoba menundanya dan setelah insiden racun itu ia tak dapat hamil sampai 6 bulan lamanya. Bahkan setelah dinyatakan hamil, tak sampai 1 hari berita itu terdengar. Bayinya pun tak dapat bertahan.
Lalu, apalagi ini? Ia tak dapat mengandung 1 tahun lamanya. Aika tertawa miris. Nampaknya Tuhan benar-benar marah dan menghukumnya karena menolak takdir.
"Anda melamun, Putri."
Suara Kiyoko membuyarkan lamunan Aika. Menarik seluruh atensi wanita Kaguya itu kembali ke dunia nyata.
"Jangan memikirkan masalah tempo hari, saya yakin anda akan segera kembali mendapatkan bayi." Ucap Kiyoko menenangkan. Menggenggam sebelah tangan Aika yang berada diatas meja.
Aika tersenyum manis. "Aku hanya selalu bermimpi bertemu dengan seorang anak kecil. Dan itu membuatku merasa tidak nyaman." Ungkapnya.
Brugh!
Huaaaaaaa~
Putri Aika dan Putri Mahkota Kiyoko dikejutkan dengan salah seorang anak gadis yang terjatuh ketika bermain. Aika dengan tergesa berlari dan membantu gadis kecil itu berdiri.
Ia membersihkan bajunya kemudian mendudukannya di kursi taman. Aika melihat dengkul gadis itu berdarah-darah dan tanpa berpikir dua kali langsung menyobek kimono sutranya.
Gadis kecil itu berhenti menangis ketika kakinya tak lagi sakit. Ia tersenyum dan turun dari kursinya. "Terima kasih, Yang Mulia." Sopannya tak lupa membukukan badan.
Seorang pelayan mendekati keduanya. "Apa putri hamba menyusahkan anda, Yang Mulia?" Tanya pelayan itu takut-takut.
Aika yang tadinya mensejajarkan tubuh bangkit berdiri. "Tak apa." Balasnya singkat.
"Tapi, gaun anda." Pelayan itu melirik pada kimono Aika yang robek.
"Kurasa istana ini tak kekurangan bahan hanya untuk mengganti satu gaunku yang robek." Canda Aika mencoba membuat pelayan itu berhenti merasa bersalah.
Pelayan itu kemudian memberi hormat berkali-kali dan menggendong putrinya pergi setelah berujar terima kasih.
"Sedang apa?" Tanya Pangeran Ren pada saudari iparnya.
"Bisakah Pangeran Keempat tak mengejutkanku." Omel Aika dibuat-buat.
"Sayangnya perbuatan muliamu terlihat sangat manis dimataku." Puji Pangeran Ren. Ia mengitari tubuh Aika dan merangkulkan sebelah tangannya ke leher Aika.
"Andai Kekasihku Hotaru sedikit bersikap manis sepertimu, aku yakin akan langsung menikahinya." Ucapnya Sing a song.
Aika menurunkan tangan Pangeran Ren. "Hamba dengar kalian akan menikah. Apa itu benar?" Tanya Aika penasaran.
Pangeran Ren mendekatkan wajahnya yang hanya tersisa beberapa centi dari wajah Aika diiringi senyum miring. "Aku akan menikah setelah Pangeran Rei dan Pangeran Riyu." Jawabnya.
Aika merasa tubuhnya ditarik oleh seseorang dan menabrak dada pria itu. Ia mengangkat wajah dan menemukan Pangeran Noya yang menjadi pelakunya. "Kau sudah memiliki punyamu. Jangan berani mendekatkan wajahmu pada wajahnya!" Ancam Pangeran Noya.
Pangeran Ren justru terkekeh lucu. "Kau ini terlalu overprotektif adikku." Candanya yang kemudian berjalan menjauh.
Aika menghembuskan nafas pendek, ia kemudian menatap Pangeran Noya yang ternyata lebih dulu menatapnya.
"Aku sangat ingin memiliki seorang anak." Cicit Aika terdengar menyedihkan di telinga Pangeran Noya.
Pria Sawamura itu membawa istrinya dalam dekapan. "Kita pasti akan memilikinya." Balasnya diiringi pelukan sayang.
"Maaf." Bisik Aika penuh sesal. Pangeran Noya semakin mengeratkan pelukannya disaat bibir Aika terus bercerita tentang dosa-dosanya dimasa lalu.
"Cukup!" Perintah Pangeran Noya dengan mata terpejam. Hatinya tak mampu mendengar lebih banyak. Kecewa, satu kata yang menggambarkan perasaannya saat ini.
Aika, wanita yang hampir satu tahun mengisi hidupnya itu baru saja mengatakan pengkhianatannya. Hati pria mana yang mampu menerima kenyataan bahwa istrimu berusaha menghindari kehamilan. Haruskah Pangeran Noya berubah benci atau bagaimana?
Pangeran Noya melepas pelukannya dan berjalan menjauh. Ia butuh waktu untuk mencerna seluruh fakta ini. Bahkan meski ia tahu, tetap saja kehilangan bayinya tempo hari menjadi pukulan telak yang diterimanya.