
Semua orang yang melihat Aika di seret ke tengah lapangan ikut berbondong-bondong melihat apa yang terjadi. Dan kumpulan para penonton pun mendadak terbentuk begitu saja.
"Lucuti pakaiannya!" Perintah Putri Masako setelah mereka sampai di lapangan. Para pelayan itu kembali membuka pakaian dan perhiasan Aika dan hanya menyisakan sebuah nagajuban tipis.
"Anda tidak perlu khawatir, Permaisuri. Biarkan saya yang menanggung dosa hukuman ini." Ucap Putri Masako mencoba menenangkan Permaisuri Chikara yang seperti ingin menarik kembali hukumannya.
Setelahnya Putri Masako membawa tubuhnya mendekati Aika dan menggenggam cambuknya. Tak berselang lama suara cambuk berbenturan dengan punggung terdengar memilukan.
Splash!
Putri Masako semakin gencar menyabet punggung Aika saat ia tak sedikit pun mendengar rintihan bahkan suara sekecil apapun dari bibir itu. Namun, sekuat apapun Putri Masako mencambuk, Aika tak sedikit pun berteriak ataupun menangis.
Justru ketenang menjadi dominasi raut wajah Aika saat itu. Membuat semua orang khawatir apa benar gadis itu baik-baik saja. Karena bagi Aika jika ia berteriak ataupun menangis maka ialah yang kalah.
Aika bersusah payah menelan suaranya dan memastikan tak ada airmata yang lolos. Ia sengaja menatap wajah Pangeran Nishinoya yang mengeras untuk memberinya kekuatan, karena wajah marah dari suaminya itulah alasan dari keberaniannya. Tanda ia benar-benar berharga dan adalah sebuah kesalahan telah membuat Pangeran Noya merasa marah.
Pangeran Noya semakin meradang ketika rembesan darah terlihat dari balik punggung istrinya. Ia berharap Aika berteriak agar Pangeran Noya dapat memastikan bahwa istrinya itu baik-baik saja. Daripada Aika tetap diam dan berwajah tenang seperti itu, karena Pangeran Noya akan kembali terpuruk jika sampai terjadi sesuatu yang serius pada Aika nantinya.
Pangeran Noya berniat menghentikan cambukan itu, namun diurungkan karena Pangeran Daichi mencekal lengannya. "Apa kau mau membuat pengorbanan Putri Aika sia-sia? Bersabarlah Pangeran kau tidak boleh menghina usahanya." Kata Pangeran Daichi mencoba menenangkan adiknya.
Pangeran Noya mundur perlahan, dan saat ia kembali memandang Aika, istrinya itu memberinya kedipan mata dan senyuman teduh seolah mendengar dan menyetujui ucapan Pangeran Daichi.
Dari sudut lain, tepatnya di mana Sawamura Natsume juga tengah menyaksikan hukuman cambuk dari cucu menantunya menghela nafas berat. Jujur, ia sungguh tak keberatan jika Permaisuri Chikara memberikan toleransinya pada gadis itu, sebab inilah yang tak ingin dilihatnya di mana keluarganya terpecah karena ia melihat Pangeran Noya yang memandang penuh kebencian pada Permaisuri Chikara yang notabene adalah Ibu kandungnya.
Atau mungkin Permaisuri Chikara bisa memberinya hukuman yang lebih ringan dan tak perlu melibatkan seluruh seisi istana karena itu jelas akan membuat citranya buruk karena terlalu berlebihan hanya untuk kesalahan ringan.
Di posisinya, Permaisuri Chikara sendiri merasa sangat bersalah ketika Aika justru tersenyum padanya seolah memberitahunya bahwa ia baik-baik saja dan itu merupakan sayatan luka tersendiri bagi Permaisuri Chikara.
Jauh di antara yang lain kedua Kaguya yang juga adalah ayah dan kakak dari Aika telah berubah menjadi banteng yang siap mengamuk tatkala melihat salah satu anggota keluarga mereka diperlukan serendah itu.
Pangeran Akashi melirik kearah Pangeran Nishinoya yang berwajah keras dan mengepalkan kedua tangannya. "Brengs*k!" Umpatnya saat juga tak dapat berkutik, masalahnya ini bukanlah istananya dan ia tak boleh terlalu gegabah dalam mengambil keputusan, karena itu akan semakin menyulitkan Aika nantinya.
"Apa maksud ayah?" Tanya Pangeran Akashi tak mengerti.
"Aika, ia sengaja menerima tantangan Putri Masako dan sekarang dia tengah berduel secara tak langsung dengan wanita Shimura itu." Jelas Hiruko tenang, meski tak menampik ada guratan kemarahan yang tercetak jelas di wajahnya.
"Bodoh! Bukankah ini terlalu kelewatan?!" Gerutu Akashi tak habis pikir dengan risiko yang diambil adiknya itu.
"Tidak! Justru jika Aika menang, wanita itu (Putri Masako) pasti akan kebakaran jenggot!" Tunjuk Hiruko pada Putri Masako yang terlihat kesal karena tak jua berhasil membuat Aika menyerah.
Hukuman 200 kali cambukan telah usai. Putri Masako tersenyum kala melihat hasil lukisannya pada punggung Aika yang sudah berdarah-darah. Namun, tak menampik ada rasa dongkol dalam hatinya, karena jelas ia telah kalah dalam tantangnya sendiri.
Putri Masako berbisik pelan ketika Aika melirik dengan tatapan mencemooh. "Apa kau sudah tahu apa kesalahanmu, Putri?" Tanya Putri Masako dingin, tidak senang dengan tatapan Aika yang terlihat mengoloknya.
Aika tersenyum manis, "Tentu! Terimakasih atas didikanmu hari ini, Putri!" Puji Aika menekan kata didikanmu.
"Baguslah jika kau tahu diri. Mulai sekarang berhati-hatilah karena aku selalu mengawasimu!" Pesan Putri Masako sebelum berlalu menjauh.
Aika memungut kimono-nya susah payah. Tangannya sedikit bergetar kala hampir menyentuh ujung kimono-nya, tapi nihil tubuhnya seperti kram dan sulit digerakkan. Saat itulah Pangeran Noya yang memungutnya dan langsung menyelimuti punggungnya.
"Noya-"
"Sssttt..! Aku tak mau mendengar apapun sekarang!" Potong Pangeran Noya cepat, ia mulai mengangkat tubuh Aika dan menggendongnya ala pengantin.
Pangeran Noya berjalan keluar lapangan dengan menguarkan aura mematikan. Ia berhenti tepat di depan dua orang ksatria dan seorang pelayan yang sudah sangat dikenalnya.
"Takeda, Hakaze, dan kau Kurama ikut aku!" Suruh Pangeran Noya pada ketiga orang yang melongo bodoh itu.
Kou, Kiyoshi, dan Yui baru ngeh setelah Pangeran Nishinoya sudah berjalan hampir 5 meter dari mereka. Dan ketiganya pun segera mengekori Pangeran Noya dan Aika.