The Great Princess

The Great Princess
Ep. 72



Malam harinya, di perkemahan semua telah kembali normal seolah tak terjadi apapun siang tadi. Para Pangeran yang berpura-pura tak mendengar dan mengetahui apapun. Putri Masako yang kembali memasang topeng angkuhnya meski terlihat jelas bahwa ia menjaga jarak dengan Aika. Pangeran Kenma yang seolah tak memiliki hubungan apapun dan kembali bersikap formal. Dan Aika yang terdiam semenjak kembali dari sungai.


Saat ini mereka tengah duduk melingkar di dalam satu tenda dengan banyak hidangan berbahan daging diatas meja. Keheningan merajai, kecanggungan nampak jelas terasa. Tak ada suara sekecil apapun, bahkan Pangeran Akira yang terkenal berisik pun dibuat tak berkutik oleh situasi.


Untuk menghilangkan kecanggungan Pangeran Noya memulai gerakan pertamanya dengan menuangkan arak pada Pangeran Kenma. Meski ada sedikit rasa dongkol karena Pangeran Kenma adalah pria yang menjadi cinta pertama dan sekaligus penyebab penderitaan dari wanitanya. Namun, ia berhasil menyembunyikannya dengan baik dan bersikap normal.


Melihat hal itu Putri Masako memberanikan diri untuk menuangkan arak juga pada Aika yang hanya meliriknya dengan wajah datar.


"Apa kau takut mabuk dan mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya kau katakan, Putri Aika?" Tanya Putri Masako saat Aika hanya meminum sedikit araknya.


"Tidak semua orang suka minum!" Bela Pangeran Riyu ketus, yang entah kenapa menjadi jijik dengan setiap kata yang meluncur dari bibir Putri Masako.


"Tidak ada yang perlu disembunyikan!" Balas Aika tenang, namun samar ada nada dingin yang terdengar. Aika lalu meminum habis araknya dan menuang kembali untuk dirinya dan Putri Masako.


Keduanya terus minum hingga mulai mabuk. "Berhentilah, Putri Masako!" Tegur Pangeran Daichi saat Putri Masako menuang araknya lagi dan lagi.


"Kau tidak perlu pura-pura perduli padaku! hik~ Aku tahu kau tak sedikitpun melihat padaku dan menganggapku sebagai j*lang! Kau suami yang buruk, Pangeran Daichi!" Putri Masako mulai bicara melantur kesana kemari.


"Cukup Sawamura Masako! Kau sudah mabuk berat!" Tegur Pangeran Daichi kembali. Menekan setiap suku kata dalam kalimatnya.


Putri Masako tak menggubris, "Pangeran Mahkota Kenma! hik~ Aku dengar dari sepupuku kalau wanita yang kau cintai berada di Negara Api! Apa itu benar?" Ucap Putri Masako yang menatap langsung Pangeran Kenma.


"Putri Masako!"


"Putri Aika, kau pasti tahu! hik~ Kudengar kau dulu pernah tinggal di Istana Kusa saat berusia 10 tahun. Apa kau tahu siapa wanita itu?" Sambung Putri Masako memotong dan mengabaikan teguran Pangeran Daichi, lalu menatap remeh pada Aika.


Meski dalam keadaan mabuk, Aika masih sadar betul dengan situasi meski kesadarannya terkadang hilang akibat pengaruh minuman. Aika hanya melirik Pangeran Kenma sekilas dan tak berniat membalas celebungan Putri Masako satu katapun.


"Siapapun dia, itu hanya masa lalu! Lagipula aku sudah memiliki kehidupanku sendiri begitupun dengannya." Sahut Pangeran Kenma tenang.


Putri Masako nampak tak senang dengan jawaban itu. Ia merengutkan wajah sebal.


"Ah! Sebaiknya aku kembali ke tenda. Selamat malam." Pamit Pangeran Kenma kemudian melangkah keluar dari tenda.


Setelahnya Pangeran Daichi menyusul dengan menarik keluar Putri Masako yang berjalan sempoyongan. Demi apapun, apa Putri Masako begitu bodoh hingga mabuk dalam keadaan hamil?! Pangeran Daichi sampai dibuat pusing karenanya.


.


.


.


.


.


Istana Sawamura mendapat keberkahan melimpah dari langit dengan lahirnya seorang Pangeran baru dari Menantu sulung Sawamura di hari itu. Seluruh istana dibuat ribut dengan suasana mengharu biru. Di mana seorang anggota baru yang dinantikan kini telah datang.


Beberapa hari setelahnya, Pangeran baru diperkenalkan pada Dewan Istana dan para penghuni istana lainnya di dalam aula pertemuan.


"Yang Mulia, bagaimana jika kita membagikan beras pada rakyat untuk merayakan ini?" Usul Putri Masako ditengah acara perkenalan.


"Tentu Putriku! Tapi, apa beras saja cukup?" Timpal Permaisuri Chikara ikut menyuarakan pendapat.


"Bagaimana jika ditambah dengan satu kantung emas dan beberapa potong pakaian sutera, Permaisuri?" Dotto memberi usul.


Permaisuri Chikara mengangguk setuju, ia beralih menatap Putra sulungnya yang sejak tadi hanya diam. "Ada apa Putraku? Kau nampak tidak senang. Apa hadiah yang diberikan pada rakyat tak sesuai dengan keinginanmu?" Tanya Permaisuri Chikara heran, tak mengerti dengan arti diamnya Pangeran Daichi.


Pangeran Daichi menggeleng, "Ini terlalu berlebihan! Kurasa beras saja cukup!" Jawabnya datar. Mana mungkin ia menyetujui hadiah mewah yang dibagikan atas nama Putranya padahal pada kenyataannya itu bukanlah darah dagingnya. Pangeran Daichi tak sudi.


"Tapi, Pangeran, bagaimana pun dia adalah Pangeran Pertama dari generasi keempat dinasti Sawamura. Bukankah akan memalukan jika hanya beras saja yang dibagikan?" Protes Dotto, sedikit banyak ia tak senang jika Putranya hanya dibagikan beras sebagai tanda kelahirannya.


"Tenanglah, Perdana Menteri.  Bagaimanapun Pangeran Daichi lah ayah dari Pangeran baru. Keinginannya adalah sebuah perintah yang harus dilakukan." Fuka sebagai Penasehat Kaisar menengahi perdebatan sengit diantara Dotto dan Pangeran Daichi.


"Aku setuju dengan Penasehat Matsumoto." Kaisar Hideki membuka mulutnya. Membuat Dotto yang hendak melayangkan protes kembali dibuat bungkam.


"Bagikan 1 karung beras untuk setiap kepala keluarga di Kerajaan Sawamura!" Perintah Pangeran Daichi datar. Ia masih berbaik hati membagikan beras pada rakyat meski itu bukanlah anaknya. Setelahnya Pangeran Daichi pergi meninggalkan aula pertemuan tanpa sepatah kata hingga menimbulkan banyak tanya di kepala setiap penghuni aula.


"Bagaimana dengan namanya, Yang Mulia?" Tanya salah seorang Menteri.


"Kaisar, izinkan saya selaku Paman sekaligus Kakek dari Pangeran muda untuk mengusulkan sebuah nama!" Suara Dotto kembali terdengar, meski tak menampik ada rasa kesal karena Putranya hanya dihadiahi sekarung beras sebagai bukti kelahirannya.


Aika yang tahu benar bahwa sebenarnya Dotto tengah menutupi kemarahannya, tersenyum mencemooh pada bangkotan keluarga Shimura itu. Apa yang diharapkan dari seorang anak haram memangnya? Sudah bagus Pangeran Daichi bersedia membagikan beras. Karena akan jadi kematian bagi Shimura jika ia membuka kartu AS dan mengatakan bahwa itu bukanlah anak kakak iparnya.


"Aku tidak keberatan! Lagipula selain Paman dari Putri Masako kau juga adalah besan kami. Jadi, kurasa tidak masalah." Kaisar Hideki memberi persetujuannya.


"Sawamura Udon, Yang Mulia!" Seru Dotto bangga memberikan nama yang telah lama dipersiapkannya.


Kaisar Hideki dan Permaisuri Chikara mengangguk menyetujui. "Jendral Ryuichi! Segera kirim undangan untuk Ishikawa dan Nakashima. Akan ada perayaan besar atas kelahiran Pangeran Udon." Perintahnya pada Ryuichi yang dengan segera dilaksanakan.